NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta

Cahaya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saidah_noor

Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rayyanza Mehendra.

"Apa kau sudah lebih tenang?" tanya Yumi menatap temannya dengan penuh selidik.

Mereka duduk berhadapan dan hanya terhalang meja yang berisi makanan ringan dan minuman. Mereka juga berada diklub yang biasa mereka kunjungi saat galau atau ingin minum. Jadi bos dan pegawai klub itu sudah mengenal mereka berdua.

"Sedikit," jawab Cahaya dengan menundukkan kepalanya.

"Hei! Aku kenal kamu, jadi jangan pendam sendirian," ujar Yumi dengan nada kesal, kemudian meneguk minumannya sampai habis.

Yumi mengajak Cahaya untuk menyegarkan pikiran, alasan itu sebenarnya tak salah. Ia hanya ingin tahu dan membuat Cahaya bercerita sendiri, karena biasanya orang mabuk selalu jujur.

Itulah yang dilakukan Yumi, mungkin caranya salah. Tapi dari pada melihatnya menangis diam-diam, lebih baik membuatnya mabuk dan jadi pendengarnya. Karena ia tahu seperti apa sahabatnya.

"Aku hanya takut, aku takut kehilangan," ujar Cahaya mulai membuka mulutnya.

"Kehilangan, maksudmu apa?" tanya Yumi menatap temannya makin intens.

Ditatap seperti itu, Cahaya mulai berpikir seribu kali untuk cerita. Pria yang mendekatinya itu bukan lelaki biasa, ia adalah bos mereka dan ia harus berhati-hati dalam membicarakannya.

"Lupakan saja," jawab Cahaya, enggan bercerita karena ia tahu sifat Mimi yang suka kepo itu. Ia tak ingin hubungannya dengan Rayyan disalah artikan.

Karena Cahaya tak ada niat untuk punya hubungan lebih dalam dengan Rayyan. Ia takut merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya. Juga, belum tentu keluarga kaya itu mau menerimanya. Ia masih berusaha untuk menahan diri, agar tak jatuh cinta.

Bagaimana jika Rayyan juga sama seperti Fery atau om Iyan?

Wanita sempurna saja tak terjamin punya pasangan setia, apalagi dirinya yang punya cacat fisik. Cahaya sadar betul kekurangannya, tapi ia juga tak bisa berkutik saat lelaki itu mendekatinya.

"Yaya, kamu ini," keluh Yumi, gregetan padahal hampir saja membuat temannya bercerita tentang pria yang dekat dengannya itu. Mana sudah malam pertama lagi.

"Dari pada kamu tanya soal pria itu, kenapa kamu gak cari pacar saja? Aku lagi gak mau ngomongin soal dia," ucap Cahaya menolak bercerita dan mengalihkan pembicaraan.

Yumi berdecak, ia memanyunan bibirnya dan menatap temannya yang pintar menjaga rahasia.

"Aku masih ingin main dan dugem." tegas Yumi, "melihat kamu gagal berumah tangga, itu sudah cukup alasan bagiku buat nge-jomblo terus."

Cahaya melirik Yumi dengan alis bertaut. Temannya saja tak takut jadi jomblo, kenapa ia tak bisa?

"Lagi pula para gege drama pendek lebih menggairahkan dari pada melihat para pria disini, ketampanan mereka bikin aku rela jadi pelakor," ujar Yumi tersenyum membayangkannya.

"Satu lagi yang lagi heboh, byun woo seok oppa sekarang udah makin bersinar. Aku lebih terpesona oleh mereka yang wajahnya bersinar bak pangeran berkuda putih. Camkan itu!" lanjut Yumi sambil menjentikkan jari jempol dan tunjuknya.

Cahaya memutar bola matanya, penyakit para gege china dan oppa itu sudah meracuni otak Yumi sampai lupa umur. Percayalah, Cahaya saja hanya menganggap mereka biasa saja. Tapi bagi para pecintanya sudah berasa seperti suami sendiri.

Hobi mereka adalah mengakui para gege itu sebagai suami mereka sendiri, tapi itu juga suami khayalan bukan kenyataan.

Wajar jika orang tuanya Yumi selalu memintanya menjodohkan putri sulung mereka, karena memang otaknya sudah dipenuhi para gege.

Cahaya meneguk minumannya dan langsung berdiri. Ia melangkah pergi setelah menaruh gelasnya.

"Kau mau kemana?" tanya Yumi.

"Ke toilet," jawab Cahaya.

"Jangan kabur! Aku mau bicara soal om bontotku," ujar Yumi.

Cahaya tak menggubrisnya ia melanjutkan langkahnya menuju kamar lembab itu. Dalam pikirannya ia sudah menduga, bahwa paman sahabatnya itu berada dan tinggal diluar negri.

Yumi sudah mengatakan bahwa om Iyan itu tinggal diluar negri, bahkan sudah menikah saat ia bertanya beberapa bulan lalu. Padahal hanya ingin bertemu saja, ternyata mereka tak akan pernah bertemu lagi.

"Sepertinya memang takdir tak mendukungku," keluh Cahaya lalu masuk ke dalam kamar tempat pembuangan tersebut.

Cahaya keluar dari bilik, lalu mencuci tangannya. Ia menatap wajahnya dalam pantulan cermin yang lebar. Sejenak ia terdiam diri kembali, rasa itu benar-benar kembali menderanya.

"Cahaya, dia itu sudah bahagia. Kenapa kamu malah memikirkannya?" gumamnya sambil menepuk kedua pipi nya.

"Tapi aku merindukannya, rindu menggodanya dan juga rindu obrolan omong kosongnya yang lebay," ucapnya lagi lalu menundukkan kepalanya, ia mematikan airnya dan merapikan rambutnya sambil berkaca.

Kenapa sesakit ini merindukan seseorang yang sudah lama tak bertemu?

Cahaya pun keluar.

Andai waktu itu mereka tak pernah dekat, mungkin ia tak akan pernah mengingat sosok itu lagi.

"Oh Astaga!" pekik Cahaya menatap sosok pria yang tak asing.

"Udah selesai dugemnya?" tanya Rayyan menatapnya dengan penuh selidik.

Cahaya tersenyum paksa, ia mengabaikan bosnya dan pergi tanpa memberitahukannya. Tak disangka orangnya sudah didepan matanya.

"Belum, baru pukul 10 malam," ujar Cahaya mengigit bibir bawahnya.

"Ayo pulang!" ajak Rayyan menarik tangannya.

Cahaya menolaknya, ia tak bisa pergi karena ada Yumi yang menunggunya.

"Pak Rayyan, lepasin! Aku pergi sama Yumi," ujar Cahaya sambil menghempaskan lengan pria itu dengan tangan lain.

Rayyan menatapnya lagi, "Mimi juga disini," gumamnya.

Cahaya termangu. Ia berpikir, bagaimana Rayyan bisa tahu panggilan Yumi?

Itu adalah panggilan oleh keluarganya, hanya dia orang luar yang memanggilnya Mimi. Tiba-tiba Cahaya ingat pada sore itu, igauan pak Rayyan yang tak sengaja ia dengar.

"Yaya, kamu mau gak jadi istri om?" kalimat itu seakan menjadi bukti bahwa sebenarnya Rayyan adalah ...

"Om Iyan," panggil Cahaya.

Namun panggilan itu teredam oleh suara telepon milik Rayyan, sehingga pria itu tak mendengarnya dan malah merogoh saku jasnya.

"Aku angkat dulu," ujar Rayyan menjauhkan diri dari Cahaya.

Cahaya mengangguk pelan. Setelah Rayyan menjauh, wanita itu meliriknya dari setiap sudut wajah bosnya. Namun ia tak menemukan jejak om bontot Yumi selain dari sifatnya.

"Sudahlah, mungkin aku salah dengar," gumam Cahaya.

Ya, mana mungkin itu om Iyan. Walau postur mereka sama, tapi wajah dan badannya sangat berbeda jauh. Pamannya Yumi itu gemuk dan sampai pipinya aja bulat, lain dengan bosnya yang begitu kekar dan tegap.

Cahaya tersenyum, ia masih ingat bagaimana tangannya menyentuh dada dan perutnya malam itu. Mendadak otaknya menjadi blank, ia menggelengkan kepalanya dan menjitaknya dirinya dengan pelan.

"Aduh Cahaya, kenapa kamu malah ingat soal malam itu," bisiknya dalam hati merutuki diri.

"Tapi, aku tak pernah tahu nama lengkapnya om Iyan. Dikeluarga ia dipanggil Ray, dirumah Yumi dipanggil Iyan. Apa namanya itu ... Ray yan?" pikir Cahaya mencari fakta.

"Ah, sudahlah. Aku tanyakan Yumi saja," ujar Cahaya melangkah meninggalkan lorong tersebut.

Ia tak menunggu Rayyan yang masih menerima panggilan yang entah dari siapa. Kelihatannya penting sampai begitu lama mereka berbicara, ia tak peduli suara lagu dunia gemerlap itu mengusik pembicaraan.

Saat sampai dikamar sewa mereka, Cahaya lihat Yumi suah hampir teler. Segera ia duduk dikursinya.

"Yumi, nama lengkap om Iyan itu. siapa?" tanya Cahaya sambil menggoyangkan lengan temannya.

"Rayyanza," jawab Yumi dengan mata merem.

"Rayyanza malik Ahmad, atau?" tanya Cahaya lagi.

"Bukan, itu mah anaknya aa Raffi sama Gigi. Nama lengkap om Iyan itu, Rayyanza Mahendra, pewaris Mahen group," ungkap Yumi masih dengan mata terpejam, entah sudah mabuk atau memang ngantuk berat.

"Oh, Rayyanza Mehendra. Pewaris ...." ulang Cahaya, namun ia mendadak mengingat sesuatu.

Apa?

Rayyanza Mahendra, pewaris Mahen Group. Bukankah itu adalah bos mereka?

Cahaya terdiam, mengingat sesuatu yang mungkin ia lewatkan.

Apa ini sebuah kebetulan?

Ataukah ...

Yang ia tahu. Pak Rayyan adalah satu-satunya pewaris Mahen group, tempatnya bekerja. Satu lagi, Mahen Group cuma hanya satu dan itu adalah perusahaan interior yang dipimpin oleh Rayyanza Mahendra. Berkat kepintarannya perusahaan itu menjadi lebih besar, hingga memilik anak cabang diberbagai tempat.

Perusahaan itu berkembang tak hanya dari segi interiornya, tapi juga Furniture nya dengan kualitas dunia. Bahkan perusahaan itu juga sudah memiliki fasilitas komersial sendiri didalam dan diluar negri.

"Cahaya," suara Rayyan memanggilnya.

Wanita itu menyentuh dadanya, mendadak jantungnya berdebar sangat kencang mendengar suara yang memanggil namanya.

1
falea sezi
🤣🤣 mertua toxic
🌀 SãñõõR 💞
yap ntar ceritanya jadi membingungkan.
partini
saling terhubung suami selingkuh dengan wanita yg pernah di sukai lelaki yg tidur dengan cahaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!