NovelToon NovelToon
Milly Sang Pelihat Terakhir

Milly Sang Pelihat Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:541
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?

Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Jatuh Dalam Perangkap

Pak Arta, guru matematika mereka sedang berbicara di depan kelas, ketika seseorang entah siapa yang melepaskan bola dari luar kelas. Bola itu melesat lurus masuk ke jendela. Milly yang duduk dekat jendela, tak sengaja menangkap bola itu. Wayne yang duduk di sebelahnya terbelalak heran. Kok bisa Milly menangkap bola itu?--batinnya.

Milly sendiri juga tak mengerti bagaimana ia bisa menangkap bola yang kini sudah ada di tangannya. Pupil matanya melebar penuh tanda tanya.

Kelas mendadak hening. Guru pun berhenti mengajar. Semuanya tampak sama terkejutnya. Kecuali satu orang, yang duduk di bangku paling belakang, matanya tak berkedip mengawasi Milly. Niat awal Alletta, bola itu memang sengaja dilepaskan untuk menghantam Milly. Tapi siapa sangka, reflek Milly begitu cepat dan bisa menangkapnya.

"Taruh bolanya di depan, kita lanjut pelajaran" perintah Pak Arta dengan suara bariton. Pak Arta kembali menuliskan lima soal matematika di depan untuk dikerjakan usai merampungkan penjelasannya.

Herannya sepanjang jam pelajaran berlangsung, tidak ada yang mengambil bola itu. Itu yang membuat Wayne lebih penasaran. Tampaknya bola itu memang sengaja ditujukan buat Milly. Tapi siapa pelakunya?? Untuk apa orang itu melakukannya?? Ga mungkin karena iseng??--pikir Wayne sembari matanya menyapu seluruh kelas dan berhenti di sudut belakang, tempat duduk Alletta. Tatapan mereka bertabrakan dan ia bisa melihat tatapan menusuk dari Alletta. Apakah Alletta yang melakukannya?? Untuk apa?? Untuk balas dendam?? Bukankah dulu mereka teman??---pikiran Wayne bergejolak berusaha menemukan benang merah masalah ini.

"Wayne," suara Milly membangunkannya saat ia tenggelam di bawah alam pikirannya.

"Ya"

"Bisakah ajari aku soal nomor 3 ini, aku sudah mencoba kerjakan, tapi buntu tak ada jawabannya," pinta Milly dengan wajah memohon.

Wayne tersenyum. Bahkan Milly sudah melupakan apa yang terjadi barusan. Tapi ia masih saja memikirkannya. Ia mengambil buku tulis Milly dan menjelaskan satu per satu dengan sabar.

Masih ada satu jam sebelum bel pulang berbunyi. Ia berkutat mengerjakan soal matematikanya sendiri. Sesekali ia membantu Milly memecahkan kebuntuan soalnya.

Pak Arta berkeliling kelas menarik setiap lembar jawaban murid yang sudah selesai dikerjakan sebelum bel pulang berbunyi.

Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas begitu bel berbunyi. Tidak terkecuali murid yang ada di kelas Milly. Alletta juga sudah keluar kelas. Hanya Milly masih tinggal. Ia harus merapikan bangku kelas dulu dan menghapus papan tulis bersama dua teman lainnya. Karena hari ini jadwal piket kelasnya.

"Aku pergi dulu, ada urusan. Tunggu aku di luar gerbang sekolah," beritahu Wayne.

Milly mengiyakan. Selesai membantu merapikan bangku, ia menunggu Wayne di luar gerbang. Tak lama ada seorang anak kecil memberikan pesan. Anak laki-laki itu berpakaian kaos oblong dan celana pendek yang sedikit lusuh. Wajahnya sedikit kotor. Kakinya hanya beralaskan sandal jepit. Katanya, "Pergilah ke hutan belakang rumah Alletta, aku menunggu disana. Wayne."

Tanpa berpikir panjang, Milly pergi ke hutan yang dimaksud. Ia tidak menaruh curiga sedikitpun pada si pembawa pesan, malah sedikit dongkol mempertanyakan kenapa Wayne tidak menyuruhnya menunggu disana dari awal. Jadi ia tidak perlu membuang waktu berpanas-panasan di depan gerbang sekolah.

Milly sudah mulai berjalan memasuki hutan, tetapi belum juga ada tanda-tanda Wayne. Ia merasa aneh. Kemana Wayne. Ia berjalan terus makin masuk ke dalam hutan. Lagipula--batinnya--andai ia tidak menemukan Wayne, ia masih bisa memanfaatkan jalan hutan ini untuk pulang ke rumah Nenek Dorothy. Tapi yang tidak ia sangka kedatangan bayangan hitam yang menyerangnya. Untung refleknya cukup cepat sehingga ia bisa mengelak dari beberapa serangan. Ia menundukkan kepala dan berkelit kesana kemari. Sesekali ia menggerakkan tubuhnya miring ke kanan kiri buat menghindari setiap serangan. Ada tiga bayangan hitam yang menyergapnya di hutan. Saking seringnya serangan mereka beberapa hari terakhir, reflek tubuhnya makin lama makin cepat. Entahlah, mungkin itu juga yang menyebabkan ia bisa menangkap bola di kelas tadi.

Ia tidak mau berpikir lebih dari seharusnya yang ia bisa pikirkan. Ia harus mengecoh bayangan hitam itu dan melarikan diri--pikirnya.

Kesempatan itu akhirnya tiba juga. Secara tak sengaja ketika ia mengelak serangan demi serangan dari bayangan hitam, serangan ketiga bayangan itu saling menghantam mereka sendiri dan mereka terpelanting. Ia berlari sekencang mungkin yang ia bisa. Ia sembunyi di balik bebatuan. Ia menunggu disana sampai ketiga bayangan hitam itu ia kira sudah pergi.

Ia mengendap-endap keluar dari balik bebatuan. Bayangan hitam memukul bahunya dari belakang.

"Ouch.." erangnya kesakitan. Ia hampir jatuh terjerembab.

Dua bayangan hitam lain, kembali menyerangnya. Kakinya ditendang dan kali ini ia benar-benar terjatuh. Bayangan lain hendak menginjak bahunya, ia menangkap kaki itu dan menjungkirbalikkan sekuat tenaga. Ia berusaha bangkit dan kembali berlari, meski sedikit tertatih.

Tiba-tiba tanah dibawahnya ambles. Tubuhnya kehilangan pijakan. Ternyata ada lubang yang dalam yang mengintainya. Lubang itu disembunyikan dengan baik di bawah ranting dan daun kering.

Kaget dan panik menyatu menjadi satu. Ia berusaha mengayunkan tangannya mencari sesuatu untuk berpegangan. Tubuhnya meluncur keras ke bawah. Longsoran tanah dan daun ikut jatuh bersamaan. Tubuhnya sempat menubruk dinding lubang sebelum jatuh ke dasar lubang curam itu.

Brukkk. Punggungnya menghantam tanah yang lembab. "Sakit," rintihnya tak tahan. Debu dan dedaunan berterbangan memenuhi udara di atasnya.

Di atas kepalanya hanya terlihat lingkaran cahaya kecil dari mulut lubang. Beberapa daun menyusul jatuh ke bawah ketika ketiga bayangan itu mengintipnya dari atas. Salah satu mata mereka samar-samar menyeringai. Yang lain mengisyaratkan untuk pergi--seolah tujuan mereka sudah tercapai.

Ia menelan ludahnya. Punggungnya sakit sekali. Salah satu kakinya tidak bisa digerakkan. Sepertinya cedera--pikirnya meringis kesakitan. Ia masih belum bangkit, badannya remuk.

Langit makin gelap dan ia masih berbaring di lubang yang dingin itu.

"Mereka sepertinya sengaja menggiringku ke lubang ini," gumamannya pada diri sendiri. Ia masih belum sanggup menggerakkan badannya.

Makin malam udara makin dingin. Tubuhnya sedikit menggigil, ditambah badannya remuk. Ia menutup mata sebentar. Ia mendengar suara desiran angin di atas permukaan tanah. Hutan menjadi sunyi.

Ketika ia membuka mata dan kembali mendongak ke atas, ia masih tidak melihat siapapun. Lubang kecil itu sudah tidak menyisakan cahaya lagi seiring dengan pudarnya cahaya bulan yang tertutup awan.

Tangannya perlahan meraba punggungnya dan memeriksa apakah ada tulangnya yang patah. Ia perlahan menggerakkan tubuhnya, dengan tangan kanannya, ia mencoba menopang berat badannya untuk bangun, tapi saking sakitnya punggungnya, ia kembali tergeletak terbaring di tanah. Seluruh badannya bahkan wajahnya sudah kotor penuh debu dan tanah.

Malam makin panjang, ia mulai kehilangan harapan. Lubang curam itu menyesakkan dirinya. Nafasnya tak beraturan. Jantungnya makin berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan pikirannya.

***

1
Devi..
ceritanya seru thor.. gk bisa ditebak alur dan endingnya gmana.. semoga ceritanya terus berlanjut smpai selesai dan byk pembaca yg menikmati cerita ini🤗
Liza Tan: makasii Kak.. terus ditunggu yaa kelanjutannya 🫰🏻😉
total 1 replies
Davina Aurora
cerita nya bagus semangat ka😊🩷
Liza Tan: thank you Kak 🫰🏻💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!