NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 04

Pagi itu sekolah terasa lebih bising dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Jolina saja yang sedang kacau. Langkahnya gontai saat memasuki kelas. Tasnya ia letakkan begitu saja di kursi, lalu ia menjatuhkan diri di bangku tanpa semangat.

Audrey dan Zoya langsung menghampiri.

“Jo,” Zoya mencondongkan badan. “Sebenernya semalem itu kenapa sih?”

Audrey ikut menatapnya penuh selidik. “Iya. Kenapa tiba-tiba lo ngajak pulang?”

“Terus… kok bisa lo ketemu Jr sama staf segala?”

Nada penasaran itu justru membuat Jolina kesal. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke depan sebelum akhirnya berbalik ke arah mereka.

“Karena apa yang gue liat semalem,” ucapnya datar, “nggak bener.”

Audrey dan Zoya saling pandang.

Jolina pun menceritakan semuanya. Dari lorong belakang panggung, suara pertengkaran, gadis bermasker itu, sampai bagaimana Jr terlihat mendorong gadis tersebut. Suaranya bergetar di beberapa bagian, tapi matanya tajam—tidak ada sedikit pun tanda bercanda.

Ruangan kecil di sudut kelas itu terasa sunyi.

Audrey mengernyit. “Masa sih… Jr kayak gitu?”

Zoya menelan ludah. “Seriusan lo, Jo?”

“Serius,” jawab Jolina cepat. “Gue tau apa yang gue liat.”

Ia melanjutkan, suaranya makin pelan namun menusuk.

“Gadis itu ketakutan. Tangannya gemeter. Cara dia nutupin badannya—itu bukan reaksi orang biasa.”

“Dan cara Jr marah ke dia… itu bukan cuma marah.”

Audrey memijat pelipisnya. “Jadi lo mikir…”

“Gue nggak tau dia ngapain persisnya,” potong Jolina, “tapi jelas ada sesuatu yang nggak bener.”

Zoya bergidik. “Ih… gue jadi mual.”

Audrey ikut menghela napas berat. “Kalau Jr aja kayak gitu, gimana yang lain?”

“Ya gue nggak tau,” jawab Jolina jujur. “Dan gue nggak mau tau.”

Ia bersandar ke kursi. “Gue nggak bisa pura-pura bego.”

Zoya menatapnya ragu. “Jadi lo beneran nggak mau ngidolain mereka lagi?”

“Iya,” Jolina mengangguk tegas. “Gue nggak bakal kepoin, nggak bakal follow, nggak bakal dukung.”

“Kalau bisa…” ia tersenyum sinis, “gue jadi haters sekalian.”

Audrey menghela napas. “Lo lebay nggak sih, Jolin?”

“Nggak,” jawab Jolina tanpa ragu. “Fix gue benci banget sama tuh orang.”

Audrey dan Zoya terdiam. Wajah mereka terlihat lelah, seolah pagi itu tiba-tiba menjadi terlalu berat untuk dijalani.

Beberapa detik berlalu dalam diam, sampai Jolina kembali membuka suara.

“Eh… by the way,” katanya pelan, “salah satu dari kalian ada yang bersedia nampung gue beberapa hari nggak?”

“Ha?” Zoya spontan menoleh.

“Kenapa lo?”

Audrey ikut menyahut, “Lo berantem sama nyokap lo?”

“Atau gara-gara kita ketahuan nonton konser?” tambah Zoya.

“Bukan itu,” jawab Jolina lemah.

“Kalo gitu kenapa?” tanya Audrey.

Jolina menghela napas panjang. “Nyokap gue…”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata cepat seolah takut kehilangan keberanian,

“Nyokap gue ternyata udah nikah sama Om Mulya.”

“What?!” Zoya nyaris berteriak.

Audrey membelalakkan mata. “Serius lo?”

“Jolin,” suara Zoya melambat, “lo punya bokap baru?”

“Om Mulya?” Audrey mencondongkan badan. “Temen nyokap lo itu? Yang kaya itu?”

“Iya,” jawab Jolina lirih. “Siapa lagi?”

“Gila…” Zoya mengusap wajahnya. “Kok bisa? Kapan?”

“Gue juga nggak tau,” suara Jolina melemah. “Tau-tau udah kejadian.”

Ia menatap meja, jemarinya saling meremas.

“Gue nggak setuju. Dari dulu gue udah bilang.”

“Tapi mereka udah nikah… gue harus gimana?”

Audrey dan Zoya kembali saling pandang. Kali ini bukan bingung—tapi khawatir.

Jolina duduk di antara Audrey dan Zoya, bahunya masih naik-turun menahan sisa isak yang belum sepenuhnya reda. Kalimat Audrey barusan membuat pertahanan terakhirnya runtuh.

“Ya ampun, Jo… yang sabar ya,” ucap Audrey lembut. “Lo bisa tinggal beberapa hari di rumah gue. Kebetulan nyokap sama bokap lagi pergi.”

Jolina menoleh cepat, matanya berkaca-kaca. “Beneran nih, gapapa? Sorry banget gue ngerepotin.”

Audrey mengedikkan bahu, tersenyum kecil. “Gapapa. Santai aja.”

“gue juga ikut nemenin lo di rumah Audrey,” sambung Zoya tanpa ragu.

Kalimat itu seperti pelukan hangat yang akhirnya sampai. Jolina langsung mewek. Air matanya jatuh deras, bahunya bergetar. Audrey dan Zoya refleks memeluknya dari kanan dan kiri, menahan tubuh Jolina yang terasa rapuh.

“Udah, jangan nangis,” kata Audrey, menepuk punggungnya pelan.

“Kenapa mama egois banget sih sama gue?” suara Jolina bergetar. “Kenapa mama nggak mikirin perasaan gue? Perasaan gue tuh… sakit banget.”

Zoya menghela napas pelan. “Mungkin juga nyokap lo udah bosan sendiri kali.”

“Atau pengen ada yang nafkahi,” Audrey menimpali hati-hati.

Zoya mengangguk. “Itu juga bisa, Jo. Om Mulya kan kaya raya, siapa sih yang nggak mau hidup aman? Lagian nyokap lo sama om Mulya udah deket lama, kan? Nggak mungkin nggak ada sesuatu.”

Jolina menggeleng keras, air matanya jatuh ke punggung tangannya. “Gue tau om Mulya baik… gue tau. Tapi… nggak ada yang bisa gantiin papa.”

Suasana hening sesaat. Lalu Audrey menarik napas dalam-dalam, suaranya lebih pelan tapi tegas.

“Om Mulya memang nggak akan pernah bisa gantiin posisi bokap lo, Jo. Sampai kapan pun nggak akan bisa,” katanya. “Dan itu nggak salah. Bokap lo tetap bokap lo. Cinta lo ke beliau nggak berkurang cuma karena nyokap lo nikah lagi. Tapi mungkin… pernikahan nyokap lo itu bukan tentang ngelupain papa lo, tapi tentang gimana dia bertahan hidup setelah kehilangan.”

Jolina terdiam.

“Kadang orang dewasa juga capek sendirian,” lanjut Audrey. “Mereka juga butuh ditemenin, butuh sandaran. Itu nggak berarti mereka berhenti sayang sama masa lalu.”

Zoya mengusap lengan Jolina pelan. “Perasaan lo valid, Jo. Marah, kecewa, sedih—semua wajar. Tapi jangan lo pendam sampai nyakitin diri lo sendiri.”

Jolina menunduk, menatap lantai. Dadanya masih sesak, tapi kata-kata itu perlahan masuk, meski belum sepenuhnya ia terima.

“Udah, jangan terlalu dipikirin dulu,” kata Audrey. “Tenangin diri lo beberapa hari.”

“Iya,” sahut Zoya sambil tersenyum tipis. “Kalau hati lo udah agak lega, gue yakin semuanya bakal kelihatan lebih jelas. Pelan-pelan aja.”

Jolina mengangguk pelan. Ia masih terluka, masih bingung, masih marah. Tapi setidaknya sekarang, ia tidak sendirian.

***

Langit sore itu sedikit mendung ketika bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Tanpa banyak bicara, Jolina langsung memasukkan bukunya ke dalam tas dan melangkah cepat keluar kelas. Audrey dan Zoya saling pandang, lalu ikut menyusulnya.

Begitu keluar dari gerbang sekolah, langkah Jolina mendadak melambat. Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir rapi di pinggir jalan, terlihat sangat kontras dengan motor-motor siswa lain. Kaca jendelanya turun, dan suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.

“Joliiin!”

Jolina menoleh sekilas. Wajahnya langsung mengeras. Tanpa berkata apa-apa, ia memalingkan muka dan mempercepat langkahnya.

Audrey mengernyit. “Loh, kok malah jalan?”

“Jolin, itu nyokap lo…” bisik Zoya.

“Biarin aja,” sahut Jolina ketus tanpa menoleh, langkahnya makin jauh meninggalkan mereka.

Audrey dan Zoya berhenti di tempat. Mereka saling pandang sesaat sebelum akhirnya mendekat ke arah mobil.

“Sore, Tante,” sapa Audrey sopan, diikuti Zoya yang mengangguk kecil.

Ibunya Jolina tersenyum tipis, tapi jelas terlihat lelah di wajahnya. “Kenapa itu si Jolin?”

Audrey ragu. “Ah… itu…”

“Oh, Tante tau kok,” potong sang ibu pelan. “Dia pasti udah cerita ya sama kalian?”

Audrey dan Zoya ingin mengangguk, tapi rasanya tidak enak. Akhirnya mereka hanya saling pandang dan tersenyum canggung.

“Ya salah Tante sih, Tante terlalu egois” lanjutnya, menarik napas panjang.

“Jolin-nya aja yang masih kurang dewasa tante" ucap Zoya.

Audrey mengangguk cepat. “Iya, Tante. Dan sepertinya Jolin butuh waktu. Rencananya beberapa hari dia mau nginap di rumah saya.”

Wajah sang ibu langsung berubah panik. “Aduh, jangan deh… Soalnya kami harus segera beres-beres. Barang-barang juga udah mulai dipindahin.”

“Hah?” Zoya spontan bersuara.

Ibunya Jolina tersenyum kecil, getir. “Ah... Agak buru-buru sih memang. Tapi cuma pindah rumah kok. Soalnya… sejak ayahnya Jolin meninggal, keluarga ayahnya minta rumah itu. Jadi sekarang kami nggak punya tempat tinggal.”

“Ya ampun, Tante…” suara Audrey lirih, penuh simpati.

“Duh, Tante malah jadi curhat lagi,” katanya cepat, seolah menyesal. “Udah, ayo sekalian Tante antar kalian pulang. Kita nyusul Jolin juga.”

“Iya, Tante,” jawab Audrey dan Zoya hampir bersamaan.

Mereka pun masuk ke dalam mobil. Mesin dinyalakan, lalu perlahan mobil itu melaju menyusuri jalan, mengejar sosok Jolina yang sudah berjalan jauh di depan—dengan punggung kaku dan langkah penuh amarah yang belum sempat reda.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!