“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog (3)
“Pelayan, kemarilah!” sahut seorang pria yang di punggungnya terikat pedang besar, memanggil Fang Yi.
Dengan sigap Fang Yi mendatanginya lalu mencatat pesanan pria itu. Setelah selesai, ia segera berlari menuju dapur.
“Paman, ini pesanan meja nomor dua belas,” ucapnya sambil terengah-engah setelah berlari dari meja pria tersebut.
Beberapa saat kemudian, pria berpedang besar itu berdiri dari kursinya.
“Pemilik, aku sudah selesai. Kutinggalkan sepuluh koin perak di sini. Dan kau, anak kecil—kemarilah!”
Peng Lin melambaikan tangan berototnya yang penuh urat ke arah Fang Yi. Wajahnya tegas, namun sorot matanya sulit ditebak.
“A-ada apa, Tuan?” balas Fang Yi gugup. Sejak awal ia memang merasa cemas dengan kedatangan pria yang auranya tidak biasa itu.
Tiba-tiba Peng Lin mengeluarkan kantong uangnya. Tangannya masuk ke dalam, lalu mengambil lima koin perak.
“Ambil ini. Tidak banyak, tapi aku senang melihat kegigihanmu, anak muda.”
Pria yang selama ini dirumorkan kejam—pembunuh anak-anak, perampok, bahkan pelaku kekerasan—justru tersenyum hangat. Ia berjalan dan menyerahkan uang itu langsung ke tangan Fang Yi.
“Tuan… apakah aku bisa menjadi seperti Anda?” tanya Fang Yi, tersenyum kecil dengan mata sedikit terpejam. Ada kekaguman polos dalam suaranya.
Peng Lin terdiam sesaat. Tatapannya melunak.
“Nak, jika kau ingin menjadi pendekar… datanglah ke Goryeo. Aku akan mengajarimu.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Peng Lin berbalik dan melangkah keluar. Sosoknya perlahan menghilang di balik pintu penginapan.
Beberapa waktu berlalu. Sore mulai merayap masuk melalui jendela-jendela kayu penginapan milik Paman Ying.
Brak!
Pintu terbuka cukup keras. Tiga pemuda berpakaian kultivator masuk dengan langkah mantap. Ketiganya adalah orang yang kemarin sempat dilihat oleh Fang Yu, adiknya.
Mereka memandang ke kanan dan kiri, seolah mencari sesuatu.
“Hyung, kau yakin Peng Lin ada di sini?” bisik seorang pemuda bernama Yao Shi.
“Aku yakin. Dari rumor yang kudengar, ada pria tinggi dengan pedang besar menuju kemari tadi,” sahut pria yang tampak seperti pemimpin mereka. Namanya Wang Seo.
“Tapi, Hyung… kenapa orang-orang di sini tidak terlihat takut pada Peng Lin?” tanya Yan Qing, yang berdiri di sisi kanan Wang Seo. Tanpa sadar suaranya sedikit lebih keras.
Mereka bertiga sedang memburu seorang buronan dari Sekte Pedang Bambu. Sekte itu tengah mencari pria bertubuh tinggi tegap dengan pedang besar yang hampir setinggi anak remaja.
Peng Lin—nama buronan itu.
Ia terkenal dengan berbagai kejahatan yang membuat Sekte Pedang Bambu mengeluarkan perintah eksekusi di tempat. Tuduhannya berat: pemerkosaan, perampokan, dan pembunuhan di berbagai wilayah.
Peng Lin telah menjadi buronan berbahaya. Namun identitasnya sebagai mantan komandan prajurit dari faksi unorthodox, serta dukungan kuat di belakangnya, membuat Aliansi Murim dan faksi putih kesulitan menangkapnya.
Ketiga pemuda itu mendekati Paman Ying dengan wajah penuh curiga.
“Pemilik, apakah orang ini ada di sini?” tanya Wang Seo sambil memperlihatkan poster bergambar wajah Peng Lin.
“Oh, aku melihatnya tadi. Ia baru saja keluar dari sini,” jawab Paman Ying sambil mengusap dagunya perlahan.
Kring.
Wang Seo meletakkan kantong uang berisi koin perak di atas meja.
“Apakah ini cukup?”
Tatapannya tajam dan sedikit kesal.
“Wah, pelanggan yang satu ini memang terhormat,” ujar Paman Ying dengan senyum tipis khas pedagang. “Aku sempat mendengar percakapannya dengan keponakanku. Katanya ia akan menuju Goryeo. Tapi apa gerangan yang membuat kalian begitu ingin mengejarnya?”
“Bukan urusanmu, Pemilik. Kepalamu bisa saja terpisah jika informasi ini palsu,” balas Wang Seo, tangannya bersiap memegang gagang pedang di pinggangnya.
“Tentu saja ini informasi akurat. Keponakanku sendiri yang berbicara dengannya, dan aku mendengarnya secara samar,” jawab Paman Ying. Wajahnya tampak sedikit gelisah, namun ucapannya terdengar jujur.
Wang Seo menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk tipis. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia bersama Yan Qing dan Yao Shi berbalik menuju pintu keluar, meninggalkan poster buronan itu di atas meja pelayanan.
Penginapan mulai sepi. Para tamu yang menginap sudah naik ke lantai dua untuk beristirahat.
Fang Yi terlihat celingak-celinguk mencari Paman Ying.
“Paman, ini sudah sore. Aku sudah boleh pulang, kan?”
Tak ada jawaban.
Ia berbalik menuju meja pelayanan dan melihat sesuatu.
“Hah… a-apa ini?”
Matanya penuh keraguan dan kebingungan.
“Bukankah ini Tuan yang membawa pedang sebesar diriku tadi? Dia terlihat seperti orang baik… tapi kenapa dia dicap sebagai buronan?”
Fang Yi memegang poster itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang dagunya. Alisnya terangkat, hatinya diliputi tanda tanya besar.
Dari arah dapur terdengar langkah kaki. Bayangan seseorang muncul sambil membawa tumpukan piring dan beberapa gelas.
Itu Paman Ying.
“Fang Yi, bisa bantu Paman bereskan yang di belakang? Setelah itu lakukan sesukamu,” katanya, berusaha menyeimbangkan piring-piring tinggi agar tidak jatuh.
“Baik, Paman. Aku segera datang.”
Fang Yi membantu membereskan sisa piring dan gelas ke rak. Setelah selesai, ia kembali bertanya.
“Paman, pria di poster itu adalah Tuan yang membawa pedang besar tadi, bukan? Kenapa dia dicap sebagai buronan?”
“Hm, jadi kamu melihatnya?” Paman Ying mengelap meja yang masih lembap. “Dari yang Paman dengar, dia memang Peng Lin. Seorang pembunuh terkenal di wilayah Barat. Ia dicap sebagai buronan tingkat tinggi oleh Sekte Pedang Bambu. Sekte lain tidak terlalu memedulikannya. Mungkin ada alasan tersendiri.”
“Lalu kenapa dia pergi ke Goryeo, Paman? Memangnya ada apa di sana?” tanya Fang Yi sambil membantu mengelap meja.
Paman Ying duduk dan memegang dagunya, berpikir sejenak.
“Entahlah, Nak. Tapi dari kabar yang beredar, tingkat kejahatan di Goryeo sangat tinggi. Wilayah itu berada di tengah konflik antara Aliansi Murim dan Kultus Demonic. Mungkin dia ke sana untuk menghindari pengejaran.”
“Oh… begitu.” Fang Yi mengangguk. “Kalau begitu, bagian ini sudah selesai. Bolehkah aku pulang, Paman?”
“Pulanglah. Tidak baik anak muda berkeliaran malam-malam. Kemarilah sebentar.”
Paman Ying membuka laci uang dan mengambil beberapa koin perak.
“Ini untukmu. Terima kasih sudah membantu Paman seharian.”
“Tapi ini terlalu banyak, Paman. Sepuluh koin perak hanya untuk ini?”
“Kamu sudah bekerja keras. Paman tidak punya siapa-siapa di sini. Paman menganggapmu seperti keponakan sendiri. Jadi pulanglah dan istirahat. Jangan lupa bawa oleh-oleh untuk Fang Yu.”
“Baik, Paman. Terima kasih banyak.”
Dengan wajah bahagia, Fang Yi melangkah keluar.
Dalam perjalanan pulang, ia melihat penjual gulali. Kenangan masa kecilnya muncul—dulu, saat ia berusia tujuh tahun, ibunya sering mengajaknya berkeliling dan membelikannya gulali.
“Fang Yu pasti suka,” gumamnya.
Ia membeli beberapa gulali untuk dirinya dan adiknya.
Di samping penjual gulali, tampak seorang penjual manik-manik. Dagangannya belum terjual satu pun. Fang Yi merasa kasihan dan mendekatinya.
“Pak, berapa harga satu manik ini?”
“Dua koin perak saja, anak muda. Khusus untukmu, ambillah yang ini.”
Manik-manik itu berbentuk pedang kecil, dihiasi siluet naga seperti ukiran karya pandai besi terkenal.
“Baiklah, ini dua koin peraknya, Pak.”
“Terima kasih, anak muda.”
Begitu manik-manik itu berada di tangannya, Fang Yi merasakan aura tipis yang aneh—seolah selaras dengan tubuhnya.
Merasa ganjil, ia segera berbalik dan berlari kembali ke tempat penjual manik-manik tadi.
Namun ketika ia tiba di sana… tak ada siapa-siapa.
Lapak itu hilang.
Seolah tak pernah ada.
Ia menoleh ke penjual gulali di sebelahnya.
“Paman, apakah tadi ada penjual manik-manik di sini? Tepat di tempatku berdiri tadi?”
“Penjual manik-manik?” Penjual gulali mengernyit. “Nak, mungkin kamu terlalu lelah. Tidak pernah ada penjual di sebelah toko ini.”
“Tidak… ada?”
Fang Yi menunduk, menggenggam manik-manik berbentuk pedang itu erat-erat.
Angin sore berembus pelan, membawa rasa dingin yang tak biasa.