Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - Sisi Lain Matahari
Raditya Arya Wijaya, sosok yang begitu disegani oleh banyak orang. Banyak berita yang meliput kesuksesan yang berhasil ia capai dalam dunia bisnis. Sukses dalam karier dan berasal dari keluarga ternama, menjadikannya sasaran bagi para wanita. Namun, tak ada seorang pun yang berhasil berdiri bersanding dengannya.
Sukses membangun kembali perusahaan yang hampir saja bangkrut. Meninggalkan profesi yang ia cita-citakan dan baru saja sempat ia capai, tak membuatnya surut semangat. Jatuhnya keluarga membuat termotivasi untuk bangkit. Dan lihat? Apa yang ia capai saat ini adalah buah kerja kerasnya.
Arya, itulah nama yang kerap orang-orang saat memanggilnya. Dingin, keras kepala, ambisius dan dominan, itulah sifat yang selalu di deskripsikan soal dirinya. Dan Arya menanggapinya dengan biasa saja. Dia tak peduli soal dirinya, yang pedulikan hanyalah bisnis dan keluarganya.
Membuka laci paling bawah yang terkunci rapat, mengeluarkan sebuah buku yang tersampul rapi dan bertuliskan ‘memoria’. Di dalamnya, banyak foto dan cerita yang tercantum di dalamnya. Tulisan yang ia buat saat bersama mantan kekasihnya. Cerita yang mereka alami bahkan mereka tulis bersama. Foto polaroid tertempel dengan rapi, mulai dari saat mereka menjadi teman hingga menjadi kekasih. Sungguh kenangan yang indah.
Melirik ke arah foto yang terpajang di meja kerjanya. Membuka figura itu, mengeluarkan foto yang tersembunyi di baliknya. Foto saat dirinya masih mengenakan pakaian kedinasan. Momen itu masih tersimpan rapi dalam ingatannya.
“Kenapa kau menghilang begitu saja? Tanpa berpamitan. Tanpa meninggalkan pesan apapun untukku.” Arya memandangi foto polaroid itu dengan pandangan yang penuh akan kerinduan dan jejak amarah di dalamnya.
Ujung jarinya gemetar saat menyentuh sisi wajah dari gadis itu. Gadis cantik yang mampu menyusup hingga ke relung hatinya. Ia selalu menggumamkan kalimat yang sama saat memandangi foto itu. Suara yang biasanya berat dan memerintah dengan aura yang dominan, kini menjadi bisikan lirih. “Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama. Bukankah saat itu seharusnya kau memperkenalkanku dengan kakak dan keluargamu. Lalu kenapa kau menghilang, hm?”
Arya memegang erat foto itu. Kekecewaannya masihlah sama, tak berkurang sama sekali. Luka itu masih ada, namun rasa rindu dan cinta itu juga masih ada. Dalam namanya memiliki arti cahaya matahari, namun Arya lebih sering merasa seperti sisi gelapnya malam. Dimana bulan yang dingin, sunyi, dan menyimpan rahasia yang tak pernah terjangkau oleh cahaya apa pun.
“Kini, apakah kita masih bisa bertemu, hm?” lirihnya. Memendung rasa rindu sendiri, bukankah itu terlalu menyakitkan.
Gelapnya malam ini, sangat mendukung suasana hatinya. Ruangannya yang begitu gelap nan sunyi, mampu menariknya ke dalam kenangan lama. Bahkan bulan pun tampak tak mau menunjukkan dirinya, tenggelam dalam awan hitam. Cahaya lampu perkotaan, hiasan yang indah namun tak mampu menghibur laranya.
“Tuan, apakah anda tak pulang lagi hari ini? Nyonya kembali menghubungi, meminta anda untuk segera kembali, tuan,” ujar Kevin melaporkan pesan dari Nyonya Wijaya, Hanifah Lestari ibu seorang Raditya Arya Wijaya.
“Kevin. Menurutmu, apakah aku bisa bertemu dengan ‘dia' lagi?”
Mendengar pertanyaan itu, Kevin bergeming. Setelah membaca laporan dari tim pengintai, secara garis besar kemungkinan mereka akan bertemu. Hanya saja, Kevin tak tau apakah saat itu tuannya ini telah siap dalam berbagai kondisi. Apalagi penyebab menghilangnya wanita itu pada saat itu masih belum diketahui. Dirinya juga belum sempat melaporkan apa yang ia ketahui kepada bosnya, karena merasa berita ini dapat mengguncang ketenangan bosnya saat ini.
“Tuan, suatu hari nanti kalian pasti akan bertemu.” “Dan itu terjadi tidak lama lagi,” lanjutnya dalam hati.
Kevin hanya mampu menyuarakan jawaban yang tak pasti. Kevin tau bosnya belum mampu secara emosional jika mereka bertemu kembali. Kemungkinan yang terjadi hanyalah emosi yang meledak setelah sekian lama terpendam. Dan Kevin, harus menyiapkan segalanya sebelum hal itu terjadi. Bahkan dirinya harus menyiapkan mental sang bos sebelum hal itu terjadi.
“Dia pasti sangat cantik saat ini. Aku bisa membayangkan betapa dewasanya dan anggunnya dirinya kini. Dalam foto ini saja, dia sudah tampak cantik.”
Kevin mendengar gumaman itu dalam diam. Cinta yang terlalu dalam, tak selalu berakhir baik. Dan Kevin melihat itu di dalam bosnya.
Drrtt...
Getaran pada ponselnya, Kevin melihat pesan kembali masuk dari ibunda bosnya. Nyonya Wijaya menginginkan sang anak untuk pulang, namun Arya masih larut dalam masa lalu. Ingin menyadarkannya, keberanian yang ia miliki hanya setipis tisu. Sosok Arya yang dominan, tak mampu ia kalahkan. Dirinya masih mengingat posisinya saat ini. Pekerjaannya memang berat, tetapi gajinya sepadan. Jadi, dirinya belum mau melepas pekerjaan ini. Lalu dilema apa yang baru saja ia alami? Bosnya atau Ibunda dari bosnya yang memiliki pegangan yang lebih besar yaitu Tuan Wijaya.
“Kevin, bunda kembali menghubungimu kan?”
“Benar tuan!”
“Bilang pada bunda, aku akan ada pergi dinas dan akan pulang sebelum acara pernikahan si kembar!”
“Tapi tuan, jika nyonya—“
“Sudahlah, itu akan menjadi urusanku. Kau sampaikan saja sesuai pesanku tadi!”
“Baik tuan!”
Kevin keluar dari ruangan Arya, meninggalkan Arya kembali dalam kesunyian. Kevin harus mempersiapkan segalanya sebelum keberangkatan dinas kali ini.
“Huh! Sebaiknya aku mempersiapkan segalanya. Sedia payung sebelum hujan. Dan menyisipkan laporan dari tim pengintai sesegera mungkin.” ujar Kevin sambil membaca laporan mengenai ‘dia’.
“Semoga, tak menimbulkan masalah ke depannya.” harap Kevin.
...****************...
Nala yang masih tidur di brankar rumah sakit melihat gelapnya malam dari balik jendela ruang rawatnya. Melihat ruangannya yang sepi, membuat Nala merasa bosan. Semua orang telah pulang, kakaknya juga sedang pergi ke kantin dan Maya yang sedang bekerja.
Turun dari ranjang, mengambil jaketnya. Berjalan perlahan dengan membawa infusnya menuju balkon ruang rawatnya. Hawa dingin seketika menusuk indra perabanya.
Rumah sakit tampak begitu sunyi. Hening yang terlalu dingin. Sungguh suasana yang tak ingin Nala rasakan. Mungkin jika saat bekerja, Nala tak akan merasakan kebosanan ini. Namun, kini dirinya adalah seorang pasien. Dimana dirinya dituntut untuk tidir dan beristirahat sepanjang waktu. Sangat membosankan.
Menikmati angin malam. Nala memikirkan mimpinya saat bertemu dengan keluarganya. Dirinya telah mencurahkan segalanya kepada mereka melalui mimpi yang selama ini ia dambakan.
Hanya saja, ada satu yang membuatnya kebingungan. Soal laki-laki yang dimaksudkan sang nenek. Lelaki yang seharusnya telah ia kenalkan kepada mereka. Namun, dirinya tak mengingat siapa lelaki itu. Dirinya saja tak merasa memiliki teman dekat berjenis kelamin laki-laki. Lalu, siapa yang dimaksud sang nenek kepadanya?
Dipta yang baru saja masuk, tak melihat keberadaan adiknya. Kemudian, melihat pintu balkon yang terbuka, menandakan baru saja ada yang keluar menuju balkon. Dengan berjalan perlahan. Melihat adiknya menatap pemandangan malam, Dipta tak melarang hanya mengawasi. Menunggu adiknya menikmati suasana. Menghirup udara bebas. Dipta tau, Nala sedang jenuh karena di dalam ruangan dan terus saja di ranjang sepanjang hari
Di rasa telah cukup, Dipta segera mendekati Nala. Dirinya tak ingin adiknya kembali sakit karena Nala masih belum terlalu sehat. Suhu tubuh Nala masih panas, menandakan masih terserang demam. Hanya saja, suhu tubuh itu telah menurun dan membuatnya tak terlalu khawatir.
“Dek, ayo kembali ke dalam. Kau belum sehat betul!”
Nala tersenyum, ia hanya menoleh sebentar sebelum kembali memandangi area luar.
“Kak, sebenarnya aku memimpikan ayah, kakek dan nenek. Mereka meminta untuk berkunjung. Ke rumah mereka dan rumah lama.”
Dipta menyimak cerita Nala. Dirinya tak berani menyela terlebih dahulu. Dirinya tau, cerita itu masih akan berlanjut.
“Dan kakak tau, mereka tampak sangat baik dalam mimpi. Mereka hanya memarahiku sebentar karena lama tak berkunjung.”
“Aku juga cerita semuanya, termasuk kakak yang kini sudah berkeluarga. Bahkan Bayu yang lucu telah aku ceritakan.”
Nala menunduk sebentar. Air matanya jatuh. Dirinya saat ini begitu emosional. Dengan segera ia menghapus air matanya. Dirinya tak ingin menangis kali ini.
“Aku sempat ingin ikut, tetapi mereka memerahiku.” lirihnya melanjutkan cerita
Kalimat itu mampu menjadi alarm bagi Dipta. Dengan segera Dipta menarik Nala ke dalam pelukannya.
“Dek, kalau kamu ikut abang jadi sendirian dong. Kalau kamu kangen mereka, bilang ya. Kita kunjungi mereka bersama. Setelah adik sembuh, kita ke Semarang mengunjugi mereka. Jadi jangan meminta ikut lagi, oke?”
Nala hanya mengangguk. Lagipula, Nala masih belum tega meninggalkan kakaknya. Nala tau, Dipta masih menyimpan luka. Dan Nala belum menyembuhkan luka itu. Nala harus segera menyembuhkan luka sang kakak mengenai keluarga.
“Kak, janji ya kita akan ke Semarang. Nenek titip sesuatu soalnya. Katanya ada hadiah untukku yang belum beliau berikan dan tersimpan di rumah lama. Hanya saja, aku tak tau maksud dari nenek.”
“Memang nenek bilang apa sampai adik kebingungan, hm?”
“Nenek bilang jangan lupa ajak lelaki itu. Lelaki siapa coba?”
Deg
Jantung Dipta seolah berhenti sejenak. Hutang ia miliki pada adiknya. Teringat dengan kekasih adiknya yang tak sempat ia beritahu mengenai kondisi adiknya. Lelaki yang seharusnya ia beritahu, namun terlewat karena kondisi saat itu memungkinkan untuk dirinya meninggalkan Nala sendirian. Rahasia yang ia tutup, telah terbuka perlahan