Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 32: Penjaga Timur
Langit siang masih biru cerah.
Matahari berdiri tinggi di atas daratan, menyinari hamparan dunia di bawah dengan cahaya terang yang hangat. Awan putih bergerak perlahan, tersebar seperti kapas tipis di lautan langit.
Di antara awan-awan itu—
Grachius meluncur ke timur.
Ia terbang dengan tubuh tegak, kedua lengannya menggendong Daji dengan stabil. Qi Barrier transparan menyelimuti mereka seperti kubah tipis yang bergerak mengikuti arah terbangnya. Di luar penghalang itu, angin mengalir deras, namun tidak lagi menghantam wajah mereka secara langsung.
Sudah hampir lima jam sejak mereka meninggalkan Kota Baldr.
Kecepatan Grachius tetap stabil.
Sekitar enam puluh kilometer per jam.
Di bawah mereka, dunia terus berganti.
Padang rumput luas membentang hijau keemasan.
Jalan panjang terlihat seperti garis tipis yang membelah daratan.
Sungai berkilau terkena cahaya siang, memantulkan matahari seperti pecahan perak yang bergerak perlahan.
Hutan-hutan kecil muncul dan menghilang di bawah mereka.
Sesekali, karavan terlihat bergerak pelan di jalan utama, begitu kecil sampai tampak seperti mainan kayu.
Awalnya perjalanan itu terasa tenang.
Indah.
Bahkan sedikit menyenangkan.
Namun setelah hampir lima jam berada dalam posisi digendong sambil melihat pemandangan yang terus bergerak—
Daji mulai bosan.
Dan ketika Daji bosan—
Grachius pasti menjadi korban.
“Grachius.”
“Hm.”
“Kau tahu sesuatu yang lucu?”
“Biasanya tidak.”
Daji menyipitkan mata.
“Kau belum dengar.”
Daji tersenyum jahil.
“Kau tidak mempan saat ku gunakan Chains of Desire di Skullcrack.”
Grachius menatap lurus ke depan.
“Benar.”
“Aku menyentuhmu, membisikkan kata-kata manis, memakai sihir godaan, dan kau tetap seperti batu dingin.”
“Mm.”
“Tapi…”
Daji mendekatkan wajah sedikit, senyumnya makin lebar.
“Begitu aku keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk, calon pembunuh dewa langsung panik.”
Wajah Grachius tidak berubah.
Terlalu tidak berubah.
“Aku tidak panik.”
Daji tertawa kecil.
“Kau menutup mata.”
“Itu tindakan sopan.”
“Kau memerah.”
“Tidak.”
“Kau hampir tidak bisa bicara.”
“Aku bisa bicara.”
“Kau hanya berkata, ‘cepat pakai baju’ seperti bocah yang melihat hantu.”
Grachius akhirnya meliriknya.
“Aku tidak takut hantu.”
“Berarti kau lebih takut handuk daripada hantu.”
“Daji.”
“Apa?”
“Diam.”
Daji tertawa lebih keras.
Suara tawanya memenuhi ruang kecil di dalam Qi Barrier. Untuk seseorang yang sedang digendong di udara dengan jarak sangat jauh dari tanah, ia terlihat terlalu menikmati menyiksa Grachius.
“Aku masih tidak percaya. Bandit? Dibantai. Ksatria Templar? Dibakar hangus. Tresaders? Dihajar. Tapi handuk—”
“Cukup.”
“Kalau sekarang aku buka—”
“Jangan.”
Nada Grachius berubah tajam.
Daji langsung tertawa keras sampai tubuhnya sedikit gemetar di pelukan Grachius.
“Aku tahu! Aku tahu itu kelemahanmu!”
“Bukan kelemahan.”
“Itu kelemahan.”
“Itu kesopanan.”
“Itu kepanikan yang diberi nama sopan.”
Grachius menghela napas pelan.
Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.
Daji melihatnya.
Ia hampir menggoda lagi.
Namun sebelum kata-kata berikutnya keluar, ekspresi Grachius berubah.
Tawa kecil itu hilang.
Matanya menajam.
Tubuhnya sedikit menegang.
Daji langsung berhenti tertawa.
“...Grachius?”
“Lihat ke depan.”
Nada itu berbeda.
Tidak datar seperti biasa.
Serius.
Daji mengikuti arah pandangannya.
Jauh di depan, di bawah langit biru yang semula cerah, kepulan asap hitam besar membumbung ke udara.
Terlalu besar.
Terlalu pekat.
Bukan asap dari tungku.
Bukan api unggun.
Asap itu mengotori langit siang seperti noda hitam yang menyebar perlahan.
“Apa itu?” tanya Daji pelan.
“Aku tidak tahu.”
Qi di sekitar Grachius bergerak lebih padat.
“Tapi sesuatu sedang terjadi.”
Tubuhnya condong sedikit ke depan.
Kecepatannya meningkat.
Daji langsung menggenggam pundaknya lebih erat.
Qi Barrier menegang, mengikuti lonjakan kecepatan mereka menuju sumber asap.
...—...
Mereka tiba beberapa saat kemudian.
Dan dunia di bawah mereka berubah menjadi neraka.
Sebuah desa terbakar di tengah cahaya siang.
Rumah-rumah kayu menyala. Atap jerami runtuh dimakan api. Jalan desa penuh puing, abu, dan orang-orang yang berlari tanpa arah.
Jeritan memenuhi udara.
Anak-anak menangis.
Orang-orang tua tersandung di antara asap.
Beberapa penduduk terluka, tubuh mereka hangus sebagian, ditarik oleh orang lain agar menjauh dari api.
Langit yang seharusnya biru kini tercemar asap hitam.
Dan di tengah kehancuran itu—
seekor naga besar melayang di udara.
Tubuhnya panjang seperti ular raksasa, berkelok anggun namun mengerikan di atas desa. Sisiknya berwarna biru langit, memantulkan cahaya matahari dengan kilau dingin. Kumis panjang bergerak di sisi wajahnya. Tanduk megah menjulang dari kepalanya. Matanya menyala buas, seolah desa di bawah hanyalah permainan kecil.
Naga itu membuka mulut.
Api menyembur keluar.
Gelombang panas menghantam rumah-rumah, jalan, dan beberapa penduduk yang tidak sempat melarikan diri.
Daji membeku.
“Naga?!”
Qi Grachius bergerak.
Lebih tajam.
Lebih panas.
Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan.
Namun matanya berubah dingin.
Sangat dingin.
Ia langsung menukik.
Tubuhnya melesat turun seperti panah dari langit.
BOOM.
Grachius mendarat keras di tanah desa.
Debu beterbangan.
Tanah retak ringan di bawah kakinya.
Angin berputar di sekitar tubuhnya, memadamkan beberapa bara kecil di dekat titik pendaratan.
Ia menurunkan Daji.
“Bantu mereka mengungsi.”
Daji menatapnya.
“Lalu kau?”
Grachius menatap naga di langit.
“Aku urus naga itu.”
Daji tidak membantah.
Tidak kali ini.
Ia hanya mengangguk.
“Jangan mati.”
Grachius mendengus kecil.
“Tidak akan.”
“Jangan terlalu percaya diri!”
Namun Daji sudah bergerak.
Ia melesat ke arah rumah terbakar, menarik seorang anak kecil keluar sebelum balok kayu runtuh. Lalu ia membantu seorang wanita tua berdiri, mengarahkan beberapa penduduk menjauh dari jalan utama.
“Ke sana! Jauh dari api!”
Seorang pria terluka jatuh.
Daji muncul di sampingnya, mengangkat lengannya ke bahu.
“Ayo. Kalau kau mati di sini, aku akan kesal.”
Tanpa ia sadari, ia bergerak bukan karena perintah semata.
Namun karena ia memang ingin menyelamatkan mereka.
Grachius berdiri di tengah desa terbakar.
Tangan kirinya memegang sarung Enjin.
Tangan kanannya menggenggam gagang pedang.
Napasnya menjadi tenang.
Satu langkah.
Dua langkah.
Pada langkah ketiga—
tanah pecah.
Tubuh Grachius melesat ke udara seperti peluru.
Dalam beberapa detik, ia sudah berada di atas kepala naga.
Naga itu masih membakar desa dan belum sepenuhnya menyadari kehadirannya.
Qi kuning kemerahan menyelimuti Enjin.
Grachius menukik.
Seperti meteor.
Tebasan nya menghantam jidat naga.
DUUUUM!
Gelombang tekanan meledak di udara.
Kepala naga terdorong keras ke bawah.
Tubuh panjangnya terpelintir, lalu kepalanya menghantam tanah desa.
BRAAAK!
Debu, tanah, dan puing rumah beterbangan ke segala arah.
Beberapa penduduk yang melihatnya berhenti sejenak.
Harapan kecil muncul di mata mereka.
Namun saat debu mulai turun—
Grachius menyipitkan mata.
Tidak ada darah.
Tidak ada luka.
Sisik biru di jidat naga itu hanya bergores tipis, bahkan hampir tidak terlihat.
Tebasan nya tidak menembus.
Hanya mendorong.
Naga itu perlahan mengangkat kepala.
Matanya kini tertuju pada Grachius.
Bukan lagi pada desa.
Pada lawan.
Lalu naga itu berbicara.
Suaranya berat, menggema seperti batu besar bergesekan di langit.
“Berani sekali kau menyerang ku.”
Penduduk desa membeku.
Daji juga menoleh dari kejauhan.
Naga itu bisa bicara.
Grachius berdiri di atas puing, Enjin masih di tangan.
“Kau menyerang desa.”
Naga itu menatapnya dari atas ke bawah.
Beberapa detik berlalu.
Lalu senyum tipis muncul di wajah makhluk besar itu.
“Rambut putih.”
Matanya menyipit.
“Mata seperti matahari.”
Grachius tidak bergerak.
“Jadi kau pemuda yang disebut oleh Nuntius.”
Udara terasa lebih berat.
“Seseorang yang ingin membunuh para dewa.”
Grachius mengernyit sedikit.
Naga itu tertawa rendah.
Asap putih tebal mulai mengepul di sekitar tubuhnya.
Tubuh besar itu perlahan menghilang di balik kabut.
Grachius langsung mengangkat Enjin.
Dari balik asap, terdengar langkah kaki.
Bukan langkah naga.
Langkah manusia.
Seorang wanita muncul dari kabut.
Rambutnya biru panjang, jatuh seperti aliran air langit. Matanya biru tajam seperti langit badai. Ia mengenakan pakaian putih-biru elegan yang menjuntai ringan, bergerak seperti kabut di sekeliling tubuhnya.
Aura yang ia bawa megah.
Menekan.
Di belakangnya, bayangan naga biru masih samar terlihat, melayang seperti wujud asli yang belum sepenuhnya pergi.
Wanita itu menatap Grachius.
“Jadi kau orang berambut putih yang ingin membunuh para dewa.”
Grachius menatapnya dingin.
“Siapa kau?”
Wanita itu tersenyum.
Bangga.
Angkuh.
“Aku salah satu dari Empat Raja Surgawi.”
Kabut biru bergerak di sekitarnya.
“Penjaga Timur.”
“Dikenal sebagai Naga Biru.”
Matanya menyala tipis.
“Oriens.”

Grachius menggenggam Enjin lebih kuat.
“Jadi kau dewa.”
“Dewi.” koreksi Oriens ringan.
Grachius menatap desa yang terbakar di sekitar mereka.
Jeritan masih terdengar.
Api masih menyala.
Anak-anak masih menangis di kejauhan.
“Kenapa seorang dewi menyerang desa?”
Oriens menatap sekeliling seolah baru mengingat bahwa desa itu ada.
Lalu ia tersenyum santai.
“Karena aku dewi.”
Tanah di bawah kaki Grachius mulai retak.
Oriens melanjutkan.
“Aku bebas melakukan apa pun.”
Ia melihat seorang penduduk yang dibantu menjauh oleh Daji.
“Manusia hanyalah manusia.”
Suaranya lembut.
Namun menjijikkan.
“Mereka seharusnya merasa terhormat mati karena keberadaanku.”
Retakan tanah melebar.
Tangan Grachius mengepal.
Daji, dari kejauhan, merasakan tekanan Qi Grachius meningkat dan langsung memalingkan kepala.
Ia tahu ekspresi itu.
Bukan kemarahan meledak-ledak.
Lebih buruk.
Kemarahan yang menjadi sangat tenang.
Oriens mengangkat dagu.
“Kalau kau memang ingin membunuh para dewa…”
Ia membuka satu tangan.
“Coba mulai dariku.”
Grachius langsung menyerang.
Tidak ada peringatan.
Enjin menebas leher Oriens.
Namun tubuh Oriens bergeser ringan, seperti kain yang terbawa angin. Tebasan itu hanya membelah udara.
Oriens mengangkat satu tangan.
Cahaya biru berkumpul di telapaknya.
Lalu berubah menjadi petir.
CRACK!
Petir biru melesat ke arah Grachius.
Grachius menghindar ke samping.
Petir menghantam tanah dan meledak, menghancurkan jalan desa.
Grachius terus maju.
Namun Oriens melayang mundur.
Gerakannya terlalu ringan.
Terlalu licin.
Kadang tubuhnya seperti kabut.
Kadang ia menghilang sesaat dalam asap tipis dan muncul beberapa meter di sisi lain.
Petir kembali menyambar.
Energi naga biru melesat seperti cambuk.
Grachius menghindar, menangkis, lalu bergerak maju lagi.
Oriens tertawa kecil.
“Kemampuan calon pembunuh dewa cuma segini?”
Grachius tidak menjawab.
Matanya memperhatikan.
Langkah.
Jeda.
Arah kabut.
Gerakan tangan.
Pola petir.
Oriens menjaga jarak, menyerang dari jauh, dan menggunakan kabut sebagai pengalih posisi.
Langit siang mulai berubah.
Awan hitam berkumpul secara tidak wajar di atas desa, menutup sebagian cahaya matahari. Petir biru merambat di antara awan, membuat udara terasa panas sekaligus berat.
Oriens melayang di udara.
Lingkaran sihir biru terbentuk di belakangnya.
Puluhan panah petir muncul, masing-masing bergetar seperti jarum langit.
“Menarilah.”
Semua panah petir ditembakkan.
CRACK! CRACK! CRACK!
Grachius bergerak.
Cepat.
Ia menghindari sebagian, menebas sebagian dengan Enjin, dan menembus celah di antara ledakan. Jalan desa hancur di belakangnya. Puing-puing beterbangan. Cahaya biru membuat desa terbakar itu tampak semakin mencekam meski hari masih siang.
Satu panah petir menggores bahunya.
Satu lagi meledak di dekat kakinya.
Namun ia terus maju.
Hingga tiba-tiba—
Grachius muncul di depan Oriens.
Enjin menebas horizontal.
Oriens menghindar tipis.
Namun beberapa helai rambut birunya terpotong dan terbang di udara.
Matanya sedikit melebar.
Grachius menendang.
Oriens mengangkat lengan untuk menahan.
DUUM.
Gelombang tekanan meledak.
Oriens terdorong beberapa meter di udara.
Namun ia tetap tersenyum.
Kali ini senyum itu lebih kecil.
Lebih tajam.
“Lebih cepat dari dugaan.”
Grachius tidak menjawab.
Oriens membentuk segel tangan.
Awan hitam semakin menumpuk.
Petir biru besar muncul tepat di atas Grachius.
Sambaran raksasa jatuh lurus ke arahnya.
Grachius mengangkat Enjin.
Qi kuning kemerahan menyelimuti pedang itu.
Petir bertabrakan dengan bilah Enjin.
BOOOOOOM!
Tanah di bawah kaki Grachius retak besar.
Debu dan batu beterbangan.
Lengan Grachius berasap.
Namun ia tetap berdiri.
Oriens menatapnya lebih serius.
Serangan itu seharusnya cukup untuk membunuh kultivator biasa.
Grachius mengangkat wajah.
Tatapannya lebih tajam.
Lalu ia menghilang dari tempatnya.
Oriens langsung menoleh.
Terlambat sedikit.
Grachius muncul di belakangnya dan menusuk dengan Enjin.
Oriens memutar tubuh cepat, namun ujung pedang tetap menggores bahunya.
Pakaian putih-birunya robek.
Goresan tipis muncul di kulitnya.
Tidak dalam.
Namun nyata.
Untuk pertama kalinya—
senyum Oriens memudar.
Ia menatap luka itu.
Lalu menatap Grachius.
“Kau berbeda dari manusia lain.”
Grachius mengarahkan Enjin padanya.
“Aku tidak peduli.”
“Tidak?”
“Aku hanya ingin menghajarmu.”
Oriens terdiam sesaat.
Lalu terkekeh kecil.
Qi di sekelilingnya meningkat.
Udara menjadi lebih berat.
Kabut biru perlahan menyebar dari tubuhnya, merayap di atas tanah desa yang retak dan terbakar.
Di kejauhan, Daji berhenti sejenak saat membantu seorang anak kecil menjauh.
Ia menatap langit.
Napasnya tertahan.
Ia bisa merasakan itu.
Grachius dan Oriens—
keduanya mulai serius.
Petir menggelegar di atas desa.
Awan hitam menggantung rendah.
Api masih membakar rumah-rumah.
Penduduk masih berlari menuju tempat aman.
Di tengah kehancuran itu, Grachius berdiri dengan Enjin di tangan.
Di hadapannya, Oriens melayang anggun.
Pertarungan antara manusia setengah dewa—
dan Penjaga Timur—
baru saja benar-benar dimulai.
...A Novel By Franzzz...