NovelToon NovelToon
Bocah Cadel Itu Suami Ku

Bocah Cadel Itu Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.

Sampai suatu malam… hidupnya berubah.

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.

Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.

Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui

•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨


•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍

" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Club

Suara dentuman musik menggelegar di mana-mana. Lampu disko berkelap-kelip menyorot orang-orang yang meliukkan tubuhnya tanpa malu di lantai dansa. Di setiap sudut ruangan, sepasang kekasih tampak bercumbu dengan mesra.

Klub malam yang cukup terkenal itu kini sangat padat. Bau alkohol, parfum mahal, dan asap rokok bercampur jadi satu, membuat udara semakin pengap.

Di pojok ruangan, seorang lelaki tampan dengan tubuh tegap nan atletis duduk tenang. Di tangannya, sebatang rokok menyala. Asap putih tipis mengepul dari bibirnya setiap kali ia menghembuskan napas. Sesekali jemarinya yang kokoh meraih gelas kaca berisi cairan cokelat pekat, meneguknya tanpa ekspresi.

Matanya menatap kosong ke depan, seolah tak peduli pada keramaian yang berputar di sekelilingnya. Rahangnya masih mengeras, sisa amarah yang ia bawa dari rumah belum sepenuhnya mereda.

Nevran menghela napas berat.

“Hai.”

Seorang gadis seksi dengan gaun mini mendekat, tatapannya penuh minat. Tanpa basa-basi, ia langsung duduk di pangkuan Nevran, melingkarkan lengannya di leher lelaki itu. Aroma parfumnya begitu menusuk, bercampur dengan asap rokok dan alkohol.

“Sendiri?” bisiknya manja, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti.

Nevran mengangguk. Ia menarik sudut bibirnya membentuk senyum manis yang membuat wajah tampannya semakin menawan. Ia mematikan rokoknya ke atas asbak, kemudian menatap sepenuhnya pada gadis dengan dress maroon ketat di pangkuannya itu.

“Mau ditemanin ?” tanyanya dengan seringaian nakal di bibirnya.

Gadis itu tersenyum manis. “Boleh?”

“Of course.”

Tanpa menunggu jawaban lain, tangan Nevran terangkat. Jemarinya dengan santai menyusuri garis paha mulus gadis itu. Ia mencondongkan tubuh, membiarkan napas hangatnya menyapu telinga sang gadis.

Nevran meraih tangan si gadis—membawanya ke mulutnya.

Cup.

Sebuah kecupan singkat mendarat di punggung tangan itu. Senyum nakal gadis tersebut merekah, jemarinya refleks mengusap rahang tegas Nevran, seakan terbius oleh pesona lelaki itu.

“Gimana kalau duduknya hadap-hadapan sama gue?” bisik Nevran serak di telinganya. “Biar gue bisa lihat muka lo langsung.”

Gadis itu tanpa ragu mengangguk, segera mengubah posisinya hingga kini berhadapan dengannya—tetap di pangkuan Nevran. Tangannya kembali melingkari leher lelaki itu, menatap wajah tampan yang terpampang nyata begitu dekat.

“Lo ganteng banget...” katanya sambil tersenyum genit. “Udah berapa cewek yang main sama lo?”

Senyum miring Nevran kembali tercetak di bibirnya. Jemarinya menekan pinggang si gadis, membuat tubuhnya makin rapat menempel. Tatapannya turun sebentar ke bibir merah menyala di depannya, lalu kembali ke mata si gadis.

“Mau main sama gue?” gumamnya pelan.

Gadis itu terkekeh, matanya berbinar penuh antusias. “Keliatan banget gue nggak nolak, kan?”

Nevran menyusupkan tangannya ke belakang leher sang gadis, menahannya agar tidak bisa mundur. Jarak wajah mereka hanya tinggal sehelai napas. “Good girl,” bisiknya rendah, sebelum sudut bibirnya terangkat tipis.

Gadis itu tersenyum, jelas-jelas menunggu dicium Nevran.

Lelaki itu tidak langsung memberinya. Justru dengan sengaja ia menggeser bibirnya ke samping, menelusuri garis rahang sang gadis hingga ke lehernya. Hisapan ringan tercetak di sana, membuat gadis itu mendesah manja.

“Mmhh…”

Nevran terkekeh pelan, suaranya berat dan dingin. “Jalang murahan ,” ucapnya serak, sebelum akhirnya kembali mengangkat wajah dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu.

Cup.

Ciuman itu langsung dalam dan mendominasi. Satu tangannya menekan pinggang sang gadis makin erat, sementara tangan lainnya menyusuri punggung terbuka dari dress ketatnya. Gadis itu merintih kecil di sela ciuman, tangannya mencengkeram rambut Nevran seakan tak ingin dilepaskan.

Lampu disko berkilat-kilat, dentuman musik semakin keras, namun keduanya seakan punya dunia sendiri.

Nevran menarik bibirnya pelan, menatap gadis itu dengan tatapan gelap yang membuatnya hampir kehilangan kendali. Ia menelusuri wajahnya sejenak, lalu berbisik tepat di bibirnya.

" Murahan...jangan harap lo bisa ngendaliin gw ”

Gadis itu tersenyum menggoda, jemarinya menggurat rahang Nevran. “Emang gue ada niat ngarem lo?”

Ia menekan tengkuk Nevran—hendak mencium lelaki itu lagi. Namun dengan cepat Nevran menarik wajahnya menjauh. Tatapannya berubah dingin dan menusuk.

Tanpa aba-aba—

Bruk!

Ia mendorong tubuh gadis itu hingga terhempas dari pangkuannya. Gadis itu terkejut, menatap Nevran dengan wajah kebingungan bercampur tersinggung.Apalagi dia langsung disiram dengan wine merah Oleh Nevran.

“Ap—“

Belum sempat ia protes, Nevran sudah merogoh dompetnya. Beberapa lembar uang merah tebal ditarik keluar, lalu dilemparkan tepat ke wajah gadis itu.

“Bayaran lo,” ucapnya dingin, nada suaranya datar namun penuh penghinaan.

Wajah gadis itu memerah, entah karena malu atau marah. Namun Nevran sudah tak peduli. Ia bangkit berdiri, merapikan jaket hitamnya dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa.

Tanpa menoleh lagi pada gadis yang masih terdiam kaget, Nevran melangkah pergi meninggalkan meja VIP itu.

Lampu disko berkilau di atas kepalanya, dentuman musik masih menggelegar, dan hiruk pikuk klub malam tetap berjalan. Namun Nevran berjalan lurus ke arah pintu keluar, punggungnya tegak, dingin, seolah baru saja membuang sampah yang tidak ada nilainya.

---

Nevran melangkah keluar dengan wajah datar, kedua tangannya terselip di saku celana. Dari kejauhan, mobil sport hitamnya sudah terparkir menunggu di bawah sorotan lampu jalan.

Seorang valet buru-buru menghampiri, membungkuk hormat sambil menyodorkan kunci. Nevran tak menghiraukannya, hanya meraih kunci itu dengan cuek lalu berjalan menuju mobil.

Brak!

Pintu mobil ditutup kasar. Nevran menjatuhkan diri ke kursi kemudi, melepaskan napas berat yang sejak tadi ia tahan. Tangannya mengepal di atas setir, rahangnya mengeras, matanya memandang kosong ke depan.

Kilatan wajah Daddy bersama sekretaris jalang itu kembali berkelebat di kepalanya. Senyum genit Mita, desahan jijik itu... terngiang di telinganya. Belum lagi fakta bahwa Mommy tidak tahu apa-apa. Beliau sibuk dengan karirnya, sementara di belakang, suaminya sendiri mengkhianati.

“Bangsat! Semua sama aja,” desisnya geram.

Ia menyalakan mesin mobil. Deruman garang terdengar, seolah ikut melampiaskan amarahnya. Gas diinjak dalam-dalam, roda berputar cepat, meninggalkan pekatnya malam dengan suara meraung.

Namun, rasa jijik itu belum hilang. Bibirnya masih terasa mual oleh bekas ciuman murahan dari gadis di klub tadi. Dengan kasar, ia menarik botol mineral dari dashboard, menuangkannya ke mulut.

Berkumur.

Ia memutar kaca jendela, lalu memuntahkan air itu keluar dengan semburan keras. Nevran mengulanginya lagi—berkali-kali, hingga rahangnya kaku, hingga tenggorokannya perih, seolah mencoba mengikis habis noda yang menempel.

“Anjing!” umpatnya, tangan menghantam setir dengan brutal.

“Jalang murahan itu .” Suaranya rendah, serak, seolah sumpah laknat yang dipaksa keluar dari kerongkongannya.

Kakinya menginjak gas lebih dalam. Jalanan malam yang kosong ia lahap dengan kecepatan gila.

---

Pagi itu, sekolah seperti biasa langsung berubah heboh begitu sebuah motor gede hitam melaju masuk ke area parkiran.

Bukan karena motornya. Tapi karena siapa yang ada di atasnya.

Nevran Garendra. Cowok paling dingin, paling ditakuti, paling tidak terduga. Dan di belakangnya—duduk manis dengan tangan melingkar di pinggangnya—adalah Brielle Ardelia Noor. Primadona sekolah. Putri Noor yang terkenal angkuh dan bar-bar.

Seketika, semua mata tertuju pada mereka.

“Anjir, liat tuh!”

“Brielle sama Nevran? Barengan lagi? Pagi-pagi?”

“Mereka berdua naik motor yang sama... artinya mereka berangkat dari rumah yang sama?”

“GILA! Udah tinggal serumah?!”

Brielle turun dengan muka masam, merapikan seragamnya yang sedikit berantakan karena kena angin. Ia tahu semua orang menatap, tapi pura-pura tidak lihat.

Sementara Nevran? Cowok itu santai melepas helm, merapikan rambutnya dengan satu tangan, lalu melirik Brielle sekilas. Tanpa ekspresi.

“Cie... cie... barengan mulu, heran!”

Suara Keisha langsung terdengar dari kejauhan. Ia berjalan cepat sambil menggandeng Celine, matanya menyipit nakal.

“Serius, lo berdua tuh kayak udah nikah aja, Bri,” tambah Celine sambil tersenyum tipis. “Pagi bareng, pulang bareng. Jangan-jangan...”

“JANGAN-JANGAN APA?!” potong Brielle cepat, wajahnya mulai merona.

Celine malah semakin lebar senyumnya. “Jangan-jangan malam juga bareng?”

“Celine! Lo mau gue tonjokin?!”

Keisha tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Brielle. “Santai, santai. Ini kan namanya dukungan dari sahabat-sahabat tercinta.”

“Dukungan apaan? Ini namanya nyari mampus!”

Di sisi lain, Axel dan Derryl yang dari tadi berdiri di dekat motor mereka, langsung ikut nimbrung.

“Wah, ini mah harus dirayakan,” ujar Axel santai. “Akhirnya ketua kita punya yang punya.”

“Setuju!” sahut Derryl antusias. “Gue usulin aja nanti kita makan bareng. Biar makin akrab.”

Nayel langsung menoyor kepala Derryl. “Lo mah pengennya makan gratis, Der!”

“Ya iyalah, siapa yang gak mau makan gratis?!”

Kyven yang sedang memeluk Alora ikut tertawa. “Udah, udah. Jangan diganggu. Biar mereka berdua aja.”

Brielle hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara Nevran—diam saja. Tapi matanya terus mengawasi Brielle dari samping.

Dan saat itulah—

Keisha menyikut Celine pelan. Keduanya saling pandang, lalu mendekati Nevran dengan langkah percaya diri.

“Nevran,” panggil Keisha manis.

Nevran menoleh datar. “Apa?”

“Kami titip sahabat kami, ya.” Keisha menunjuk Brielle. “Jangan sampai dia kenapa-kenapa.”

“Atau dia yang membuat orang lain kenapa-kenapa,” tambah Celine sambil tersenyum miring.

Nevran menatap Brielle sebentar. Lalu kembali ke Keisha. “Lo gak usah khawatir.”

“Pede amat,” celetuk Brielle.

Nevran mengabaikannya. “Dia aman sama gue.”

“Paling juga aman dari bahaya, tapi dia sendiri yang bahaya buat orang lain,” Celine nyengir.

Seketika semua tertawa. Brielle sampai ingin membanting ranselnya ke muka Celine.

“Udah, Celine! Lo jangan nyindir mulu!”

“Lho, emang salah? Bukannya kemarin lo cerita kalau lo—“

“DIEM!”

Keisha memegang perut saking ngakaknya. “Bri, bri... tenang... muka lo udah kayak kepiting rebus.”

Nevran hanya menyaksikan. Tapi sudut bibirnya—naik sedikit. Sangat kecil. Hampir tak terlihat.

Tapi Axel melihatnya. Dan ia melongo dalam hati. Bos tersenyum. Bos beneran tersenyum.

---

Di kejauhan, Elvaro Zenith —pacar Brielle—baru saja selesai memarkirkan mobilnya. Ia melangkah ke arah keramaian dengan senyum khasnya yang lembut.

Namun begitu melihat pemandangan di depan matanya, senyum itu langsung mengeras.

Nevran berdiri di samping Brielle. Sangat dekat. Dan tangan cowok itu—tangan kekar yang penuh tato itu—tiba-tiba melingkar di pinggang Brielle dengan santai.

Seperti miliknya.

Brielle langsung kaget. “Lo apaan sih, Cadel?!” Ia mencoba melepaskan, tapi Nevran tidak bergeming.

“Berdiri aja yang bener,” ucap Nevran datar. “Lo hampir jatuh tadi.”

“Gak ada yang jatuh! Gue baik-baik aja!”

“Sekarang udah.”

Brielle mendelik. “Lepasin, Cadel! Orang lihat!”

“Biarkan.”

“NEVRAN!”

Nevran malah mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekati telinga Brielle. Bukan untuk berbisik mesra—tapi untuk sesuatu yang lebih mengganggu. “Lo teriak-teriak, tambah banyak yang lihat.”

Brielle menggertakkan gigi. Tapi sadar itu benar. Ia hanya bisa diam dan membiarkan tangan Nevran tetap di pinggangnya—tapi di dalam hati, ia sudah menyumpahi cowok cadel ini seribu kali.

Dan Elvaro melihat semuanya.

Dari kejauhan, ia melihat tangan Nevran di pinggang pacarnya. Melihat Brielle yang mencoba meronta, tapi tidak lepas. Melihat ekspresi Nevran yang datar—tapi matanya... matanya berbicara sesuatu.

Elvaro melangkah mendekat.

“Sayang.”

Brielle menoleh. Wajahnya sedikit panik. “El—“

“Lo apaan sih?” Elvaro menatap Nevran dengan dingin. “Lepasin tangan lo?”

Nevran tidak menjawab. Tidak juga melepas.

“Lo dengar?” Elvaro melangkah maju satu langkah. “Gue bilang, lepas tangan lo dari pacar gue.”

Hening.

Semua siswa di sekitar mulai memperhatikan. Keisha dan Celine saling pandang. Axel dan Derryl ikut menegang.

“Pacarnya?” ulang Nevran pelan.

Elvaro mengangguk tegas. “Iya. Gue pacarnya.”

Nevran menoleh ke Brielle. Matanya bertanya—tapi bukan bertanya. Lebih seperti menguji.

Brielle menggigit bibir. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, Elvaro memang pacarnya. Tapi di sisi lain... kenapa dadanya terasa aneh saat Nevran melepas tangannya?

Elvaro meraih tangan Brielle lembut. “Ayo, Sayang. Kita ke kelas.”

Brielle mengangguk pelan. Tapi sebelum ia melangkah—ia melirik Nevran sekilas.

Cowok itu sudah membuang muka. Tangannya kembali masuk ke saku celana. Ekspresinya datar. Tapi rahangnya mengeras.

“Hati-hati di jalan, Elle,” ucap Nevran pelan, tanpa menoleh. Suaranya datar, tapi ada sarkas kecil di sana. “Jangan sampai lo jatuh lagi.”

Brielle tidak menjawab. Ia membiarkan Elvaro menggandengnya pergi.

Di belakang mereka, Keisha bersiul kecil. “Waduh... panas, panas.”

Celine mengangguk. “Ini mah udah kayak sinetron.”

Axel menepuk pundak Nevran pelan. “Lo gak ngejar, Bos?”

Nevran menggeleng. “Nggak.”

“Tapi —”

“Diem.”

Axel tertawa kecil. “Suka-suka lo, Bos.”

Bersambung

1
Lucky Ferdinand Sihombing
lanjutttgt
Lucky Ferdinand Sihombing
Gak brisik gak Briellle 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
lucu bet mereka berantam 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
hadir 💪
jeeny sihombing
lanjut pokoknya💪
jeeny sihombing
keren
cila_aa
Haii salam kenal kak🖐


bantu support juga yaa😇
Alia Chans: Salken juga kk☺
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
et si cadel bisa ae maen nyosor aja 😩
Wulandari Ayuningtyas: wkwk🤣🤣
total 2 replies
Wulandari Ayuningtyas
itu om om suruh share lok buruan thor,mau aku gampar dengan kata kata 🤣
Wulandari Ayuningtyas: iya biar sadar dia 🤣
total 2 replies
Adinda
buat peran cewek Manis dan imut anak pindahan sekolah lain Dan buat brielle panas karena nevran dekat sama cewek itu Thor pasti seru
Alia Chans: Saran diterima kk🙏🏻😊
total 1 replies
jeeny sihombing
good💪
jeeny sihombing
suka pokoknya, cerita nya gk klise gitu, bintang lima deh
Nelson Sihombing
mampir
SANG
Asik ya
SANG
Seru ya
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Bunga untukmu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG: Masama dek/Rose/
total 2 replies
SANG
Lanjut dek👍💪
SANG
Semangat dek👍💪
SANG
Aku hadir dek👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!