NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror di Seberang Jaringan

Penyelidikan yang dilakukan oleh Randi dan tim forensik siber Alfarezel Group berjalan sepanjang malam, namun hasilnya justru membawa mereka ke sebuah jalan buntu yang membingungkan.

Kurir berseragam hitam yang mengantarkan kotak kayu itu ternyata menggunakan identitas palsu, dan sepeda motor yang dikendarainya menggunakan pelat nomor curian yang telah dibuang di saluran air pinggiran kota.

"Alamat penjemputan paket itu berada di kawasan pergudangan tua di dekat pelabuhan," lapor Randi pagi itu di ruang kerja Devan, wajahnya tampak sangat kuyu.

"Tempat itu adalah bekas rumah bordil dan kasino ilegal milik dinas hitam lama yang digulung oleh Kakek Bramanta sepuluh tahun lalu. Wilayah itu sudah mati, Pak. Tidak ada CCTV publik yang aktif di sekitarnya."

Devan berdiri di dekat meja kerjanya, mengetukkan jari-jarinya dengan ritme yang lambat dan berbahaya. "Artinya, kita sedang berhadapan dengan seseorang yang tahu betul sejarah masa lalu Alfarezel. Seseorang yang memiliki dendam lama dan mengerti bagaimana cara bergerak di bawah radar hukum."

Anya, yang baru saja masuk membawa secangkir kopi untuk Devan, mencoba tetap tenang. Namun, bayangan gaun pengantin yang terkoyak dan berlumuran noda merah semalam masih menghantui pikirannya.

"Pak Devan," Randi melanjutkan dengan ragu, "hari ini Anda memiliki jadwal penandatanganan akuisisi saham di Singapura secara langsung. Penerbangan Anda dijadwalkan pukul sebelas siang. Apakah kita harus menjadwal ulang demi keselamatan Nona Anya?"

Devan langsung menoleh ke arah Anya.

Ada kilat protektif dan kecemasan yang mendalam di matanya. Namun, Anya justru menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Jangan, Devan. Akuisisi ini adalah proyek yang sudah kau persiapkan selama enam bulan. Jika kau membatalkannya hanya karena sebuah paket teror, si pengirim akan merasa mereka telah memenangkan babak pertama," ucap Anya, mencoba memberikan senyuman penguat.

"Aku akan baik-baik saja di sini. Penjagaan di Menara Alfarezel sangat ketat, dan Randi ada di sini bersamaku."

Devan terdiam sesaat, menatap Anya dengan lekat sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat, meraih kedua tangan Anya dan mengecup keningnya dengan lembut namun lama.

"Aku akan kembali besok malam. Begitu urusan di Singapura selesai, aku langsung pulang," bisik Devan, suaranya sarat akan janji. Ia menoleh ke arah Randi.

"Gandakan personel keamanan di lantai ini. Pastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa mendekati Anya, bahkan dalam radius satu lantai di bawahnya."

"Siap, Pak Devan," jawab Randi patuh.

Setelah keberangkatan Devan menuju bandara, suasana di lantai lima puluh satu terasa sangat sunyi. Jam dinding digital terus berdetak, mengiringi Anya yang tenggelam dalam tumpukan berkas administrasi untuk mengalihkan rasa cemasnya.

Randi sesekali masuk untuk memastikan keadaannya, sementara dua petugas sekuriti berbadan tegap berjaga ketat di depan pintu masuk lobi eksekutif.

Pukul empat sore, hujan deras disertai badai petir mulai mengguyur Jakarta, membuat pemandangan dari dinding kaca ruangan CEO berubah menjadi abu-abu gelap yang mencekam.

Tiba-tiba, ponsel pribadi Anya yang diletakkan di atas meja bergetar dengan nyaring.

Drrr... Drrr... Drrr...

Layar ponselnya tidak menampilkan nama atau nomor telepon, melainkan tulisan "UNKNOWN NUMBER" (Nomor Tidak Dikenal).

Jantung Anya seketika berdegup kencang. Ia menatap ponsel itu selama beberapa detik dengan bimbang, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menggeser layar dan mengangkat panggilan tersebut.

"Halo?" ucap Anya, suaranya diatur sedatar mungkin untuk menyembunyikan ketakutannya.

Tidak ada jawaban langsung dari seberang telepon. Hanya terdengar suara embusan napas yang berat dan lambat, berbaur dengan suara desis statis jaringan yang sangat mengganggu telinga.

"Siapa ini?" tanya Anya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

"Anya Anandita..."

Sebuah suara bariton yang berat, namun telah dimodifikasi menggunakan alat pengubah suara (voice changer) hingga terdengar seperti robot yang dingin dan menyeramkan, akhirnya menyahut.

"Apakah kau menyukai hadiah pernikahan yang kukirimkan semalam?"

Darah Anya rasanya mendadak surut dari wajahnya. Ia meremas pinggiran meja kerjanya dengan tangan yang mendadak dingin.

"Apa maumu? Jika kau ingin memeras uang dari Alfarezel, kau salah orang. Devan tidak akan tinggal diam setelah apa yang kau lakukan."

Suara di seberang telepon itu tertawa sebuah tawa digital yang terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian ruangan yang luas itu.

"Uang? Aku tidak butuh uang sepeser pun dari keluarga terkutuk itu, Anya. Aku hanya ingin keadilan," desis suara misterius itu.

"Kau adalah gadis yang cerdas. Kau berhasil menghancurkan Karina dan Dion dengan bukti-bukti digitalmu. Tapi apakah kau tahu... bahwa pria yang saat ini kau peluk setiap malam, pria yang kau sebut sebagai pelindungmu, adalah monster yang sesungguhnya?"

"Jangan berbohong! Devan sudah menceritakan semuanya tentang Clara," balas Anya, suaranya mulai bergetar karena emosi yang campur aduk.

"Oh, benarkah? Apakah dia menceritakan bahwa malam itu... sebelum mobil Clara jatuh ke jurang, Clara sempat menelepon nomor darurat dan mengatakan bahwa Devan mengejarnya dengan mobil lain?" tanya si penelepon misterius, memberikan informasi detail yang membuat jantung Anya seolah berhenti berdetak.

"Apakah dia menceritakan bahwa ada rekaman suara yang dihapus dari server kepolisian oleh Kakek Bramanta demi menyelamatkan masa depan cucu kesayangannya?"

Anya tertegun. Pikirannya mendadak kosong. Logika dan kepercayaannya pada Devan berbenturan keras dengan detail mengerikan yang baru saja diucapkan oleh si penelepon.

"Jangan biarkan dirimu menjadi Clara kedua, Anya Anandita,"*l bisik suara itu dengan nada mengancam yang sangat pekat.

"Batalkan pernikahan ini dalam waktu tiga hari, atau jalankamu menuju altar akan berubah menjadi jalan menuju liang kuburmu sendiri. Pilihan ada di tanganmu."

Klik.

Sambungan telepon terputus sepihak. Anya perlahan menurunkan ponselnya dari telinga dengan tangan yang bergetar hebat.

Di luar jendela, sebuah kilatan petir yang sangat besar menyambar, menerangi ruangan sesaat sebelum suara guntur yang menggelegar memecah keheningan, mencerminkan badai keraguan baru yang kini resmi mulai mengikis dinding kepercayaan di dalam hati Anya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!