Stella seorang pegawai pajak, tiba-tiba terbangun di sebuah novel berjudul "love Anastasya", dia tak percaya namun sedetik kemudian rasa senang melingkupi hati nya.
akhir nya impian nya masuk ke dunia fiksi bisa terwujud.
Namun kesenangan itu berubah menjadi keresahan ketika mengetahui dia masuk ke tubuh antagonis anak tunggal kaya raya, yang berakhir mengenaskan.
Stella pun mengambil langkah berani, dengan keluar dari alur, dan menjalani kehidupan nya sendiri, namun akan kah semudah itu?.
Apalagi ketika tanpa sadar terlibat dengan antagonis pria, yang paling berkuasa di dunia novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ka nvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
antagonis
Stella mengusap perut datar nya yang kenyang, senyum puas terbit di bibir nya, seperti nya awal mulai menyusahkan Damian akan berjalan lancar.
"Udah kenyang gue, lo cepet makan. "
Ujar Stella acuh tak acuh, lalu menatap Raisa, "Yu ke kamar Raisa."
Raisa mengangguk mengikuti langkah Stella yang sudah lebih dulu. Damian menatap tangan nya yang sedari tadi menyuapi Stella dengan tangan kosong.
Entah apa yang di pikirkan Damian dengan otak penuh rahasia itu, namun yang pasti Damian menyesap jari jari nya yang tadi menyuapi Stella.
"Enak, " gumam nya dengan tatapan datar.
...
Tengah malam Stella terbangun suasana kamar lumayan gelap, remang-remang, tenggorokan nya merasa haus.
Glekk
Stella menghela nafas lega stelah minum,menaruh gelas itu kembali lalu hendak tidur.
Ting!
"Nona gawat! "
Stella sontak membuka mata nya yang hendak terpejam itu, "ada apa, tengah malem loh?! "
"hehe, Damian nona, dia sakit anda harus menolong nya di sini tak tertulis di novel secara rinci, jadi anda harus turun tangan menolong. "
Stella terkejut, Damian sakit? tapi, "Mengapa aku harus menolong nya, aku kan antagonis di hidup nya, sistem kau ini membuat ku pusing saja! "
"Ya bagaimana lagi nona, kehidupan antagonis tidak terlalu di jelaskan secara rinci, jadi nya banyak part yang tersembunyi, bantu lah nona. "
"Bukan kah kata mu antagonis tak akan mati, ya sudah biarkan saja. "
Kejam? iya, tapi Stella juga tak ingin banyak membantu, bukan kah bertentangan dengan alur nya, kalau seperti ini terus, hati nya juga pasti tak akan tega.
"Hais nona, ini kan tak tertulis di alur nya, kalau anda tak membantu nya, dunia ini akan retak nona, kerusakan pun akan terjadi. "
Stella menghela nafas panjang, bangkit dari tempat duduk nya, rasa kantuk nya hilang entah kemana, pelan-pelan berjalan takut nya Raisa akan terbangun, kalau seperti itu ribet bukan.
Banyak pertanyaan yang pasti nya akan keluar, Stella akhir nya berhasil keluar dari kamar nya.
Melirik pintu di samping nya yang tertutup, "Kau yakin aku harus membantu nya? " tanya Stella.
"Benar Nona, ayo masuk saja tak di kunci. "
Stella membuka pintu itu, mengetuk pun percuma saja bukan, orang nya saja sedang sakit, benar saja lampu kamar itu masih menyala.
Di kamar ini hanya ada satu ranjang besar, dengan interior mewah pasti nya, dan yaps Stella mendapatkan Damian yang sedang berbaring, wajah nya pucat.
"Damian." pekik Stella.
Damian menoleh dengan kepala nya yang pusing, "Stella" lirih nya.
Stella menghampiri Damian, "Damian lo sakit." Stella memegang kening Damian, hangat.
"Terkena alergi lagi nona, tapi Damian selalu membawa obat nya kemana-mana, anda tanyakan saja. "
" Damian lo bawa obat gak? hei jawab gue, di mana obat nya? "
"T_tas."
Stella segera beranjak mengambil tas Damian yang terletak di sofa dekat kasur, mencari nya.. dan akhir nya ketemu, uh akhir nya.
"Damian lo minum ini obat nya. "
Stella membantu Damian untuk duduk dan memberi kan obat itu, dan air yang berada di meja kecil.
Damian meneguk obat itu, sembari menatap Stella dengan wajah sayu nya. cukup lama akhir nya Damian tidak se pucat tadi.
Stella yang mengusap dahi sedari tadi pun menghentikan nya, dan menatap Damian dengan mata nya yang memicing.
"Ini kan obat alergi, kok lo bisa alergi Damian, lo makan apa hah?! " tanya nya dengan ketus, berbeda dengan hati nya yang khawatir.
Damian mengalihkan tatapan mata nya bergulir ke mana pun menghindari tatapan Stella, "Damian, makan apa?! "
Damian yang duduk setengah berbaring pun, menundukan kepala nya, "udang" lirih nya.
"Whattt!!"
"Lo tau lo itu alergi udang, terus kenapa masih lo makan Damian, sakit kan! "
"Abis nya kaya enak, jadi aku coba Stella. "
Stella tersenyum paksa, Antagonis di depan nya ini berbeda memang, saat ini mana ada aura membunuh, yang ada hanya remaja nakal dan penakut.
"Lo tau kan akibat nya, gimana enak sampe sakit gini, mau lo ulangin?! "
"enggak."
"Yaudah lah, gue keluar, bye. "
"Stella ada apa ke sini. " tanya nya pelan, tubuh nya masih lemas oke.
"g_gue, gue laper, tadi nya mau nyuruh lo, tapi liat lo kayak gini jadi gak mood gue, "
"Maaf Stella. "
"ah udah lah_"
"Sttt... " rintih Damian membuat Stella mendekati nya lagi.
"Kenapa lo? "
"Pusing Stella, tapi gapapa stella ke kamar lagi aja. "
Stella jadi ragu, menghela nafas sekali lagi dia kalah dengan hati nurani nya, "gue coba usap deh, kalau masih pusing gue tinggal. " seru nya ketus.
"Geser lo. "
Damian menatap Stella gugup, lalu bergeser ke samping tempat tidur nya, Stella lalu duduk setengah berbaring, sedangkan Damian sudah berbaring yah.
Stella mengusap terkadang memijit pelan, "Gimana? masih pusing?"
"Engga se pusing tadi " lirih Damian.
"Jangan kira gue baik yah, setelah lo sembuh lo harus nurutin kemauan gue tanpa nolak, ngerti! "
"iya" lirih nya pelan, Damian menatap Stella dari bawah.
"Tidur lo, buruan gue juga ngantuk ini, belum sehari kita liburan, jangan sampai jadi gagal!"
Ucap nya tajam pada Damian, dan si empu hanya mengangguk, dan mulai memejamkan mata nya.
waktu berlalu begitu cepat, Stella melirik Damian yang seperti nya sudah tertidur, mata nya berat sekali, rasa ngantuk menguasai diri nya.
Stella membaringkan diri tak peduli di mana pun, yang jelas dia ingin tidur.
...
Matahari sedari tadi sudah terbit, seperti biasa kota tokyo sudah mulai kembali ke aktivitas nya banyak manusia yang sibuk dengan aktifitas nya masing-masing.
Berbeda dengan kedua manusia, ah lebih terlihat seperti pasangan karena mereka terlihat nyaman dengan kondisi saling berpelukan.
Di mana sang pria tertidur di sekitar leher gadis itu, dan tangan sang gadis yang berada di kepala sang pria.
Damian mulai mengerjap kan mata nya, menyadarkan diri, hendak bangkit, namun kepala nya tertahan sesuatu.
Damian ingin bergerak cukup sulit, mata nya seketika membulat, melihat seseorang memeluk nya, siapa lagi, dia.. Stella.
Damian yang tadi nya ingin melepaskan diri mengurungkan niat nya, entah kenapa hati nya gak ingin mengganggu tidur Stella.
Damian menatap wajah Stella dari samping, wajah itu polos dan sangat cantik, tak terlihat seperti gadis yang jahat.
Sebetulnya mudah saja bagi Damian untuk menyingkirkan sepasang tangan yang bertengger di kepala dan pinggang nya.
Tapi entah kenapa rasa nya Damian tak keberatan dengan hal itu, rasa nya cukup menyenangkan berada di pelukan Stella, yang menjadi salah satu target Damian, karena kelakuan nya.
semnagattt💪😍😍😍