Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — PARANOIA
Kematian Bima tidak menyatukan mereka. Justru sebaliknya, kematian itu meledak seperti granat di tengah ruang tengah Joglo, mengirimkan serpihan kecurigaan yang menancap di kepala setiap orang yang selamat.
Tiga hari pasca pemakaman Bima yang ganjil, atmosfer di dalam rumah KKN berubah menjadi penjara kaca. Udara terasa padat, seolah oksigen perlahan digantikan oleh uap kecemasan yang dihembuskan oleh dinding-dinding kayu tua.
Matahari bersinar terik di luar, namun di dalam, bayangan terasa lebih panjang dan lebih gelap dari seharusnya.
Nara duduk di kursi rotan ruang tamu, membersihkan pisau dapur dengan tisu basah. Ia melakukannya berulang-ulang, meski pisau itu sudah bersih. Srek. Srek. Srek. Bunyi gesekan itu menjadi satu-satunya ritme yang mengisi kesunyian yang mencekam.
Di sudut ruangan, Dion duduk bersila menghadap meja kecil. Jurnal kulitnya terbuka lebar. Tangan kanannya memegang pulpen dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Mata Dion, di balik kacamata tebalnya yang berdebu, bergerak liar memindai setiap inci ruangan, lalu kembali menatap halaman kertas kosong.
"Dion, berhenti natap buku itu," tegur Siska. Suaranya serak, tajam. Gadis itu duduk memeluk lutut di dekat jendela yang tertutup rapat, tasbihnya melilit di pergelangan tangan seperti borgol. "Lo bikin gue gila."
"Gue nggak natap," gumam Dion tanpa menoleh. "Gue nunggu."
"Nunggu apa?"
"Nunggu tinta," jawab Dion dingin. "Tinta merah itu belum kering di halaman Bima. Dia butuh temen. Polanya... polanya selalu berpasangan. Pembuka dan Penutup. Pemancing dan Umpan."
Dion mendongak, matanya menatap Siska dengan sorot menuduh. "Siapa di antara kita yang umpan, Sis? Lo?"
"Maksud lo apa?!" Siska tersinggung, bangkit berdiri. "Lo nuduh gue?"
"Lo yang paling sering denger suara bayi," desis Dion. "Lo yang paling lemah mentalnya. Setan suka sama yang lemah. Jangan-jangan lo udah deal sama mereka biar lo selamet?"
"Cukup!" Nara membanting pisau ke meja. Suaranya menggelegar, membuat mereka semua tersentak. Bahkan Lala yang sedang tiduran di sofa sambil menatap langit-langit ikut menoleh.
"Kita di sini sama-sama korban," kata Nara, napasnya memburu. "Musuh kita ada di luar sana. Warga desa. Bukan temen sendiri."
"Yakin, Nar?" Raka bersuara dari ambang pintu kamar.
Penampilan Raka berantakan. Lingkaran hitam di bawah matanya begitu pekat, seolah ia ditinju dari dalam. Kaosnya lusuh, dan ia terus-menerus menggaruk dadanya—tempat di mana ia mengaku dicakar dalam mimpi.
"Yakin musuh cuma di luar?" Raka melangkah masuk, menyeret kakinya. Tatapannya tertuju pada Lala. "Liat dia."
Semua mata tertuju pada Lala.
Lala tampak... terlalu tenang. Di tengah kekacauan mental teman-temannya, Lala terlihat segar. Kulitnya glowing, rambutnya berkilau, dan bibirnya selalu tersenyum tipis. Ia sedang memilin ujung rambutnya, bersenandung pelan lagu yang tak dikenal.
"Kenapa liatin gue?" tanya Lala santai.
"Lo makan sate yang dikasih Pak Wiryo kemaren," tuduh Raka. "Kita semua buang makanannya. Kita semua makan mie instan sisa. Cuma lo yang makan daging itu. Lo abisin sendiri."
"Sayang kalau dibuang, Rak," jawab Lala, nada bicaranya ringan, seolah mereka sedang mendebatkan menu makan siang biasa, bukan soal daging ritual. "Lagian enak kok. Manis."
"Manis..." Raka mengulang kata itu dengan jijik. "Lo nggak ngerasa aneh? Lo nggak ngerasa bersalah Bima mati?"
Lala bangkit duduk. Senyumnya melebar sedikit. "Bima mati karena dia ceroboh. Seleksi alam. Yang kuat bertahan, yang lemah... ya jadi pupuk."
"Bangsat!" Raka menerjang maju, hendak mencengkeram kerah baju Lala.
Tapi Nara sigap menahan dada Raka. "Mundur, Rak! Jangan pake fisik!"
"Dia aneh, Nar! Dia bukan Lala!" teriak Raka, ludahnya muncrat. "Lala yang gue kenal cengeng! Lala yang ini... dia kayak nikmatin semua ini!"
"Gue cuma realistis," potong Lala dingin. Matanya menatap Raka, dan untuk sesaat, Nara melihat kilatan hitam di iris mata gadis itu. "Daripada stress kayak lo, mending gue nikmatin sisa waktu gue. Siapa tau besok giliran gue. Atau giliran lo."
Lala berdiri, lalu berjalan melenggang menuju kamar mandi. Sebelum menutup pintu, ia menoleh ke Dion.
"Tulis nama gue kalau lo berani, Yon. Tapi ati-ati... tinta lo mungkin abis sebelum nyampe huruf terakhir."
BLAM. Pintu kamar mandi tertutup.
Keheningan kembali menyergap, kali ini lebih berat.
Dion kembali menunduk ke jurnalnya. Tangannya gemetar.
"Dia bener," bisik Dion pada dirinya sendiri. "Urutannya bisa acak. Tapi jumlahnya... jumlahnya harus pas. Lima sisi. Bintang terbalik."
Nara memijat pelipisnya yang berdenyut. Sakit kepalanya tidak pernah hilang sejak hari pertama. Ia merasa diawasi. Bukan oleh CCTV, tapi oleh dinding rumah itu sendiri.
"Makan," perintah Nara kaku. "Kita harus makan. Gue masak air."
Nara pergi ke dapur. Saat ia menyalakan kompor gas portabel, ia merasa ada hembusan napas dingin di tengkuknya.
Ia berbalik cepat, pisau di tangan.
Kosong.
Hanya ada rak piring tua yang berdebu.
Tapi Nara yakin ia merasakan sesuatu. Ia memeriksa jendela dapur. Terkunci. Grendelnya berkarat, tidak mungkin dibuka dari luar tanpa suara.
"Siapa?!" bentak Nara pada ruang kosong.
Tidak ada jawaban. Namun, mata Nara menangkap sesuatu di lantai, di dekat pintu belakang.
Tanah merah.
Jejak kaki berlumpur. Tapi ukurannya kecil, seukuran kaki anak-anak. Jejak itu masuk dari celah bawah pintu, berjalan memutari meja makan, dan berhenti tepat di...
...tempat penyimpanan beras mereka.
Nara bergegas membuka karung beras yang mereka bawa dari kota.
Jantungnya mencelos.
Di dalam beras putih itu, terdapat ratusan belatung yang menggeliat. Dan di tengah-tengahnya, tertancap sebuah boneka jerami kecil yang diikat dengan rambut manusia.
Rambut itu pendek dan kaku. Rambut laki-laki.
Nara mengenali potongan rambut itu. Itu rambut Raka.
Nara menutup karung itu kembali dengan tangan gemetar. Seseorang di antara mereka telah mengambil rambut Raka dan menaruhnya di sini. Atau... sesuatu telah masuk tanpa membuka pintu.
Nara kembali ke ruang tengah tanpa membawa air panas. Wajahnya pucat.
"Ada apa, Nar?" tanya Siska.
Nara menatap teman-temannya satu per satu.
Dion yang obsesif. Raka yang emosional dan sakit. Siska yang rapuh. Lala yang misterius.
Siapa?
Siapa yang menggunting rambut Raka saat dia tidur?
"Nggak ada apa-apa," bohong Nara. "Gasnya abis."
Ia tidak bisa memberitahu mereka. Jika Raka tahu ada santet di beras mereka, dia akan mengamuk dan mungkin membunuh Lala. Jika Siska tahu, dia akan histeris. Jika Dion tahu, dia akan menjadikannya bahan bakar untuk teori konspirasinya yang gila.
"Kita nggak bisa makan nasi hari ini," kata Nara datar. "Makan biskuit aja."
"Kenapa? Gue laper, Nar!" protes Raka.
"Gue bilang makan biskuit ya biskuit!" bentak Nara. "Jangan banyak tanya! Gue ketua di sini!"
Otoritas Nara adalah satu-satunya hal yang menahan tembok kewarasan mereka agar tidak runtuh. Tapi Nara sendiri merasakan retakan itu semakin lebar di dalam dirinya.
Sore harinya, teror psikologis itu meningkat.
Dion tiba-tiba tertawa sendiri.
"Ketemu..." kikik Dion. "Gue nemu polanya."
"Pola apa lagi sih?" tanya Siska lelah.
"Jumlah langkah," kata Dion, matanya melotot di balik lensa. "Gue itung langkah kaki kita. Dari kamar ke ruang tengah. Dari ruang tengah ke dapur."
Dion menunjuk lantai tegel.
"Ubin ini... jumlahnya ganjil. Tapi tiap kali gue jalan dari kamar ke sini, jumlah langkah gue selalu genap. Kecuali hari ini."
Dion menatap kakinya sendiri dengan horor.
"Hari ini langkah gue ganjil. Ada satu langkah yang ilang. Atau... ada satu langkah tambahan yang bukan punya gue."
"Lo ngomong apa sih, Yon? Lo stress," kata Raka.
"Coba lo jalan, Rak!" tantang Dion. "Coba lo jalan dari pintu depan ke sini!"
Raka mendengus, tapi ia menuruti permintaan gila itu, mungkin hanya untuk membuktikan Dion salah.
Raka berjalan. Satu, dua, tiga, empat, lima...
"Berhenti!" teriak Dion.
Raka berhenti.
"Liat bayangan lo," bisik Dion.
Mereka semua melihat ke lantai. Cahaya matahari sore masuk dari ventilasi barat, menciptakan bayangan tubuh Raka yang memanjang di lantai.
Tapi ada yang salah.
Raka berdiri dengan tangan di pinggang.
Tapi bayangannya di lantai... tangannya tergantung lurus di sisi tubuh.
Siska menjerit tertahan.
Raka menatap bayangannya sendiri. Ia menggerakkan tangannya, melambaikannya.
Bayangannya diam. Bayangan itu tidak bergerak mengikuti Raka. Bayangan itu kaku, seperti mayat yang berdiri.
"Itu bukan bayangan lo..." bisik Dion, mundur sampai punggungnya menabrak tembok. "Itu penunggu lo. Dia udah nempel. Dia udah siap gantiin lo."
Raka pucat pasi. Ia melompat menjauh dari bayangannya sendiri, seolah bayangan itu adalah kolam asam.
"Pergi! Pergi!" Raka menginjak-injak bayangannya sendiri dengan panik, berputar-putar seperti anjing gila mengejar ekor.
"Jangan, Rak! Makin lo takut, dia makin seneng!" teriak Nara.
Tapi kepanikan sudah menular.
Siska mulai menangis, merapalkan ayat kursi dengan cepat namun salah-salah. Dion mencoret-coret jurnalnya dengan brutal, menuliskan kata RAKA berulang-ulang hingga kertasnya sobek.
Di tengah kekacauan itu, pintu depan diketuk.
Tok. Tok. Tok.
Sopan. Pelan. Berirama.
Semua aktivitas berhenti. Hening total. Raka berhenti berputar. Siska berhenti menangis.
Siapa yang bertamu saat matahari hampir terbenam?
"Jangan dibuka," bisik Dion.
"Assalamualaikum," suara lembut Bu Kanti terdengar dari luar. "Nak Nara? Ibu bawakan teh anget. Katanya gasnya habis ya?"
Nara membeku. Dari mana Bu Kanti tahu gas mereka habis? Nara baru saja mengatakannya lima menit yang lalu di dalam rumah yang terkunci rapat.
"Mereka denger..." bisik Nara pada teman-temannya, matanya terbelalak ngeri. "Mereka denger semua omongan kita."
"Jangan dibuka, Nar!" Raka memohon, air mata mengalir di wajahnya yang kotor. "Itu racun. Itu pasti racun."
"Nak Nara?" panggil Bu Kanti lagi. Kali ini suaranya sedikit lebih rendah, kurang sabar. Gagang pintu mulai bergerak.
Krek... Krek...
Gagang pintu itu berputar. Padahal Nara sudah menguncinya dan kuncinya ada di saku celananya.
Mata Nara tertuju pada lubang kunci. Kunci itu berputar dari dalam? Tidak.
Dari sudut matanya, Nara melihat sesuatu.
Lala.
Lala berdiri di dekat pintu, tangannya baru saja turun dari grendel pintu. Ia telah membuka kuncinya diam-diam saat mereka sibuk melihat bayangan Raka.
Lala menoleh pada teman-temannya, jari telunjuknya menempel di bibir.
"Ssshhh... tamu adalah raja," bisik Lala.
Pintu terbuka lebar.
Bu Kanti berdiri di sana, siluetnya hitam menantang cahaya oranye senja yang menyakitkan mata. Di tangannya ada nampan berisi teko.
Dan di belakang Bu Kanti, berdiri puluhan warga desa yang diam mematung, menatap ke dalam rumah dengan senyum yang identik.
Paranoia itu terbukti benar. Pengkhianat ada di dalam, dan pengepung ada di luar.
"Mari diminum," kata Bu Kanti, melangkah masuk tanpa diundang. Kakinya yang telanjang tidak menapak tanah, melainkan melayang satu sentimeter di atas lantai.
Dion menjatuhkan pulpennya. Tinta merah muncrat ke lantai, membentuk pola seperti tetesan darah yang mengarah lurus ke kaki Raka.
Nama berikutnya telah dipilih.