NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pelukan itu bertahan lama, hingga napas Xerra benar-benar melambat. Di luar jendela, malam London sunyi, seolah memberi ruang bagi dua jiwa yang baru saja kembali dari batas paling gelap kehidupan Evans.

Evans masih terjaga. Matanya menatap langit-langit, pikirannya berputar cepat. Ia bisa menghadapi musuh, peluru, dan pengkhianatan tanpa ragu namun melihat Xerra gemetar di pelukannya membuat dadanya terasa nyeri dengan cara yang tidak ia kenal sebelumnya.

Xerra bergerak kecil.

“Evans?” panggilnya lirih.

“Ya.”

“Apa aku bodoh karena memaksa ikut?”

Evans menghela napas, lalu menunduk mencium rambutnya.

“Kau keras kepala,” jawabnya jujur. “Tapi bukan bodoh.”

Xerra tersenyum tipis, meski matanya masih basah.

“Aku ingin berada di duniamu. Aku tidak mau jadi istri yang hanya menunggu.”

Evans menatapnya lama. Dalam cahaya lampu temaram, wajah Xerra terlihat rapuh namun berani,perpaduan yang berbahaya bagi hatinya.

“Dengarkan aku,” katanya pelan namun tegas. “Duniaku tidak adil. Tidak bersih. Dan tidak memberi kesempatan kedua.”

Xerra menelan ludah.

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu terlibat lagi,” lanjut Evans. “Malam ini… hanya sekali.”

“Janji?” tanya Xerra.

Evans terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Janji.”

Keheningan menyelimuti mereka, namun kali ini bukan keheningan yang menekan. Xerra menyentuh dada Evans, merasakan detak jantungnya yang kuat.

“Jantungmu berdetak cepat,” gumamnya.

“Karena kau,” jawab Evans tanpa ragu.

Xerra tersipu, lalu memberanikan diri mengangkat tubuhnya sedikit. Ia mengecup pipi Evans lembut, penuh rasa terima kasih dan kepercayaan.

Evans membalas dengan mengusap pipi Xerra, ibu jarinya menyapu air mata yang tersisa.

“Kau membuatku ingin berhenti,” katanya rendah. “Dan itu sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.”

Xerra menatapnya dalam-dalam.

“Kalau begitu… berhentilah sedikit. Untuk malam ini.”

Evans tersenyum kecil senyum yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun. Ia mematikan lampu, menyisakan cahaya bulan yang masuk dari jendela.

Ia memeluk Xerra lebih erat, seolah ingin memastikan tidak ada dunia lain yang bisa menyentuhnya malam itu.

Di luar kamar, mansion tetap dijaga ketat. Gerry dan Ben berdiri bergantian di koridor, saling bertukar pandang.

“Boss berubah,” gumam Ben pelan.

Gerry mengangguk. “Dan itu bisa jadi kekuatan… atau kelemahan.”

Kembali ke dalam kamar, Xerra akhirnya tertidur, napasnya teratur. Evans menatap wajah istrinya lama, lalu berbisik hampir tak terdengar,

“Aku akan menghancurkan siapa pun yang membuatmu takut.”

Malam itu tidak diakhiri dengan gairah berlebihan

melainkan dengan janji tak terucap,

bahwa mulai sekarang, setiap langkah Evans di dunia gelap

akan selalu berusaha kembali

pada satu cahaya bernama Xerra.

Pagi itu, mansion keluarga Pattinson terbangun oleh cahaya matahari yang menyelinap melalui jendela-jendela tinggi. Udara masih sejuk, taman tampak basah oleh embun, dan suasana jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya.

Xerra terbangun lebih dulu.

Ia memandangi langit-langit kamar yang kini terasa berbeda,bukan lagi kamar seorang tamu, melainkan kamar seorang istri. Ia menghela napas pelan, lalu menoleh ke samping.

Evans masih terlelap.

Wajah dingin yang semalam begitu tegang kini terlihat jauh lebih damai. Xerra tersenyum kecil, nyaris tidak percaya pria yang ada di hadapannya kini adalah suaminya.

Ia bangun perlahan, mengenakan cardigan tipis, lalu keluar kamar.

Ruang makan mansion sudah tertata rapi.

Meja panjang berlapis marmer putih dipenuhi hidangan sarapan ala Eropa,roti hangat, omelet, buah segar, jus jeruk, dan kopi hitam favorit Evans.

Paman Andreas sudah duduk lebih dulu, membaca koran sambil menyeruput teh.

Saat melihat Xerra masuk, ia tersenyum hangat.

“Pagi, Nyonya Pattinson.”

Xerra terkejut lalu tertawa kecil, pipinya memerah.

“Pagi,om… jangan panggil aku begitu dulu, aku belum terbiasa.”

“Biasakan,” jawab Andreas sambil melipat koran. “Mulai hari ini, semua akan memanggilmu begitu.”

Xerra duduk berhadapan dengannya.

“Apakah ridur mu nyenyak?” tanya paman Andreas lembut.

Xerra mengangguk. “Sangat.”

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar. Evans muncul dengan kemeja hitam sederhana, lengan digulung, rambutnya masih sedikit berantakan.

Tatapan paman Andreas beralih ke keponakannya.

“Kau terlihat… hidup,” komentarnya ringan.

Evans menarik kursi di samping Xerra dan duduk.

“Karena aku tidur,” jawabnya singkat.

Xerra meliriknya. “Om jarang tidur nyenyak ya?”

Evans menoleh, lalu mengangkat alis.

“Sekarang tidak.”

Andreas tersenyum puas melihat interaksi itu.

Pelayan mulai menyajikan sarapan. Xerra mengambil roti, namun sebelum ia mengoleskan selai, Evans sudah lebih dulu mendorong piring kecil ke arahnya.

“Makan yang ini,” katanya. “Kau sering melewatkan sarapan.”

Xerra terkejut. “Om tahu?”

“Aku memperhatikan,” jawab Evans datar.

Paman Andreas terkekeh kecil. “Kau kalah cepat, Xerra. Dia lebih perhatian dari kelihatannya.”

Xerra menunduk sambil tersenyum, perasaannya hangat.

Setelah beberapa saat, Xerra menarik napas kecil.

“Om… hari ini aku ingin kembali ke kampus.”

Sendok Evans berhenti.

Paman Andreas juga menoleh.

“Sudah kupikirkan,” lanjut Xerra cepat. “Aku tidak mau berhenti kuliah hanya karena menikah.”

Evans menatapnya lama. Tidak marah hanya menilai.

“Kau yakin?” tanyanya.

Xerra mengangguk mantap.

“Aku ingin lulus dengan namaku sendiri. Bukan hanya dikenal sebagai istrimu.”

Andreas mengangguk setuju.

“Keputusan yang baik.”

Evans menghela napas pelan.

“Kau akan dikawal.”

Xerra membuka mulut. “Om, aku...”

“Tidak bisa ditawar,” potong Evans tenang namun tegas. “Bukan karena aku tidak percaya padamu.Tapi karena aku tidak percaya dunia.”

Xerra terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Baik… asal tidak berlebihan.”

Evans meliriknya.

“Aku tidak tahu arti ‘tidak berlebihan’ soal keamananmu.”

Xerra tertawa kecil, suasana menghangat.

“Apa kau akan memperkenalkan diri sebagai Nyonya Pattinson di kampus?” tanya Paman Andreas iseng.

Xerra menggeleng cepat.

“Tidak! Aku tetap Xerra. Biasa saja.”

Evans menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Kau tidak akan pernah bisa benar-benar ‘biasa’ lagi.”

Xerra tersenyum, kali ini lebih tenang.

Karena meski dunia mungkin akan memandangnya berbeda…

ia tahu satu hal pasti

Ia kembali ke kampus bukan sebagai gadis yang sendirian.

Ia pergi sebagai Xerra Collins,

istri Evans Pattinson,

yang memilih tetap berdiri dengan kakinya sendiri.

Selesai sarapan, halaman mansion kembali dipenuhi kesibukan ringan. Mobil hitam Evans sudah terparkir rapi di depan, mesin menyala pelan. Xerra melangkah keluar dengan tas kuliah di bahu, mengenakan pakaian sederhana blus putih, rok selutut, dan sepatu datar. Tidak mencolok, tapi tetap anggun.

Evans membuka pintu mobil untuknya.

“Kau tidak perlu mengantarku sampai sejauh itu,” ujar Xerra pelan saat ia duduk.

Evans menutup pintu lalu masuk ke sisi pengemudi.

“Aku mau.”

Perjalanan menuju kampus berlangsung tenang. London pagi itu sibuk, namun di dalam mobil hanya ada suara radio rendah dan detak jantung Xerra yang entah kenapa sedikit lebih cepat dari biasanya.

Saat mobil berhenti di area parkir kampus, Xerra menoleh.

“Om, sampai sini saja..”

Evans sudah turun lebih dulu.

Ia membuka pintu Xerra dan berdiri tegak di sampingnya, satu tangan melingkar ringan di punggung Xerra,cukup protektif untuk terasa, cukup sopan untuk terlihat wajar.

Langkah mereka langsung menarik perhatian.

Bisik-bisik mulai terdengar bahkan sebelum mereka mencapai gedung utama.

“Itu Evans Pattinson?”

“Yang kemarin menikah itu?”

“Serius? Istrinya kuliah di sini?”

Xerra merapatkan tas ke dadanya.

“Om… semua orang menatap.”

Evans menunduk sedikit.

“Jangan lihat mereka. Lihat ke depan.”

Mereka menyusuri koridor kampus yang ramai. Mahasiswa berhenti berjalan, beberapa diam-diam mengambil foto, yang lain hanya terpaku. Sosok Evans tinggi, dingin, dan penuh wibawa terlalu kontras dengan dunia kampus yang biasanya santai.

Di depan ruang kelas, Evans berhenti.

“Masuklah,” katanya.

Xerra menatap pintu kelas, lalu menoleh ke arahnya.

“Terima kasih… sudah mengantarku.”

Evans mengangguk singkat.

“Pulangnya aku jemput.”

Xerra tersenyum.

“Seperti anak kecil saja.”

Evans menatapnya lurus.

“Kau istriku.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat wajah Xerra menghangat. Ia mengangguk kecil lalu masuk ke kelas.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung meledak.

“Xerra, itu suamimu?!”

“Sejak kapan?!”

“Ya ampun, dia nyata banget!”

Xerra hanya tersenyum kikuk, memilih duduk dan membuka buku.

Namun di luar kelas, tidak semua tatapan dipenuhi kekaguman.

Di ujung koridor, Liona berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya kaku, matanya tajam menatap ke arah pintu kelas tempat Xerra menghilang.

Ia melihat Evans berjalan menjauh, langkahnya tenang namun penuh kuasa.

“Kenapa harus dia…” gumam Liona pelan, rahangnya mengeras. “Kenapa bukan aku?”

Pikirannya dipenuhi rasa iri dan benci yang makin mengental.

Xerra yang dulu ia pandang rendah kini berjalan berdampingan dengan pria yang bahkan ia tak berani impikan.

Dan di saat itu, Liona berjanji dalam hati

Ia tidak akan tinggal diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!