NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Gerbang Trowulan dan Pendaftaran prajurit

Langkah kaki Mada terasa begitu mantap saat ia menapakkan kakinya di atas jalan tanah berbatu yang membelah keheningan pinggiran ibu kota Majapahit, Trowulan. Pakaiannya sangat bersahaja, hanya berupa kain jarik lusuh sewarna tanah kering dan baju katun kasar tanpa lengan yang jamak dikenakan oleh anak-anak petani pinggiran Hutan Tarik. Penampilannya sama sekali tidak mengundang perhatian, selayaknya pemuda desa kebanyakan yang datang ke kota raja untuk mengadu nasib. Namun, di balik kain pinggang bagian belakangnya, tersembunyi dengan sangat rapat sebilah senjata pusaka warisan mendiang gurunya, Rama Sidacerma: Keris Nogo Kumolo. Seluruh pendaran energi mistis dari keris berluk tiga belas itu telah dikunci total melalui teknik mengunci lubang spiritual tingkat tinggi yang ia kuasai, membuatnya tampak seperti besi tua mati tanpa nyawa ghaib.

Di usianya yang baru menginjak lima belas tahun, raga Mada sebenarnya telah tumbuh jauh melampaui kewajaran remaja sebayanya. Tubuhnya jangkung dengan dada bidang yang tegap, serta sepasang lengan kokoh yang dipenuhi urat otot padat yang keras bagaikan dipahat dari batang pohon jati purba. Kedalaman sorot matanya sedalam sumur tua, tenang dan menyimpan keteguhan batin yang luar biasa. Namun, berkat kesempurnaan teknik kamuflase raga yang ia sempurnakan di tahun terakhirnya di Hutan Tarik, seluruh aura kekuatan masif miliknya melarut sempurna ke dalam inti sumsum tulang. Siapa pun yang melihatnya, termasuk para praktisi kanuragan, hanya akan mengira dia adalah seorang pemuda desa bertubuh besar yang lugu, berotot kasar hanya karena terbiasa memikul kayu bakar dan mencangkul ladang tandus.

Matahari siang membakar bumi dengan terik yang menyengat ketika Mada sampai di depan dinding-dinding bata merah raksasa yang membentang tinggi, membentengi pusat Kota Raja Trowulan. Gerbang utama kerajaan yang terbuat dari kayu besi berlapis tembaga berdiri dengan megah, dijaga oleh barisan prajurit berseragam sutra merah dengan tombak bertombak pamor yang mengilat di bawah siraman cahaya matahari. Di pelataran luar gerbang tersebut, ribuan pemuda dari berbagai penjuru kadipaten, mulai dari tanah pedalaman Jawa, pesisir, hingga tanah seberang, telah berkumpul membentuk antrean yang mengular panjang dengan tertib.

Hari itu adalah hari yang amat dinantikan oleh para pemuda Nusantara: pembukaan pendaftaran massal untuk seleksi prajurit pangkat Tamtama, strata paling bawah dan menjadi garda terdepan dalam sistem militer Kahuripan dan Majapahit. Bagi sebagian besar pemuda desa, menjadi prajurit Tamtama adalah jalan tunggal untuk mengubah nasib, keluar dari kemiskinan, atau mencari kehormatan di tengah berkecamuknya intrik antarwilayah.

Mada melangkah tenang, mengambil tempat di barisan tengah antrean. Ia menyatu di antara desakan uap keringat, debu jalanan yang beterbangan, dan gumaman cemas dari para pemuda yang sibuk merapikan pakaian atau memeriksa fisik mereka sendiri. Sementara orang-orang di sekitarnya tampak gelisah, sepasang mata hitam Mada bergerak senyap tanpa riak. Ia mengamati setiap jengkal penjagaan di atas menara gerbang, mencatat formasi jaga prajurit, menghitung jeda pergantian patroli, hingga mengukur tingkat kekuatan batin para perwira menengah yang lalu lalang. Ia mengaktifkan kemampuan mata sakralnya (Niti Sastra Level 2) setipis mungkin, serupa riak air yang tak kasat mata, agar tidak memicu radar spiritual istana atau memancing perhatian para tetua faksi hitam yang mungkin berkeliaran di sekitar pusat pemerintahan.

Dari pengamatannya, Mada melihat betapa birokrasi militer bawah pun telah sedikit banyak terpengaruh oleh hawa ketegangan politik. Para prajurit jaga tampak lebih sinis, dan pemeriksaan kantong barang bawaan para pendaftar dilakukan dengan sangat ketat untuk mengantisipasi adanya penyusup dari kadipaten pembangkang. Mada memastikan posisi Keris Nogo Kumolo benar-benar terselip di area buta pinggangnya, menyatu dengan lekukan otot panggulnya sehingga tidak akan menonjol saat digeledah secara fisik.

"Nama?!" bentak seorang perwira pendaftaran bertubuh tambun dan bermuka masam yang duduk di balik meja kayu jati besar di samping pilar gerbang. Tangannya memegang sebatang pena bulu ayam yang siap dicelupkan ke dalam wadah tinta hitam.

Ketika giliran Mada tiba, ia melangkah maju dengan langkah yang sengaja dibuat agak berat, dengan kepala yang sedikit menunduk. Ini adalah gestur kepatuhan sempurna yang diajarkan oleh Rama Sidacerma—sebuah laku batin untuk membuang segala bentuk ego dan kesombongan ksatria, sekaligus penyamaran terbaik di hadapan para pembesar yang gemar dihormati.

"Mada, Tuan. Hamba datang dari desa pinggiran Hutan Tarik," jawabnya dengan suara yang rendah, berat, namun sengaja dibuat sedikit gagap dan bergetar, layaknya seorang anak ladang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota besar dan gugup menghadapi perwira kerajaan.

Perwira bertubuh tambun itu mendongak malas. Matanya yang kecil dan mengantuk mengamati postur tubuh Mada dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia sempat tertegun sesaat melihat lebar bahu dan tinggi badan Mada yang di atas rata-rata pemuda seusianya. Perwira itu bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja, lalu memukul pundak dan lengan Mada dengan gagang tongkat kayunya untuk memeriksa kepadatan daging sang pendaftar.

Tuk! Tuk!

"Tubuhmu jangkung dan tegap, tulang-tulangmu juga besar. Cocok untuk memikul perisai kayu berat atau menjadi barisan logistik di garis belakang," ucap sang perwira sambil kembali ke tempat duduknya. Ia meletakkan telapak tangannya di dekat dada Mada, mencoba merasakan riak hawa murni atau tanda-tanda latihan kanuragan tingkat tinggi. Setelah beberapa saat, seulas senyum meremehkan muncul di sudut bibir sang perwira. "Tapi sayang, tubuhmu kosong melompong. Tidak ada satu jengkal pun aliran hawa murni (Kanuragan Raga) di dalam urat-uratmu. Kamu tidak pernah belajar ilmu batin, bukan?"

Mada tetap mempertahankan wajah polosnya, matanya menatap ujung kaki sang perwira dengan khidmat. "Hamba tidak mengerti ilmu batin atau kesaktian, Tuan. Di desa, hamba hanya terbiasa membelah batang pohon jati dan memikulnya ke pasar kadipaten untuk bertahan hidup."

Perwira itu terkekeh sinis, lalu mencelupkan penanya ke dalam tinta dan menuliskan nama 'Mada' dengan tulisan yang besar di atas lembaran daun lontar resmi militer. "Sudah kuduga. Dasar anak gunung. Ingat Mada, di barisan Tamtama Majapahit, kami tidak membutuhkan otak yang cerdas atau kesaktian ghaib yang merepotkan dari orang-orang rendahan. Yang kami butuhkan adalah urat daging yang patuh, kekuatan fisik untuk bertahan di medan berat, dan nyawa yang siap dibuang di barisan paling depan saat perang pecah. Kamu paham?"

"Hamba sangat paham, Tuan. Hamba hanya ingin mengabdi pada kerajaan dan mencari sesuap nasi yang layak untuk menyambung hidup," balas Mada, merendahkan suaranya sedalam mungkin, mengunci erat-erat jati diri aslinya sebagai murid tunggal dari mantan Mahapatih tertinggi yang pernah ada.

"Bagus. Sikap patuh seperti itu yang akan membuatmu bertahan hidup lebih lama di sini," perwira itu mengambil sebuah tanda pengenal yang terbuat dari kepingan kayu murah berlambang angka pendaftaran 047, lalu melemparkannya ke atas meja. "Jangan senang dulu karena namamu sudah tertulis di sini. Ini barulah gerbang pendaftaran. Besok pagi, sebelum fajar menyentuh pucuk pohon beringin alun-alun, seluruh pendaftar wajib mengikuti rangkaian ujian fisik dan mental yang brutal. Jika kamu gagal, kamu akan langsung diusir keluar dari Trowulan tanpa ampun. Ambil tanda kayu ini, lalu segera masuk ke baris penampungan sementara di sebelah barat!"

Mada membungkuk dalam-dalam, mengulurkan kedua tangannya dengan sikap hormat yang penuh untuk memungut kepingan kayu kasar tersebut. Saat jemarinya yang kapalan mencengkeram tanda pendaftaran itu, sebuah keteguhan yang tak tergoyahkan terkunci di dalam batinnya.

Langkah pertamanya dalam merintis karier militer secara legal dari titik nol telah resmi dimulai. Ia tidak masuk melalui jalur khusus, tidak pula membawa nama besar keturunan bangsawan. Ia masuk sebagai Mada, seorang pemuda biasa yang siap merangkak dari dasar sistem ketentaraan. Di dalam baris penampungan barat yang mulai dipenuhi oleh ratusan pemuda dari berbagai latar belakang yang saling pandang dengan penuh rasa persaingan, Mada duduk bersila di atas tanah. Ia memejamkan matanya, mengistirahatkan raganya, dan bersiap menghadapi ujian pertamanya di esok hari demi membuktikan kelayakannya sebagai seorang prajurit sejati di bumi Majapahit.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!