NovelToon NovelToon
Long Wait

Long Wait

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Davina Auroraaa

LONG WAIT

Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.

Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.

Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.

Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Harga Sebuah Rahasia

Hujan Jakarta menyambut mereka dengan deru yang berbeda dari hujan di Pulau Hitam. Di pulau itu, hujan adalah suara latar bagi teror; di sini, hujan adalah selimut yang menyamarkan jejak. Van hitam milik Kapten Haris meluncur masuk ke gerbang vila tersembunyi di pinggiran Bogor, melewati pagar tinggi yang dijaga ketat oleh personel keamanan Arisendra. Mesin dimatikan, dan hening sejenak menyelimuti kendaraan itu sebelum pintu geser terbuka.

Allbiru turun pertama kali. Air hujan membasahi jaket taktisnya, tapi matanya tidak pernah berhenti menyapu area sekitar. Ia memeriksa sudut-sudut gelap, memastikan tidak ada ancaman, sebelum tubuhnya berbalik dan tangannya mengulur ke dalam van.

"Ayo, Ru," bisik Allbiru, suaranya lembut namun tegas, satu-satunya suara yang bisa menembus kabut kebingungan di kepala Sabiru.

Sabiru menggenggam tangan itu. Saat kakinya menyentuh tanah basah, lututnya goyah hebat. Bukan karena kelemahan fisik, tapi karena beban emosional 22 tahun kebohongan yang akhirnya runtuh dalam waktu kurang dari 48 jam. Ayahku bukan Aldo. Ibuku bukan Rania. Aku adalah eksperimen. Aku adalah Hard Drive Hidup. Pikiran-pikiran itu berputar kencang, membuat dunianya terasa miring.

Allbiru tidak melepaskannya. Sebaliknya, dia menarik Sabiru perlahan hingga tubuh gadis itu bersandar penuh pada dadanya yang bidang. Tangan Allbiru melingkar erat di pinggang Sabiru, menahannya agar tidak jatuh, sementara dagunya menempel pelan di ubun-ubun kepala Sabiru. Aroma khas Allbiru—campuran sabun antiseptik, hujan, dan sesuatu yang hangat seperti kayu bakar—membuat napas Sabiru yang tersengal-sengal mulai teratur.

"Napas, Ru. Pelan-pelan," gumam Allbiru di telinga Sabiru, napasnya hangat menerpa kulit leher Sabiru. "Aku di sini. Aku nggak akan lepas. Dunia boleh berubah, tapi aku tetap sama."

Di dalam van, Reza dan Kenzi saling pandang lewat kaca jendela yang masih terbuka sedikit. Kenzi mengangkat alis, menunjuk diam-diam ke arah pasangan itu dengan ekspresi tak percaya. Dia mengetik cepat di WhatsApp ke Reza: "Sejak kapan mereka jadi begini? Dulu aja kalau disuruh pegangan tangan malu-malu kucing. Sekarang kayak lem super."

Reza hanya menggeleng pelan, matanya penuh tanda tanya melalui kacamata tebalnya. Bagi mereka, perubahan sikap Allbiru yang tiba-tiba menjadi sangat posesif, protektif, dan intim ini aneh. Tapi melihat wajah Sabiru yang pucat pasi dan mata Allbiru yang tajam waspada, mereka memilih untuk diam. Ada sesuatu yang terjadi di Pulau Hitam yang mengubah segalanya.

Rania dan Malia sudah menunggu di teras vila yang beratap tinggi. Lampu taman menyala redup, menciptakan suasana hangat di tengah dinginnya hujan. Melihat pemandangan itu—Allbiru yang memeluk Sabiru dengan cara yang jelas-jelas bukan sebagai "kakak angkat", melainkan sebagai kekasih yang melindungi harta paling berharga—Malia menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Air mata langsung mengalir deras. Sebagai seorang ibu, instingnya tidak pernah bohong. Dia mengerti. Itu adalah pelukan seorang pria kepada wanita yang dicintainya, sekaligus perlindungan seorang guardian terhadap jiwa yang rapuh.

"Mama..." panggil Sabiru, melepaskan diri perlahan dari pelukan Allbiru, meski jari-jari mereka masih bertaut erat, enggan berpisah.

Malia tidak bisa berkata-kata. Rasa bersalah selama dua dekade—meninggalkan anaknya demi keselamatan, menyembunyikan identitas, hidup dalam ketakutan—meledak menjadi lega. Dia hanya membuka tangan lebar-lebar.

Sabiru berlari kecil, langkah kakinya berat namun pasti, menabrak pelukan ibunya. Kali ini, tidak ada jarak. Tidak ada rasa bersalah. Hanya dua jiwa yang terpisah selama dua dekade yang akhirnya menyatu. Tangis Sabiru pecah, bukan karena sedih, tapi karena leganya luar biasa. Allbiru berdiri di belakang Sabiru, satu tangannya tetap menyentuh punggung Sabiru dengan ringan, memberikan dukungan diam-diam, sementara matanya tertuju pada Malia dengan hormat yang mendalam. Dia memberi ruang bagi ibu dan anak itu, tapi posisinya siap siaga jika Sabiru membutuhkan sandaran lagi.

"Terima kasih," bisik Allbiru pada Malia, cukup keras untuk didengar di tengah rintik hujan. Suaranya serak. "Terima kasih sudah menjaganya saat kami tidak bisa. Saya janji, sekarang giliran saya."

Malia menatap Allbiru, lalu tersenyum tipis melalui air matanya. Dia melihat keteguhan di mata pemuda itu. Dia tahu. Dia tahu bahwa putrinya aman di tangan pria muda itu. Dan untuk pertama kalinya dalam 22 tahun, Malia merasa bebas.

Namun, di balik ketenangan vila tersebut, bayang-bayang The Eternity Circle masih mengintai. Rio mungkin lumpuh, tapi jaringannya luas. Dan rahasia Sabiru kini bukan lagi sekadar kode digital, tapi daging dan darah yang bisa dilukai.

Malam itu, setelah semua orang tertidur kecuali penjaga shift, Sabiru dan Allbiru duduk berdua di ruang tengah yang remang-remang. Hujan deras mengetuk jendela kaca besar, menciptakan irama monoton yang menenangkan.

Sabiru duduk di sofa, kepalanya bersandar di bahu Allbiru. Mata Sabiru tertutup, menikmati sensasi hangat dari tubuh Allbiru yang menjadi sandaran utamanya. Tangan Allbiru secara refleks memainkan ujung rambut Sabiru, gerakan lambat dan menenangkan yang sudah menjadi rutinitas baru mereka sejak kebenaran terungkap.

"Gue masih nggak ngerti," celetuk Kenzi tiba-tiba dari dapur, memecah keheningan malam. Dia membawa dua mug kopi panas. "Dulu kalian tuh kalau disuruh pegangan tangan aja canggung banget. Sekarang... apa-apa nempel. Apa gue ketinggalan episode?"

Sabiru membuka satu mata, menatap Kenzi sambil tersenyum malas, tapi pipinya merona. "Banyak berubah, Zen. Dunia nggak se-simple dulu lagi."

"Allbiru jadi over-protektif parah," tambah Reza yang sedang mengetik di laptopnya di meja seberang, tanpa menoleh. "Tadi pas Dinda mau cek tensi Ru, Biru hampir gigit tangan Dinda. Serius lho. Tatapannya kayak 'jangan sentuh milikku'."

Dinda, yang sedang menyiapkan alat medis di meja samping, tertawa kecil. "Tenang saja. Saya profesional. Tapi memang... detak jantung Sabiru turun drastis setiap kali Allbiru memegang tangannya. Secara medis, kehadiran Allbiru memiliki efek penenang alami yang kuat bagi sistem saraf Sabiru. Mungkin karena faktor psikologis... atau ikatan batin yang sangat dalam."

Allbiru menatap Dinda tajam, tapi tidak marah. Dia justru mempererat pelukannya pada Sabiru, dagunya kini rests di atas kepala Sabiru. "Dia bagian dari aku, Din. Kalau dia sakit, aku yang merasakan sakitnya. Jadi wajar kalau aku nggak mau orang lain sembarangan nyentuh dia kalau nggak darurat."

Sabiru menunduk, menyembunyikan senyumnya di dada Allbiru. Dia bisa merasakan otot-otot Allbiru yang tegang di bawah kaosnya, tanda kewaspadaan yang tak pernah padam. Pria ini tidak pernah benar-benar istirahat. Bahkan saat memeluknya, Allbiru tetap menjadi perisai.

"Za," bisik Sabiru pelan, hanya untuk didengar Allbiru. Jemarinya naik, mengusap rahang Allbiru yang mulai ditumbuhi janggut tipis. "Kamu capek?"

Allbiru menunduk, hidung mereka hampir bersentuhan. Matanya yang lelah bertemu dengan mata Sabiru yang jernih. "Nggak. Selama kamu aman, aku nggak bakal capek."

"Bohong," goda Sabiru pelan. "Matamu merah. Kamu begadang jaga shift malam terus."

Allbiru menangkap tangan Sabiru, mencium telapak tangannya dengan lembut, sebuah gestur yang membuat jantung Sabiru berdegup kencang. "Karena aku takut kalau aku tidur, mimpi burukmu datang lagi. Dan aku ingin ada di sana buat bangunin kamu."

Reza akhirnya menoleh, mengangkat tangan dengan wajah pura-pura jijik. "Oke, oke! Stop! Gue mual liat PDA (Public Display of Affection) level dewa begini. Mending gue fokus hack firewall mereka daripada liat kalian bermesraan."

Kenzi tertawa terbahak-bahak. "Biarin aja, Za. Biarin mereka bahagia. Soalnya setelah ini, kita bakal masuk neraka. Nikmati dulu lah."

Sabiru tertawa, lalu menatap Allbiru dalam-dalam. Di balik candaan, ada keseriusan yang mengerikan. Mereka berdua tahu bahwa cinta mereka kini adalah target. The Eternity Circle tahu bahwa kelemahan terbesar Sabiru adalah Allbiru, dan sebaliknya. Jika mereka menyerang, mereka tidak akan menyerang Sabiru secara langsung. Mereka akan menyerang melalui Allbiru.

"Aku nggak akan biarkan mereka pakai kamu buat nyakitin aku, Biru," kata Sabiru serius, suaranya bergetar sedikit.

Allbiru mengecup kening Sabiru, lama dan penuh janji. "Dan aku nggak akan biarkan mereka sentuh satu helai rambutpun dari kamu, Ru. Kita hadapi ini bareng. Seperti biasa."

Di luar, guntur menggelegar, seolah menandai awal dari badai yang sesungguhnya. Malam itu, di antara pelukan dan bisikan janji, mereka tidak tahu bahwa email anonim telah masuk ke server pribadi Reza. Isinya hanya satu kalimat pendek yang membuat darah Reza membeku:

"Kami tahu di mana kalian berada. Dan kami tahu siapa yang paling lemah di antara kalian. Jangan percayai siapapun."

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
aku mulai dari awal lagi membacanya ya thor
Mh_adian7
plotnya udah bagus🙏
Tati Hartati
sedih banget Thor...bisa ku bayangkan betapa sedihnya memberikan AA anaknya sendiri kepada orang lain supaya anak itu hidup bahagia
Mingyu gf😘
Allbirru anak yang baik😍
Mingyu gf😘
apa ini faktor ekonomi😭
Mingyu gf😘
Hahhh mau di jual kah?
PrettyDuck
sedihnya malia 🥲
PrettyDuck
tau2 naksir nih pas gede 😆
PrettyDuck
kenapa? sulit ekonomi kah?
Davina Aurora: sulit ekonomi— itu salah satu lapisan konfliknya, tapi bukan satu-satunya. Ada alasan lebih dalam kenapa dia harus ‘menunggu’. Tetap ikuti ya, bakal ada kejutan lain 😉👍
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat thor ✍️👈☺
Pengabdi Uji
nama gaada uang ya gimana ya ksian si
Pengabdi Uji
hooh jd ini di titip gitu ya k mreka
Pengabdi Uji
Mau gimana lg namanya keadaan kan
EvhaLynn
enak bener ngemeng nya🤣
T28J
duh, bocah ngomongnya asal bunyi aja 😂
Jing_Jing22
Nggak kebayang dia bisa sekuat itu ngasih anak sendiri ke orang lain dan Suasana celotehan Albiru bikin cerita makin hidup dan bikin gemues.
Sishrye
abis banjir kayaknya, lumpurnya becek😂
☠️⃝♛ ⃟$𝑅 𝔊𝔥𝔬𝔰𝔱 ‮☾☠️:➢
yaallah sedih banget, malia kamu sesosok ibu yang kuatt
☠️⃝♛ ⃟$𝑅 𝔊𝔥𝔬𝔰𝔱 ‮☾☠️:➢
sedihhhh🤧🤧🤧🤧🤧
☠️⃝♛ ⃟$𝑅 𝔊𝔥𝔬𝔰𝔱 ‮☾☠️:➢
kenapa bukan namanya di kasih aja yg mirip sama rahina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!