NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003: Aku Menggugat Cerai

Dokter di IGD memandang Sari seperti melihat kasus yang akan membuat rapat rumah sakit berlangsung panjang.

"Ibu seharusnya tidak langsung pergi dari rumah," katanya hati-hati.

Sari duduk di ranjang pemeriksaan. Kain putih sudah diganti dengan gamis longgar yang dibeli Nadia di toko dekat rumah sakit. Wajahnya masih pucat, tangan dipasangi infus, dan dadanya terasa nyeri setiap menarik napas terlalu dalam.

"Saya seharusnya juga tidak dinyatakan meninggal terlalu cepat, Dok."

Dokter itu terdiam.

Nadia yang berdiri di samping ranjang langsung menggenggam tangan ibunya. "Bu, jangan emosi dulu."

"Ibu tidak emosi. Ibu menjawab."

Perawat di dekat tirai menunduk menahan ekspresi. Dokter menarik napas pelan, lalu kembali menjelaskan bahwa Sari mengalami kondisi lemah berat setelah keracunan, tekanan darah sempat sangat rendah, respons tubuh sulit terdeteksi, dan administrasi keluarga terlalu cepat membawa pulang jenazah.

"Kami akan lakukan pemeriksaan lengkap lagi," kata dokter. "Dan pihak rumah sakit akan membuat laporan koreksi. Untuk urusan dokumen kematian, keluarga harus mengurus pembatalan surat keterangan."

"Keluarga yang mana?" tanya Sari.

Dokter tampak bingung.

Sari tersenyum tipis. "Yang mengurus saya tadi hanya anak perempuan saya. Suami saya sedang resepsi."

Nadia menunduk. Ia tahu ibunya sengaja berkata begitu agar dokter paham betapa kacau situasinya.

Dokter tidak bertanya lebih jauh.

Setelah pemeriksaan awal selesai, Nadia keluar untuk mengurus administrasi. Sari duduk sendirian beberapa menit, menatap selang infus di punggung tangannya.

Tubuhnya lemah.

Tapi kepalanya justru sangat jernih.

Hendra pasti akan memutar cerita. Ratna akan menangis. Raka dan Bayu akan berkata ia mempermalukan keluarga. Ibu Sri akan menyalahkan dirinya karena membuat aib di depan tamu.

Semua itu bisa ia tebak.

Yang tidak ia tebak hanyalah rasa kosong di dadanya.

Tadi saat menampar Hendra, ia tidak merasa puas. Ia hanya merasa seperti baru menutup pintu rumah yang selama ini terbakar pelan-pelan.

Nadia kembali dengan wajah tegang. "Ayah telepon."

"Angkat. Pakai speaker."

"Ibu yakin?"

"Angkat."

Nadia menekan layar. Suara Hendra langsung keluar, keras dan penuh amarah.

"Nadia! Kamu bawa ibumu ke mana? Suruh dia pulang sekarang. Dia sudah bikin malu semua orang!"

Nadia menggenggam ponsel kuat-kuat. "Ibu di rumah sakit. Dia baru diperiksa."

"Rumah sakit? Bagus. Suruh dokter periksa kepalanya juga. Dia benar-benar sudah gila."

Sari mengulurkan tangan. Nadia menyerahkan ponsel.

"Hendra."

Di seberang, suara napas Hendra berhenti sekejap.

"Sari, kamu dengar saya baik-baik. Apa yang kamu lakukan tadi sudah keterlaluan. Kamu menampar Ratna, menampar saya, mempermalukan anak-anak, mempermalukan keluarga besar."

"Aku mempermalukanmu?" Sari bertanya pelan. "Kamu menikahi perempuan lain saat aku dikafani. Tapi yang memalukan aku?"

"Kamu masih bicara soal itu? Semua orang mengira kamu meninggal!"

"Termasuk kamu. Karena itu kamu bahagia sekali."

"Jangan memutarbalikkan keadaan."

"Aku tidak memutar apa pun. Nadia merekam semuanya."

Hendra diam.

Sari bisa membayangkan wajahnya berubah.

"Kamu mau apa?" tanyanya akhirnya.

"Cerai."

"Jangan mengancam."

"Itu bukan ancaman. Itu pemberitahuan."

Hendra tertawa pendek, kasar. "Kamu pikir cerai semudah itu? Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri? Kios kecilmu itu bisa kasih makan sampai kapan? Kebunmu itu bahkan belum tentu untung."

"Kamu akan tahu nanti."

"Sari, jangan sok kuat. Kamu lima puluh dua tahun. Siapa yang mau perempuan tua keras kepala sepertimu?"

Nadia langsung mengangkat kepala. "Ayah!"

Sari memberi isyarat agar Nadia diam.

Ia tidak sakit hati.

Aneh, tapi benar.

Kalimat itu pernah membuatnya terluka. Dulu. Saat Hendra berkata rambutnya kusam, tubuhnya tidak menarik, bajunya seperti ibu-ibu pasar. Dulu ia menangis diam-diam di kamar mandi.

Sekarang, kalimat itu seperti batu kecil dilempar ke dinding tebal.

"Aku cerai bukan untuk dicari laki-laki lain," jawab Sari. "Aku cerai untuk menjauh darimu."

Hendra tidak langsung membalas.

Sari melanjutkan, "Besok pengacara akan menghubungimu. Aku akan ajukan cerai gugat di Pengadilan Agama. Semua transfer untuk Ratna, rumah yang kamu beli, mobil, biaya Tania, semua akan dihitung."

"Kamu tidak punya bukti."

"Belum tentu."

"Sari, jangan macam-macam dengan saya."

"Aku sudah mati sekali hari ini. Kamu terlambat menakut-nakuti."

Ia memutus telepon.

Nadia menatapnya dengan mata basah.

"Ibu benar-benar mau cerai?"

"Ya."

"Tidak menunggu Ayah minta maaf?"

"Kalau orang menikah lagi saat istrinya dikafani, maafnya untuk apa?"

Nadia tidak menjawab.

Sari menatap anaknya. "Kamu takut?"

"Aku takut Ibu sakit lagi."

"Selain itu?"

Nadia menunduk. "Aku takut Mas Raka dan Mas Bayu menyalahkan Ibu. Takut keluarga besar menyerang Ibu. Takut Ayah memutar cerita."

"Mereka akan melakukan semuanya."

Nadia mengangkat wajah.

"Maka dari itu kita jangan kosong," kata Sari. "Mulai sekarang, simpan semua bukti. Video. Foto. Chat. Transfer. Nama saksi. Kalau ada yang menelepon, rekam."

"Baik."

"Jangan bertengkar di grup."

Nadia terkejut. "Tapi kalau mereka fitnah Ibu?"

"Kita jawab dengan bukti, bukan teriakan."

Nadia menggigit bibir, lalu mengangguk. "Aku paham."

Pintu tirai terbuka. Seorang perawat masuk membawa hasil tekanan darah. Setelah memeriksa, ia berkata Sari harus dirawat minimal semalam. Nadia langsung setuju sebelum Sari sempat menolak.

"Ibu tidak boleh kabur lagi," kata Nadia.

"Ibu tidak kabur. Ibu menyerang."

Nadia hampir tertawa, tapi air matanya jatuh duluan.

Malam itu, kabar Sari hidup dan membubarkan resepsi menyebar lebih cepat daripada pengumuman kematian paginya.

Grup keluarga Prasetyo tidak berhenti berbunyi.

Nadia duduk di sofa kamar rawat, membaca pesan satu per satu.

Ibu Sri menulis panjang tentang aib keluarga. Tante Retno dari pihak Hendra menuduh Sari sengaja membuat drama. Raka meminta Nadia membujuk Ibu pulang. Bayu mengirim pesan pribadi, katanya Ibu jangan kebawa emosi karena orang tua sudah sepuh.

Sari hanya meminta Nadia membacakan bagian penting.

"Mas Raka bilang, 'Ibu seharusnya pikirkan cucu-cucu. Jangan sampai perceraian ini bikin keluarga hancur.'"

"Balas: keluarga hancur saat ayah kalian menikah di hari pemakaman ibumu."

Nadia mengetik.

"Bayu bilang, 'Ayah memang salah, tapi Ibu juga jangan mengumbar aib.'"

"Balas: aib tidak lahir dari orang yang membuka pintu. Aib lahir dari orang yang berbuat di dalam rumah."

Nadia mengetik lagi.

Beberapa detik kemudian, grup sunyi.

Sari memejamkan mata. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya tidak lagi goyah.

Ponsel Nadia bergetar lagi.

Kali ini dari nomor tidak dikenal.

Nadia mengangkat alis. "Pengacara yang dulu pernah bantu urusan kios, Bu. Pak Surya."

"Angkat."

Nadia mengangkat telepon, lalu menyerahkannya pada Sari.

"Bu Sari," suara Pak Surya terdengar tegas. "Saya baru menerima pesan dari Nadia. Saya turut prihatin atas kejadian hari ini. Kalau Ibu sudah cukup kuat, besok saya bisa datang ke rumah sakit."

"Saya mau cerai."

"Baik. Kita siapkan cerai gugat. Karena Ibu Muslim, jalurnya Pengadilan Agama. Kita juga perlu susun kronologi, bukti perselingkuhan, bukti harta bersama, dan dugaan pengalihan aset."

"Saya punya kios, kebun, rekening usaha. Saya tidak mau semuanya disentuh Hendra."

"Kita lihat pembukuannya. Aset yang tercatat sebagai usaha Ibu harus dipertahankan. Untuk pabrik?"

Sari membuka mata.

Di langit-langit kamar rawat, lampu putih terlihat terlalu terang.

"Dua pabrik itu biarkan dia pegang."

Pak Surya terdiam sejenak. "Ibu yakin?"

"Saya lebih tahu kondisi pabrik itu daripada dia."

"Kalau begitu besok kita bicara detail. Jangan tanda tangan apa pun tanpa saya."

"Baik."

Telepon berakhir.

Nadia menatapnya ragu. "Ibu benar-benar mau melepas pabrik?"

Sari tersenyum kecil.

"Na, orang serakah paling mudah dikalahkan dengan sesuatu yang terlihat menguntungkan."

"Maksud Ibu?"

"Ayahmu masih mengira pabrik itu mahkota. Biarkan dia pakai mahkota yang berkarat."

Nadia menatap ibunya lama.

Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum.

"Ibu terdengar menyeramkan."

"Bagus."

Sari menarik selimut sampai dada.

"Sudah terlalu lama Ibu terdengar lemah."

Di luar kamar, koridor rumah sakit mulai sepi. Tapi ponsel Nadia masih menyala dengan notifikasi baru. Sebuah pesan masuk dari Hendra.

Nadia membacanya pelan.

"Besok Ayah mau datang. Katanya mau bicara empat mata."

Sari menutup mata.

"Tidak ada empat mata lagi. Mulai sekarang, semua pembicaraan harus ada saksi."

"Aku temani."

"Kamu temani. Pengacara temani. Kalau perlu satpam juga temani."

Nadia mengangguk.

Sari mencoba tidur, tetapi pikiran tentang rumah lama muncul. Ada buku rekening di lemari bawah. Ada ponsel lama yang menyimpan pesan Hendra bertahun-tahun. Ada sertifikat kios. Ada kontrak sewa kebun. Ada catatan pesanan pabrik yang dulu ia bantu dapatkan.

Semua harus diamankan sebelum Hendra sadar.

Ia membuka mata lagi.

"Nadia."

"Iya, Bu?"

"Besok pagi, setelah dokter izinkan Ibu keluar sebentar, kita pulang ke rumah."

"Rumah Ayah?"

"Rumah tempat barang-barang Ibu masih disimpan."

Nadia mengerti.

"Aku pesan mobil lebih besar."

Sari mengangguk.

Di dada lemahnya, sesuatu yang lama mati mulai bergerak.

Bukan cinta.

Bukan dendam.

Kesadaran.

Mulai besok, ia tidak lagi menjadi istri yang meminta izin.

Ia menjadi pihak lawan.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!