Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Wajah Andara pucat pasi dan tubuhnya sedikit bergetar saat berhadapan dengan pria yang berdiri tegak di hadapannya.
“Apa kabar Andara ?”
Bukan cuma diam, Andara juga membuang muka, enggan menatap Irfan. Rasanya menjijikan melihat Irfan masih bisa tersenyum dan tidak menunjukkan rasa bersalah apalagi menyesal telah menghancurkan hidup Andara.
“Jangan katakan kamu sudah lupa padaku Andara,”
“Mau apa kamu kemari ?”
“Kamu ?” Irfan mengerutkan dahi, menatap Andara dengan mata memicing lalu tertawa sinis.
“Hhhhmmm…. Ternyata kamu cepat menyerap gaya hidup orang kota.”
Sadar kalau meladeni Irfan hanya buang-buang waktu, Andara melewatinya namun tertahan oleh cengkraman pria itu.
“Lepaskan atau aku akan berteriak !” ancam Andara tanpa menoleh.
“Silakan ! Aku tidak berbuat salah, hanya ingin bertemu dengan mantan istriku. Apa anak ini….” Irfan sengaja menggantung kalimatnya dan yakin Andara paham dengan maksudnya.
Melihat mobil yang menjemputnya sudah ada di lobi, Andara menghentakkan lengannya kuat-kuat hingga pegangan Irfan terlepas seteah itu bergegas ia keluar dan langsung masuk ke dalam mobil.
Jantungnya berdebar tidak karuan karena emosi yang sudah lama dipendam kembali bergejolak ingin meledak seperti gunung berapi.
Firasatnya mengatakan kalau kedatangan Irfan ke Jakarta bukan karena masih peduli dengan Andara atau Fajar tapi ada orang yang memprovokasinya karena mendengar kabar kalau Andara sudah bekerja di tempat keluarga kaya.
Bicara soal uang, tiba-tiba terlintas dalam benak Andara soal kemungkinan ada orang yang menawarkan bayaran pada Irfan untuk mengacak-acak hidup Andara.
Laki-laki mata duitan itu pasti langsung tergiur dengan jumlah yang ditawarkan karena bagi Irfan uang adalah segalanya. Dengan uang Irfan merasa bisa membeli segala sesuatu termasuk harga dirinya.
Karena rasanya aneh tiba-tiba Irfan ada di rumah sakit dan waktunya bisa pas dengan jadwal Andara membawa Lily ke dokter.
Tapi siapa yang paling tahu soal Irfan sebagai mantan suami Andara dan apa tujuannya mempekerjakan pria brengsek itu mengganggu Andara ?
Apa mungkin Baskara ? Saat ini hanya Baskara yang sangat menginginkan Andara pergi dari kehidupan keluarganya. Tapi bukankah mereka sudah sepakat menunggu sampai Lily MPASI ?
Beberapa kali Andara menghela nafas sambil menebak-nebak siapa lagi yang mungkin membayar suaminya sampai datang ke Jakarta.
Apa mungkin pak Baskara memanggil Irfan karena merasa tidak mungkin menyuruhku pergi baik-baik secepatnya ?
Atau dia takut aku tidak akan menepati janjiku malah membuat Lily semakin terikat denganku ?
Tidak mungkin bu Deswita dan hanya pak Bas satu-satuny orang yang mengingkan aku menghilang. Tapi kenapa juga harus melibatkan pria brengsek itu ?
Tanpa sadar Andara menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengusir ingatan buruk tentang kehidupannya bersama Irfan.
Tidak ! Aku tidak akan membiarkannya mengacaukam hidupku lagi ! Aku akan melawan malah kalau perlu aku akan membuatmu jera !
“Mbak Ara kenapa ?” tanya sopir sambil menatap Andara dari spion tengah.
“Eh… nggak apa-apa pak Aji. Hanya sedikit pegal.” Malu-malu Andara menjawab, lupa kalau ia sedang tidak sendirian.
“Saya kira kenapa.” Aji pun tertawa pelan.
Andara berusaha ikut tersenyum meski hatinya resah. Ia berharap waktu cepat berlalu supaya bisa pergi dari kehidupan keluarga Baskara walau rasanya sangat berat meninggalkan Daisy dan Lily.
***
Setelah memastikan Lily sudah tidur pulas, Andara keluar kamar untuk menengok Daisy. Sudah 3 hari ini mendadak gadis kecil itu jadi pendiam lagi bahkan seperti menghindari Andara.
Dengan sangat pelan dan hati-hati Andara membuka pintu kamar. Meski cahaya temaram, Andara bisa melihat kalau Daisy sudah tidur pulas.
“Sudah tidur sekitar sepuluh menit mbak,” ujar Lastri saat Andara berdiri di samping tempat tidur Daisy.
Ingin rasanya mencium kening Daisy tapi Andara khawatir hubungan batin mereka semakin dekat dan akhirnya akan semakin sulit berpisah.
“Kalau nanti saya sudah tidak bekerja di sini, titip Daisy ya mbak Lastri. Sebetulnya dia anak yang baik hanya kurang perhatian dan kasih sayang.”
“Memangnya mbak Ara mau kemana ? Jadi Lily nggak punya ibu susu ?” Lastri tampak kaget dan volume suaranya naik sampai Andara menyuruhnya lebih pelan dengan menggunakan isyarat telunjuk di depan bibir.
“Maaf.” Lastri ikut menutup mulutnya.
“Rencananya saya mau pulang kampung dulu dan soal ibu susu Lily, saya juga tidak tahu, tergantung pak Bas dan bu Deswita.”
“Apa Daisy sudah tahu ?”
“Belum.” Andara menggeleng. “Saya tidak mau memberitahunya sekarang.”
“Atau jangan-jangan Daisy sudah dengar dari orang lain makanya beberapa hari ini jadi uring-uringan dan suka ngambek ?”
Andara menautkan kedua alisnya, mencoba memikirkan ucapan Lastri.
“Tapi saya belum bilang sama siapapun, baru sama mbak Lastri.”
“Kenapa nggak tunggu sampai Lily satu tahun, mbak Ara ?”
Sambil tersenyum, Andara menggeleng. “Saya ada keperluan dan sepertinya tidak akan selesai cepat.”
“Kalau boleh jujur, di rumah ini cuma mbak Ara yang bikin saya tenang. Pelayan yang lain bikin bulu bergidik seperti di film-film horor apalagi mbak Sumi.”
Andara terkekeh sambil menutup mulutnya supaya Daisy tidak terbangun.
“Lama-lama pasti lembut juga.” ujar Andara.
“Mudah-mudahan.”
Merasa sudah cukup lama meninggalkan Lily, Andada pamit kembali ke kamarnya. Bibirnya tersenyum melihat Lily masih lelap bahkan posisi berbaringnya belum berubah.
Sebelum tidur, Andara mengambil handphone, memeriksa pesan masuk. Biasanya Deswita rutin menanyakan kabar Daisy dan Lily minimal 2’hari sekali.
Dahinya berkerut melihat nomor asing mengirim 10 pesan untuknya. Begitu dibuka, mata Andara langsung membola. Meskipun tidak menyebut nama, Andara langsung tahu pengirimnya sudah pasti Irfan.
“Darimana dia tahu nomorku ?” gumam Andara.
Isi pesannya membuat hati Andara langsung panas sampai ia menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan emosinya.
Tiba-tiba nomor itu melakukan panggilan telepon. Tanpa berpikir dua kali Andara langsung menekan tombol merah lalu memblokir nomor Irfan dan merubah setingan status pesan menjadi tidak terlihat.
“Kenapa pak Bas harus melibatkan dia untuk mengusirku ?” gerutu Andara sambil meletakkan handphonenya di atas nakas.
Sebetulnya Andara cukup lelah hari ini tapi masalah Irfan membuat matanya tidak bisa langsung terpejam.
“Tuhan, jangan biarkan dia mengacaukan hidupku sampai kedua kalinya,” pinta Andara dengan sepenuh hati.