IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Beneran di pamerin dong, calon mantunya." Seloroh Megan, saat Anin datang.
Di ruangan VIP itu sudah hadir, kedua orang tua Naufal, Paulina bersama Fredrick, Megan bersama Jeremy dan sepasang lagi...
Anin tidak mengenalnya, siapa?
"Sayang, kamu belum kenal kan ini siapa?" Regina seolah tahu, kalau kedatangan sepasang suami istri itu belum di kenal Anin.
"Jadi ini dia calon menantumu Frans?"
Orang itu, menerima uluran tangan Anin–bersalaman.
"Saya, Darmawan dan ini istri saya Amara." ucap orang itu.
Demi sopan santun, Anin membungkukkan badannya sedikit, " Iya Om, saya Anin." sahutnya.
"Naufal nya mana?" Frans bertanya.
"Dia nggak bisa ke sini Pa, karna ada operasi Cito, sama ada operasi pasien kanker." timpal Anin.
"Wah, sibuknya si ganteng satu itu" celetuk Megan. "Tapi ya, aku akui si Naufal itu gantengnya kebangetan. Wajar nggak sih kalo dia itu banyak di kagumi cewek-cewek. Beruntung Anin, jadi pemenangnya."
Anin tersenyum menanggapinya, melihat Megan... Ia teringat dengan cerita Gerald tadi pagi.
"Tapi kita dulu waktu muda, susah lah Frans sama Jeremy jagain kita." Paulina menimpali "Apa lagi kalo pas kamu mabok, hih Megan parah banget dia."
Regina tertawa, " Inget nggak dulu, waktu Megan mabok malah meluk cowok nggak jelas, dan berakhir di pukul botol kepalanya sama Jeremy. Cowok itu sampe berdarah - berdarah."
Amara ikut tertawa, "Gila sih itu, Jeremy yang anak bangsawan ini harus nginep di penjara gara-gara maboknya Megan."
Semua di ruangan itu tertawa, kecuali Anin. Justru ia terkejut, dengan cerita yang bagi mereka lucu itu. Apa kenakalan semacam itu begitu lucu untuk orang-orang berduit seperti mereka?
"Tapi ada yang bikin aku nggak pernah lupa," Sambung Jeremy, " Waktu Fredrick di London, ninggalin Paulina tanpa bilang kalo dia suka. Giliran Paulina mau di nikahkan sama siapa waktu itu...aku lupa.."
"Sama Thom." sela Frans.
"Nah iya sama Thom," imbuh Jeremy "Baru tuh, dia kebakaran jenggot. Mana dengan beraninya dia nantangin mertua. Ngancem kalo nggak di kasih kawin bakal ngajak Paulina pergi dan melupakan orang tuanya."
"Mana nggak syok tuh, kena serangan jantung papanya Paulina." seru Regina.
Fredrick dan Paulina hanya tertawa.
"Eh inget nggak waktu Thom baru buka night club nya? Dia masih tuh ngubungin kalo ada job pelanggan yang mau booking. Bayarannya tinggi padahal, tapi mana berani aku sama bangsawan satu ini. Bisa di gorok aku sama dia." Megan kembali mengenang masa muda.
Sedang Anin justru fokus pada kalimat-kalimatnya, ini maksudnya apa? job apa? Pelanggan apa? Kok boking-boking an?
"Ya kira-kira aja, mana bisa aku membayangkan kamu di sosor cowok lain!" timpal Jeremy.
Anin terdiam lagi, pergaulan seperti apa yang di jalani para orang tua ini saat mereka muda? Sedang Anin justru mati-matian menjaga dirinya untuk tidak terjerumus dengan pergaulan yang seperti itu, tapi dengan entengnya orang-orang tua ini bercerita masa mudanya.
Walau banyak diam, tapi sebisa mungkin Anin mengikuti suasana. Menurutnya, kalau Naufal bisa berusaha menerima keadaannya, kenapa dia harus banyak protes saat ia juga di tempatkan yang sebenarnya, tidak membuatnya nyaman.
***
Dirumah Anin,
"Widya!"
Bondan berteriak kencang. Tidak juga mendapat sahutan, ia menendang pintu rumah dengan sengaja. Suara bedebam menggema.
"Brak!"
Tergopoh-gopoh Widya mendekat, dengan tangan penuh busa-busa sabun.
"Pulang-pulang teriak-teriak! Mau Lo apa?!" sentak Widya dengan beraninya.
Bayu keluar dari kamar, dengan ponsel di tangan. Ia melirik Bondan sekilas, namun tajam. Lantas berjalan ke arah dapur.
Bondan tidak menggubris, tatapannya menyapu ruangan. Seolah dia ingin mencari-cari sesuatu. Namun tidak menemukannya.
"Mana motor? Gue mau pake!"
Widya, dengan malas menatapnya. "Di pake Kenzo, nggak tahu kemana. Emang motor Lo kemana?!"
Bondan melotot, semburat merah naik ke wajahnya sampai telinga. "Gini nih, di rumah ini. Terlalu banyak yang lancang!" Bentaknya. "Siapa suruh Kenzo bawa motor? Kalo gini kan gue yang repot!"
Widya meliriknya dengan sebal, tidak mau memperdulikan, ia mengambil gelas kotor di atas meja.
Bondan merasa di abaikan, kembali ia membentak Widya. "Suruh Kenzo pulang!" keras suaranya, "Atau gue sendiri yang nyeret dia, pulang!"
Widya hanya melengos, ia melangkah membelakangi Bondan, menuju dapur. Berniat melanjutkan pekerjaannya.
Bondan semakin geram dengan perlakuan Widya yang mengabaikannya, ia pun menarik rambut Widya yang di Cepol kebelakang.
Ia cengkram Cepol itu sekuat tenaga, hingga Widya terjengkang kebelakang.
"AKHHHH!!"
Widya mengerang kesakitan. Reflek, tangan yang memegang gelas kaca ia lemparkan pada Bondan.
"PRANK!!"
Gelas itu melesat, tidak mengenai Bondan tapi jatuh dan pecah–berserakan di lantai.
Bondan semakin menggebu, ia lirik pecahan kaca itu. Lantas mencengkram lebih kuat di Cepol Widya.
"Brani Lo sama gue ya!"
"BRANI LO!"
Bondan semakin tinggi suaranya membentak Widya.
Tangan Widya menggapai tangan Bondan, erangannya semakin lama semakin memilukan.
"Lepas! Lepasin tangan Lo, Bangsa*t!!!!"
"AKHHHHHHH"
Tapi Bondan tak kunjung melepaskan, tangan satunya justru masuk ke dada Widya. Jemarinya masuk di antara Bra hitam yang di kenakannya.
Bondan menyeringai, ia mendapat apa yang di carinya sebenarnya.
Gulungan uang kertas berwarna merah kini sudah berpindah di genggaman Bondan. Setelah mendapatkan itu, dengan kasar ia mendorong kepala Widya, melepaskan cengkramannya.
Widya meringis menahan sakit.
"BRENGS*K!!"
"B*JINGAN!!"
"Balikin duit gue!!!"
Widya memekik, tangannya berusaha menggapai uang di tangan Bondan. Tapi sia-sia, Bondan begitu pandainya berkelit.
"Balikin, itu bakal makan gue sama anak-anak yang di kasih Anin. Bukan buat Lo!!!"
Serak suara Widya, bercampur tangis dan amarah.
Bondan mencium gulungan uang itu, dengan senyum mengejek Widya. "Anin juga anak gue, gue berhak sama duit yang dia kasih!"
Widya tidak lagi memiliki kesabaran, ia melesat kencang. Bagai banteng yang mengamuk, menggunakan tanduk menyeruduk lawan.
Tapi Bondan tidak tinggal diam, ia meraih pecahan gelas di lantai mengarahkannya ke punggung Widya.
CRASH!
Daster hijau muda yang Widya pakai koyak setengah di punggungnya, sayatan beling meninggalkan bekas merah panjang, darah mengalir merembes di sela sayatan. Widya terpekik, meringis pedih.
AKHHHH
Dari arah dalam, Bayu keluar dengan parang di tangan. Tatapannya nanar, melihat rembesan darah di punggung Widya.
Tatapannya semakin menyala, ketika melihat Bondan ingin menampar Widya.
Deru nafas Bayu tak terkira. Langkah kakinya tegap tanpa kenal surut. Tangannya mengacung, siap menebaskan parang ke arah Bondan.
SRATHHH
Udara seperti terbelah, diikuti bunyi singkat yang dingin dan final.
Bondan terbelalak, bola matanya membulat sempurna, seolah ingin keluar dari rongganya. Nafasnya hanya sampai di tenggorokan, lalu limbung tersungkur ke lantai.
ARGH... ARGH...ARGH
Tiga kali suara itu terdengar, lalu sunyi...
Darah mengalir dari leher Bondan, membentuk genangan yang pekat, semakin lama semakin merah dan segar bagai anak sungai yang menemukan muaranya.
Bayu menelan ludah, nafasnya masih memburu, tangan yang begitu erat memegang parang perlahan meregang.
Semakin meregang, hingga parang itu jatuh tak beraturan.
PRANG!
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍