NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Data Yang Tidak Masuk Akal

Pagi itu langit kota tampak cerah, tetapi suasana di lantai tiga puluh satu justru terasa berat dan tidak biasa. Orang-orang datang seperti biasa, membuka laptop, menyusun agenda, dan berbicara pelan, namun ada sesuatu yang tidak terlihat yang membuat ritme terasa sedikit bergeser.

Zayden sudah berada di ruangannya sejak sebelum pukul tujuh. Meja kerja tetap rapi seperti kebiasaannya, layar laptop menyala dengan deretan email yang belum dibalas, tetapi perhatiannya tidak benar-benar tertuju ke sana. Pikirannya masih tertinggal pada malam sebelumnya, pada satu kejadian yang seharusnya sederhana namun justru mengusik lebih dalam.

Tubuh kecil Rheon yang panas saat digendong.

Cara anak itu bersandar tanpa ragu seolah sudah mengenalnya lama.

Dan perasaan aneh yang muncul tanpa izin, sesuatu yang tidak bisa ia kategorikan sebagai sekadar simpati.

Ia duduk diam beberapa saat, lalu berdiri dan berjalan ke jendela. Kota mulai bergerak di bawah sana, kendaraan semakin ramai, tetapi semua itu terasa jauh. Ia terbiasa mengendalikan keadaan, terbiasa memahami setiap situasi sebelum bergerak, namun kali ini ada bagian yang tidak bisa ia baca dengan jelas.

Pintu diketuk dua kali.

"Masuk."

Arsen masuk dengan map tebal di tangan, langkahnya terukur seperti biasa. Ia tidak bertanya, tidak memberi komentar, hanya menjalankan apa yang diminta.

"Pak, laporan lengkap yang Anda minta."

Zayden tidak langsung mengambilnya. Tatapannya jatuh pada map itu seolah tahu bahwa isi di dalamnya bukan sekadar data, melainkan sesuatu yang bisa mengubah arah pikirannya.

"Letakkan."

Arsen meletakkannya dengan hati-hati di atas meja.

"Ini data personal Bu Elvara selama lima tahun terakhir, termasuk riwayat luar negeri dan catatan medis."

"Keluar."

"Baik, Pak."

Pintu tertutup kembali, menyisakan keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada suara selain detak jam halus di dinding dan napas Zayden yang sedikit lebih dalam dari biasanya.

Ia berdiri beberapa detik, lalu akhirnya duduk dan menarik map itu ke arahnya. Tangannya tidak terburu-buru, tetapi ada ketegangan kecil yang tidak biasa di jemarinya.

Halaman pertama terbuka.

Identitas dasar tertulis rapi, tanpa kejanggalan. Nama lengkap, tanggal lahir, riwayat pendidikan, pekerjaan. Semua sesuai dengan yang ia ketahui selama ini. Tidak ada yang mencolok, tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Ia membalik halaman berikutnya.

Riwayat tempat tinggal.

Beberapa tahun di luar negeri, dengan detail kota dan alamat yang tercatat jelas. Matanya berhenti sejenak di salah satu nama kota, lalu bergerak lagi tanpa komentar.

Ia lanjut ke halaman berikutnya.

Status pernikahan.

Tidak ada.

Riwayat pasangan resmi.

Tidak ada.

Zayden membaca ulang bagian itu dengan lebih pelan. Kata-kata yang seharusnya sederhana terasa terlalu kosong, seolah ada sesuatu yang sengaja tidak ditulis.

Jarinya mengetuk meja sekali.

Ia membalik lagi.

Data anak.

Nama: Rheon Naysha.

Usia: lima tahun.

Ayah: tidak tercantum.

Tangannya berhenti di sana lebih lama. Kata-kata itu sederhana, tetapi dampaknya tidak. Kosongnya kolom itu terasa seperti sesuatu yang disengaja, bukan sekadar kelalaian.

Ia menutup mata sejenak, menarik napas, lalu membuka halaman berikutnya.

Catatan medis.

Rumah sakit luar negeri.

Tanggal persalinan.

Matanya langsung berhenti di angka itu. Ia membaca pelan, lalu kembali mengulanginya dengan lebih teliti. Angka itu tidak berubah, tidak bergeser, tetap berada di sana seperti fakta yang menunggu untuk diakui.

Tanggal.

Bulan.

Tahun.

Dan semuanya langsung terhubung dengan satu memori yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ia membaca sekali lagi, memastikan tidak ada kesalahan.

Tidak ada.

Tepat setelah malam itu.

Napasnya tertahan tanpa ia sadari. Ruangan yang luas itu tiba-tiba terasa sempit, seolah udara di dalamnya berkurang.

Ia bersandar ke kursi, tetapi tubuhnya justru semakin tegang.

Malam itu tidak pernah benar-benar ia lupakan. Hujan yang deras, suasana yang kacau, keputusan yang diambil terlalu cepat, terlalu emosional, dan tidak pernah dibahas lagi setelahnya.

Dan keesokan harinya, Elvara menghilang.

Tanpa penjelasan.

Tanpa jejak.

Sekarang semua potongan itu kembali, bukan dalam bentuk kenangan, tetapi dalam data yang tidak bisa dibantah.

Tanggal.

Waktu.

Anak.

Kosongnya nama ayah.

Semua seperti potongan puzzle yang selama ini tersebar, kini mulai menyatu tanpa bisa dicegah.

Zayden menunduk, menatap dokumen itu tanpa berkedip. Ia mencoba mencari celah, mencoba menemukan kemungkinan lain, tetapi semakin ia melihat, semakin kecil ruang untuk menyangkal.

Kalau ini kebetulan, maka kebetulan itu terlalu sempurna untuk dipercaya.

Kalau ini bukan kebetulan, maka ada sesuatu yang jauh lebih besar yang selama ini tidak ia ketahui.

Ia menghembuskan napas pelan, mencoba merapikan pikirannya. Ia terbiasa menganalisis, terbiasa menarik kesimpulan dari data, tetapi kali ini logika dan perasaan berjalan beriringan dengan cara yang tidak nyaman.

Ia menutup map perlahan, lalu membukanya lagi.

Tangannya kembali ke halaman tanggal kelahiran, menatap angka itu seolah berharap ada kesalahan kecil yang terlewat.

Tidak ada.

Tetap sama.

Jantungnya berdetak lebih keras, bukan karena takut, melainkan karena satu hal yang jarang ia rasakan.

Kemungkinan yang tidak bisa diabaikan.

Dan konsekuensi yang tidak bisa ditunda.

---

Pintu diketuk lagi, memecah keheningan yang terlalu dalam.

"Masuk."

Arsen muncul di ambang pintu, membawa tablet seperti biasa.

"Pak, rapat jam sembilan sudah siap."

Zayden tidak langsung menjawab. Ia masih menatap dokumen di depannya, pikirannya belum sepenuhnya kembali ke ruang itu.

"Pak?"

"Batalkan."

Arsen terdiam sejenak, memastikan ia tidak salah dengar.

"Semua?"

"Semua."

"Baik, Pak."

Ia hendak pergi, tetapi suara Zayden menahannya.

"Arsen."

"Ya, Pak."

"Data ini tidak boleh keluar."

"Sudah saya amankan."

"Pastikan."

"Baik."

Arsen mengangguk, lalu keluar tanpa pertanyaan tambahan. Ia tahu situasi seperti ini bukan waktu untuk mencari penjelasan.

Zayden kembali sendiri. Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota yang kini sudah sepenuhnya hidup.

Lima tahun.

Selama lima tahun, ada kemungkinan seorang anak tumbuh tanpa ia tahu. Tanpa kehadirannya, tanpa tanggung jawab yang seharusnya ia ambil.

Ia mengepalkan tangan pelan, menahan sesuatu yang mulai muncul dari dalam.

Jika ini benar, maka bukan hanya Elvara yang menyimpan rahasia. Ia juga hidup dalam ketidaktahuan yang tidak bisa ia terima.

Dan itu bukan sesuatu yang bisa ia abaikan begitu saja.

---

Di luar ruang itu, Elvara duduk di mejanya dan mencoba bekerja seperti biasa. Layar laptop penuh dengan angka dan laporan, tetapi fokusnya tidak pernah benar-benar bertahan lama.

Semalaman Rheon demam membuatnya hampir tidak tidur. Pagi ini panasnya mulai turun, tetapi kekhawatiran masih tersisa. Ia beberapa kali membuka ponsel, memastikan pesan dari daycare tidak masuk lagi.

Namun bukan hanya itu yang mengganggunya.

Kehadiran Zayden semalam masih terasa terlalu jelas. Cara pria itu menggendong Rheon, cara ia diam, cara ia melihat dengan perhatian yang tidak bisa disembunyikan.

Semua itu terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini ia jaga mati-matian.

Ia tahu ini tidak akan berhenti.

Zayden bukan tipe orang yang menyerah di tengah jalan. Jika ia sudah sampai pada titik curiga, ia akan terus mencari sampai menemukan jawaban.

Dan kali ini, jaraknya sudah terlalu dekat.

Elvara menggenggam ponsel, melihat foto Rheon yang tertidur pagi tadi. Wajah kecil itu tampak tenang, tidak menyadari betapa rapuh situasi di sekelilingnya.

Anaknya.

Alasan ia bertahan.

Sekaligus alasan ia takut kehilangan kendali.

Interkom berbunyi.

"Masuk."

Suara Zayden.

Dada Elvara langsung menegang. Ia menutup mata sejenak, menarik napas, lalu berdiri.

Langkahnya terasa lebih berat saat menuju pintu ruang CEO. Ia mengetuk, lalu masuk setelah dipersilakan.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia langsung merasakan perbedaan suasana. Udara terasa lebih padat, lebih sunyi, dan lebih menekan.

Zayden berdiri di dekat meja, bukan duduk seperti biasanya.

Dan di atas meja itu, ada map.

Map yang terlalu ia kenal.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Bapak memanggil saya."

Zayden tidak langsung menjawab. Ia menatapnya cukup lama, seolah membaca sesuatu yang tidak tertulis.

Tatapan itu berbeda.

Tidak hanya dingin.

Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih tajam, dan jauh lebih berbahaya.

Ia mengambil map itu, membukanya perlahan, lalu memutar arahnya.

"Kamu mau jelaskan ini."

Halaman dibalik.

Tanggal itu terlihat jelas.

Elvara menatapnya, dan dalam sekejap dunia terasa berhenti. Tangannya menjadi dingin, napasnya tertahan, dan semua alasan yang selama ini ia siapkan terasa tidak cukup.

Tidak ada lagi ruang untuk menghindar.

Tidak ada lagi jarak aman.

Semua yang ia sembunyikan selama lima tahun kini berdiri di antara mereka dalam bentuk angka sederhana.

Zayden menatapnya tanpa berkedip.

"Kenapa tanggalnya cocok."

Suara itu rendah, tetapi penuh tekanan.

Elvara tidak menjawab. Ia tidak bisa. Kata apa pun yang keluar sekarang akan mengubah semuanya.

Zayden melangkah satu langkah lebih dekat.

"Elvara."

Nada suaranya sedikit berubah, lebih pelan, tetapi justru terasa lebih berat.

"Tolong katakan kalau ini cuma kebetulan."

Kalimat itu terdengar seperti perintah, tetapi di dalamnya ada sesuatu lain yang tidak bisa disembunyikan.

Harapan.

Atau mungkin ketakutan akan jawaban yang sebenarnya.

Elvara mengangkat wajah perlahan. Tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak.

Di mata pria itu, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan sekadar curiga.

Bukan sekadar marah.

Ada ketegangan yang lebih dalam, sesuatu yang berada di antara kemungkinan dan kenyataan yang belum siap diterima.

Ruangan itu terasa sunyi.

Hanya ada dua orang.

Dan satu kebenaran yang akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!