Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Farzhan yang Misterius
Hari-hari berlalu dengan ritme yang kaku namun teratur. Vira berusaha mati-matian menyesuaikan diri dan mematuhi setiap poin dalam aturan Versi 2.0 yang dibuat Farzhan. Ia bangun pukul 04.30 tepat, merapikan kamar hingga tak ada satu pun lipatan sprei yang salah, memasak dengan hati-hati agar rasa pas, dan memastikan tak ada barang yang tertinggal sembarangan di ruang tamu. Ia tahu betul, aturan ini mengikat keduanya, tapi Farzhan adalah makhluk yang seolah tak punya cela. Ia selalu tepat waktu, rapi sempurna, dan tak pernah memberi celah untuk disalahkan.
Namun, sifat asli sulit dirubah.
Masih saja ada kesalahan kecil yang terjadi. Kadang lupa mematikan keran air hingga tetesan terdengar jelas, menaruh remot TV sedikit bergeser dari garis tengah meja, atau masakan yang keasinan karena terburu-buru. Dan setiap kali itu terjadi, Farzhan pasti tahu. Pria itu memiliki ketajaman mata dan ketelitian yang tak masuk akal. Wajahnya yang selalu datar dan dingin tak pernah berubah ekspresi, namun kalimat tegurannya selalu tepat sasaran, menusuk tanpa suara, dan selalu diikuti sanksi yang adil namun tetap terasa berat.
Vira sering kali harus menerima konsekuensi: mencuci piring berdua tapi ia yang memegang tugas utama karena kelalaiannya, atau membersihkan kaca jendela sendirian, sementara Farzhan hanya mengawasi dari jauh dengan wajah beku.
Melihat Vira yang terus-menerus berusaha namun sering tergelincir, wajahnya yang tampak lelah, matanya yang kadang sembab menahan kesal dan lelah, entah kenapa ada rasa aneh yang menyelinap di hati Farzhan. Bukan marah, bukan jijik, tapi... rasa kasihan.
Kasihan juga dia, batin Farzhan dalam diam, saat melihat Vira mengelap lantai dengan wajah cemberut. Dia memang berbeda cara berpikir dan bergeraknya denganku. Kalau aku terus awasi, terus tuntut kesempurnaan, dia malah makin gugup, makin sering salah. Lama-lama dia bisa hancur mentalnya.
Farzhan menghela napas panjang, tak bersuara. Ia sadar, kehadirannya yang selalu mengawasi setiap detik justru menjadi tekanan terbesar bagi gadis itu. Selain itu, ada satu hal lain yang membuatnya penasaran.
Atau jangan-jangan, dia cuma berusaha saat aku ada di depan mata? Siapa tahu ketika aku pergi, dia santai, berantakin rumah, lalu buru-buru merapikannya lagi begitu tahu aku mau pulang?
Pikiran itu membuat rasa ingin tahu Farzhan tumbuh. Ia ingin menguji kejujuran, tanggung jawab, dan kedewasaan Vira. Ia ingin melihat apakah gadis itu benar-benar memegang prinsip kesetaraan dan aturan, atau hanya pandai berpura-pura.
Maka, Farzhan menyusun rencana. Ia akan menjauh. Menjadi sosok yang misterius. Jarang pulang, memberi ruang luas, namun tetap memantau dari jauh dengan caranya sendiri.
Perubahan itu datang secara drastis dan tiba-tiba.
Pagi itu, seperti biasa Vira sudah bangun subuh, menyiapkan sarapan dengan cermat, menata piring secara simetris, dan menunggu Farzhan turun. Jantungnya berdebar seperti biasa, takut ada yang salah, takut dinilai buruk.
Jam menunjukkan pukul 07.00. Farzhan tidak juga muncul.
Vira berjalan mendekati kamar Farzhan. Pintu tertutup rapat, tak ada suara dari dalam. Ia mengetuk pelan.
"Zhan... sarapan sudah siap. Zhan?"
Hening. Tak ada jawaban.
Vira mengernyitkan dahi. Ia melangkah ke ruang kerja, kosong. Ke garasi, mobil Farzhan sudah tak ada di sana.
"Hah? Kapan dia pergi?" gumam Vira bingung, matanya melirik jam. Padahal tadi malam dia masih ada di rumah.
Hari itu berlalu tanpa kabar. Farzhan tidak pulang makan siang. Tidak pulang makan malam. Vira mencoba menelepon, namun nomornya tidak diangkat. Pesan singkat dikirim, tapi hanya centang dua, tak pernah dibalas.
Malam harinya, Farzhan baru pulang saat Vira sudah terlelap. Pagi harinya, saat Vira membuka mata, rumah sudah kembali sepi. Farzhan sudah pergi lagi.
Kejadian ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Farzhan menjadi sangat sibuk. Kabarnya ada proyek mendadak di luar kota, rapat penting yang memakan waktu lama, dan harus menginap di kantor atau hotel. Tapi caranya berubah total. Ia tak pernah memberi kabar secara detail, tak pernah menanyakan keadaan rumah, tak pernah mengirim pesan teguran, tak pernah marah. Ia seolah menghilang dari permukaan bumi, meninggalkan aturan yang masih tertempel rapi di dinding, tapi tanpa sosok penegaknya.
Hari keempat, suasana rumah terasa asing bagi Vira. Sunyi. Terlalu sunyi.
Awalnya, Vira merasa sangat melegakan.
Wah! Asik! Singa sedang piknik keluar hutan! pikirnya sambil tersenyum lebar. Ia bisa bernapas lega. Ia bisa makan sambil bersandar santai. Bantal sofa boleh ia letakkan miring sedikit. Tak ada lagi tatapan tajam yang membuatnya merinding. Rasanya bebas seperti burung yang lepas dari sangkar besi.
Namun... kebebasan itu hanya bertahan dua hari.
Masuk di hari ketiga dan keempat, perasaan Vira berubah drastis. Kebosanan dan rasa penasaran mulai menggerogoti hati dan pikirannya.
Kok dia tidak pulang-pulang sih?
Sibuk sekali ya, sampai tidak sempat memberi kabar sedikit pun?
Atau... jangan-jangan dia ada wanita lain di luar sana?! Dia kan tampan, dingin, misterius, pasti banyak yang suka...
Pikiran-pikiran liar bermunculan tak terkendali. Vira menjadi gelisah. Ia mondar-mandir di ruang tengah, mengecek ponselnya setiap lima menit, menatap pintu depan berharap ada suara mesin mobil.
"Astaga... kenapa aku malah merasa kangen ya sama wajah dingin dan suara galaknya itu?" gumam Vira sambil mencubit bantal sofa kesal. "Apaan sih Vira! Kurang kerjaan ya kamu? Ditinggal sebentar aja rasanya sudah hampa begini?!"
Tapi fakta tetaplah fakta. Rumah yang terlalu rapi, terlalu tenang, tanpa kehadiran Farzhan terasa kosong melompong. Tak ada suara koran dibolak-balik pelan, tak ada teguran singkat "Vira! tempatkan barang itu pada tempatnya!" tak ada aroma kopi hitam khas yang selalu menguar dari ruang kerja.
Malam itu, pukul 20.00 WIB. Tiba-tiba pintu utama terbuka.
Vira yang sedang duduk di lantai sambil makan mie instan (karena baru berani makan sembarangan kalau Farzhan tak ada) langsung kaget hampir tersedak. Ia buru-buru menyembunyikan mangkuk mi di balik meja kecil, mengelap mulutnya cepat, dan merapikan duduknya secepat kilat.
Farzhan masuk. Penampilannya sedikit berbeda. Kemeja lengan panjangnya digulung rapi hingga siku, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam, dan wajahnya terlihat lelah, namun tatapannya tetap tajam, dingin, dan berwibawa.
Ia meletakkan kopernya perlahan, melepas sepatu dan menyusunnya rapi di rak, lalu berjalan masuk seolah Vira tak ada di sana.
"Z-Zhan..." panggil Vira pelan, suaranya ragu dan sedikit bergetar. "Kamu sudah pulang?"
Farzhan hanya mengangguk singkat. "Hmm."
Ia berjalan santai ke ruang tengah, duduk di sofa kesayangannya, lalu mengambil tablet, matanya langsung terpaku ke layar, sepenuhnya mengabaikan keberadaan istrinya.
Vira semakin bingung. Biasanya, begitu pulang, hal pertama yang Farzhan lakukan adalah berkeliling mengecek sudut rumah, membuka lemari, melihat kebersihan, mencari kesalahan sekecil apa pun. Tapi kali ini? Dia diam, dingin dan cuek bebek.
"Zhan..." Vira memberanikan diri mendekat, berdiri tepat di samping sofa. "Kamu... kenapa beberapa hari ini tidak pulang? Sibuk sekali ya sampai tidak sempat beri kabar?"
Farzhan tak menoleh sedikit pun. Matanya tetap fokus pada layar, suaranya datar dan rendah. "Banyak urusan. Tak perlu aku jelaskan secara rinci."
"Oh. Terus... Kamu sudah makan atau belum? Aku masakin ya? Ada sayur, ada ikan..." tawar Vira, berusaha bersikap seperti istri yang baik dan perhatian, meski dalam hati kesal setengah mati.
"Sudah. Makan di luar." Jawabnya singkat, padat, mematikan obrolan.
Vira mengerucutkan bibirnya, menahan emosi yang mulai naik.
Ih! Sombong banget sih! Dulu kalau pulang bawelnya minta ampun, mencari kesalahan salah terus, sekarang jadi pendiam, misterius, dingin sekali. Apa sih maunya dia?!
"Oke..." Vira mencoba bertanya lagi, rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi. "Terus... kamu tidak mau cek rumah nih? tidak mau liat aku bikin kesalahan atau tidak? Biasanya kan kamu paling rajin nyari celah buat hukum aku?"
Baru kali itu Farzhan menoleh perlahan. Ia menatap Vira lekat-lekat, tatapannya dingin, tajam, tapi sulit dibaca apa maksudnya. Tak ada marah, tak ada senyum, kosong.
"Buat apa?" jawabnya santai, nada bicaranya tetap datar. "Rumah ini milikmu juga. Kita sepakat untuk setara, kan? Kamu juga penghuni, punya hak dan kewajiban sama besar. Kalau kamu jujur, disiplin, dan bertanggung jawab, rumah tetap terjaga meski aku tak ada. Kalau kamu malas, berantakin semuanya pas aku pergi, itu urusan hati nuranimu sendiri. Aku tak perlu mengawasi 24 jam buat tahu kelakuan orang."
Jleb!
Kata-kata itu menusuk tepat di ulu hati Vira.
Mata Vira membelalak tak percaya. "Jadi... selama ini kamu sengaja menghindar? Atau sengaja bikin bingung gini cuma buat ngetes aku?!"
Farzhan mengangkat satu sudut bibirnya sedikit, bukan senyum lebar, hanya lekukan tipis yang sangat jarang terlihat, dingin.
"Bukan menghindar," jawabnya tenang. "Tapi memberi kepercayaan. Dan mengamati hasilnya. Ternyata..." ia menatap Vira dari ujung kepala hingga kaki, "tanpa aku ada di rumah, kamu terlihat lebih tenang, lebih ceria. Bebas, ya?"
"Bukan gitu!" Vira langsung membantah cepat, wajahnya memerah padam karena ketahuan. "Aku... aku hanya merasa aneh tau! Aku... aku merasa rumah ini sepi kalau kamu tidak ada!"
Setelah kata-kata itu meluncur, Vira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ya ampun! Kenapa aku ngomong gitu sih! Bodoh! Bodoh sekali Vira! Malu ih!
Farzhan mengangkat sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut mendengar pengakuan polos itu. Wajahnya yang tadinya beku dan misterius kini perlahan berubah, ada kilatan hangat yang samar di matanya.
"Oh? Kangen?" suaranya turun satu oktaf, lebih rendah dan lembut dari biasanya. "Kangen sama ketegasan dan aturanku? Atau kangen sama sanksi-sanksi adil itu?"
"Tidak juga!" Vira membuang muka ke arah jendela, malunya setengah mati. "Aku cuma bilang rumah jadi sepi dan aneh! Bukan kangen KAMU! Jangan percaya diri deh!"
Farzhan terkekeh pelan. Suara tawa kecil yang sangat jarang terdengar, lembut namun tetap berwibawa. Suara itu seketika mencairkan suasana tegang dan dingin yang tadinya menguasai ruangan.
"Sudah," kata Farzhan, kembali menatap layar tabletnya, tapi nada bicaranya tak sedingin tadi. "Aku cuma mau bilang, sejauh ini... aku percaya sama kamu. Jadi jangan bikin aku kecewa saat aku harus pergi lagi nanti. Ingat aturan kita: setara, jujur, dan bertanggung jawab."
Vira menatap punggung lebar suaminya itu dalam diam. Perasaan kesal, penasaran, dan lega bercampur jadi satu di dadanya.
Ternyata Farzhan itu... bukan sekadar pria dingin, galak, dan perfeksionis. Dia punya cara berpikir yang jauh lebih dalam, tenang, dan pandai membaca orang. Dan tingkahnya yang misterius selama beberapa hari ini... sukses besar membuat Vira sadar satu hal penting: kehadiran pria itu ternyata jauh lebih berarti dan dibutuhkan daripada yang ia akui.
"Iya, aku tahu," jawab Vira pelan, tapi kali ini suaranya tak lagi memberontak atau penuh emosi. Ia tersenyum kecil. "Selamat datang kembali, Tuan Misterius."
Dan di sudut ruangan, Farzhan tersenyum tipis lagi, tak dilihat oleh Vira. Ujian pertamanya selesai. Dan hasilnya... ternyata jauh lebih baik dari yang ia duga.