"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 12
Setelah membantu yang lainnya menyajikan hidangan dan rombongan juga telah menyantap makanannya. Mila menuju ke wastafel mencuci tangannya.
"Hai."
Seketika tubuh Mila mendadak membeku, ia sangat mengenal suaranya yang hampir setiap hari menyapanya. Ia pun memberanikan diri menoleh ke samping kanannya. Benar saja tebakan hatinya, ia sangat terkejut memundurkan kakinya selangkah ke belakang.
"Sepertinya sangat sibuk sampai tak melihat saya diantara para rombongan!" kata Hasbi mencuci tangannya tanpa menoleh.
"Itu teman-temannya Mas Hasbi?" Mila mengarahkan sekilas pandangannya ke arah para rombongan.
"Ya," Hasbi mengibas kedua telapak tangannya dan menatap wanita dihadapannya.
Mila tersenyum nyengir dan berkata, "Terlalu fokus kerja, sampai gak melihat Mas Hasbi diantara mereka. Apalagi pakaian kalian sama semua."
"Pakaian ini adalah seragam kerja kami."
"Sepertinya Mas Hasbi dan rombongan sering makan di sini," tebak Mila karena beberapa orang dari rombongan memesan menu andalan di kedai nasi Pak Bagas yaitu ikan nila bakar saos madu.
"Saya memang belum pernah makan di sini, tapi ada teman yang menjadi pelanggan di kedai nasi ini. Kebetulan bos kami mau mentraktir makan siang, makanya sebagian dari mereka merekomendasikan tempat ini."
"Kalau begitu, terima kasih sudah menjadikan kedai nasi ini tujuan kuliner," kata Mila tersenyum.
Hasbi mencondongkan tubuhnya sedikit dan berbisik. "Itu karena saya juga yang mau bertemu dengan Mbak Mila."
Mila membulatkan matanya, ia kembali memundurkan kakinya. Sinyal di hati dan pikirannya meminta dirinya segera menjauhi pria yang ada dihadapannya.
Hasbi memperbaiki posisi berdirinya dengan tegak lalu tersenyum. "Pulang kerja nanti saya jemput, ya!"
"Gak..gak usah!" Mila melambaikan kedua tangannya menolak ajakan pria itu.
"Kebetulan nanti sore saya melewati jalan ini!" kata Hasbi.
"Saya mau ke rumah teman, rencananya mau menginap di sana!" Mila beralasan.
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Saya mau lanjut kerja, permisi!" Mila membalikkan badannya dan bergegas melangkah.
Di toilet karyawan, Mila memegang dadanya. Sikap Hasbi membuatnya ketakutan, ia merasa dirinya terancam. Mila mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu mengirimkan pesan kepada Indah dan menyampaikan bahwa dirinya mau menumpang tidur satu malam saja di rumah temannya itu.
Indah pun membalasnya, kebetulan suaminya malam ini tak ada di rumah sedang ke luar kota. Jadi, ia memberikan izin Mila menginap.
Sore harinya, tanpa pulang ke kos-kosannya Mila berangkat ke rumah Indah. Sesampainya di sana, ia lalu menceritakan kepada temannya mengenai sosok Hasbi yang menurutnya sangat aneh.
"Aku rasa dia menyukaimu," kata Indah menebak.
"Suka? Menurutku dia seperti pria yang sedang mencari mangsa!" ucap Mila berpikir lain tentang Hasbi.
"Apa dia berani menyentuh tangan atau pipi?" tanya Indah.
Mila menggelengkan kepalanya pelan.
"Masih sopan!" kata Indah.
"Aku takut kalau dia terus mengejar gitu," Mila memegang tangan Indah dengan gemetaran.
Indah tertawa melihat sikap Mila yang terlalu berlebihan.
"Kenapa tertawa, sih??" Mila memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Bersikap biasa aja. Gak usah diambil hati dengan rayuan dan tawaran antar jemput kerja. Kau bisa menolaknya dengan baik-baik," kata Indah memberikan saran.
"Apa aku katakan saja status ku sebenarnya?" Mila meminta pendapat.
"Jangan!!" larang Indah.
"Kenapa?"
"Belum waktunya, kalau kau menceritakannya saat kau belum mengenal lebih dalam dirinya pasti dia menganggapmu sebagai perempuan murahan."
"Maksudnya?"
"Kebanyakan orang berpikir wanita yang sudah menjadi janda pasti kesepian dan sangat mudah untuk dipengaruhi dengan rayuan gombal."
"Maksudmu dia akan memanfaatkan aku?"
"Ya. Apalagi kau tinggal sendirian di kota ini, diapun muncul seolah-olah bagai pahlawan yang dapat melindungimu."
"Apa yang harus aku lakukan?" Mila sangat kebingungan.
"Bersikap wajar, tolak semua bantuan darinya. Jangan tunjukkan diri kalau sengaja menghindarinya. Dia pasti menganggap dirimu terlalu percaya diri disukai dan sok cantik!" Indah memberikan saran diiringi tawa lebar.
Mila yang mendengarnya mendengus kesal.
"Kalau kira-kira sikapnya sangat mengganggu, kabarin aku. Cari tempat kos-kosan yang baru!" Indah siap membantunya lagi menemui tempat tinggal sementara yang benar-benar nyaman.
***
Esok sorenya, Mila melakukan kegiatan seperti biasanya. Dia kembali memberanikan diri melaksanakan salat Maghrib di masjid.
Sepulangnya dari masjid, Mila berpapasan dengan Hasbi. Tetapi, pria itu tak menyapanya karena fokus menerima telepon. Mila cuma melemparkan senyum singkat lalu bergegas masuk ke kamarnya.
Azan Isya pun berkumandang, Hasbi masih berada di halaman dengan posisi duduk diatas motornya dan jemari tangannya mengotak-atik layar ponselnya. Terlihat raut wajahnya tegang dan serius seperti sedang mengalami masalah.
Mila memilih acuh tak menghiraukannya, malah ia mempercepat langkahnya menuju masjid.
Ketika balik pulang, Mila tak melihat sosok Hasbi di halaman. Dia sedikit lega karena tak perlu berbasa-basi lagi.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 lewat 30 menit, hujan turun dengan sangat deras. Mila memegang perutnya, "Kenapa tiba-tiba lapar, ya?" gumamnya sebab tak biasanya perutnya berulah di malam hari.
"Kayaknya aku beli makanan saja diluar!" Mila mengambil payung kecil di sudut kamarnya lalu keluar.
Mila membuka payungnya sebelum melangkah dia berpapasan dengan seorang wanita yang juga menjadi penghuni kos-kosan. "Mau kemana, Mil?"
"Mau ke warung sebelah."
"Warungnya udah tutup, aku baru dari sana."
"Loh, kok, cepat sekali tutupnya?" tanya Mila karena biasanya warung tutup jam 10 malam, masih ada waktu 30 menit lagi.
"Katanya anginnya terlalu kencang, orang-orang pun udah tidur."
"Oh, begitu."
"Kakak duluan, ya!" wanita yang lebih tua 5 tahun dari Mila berlalu.
"Ya ampun, tak ada stok makanan lagi. Apa aku harus ke depan jalan aja? Di sana 'kan ada penjual mie goreng!" gumam Mila yang masih ragu-ragu karena hujan deras diiringi angin kencang.
Ditengah kebingungannya, bahunya ditepuk dari belakang. Sontak, Mila membalikkan badannya dan lagi-lagi memundurkan tubuhnya kala melihat sosok yang ada dihadapannya.
"Mau ke mana?" tanya Hasbi.
"Mau membeli makanan diujung jalan sana, warung sebelah udah tutup," jawab Mila jari telunjuknya menunjuk ke arah sisi kanannya.
"Hujan deras begini?" tanya Hasbi lagi.
"Rencananya, sih!" jawab Mila tersenyum nyengir.
"Jangan keluar, tunggu sebentar di sini!" kata Hasbi.
"Eh, Mas Hasbi mau ke mana?" cegah Mila saat pria itu membalikkan badannya.
Hasbi berbalik badan dan berkata, "Aku punya apel dan roti, tidak usah ke sana."
Hasbi kembali membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju kamarnya dilantai atas.
Mila menutup payungnya dan menunggu Hasbi di depan pintu kamar.
Tak lama berselang, Hasbi datang membawa satu buah apel dan 2 bungkus roti isi kelapa, ia menyerahkannya kepada Mila. "Makan ini saja, jangan keluar ke mana-mana. Hujan sangat deras!"
Mila menerima makanan itu dan berucap pelan, "Terima kasih!"
"Sama-sama," ucap Hasbi tanpa senyuman, ia lalu kembali ke kamarnya dengan berlari-lari kecil.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔