Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Keesokan paginya.
"Apa kamu tidak berangkat kerja?." Tanya ibu, melihat Sandi hanya mengenakan baju kaos serta celana pendek selutut di saat mereka sedang sarapan bersama.
"Tidak, mah."
Mendengar jawaban putranya, wajah ibu pun langsung berbinar. "Kebetulan sekali. Rencananya pagi ini mamah akan mengajak Sesil main ke mall, tapi mamah khawatir kewalahan mengawasi Sesil seorang diri. Soalnya mbak Atun harus mengambil beberapa keperluan Sesil di rumah mereka, makanya tidak bisa ikut."
Mbak Atun sontak mengangkat pandangannya dari makanannya, menatap bingung pada ibunya Sandi. Pasalnya, ia telah membawa semua keperluan Sesil selama menginap tiga hari dirumah itu.
Mbak Atun mengunci mulutnya rapat-rapat saat menyadari kedipan mata ibunya Sandi, lalu kembali menyibukkan diri dengan menghabiskan sarapannya. Ya, selama berada di rumah tersebut mbak Atun diperlakukan dengan baik, bahkan mbak Atun di minta makan bersama di meja makan.
Sandi hendak menolak karena siang nanti ia janjian dengan Bara. Namun, ketika melihat wajah polos Sesil hati Sandi rasanya berat untuk menolak.
"Baiklah, Sandi akan ikut."
"Makasih ya, Om." Sesil yang sejak tadi fokus menghabiskan sarapannya, kini terdengar berterima kasih pada Sandi.
"Sama-sama, anak cantik."
Setelah selesai sarapan, Sandi kembali ke kamar untuk mengganti pakaian. Tak lama berselang, Sandi pun kembali, menghampiri Sesil yang sedang menunggu di ruang tengah.
"Oma kemana, Sesil?."
"Perut mamah tiba-tiba mules Sandi. Sepertinya kita tidak jadi pergi." Belum sempat Sesil menjawab, terdengar suara ibu dari arah tangga.
"Nggak papa kok Oma, kita kan masih bisa pergi ke mall lain kali." Bocah itu nampak menyembunyikan rasa kecewanya di balik senyum manisnya.
"Kita akan tetap pergi. Nggak masalah kan kalau hanya Om dan Sesil saja yang pergi?."
Sesil mengangguk dengan wajah berbinar.
"Let's go!." Sandi menggenggam tangan bocah perempuan itu kemudian keduanya pun berjalan bersama menuju garasi mobil.
"Tidak perlu khawatir, mbak Atun! Putraku pasti bisa menjaga Sesil dengan baik." Kata ibunya Sandi pada mbak Atun yang nampak mencemaskan Sesil.
"Baik, nyonya."
*
Di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kota Surabaya, di sinilah Sandi berada sekarang, menemani Sesil di area play ground anak, berbaur dengan para orang tua anak lainnya.
"Om." Sesil kegirangan sambil melambaikan tangan ke arah Sandi.
"Tadinya saya pikir anak bapak, ternyata keponakan bapak." Komentar salah seorang ayah dari anak lainnya ketika mendengar Sesil memanggil Sandi dengan sebutan 'Om'.
Sandi hanya meresponnya dengan seulas senyum.
"Tadinya saya juga berpikir jika itu anak bapak, soalnya senyumnya mirip banget sama bapak." Salah seorang ibu dari anak lainnya pun ikut mengutarakan komentarnya.
Deg.
"Benarkah?." Batin Sandi. Sepersekian detik kemudian, Sandi pun berpikir bisa jadi itu hanya pendapat iseng saja. Mana mungkin senyumannya mirip dengan Sesil, begitu pikir Sandi.
Saat waktu makan siang tiba, Sandi mengajak Sesil untuk berhenti bermain kemudian mengajak bocah itu menuju sebuah restoran yang masih berada di gedung yang sama, di mana ia telah janjian bersama Bara.
"Anak siapa yang kau culik, kawan?."
"CK...." Sandi berdecak lidah mendengar kalimat nyeleneh Bara.
Tiba-tiba Bara teringat pada ucapan Sandi tempo hari tentang calon istrinya yang merupakan seorang single mom.
"Apa jangan-jangan ini calon anak sambung kamu? Benar begitu, kawan?." Lirih Bara.
"Hm."
"Wah....kalau wajah putrinya secantik ini, nggak kebayang deh secantik apa ibunya." Ujar Bara yang dibuat kagum oleh wajah cantik nan menggemaskan bocah di hadapannya itu.
"Jangan bicara yang bukan-bukan di depan anak kecil!?." Peringat Sandi.
"Iya ... iya.... begitu saja marah."
Sesaat kemudian, Bara melambaikan tangan ke arah pelayan untuk membuat pesanan.
"Cantik mau makan apa?." Tanya Bara dengan nada lembut pada Sesil.
"Apa saja, Om." Balas Sesil.
"Fiks, ibunya pasti cantik dan lembut seperti putrinya." Lagi-lagi, Bara melontarkan statement yang mampu memancing tatapan tajam Sandi.
"Bercanda kawan, serius amat sih." Bara pun nyengir tanpa dosa.
Setelah pesanan tiba Sandi meminta Sesil untuk segera menyantap makanannya.
Dret....dret....dret....
Ponsel Sandi berdering, rupanya panggilan dari nomor telepon hotel baru yang ada di Semarang.
"Halo."
"Ini saya Vania, tuan. Saya hanya ingin melaporkan bahwa kami telah menyelesaikan pekerjaan yang ada di kota Semarang." Setelah pekerjaannya selesai Vania langsung menghubungi Sandi menggunakan telepon hotel untuk memberi laporan.
"Kalau begitu, kalian boleh kembali ke Surabaya!."
"Baik, tuan." Vania senang sekali mendengar jawaban bosnya tersebut. Ia bisa segera kembali ke Surabaya dan bertemu dengan putrinya.
Setelahnya, Vania pun pamit untuk menyudahi panggilan teleponnya. Rupanya tidak sia-sia ia bekerja siang dan malam demi menyelesaikan pekerjaannya, dengan begitu ia bisa kembali lebih awal dari perkiraan.
*
"Bagaimana bermainnya hari ini, apa menyenangkan, sayang?."Tanya ibunya Sandi saat Sesil dan Sandi tiba di rumah.
"Sangat menyenangkan, Oma." Jawab Sesil sembari membawa diri ke pangkuan ibunya Sandi.
Sandi ikut menempati sofa kosong di seberang ibunya.
"Ohiya, Oma ada kabar gembira buat Sesil."
"Apa itu Oma?."
"Sore nanti mamahnya Sesil akan pulang."
"Benarkah, Oma." Sesil tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat mendengar kabar tentang rencana kepulangan ibunya.
"Tentu saja, sayang."
Ibu beralih memandang Sandi yang terlihat sibuk menatap layar ponselnya, seolah topik obrolannya bersama Sesil sama sekali tidak menarik bagi pria itu.
"Apa kamu tidak ingin menjemput calon istri kamu?." Setelah mbak Atun dan Sesil berlalu ke kamar, ibu pun bertanya pada Sandi.
"Sore nanti Sandi ada urusan penting di hotel, mah."
Ibu sadar jika itu hanyalah akal-akalan Sandi saja.
"Mamah harap setelah menikah nanti kamu bisa menerimanya sebagai istri kamu dengan sepenuh hati!." Ujar ibu dengan penuh harap.
Sandi hanya diam saja, tidak berniat memberikan respon apapun yang berhubungan dengan calon istrinya tersebut.
*
Karena Sandi menolak ajakannya menjemput Vania di bandara, Ibu lantas menjemput calon menantunya itu bersama Sesil dan juga mbak Atun.
"Mamah...." Seru Sesil ketika menyaksikan keberadaan ibunya berjalan dengan mendorong koper, bersama dengan Cika.
"Sayang...." Vania merentangkan kedua tangannya saat melihat putrinya berlari ke arahnya.
"Sesil kangen banget sama, mamah." Ungkap Bocah itu dengan nada sendu.
"Mamah juga kangen banget sama Sesil." Dua hari tak bertemu putrinya, sudah berasa seperti bertahun-tahun bagi Vania.
Setelah melepas kerinduan pada putrinya, Vania memandang pada ibunya Sandi.
"Terima kasih banyak karena Bu Dinda sudah menjaga Sesil selama Vania tidak ada."
"Tidak perlu berterima kasih, Vania. Ibu justru senang karena selama Sesil berada di rumah ibu, rumah terasa lebih ramai. Apalagi saat ini suami ibu sedang keluar negeri dan baru akan kembali dua hari lagi. Kehadiran Sesil sangat menghibur ibu."
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆