Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau menikahi ku gus ?
Kenapa kau tak merelakan aku bersama teman mu yang mencintaiku ?
Kau mengikat ku dalam hubungan yang menyakitkan !
Anisa Az-Zahra seorang gadis biasa yang terpana dengan bahu seorang laki-laki saat hari terakhir OSPEK, dia memendam rasa pada laki-laki tersebut yang kemudian ia mengetahui namanya yaitu Muhammad Ali Haidar yang merupakan seorang gus besar.
Sampai akhirnya Zahra menikah dengan Ali, tapi kehidupan setelah menikah tak seindah yang Zahra bayangkan karena dalam hati Ali terdapat nama wanita lain yaitu Selly bahkan nama Zahra pun tak tertera dalam hati Ali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfi Syafa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 TUMBANG
Setelah mobil Umi dan Abah melaju aku menatap mas Ali yang sedari tadi memandang laju mobil yang ditunggangi Abah dan Umi, dalam batinku aku bertanya-tanya apa yang sedang ada dipikirannya. Tiba-tiba sesuatu terucap dari mulutnya.
"Maafkan Ali Abah Umi" katanya lirih hampir tak ku dengar suara yang diucapkannya
"Apa Mas? Mas ngomong sesuatu ya? “ tanyaku memberanikan diri
"Nggak, nggak usah kepo kamu" jawabnya sinis kemudian berbalik badan dan langsung melangkah menuju rumah
"Ih nggak jelas banget deh, aneh !! " umpatku lirih yang ternyata masih terdengar oleh Mas Ali
"Kalau nggak suka ngomong aja didepan jangan ngomongin di belakang" sahutnya sembari berlalu
"Maaf Mas" jawabku malu
Aku mengikuti Mas Ali masuk ke rumah, sesampainya di dalam rumah aku merasa sangat bingung mau melakukan hal apa, jika hanya berdua saja di rumah dengan Mas Ali rasanya canggung.
Setelah beberapa saat aku berfikir, aku memutuskan untuk beres-beres rumah saja, pikirku pasti akan menghabiskan waktu lama dan akan meghilangkan rasa canggung ini. Tapi tak terasa beres-beres rumah yang biasanya membutuhkan waktu yang lama eh ini malah terasa singkat sekali.
Setelah beres-beres rumah selesai aku memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan ku yaitu memasak untuk makan siang nanti. Setelah beberapa saat selesai masak aku menyiapakan hidangan itu di meja makan, tapi sampai semuanya sudah siap pun tak ku dengar adzan dzuhur berkumandang, ku lirik jam yang tergantung didinding ruang makan ternyata baru menunjukkan waktu 10.00 WIB.
Aku bingung hendak melakukan apa lagi nyuci piring udah nyuci baju udah nyapu beberes udah masak buat nanti siang juga udah. Kenapa hari ini aku serasa waktu berjalan lama, apa karena aku hanya di rumah berdua saja dengan Mas Ali ya ?.
"Ah dari pada aku diruang tamu clingak-clinguk nggak ada kerjaan, mending aku ke kamar mandi ambil air wudhu terus ke kamar sholat sunah duha, setelah itu baca-baca buku di perpustakaan pribadi Mas Ali." aku berbicara dengan diriku sendiri
Aku menuju kamar setelah selesai wudhu, ku susuri satu demi satu anak tangga, setelah sampai di depan pintu kamar ku hatiku berdebar begitu kencangnya karena sepertinya Mas Ali berada di dalamnya, ku ketuk pintu itu.
Tok tok tok ... Suara pintu yang ku ketuk itu, tak mendengar respon apa pun dari seseorang yang ada didalam, ku putuskan untuk membuka pintu kamar itu.
Kriett ... Suara pintu yang ku buka itu
ku amati sekitar kamar seperti ranjang, sofa dan juga syajadah tempat aku dan Mas Ali sholat, tak ku dapati Mas Ali disana, sejenak aku berfikir dimana Mas Ali?, ah tapi syukurlah dia tidak ada di kamar.
Namun ketika aku hendak mengambil mukena tak sengaja aku melihat Mas Ali yang sedang tertidur pulas diatas kursi santai yang berada di perpustakaan pribadinya,
Aku berjalan mendekati Mas Ali ku amati Mas Ali dengan jarak yang sangat dekat dan sangat jelas, ku rasa angin sepoy-sepoy menerpa mas Ali, aku tak tega melihat Mas Ali kedinginan, ku ambil selimut yang ada di atas ranjang ku kemudian ku letakkan di atas tubuh Mas Ali terlihat Mas Ali sedikit nyaman dan hangat dengan selimut itu.
..
Aku telah selesai melaksanakan sholat duha, ku lanjutkan dengan membaca Al-Qur'an untuk mempertajam hafalanku, tak beberapa lama kemudian adzan dzuhur pun terdengar.
"Biasanya yang mengimami sholat dzuhurkan Abah, tapi Abah kan lagi ke Pekalongan, berarti nggak ada yang imamin dong, satu-satunya yang harus jadi imam adalah Mas Ali, tapi Mas Ali kan lagi tidur bangunin nggak ya" ucapku bingung
"Bangunin aja deh" keputusan ku
"Mas .. Mas .. Mas Ali .. bangun Mas sudah dzuhur" kataku membangunkan Mas Ali
"Emm ya .. " jawabnya singkat dan langsung berlalu tanpa menghiraukan selimut yang ku berikan padanya tadi.
..
Beberapa hari berlalu aku menjalani hari-hari hanya berdua dengan Mas Ali, tapi masih saja Mas Ali bersikap dingin.
Sampai suatu saat Mas Ali sedang membaca kitab untuk mengajar para santri putra ba'da maghrib ini, disela-sela Mas Ali membaca kitab itu ponselnya berdering aku melihat raut muka Mas Ali yang gelisah dan tak tenang ada juga rasa terkejut di wajahnya.
"Ada apa Mas .. Mas nggak papa?" tanyaku khawatir pada Mas Ali
Tanpa sepatah kata apa pun Mas Ali berlau hanya menyambat jaketnya dan mengambil kunci mobil di gantungan kunci Mas Ali pergi dengan tergesa-gesa.
Ya Allah lindungilah suami hamba..
Apa pun yang terjadi jadikan hatinya selalu bersama dengan Mu ya Allah..
Aamiin....
Aku duduk di teras menunggu Mas Ali pulang, ingin segera ku tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Waktu semakin berlalu tak terduga turun hujan yang sangat lebat gemuruh petir pun terdengar, rasa khawatir ku semakin bertambah.
"Sebenarnya kamu kemana Mas? apa yang terjadi?“ aku berbicara sendiri bertanya pada orang yang tak berada di sampingku.
Ku tunggu-tunggu Mas Ali tak juga pulang padahal adzan maghrib sudah berkumandang, aku melaksanakan sholat maghrib di kamar dan memanjatkan doa yang terbaik buat kebaikan Mas Ali, tak beberapa lama aku mendengar suara mobil Mas Ali tidak berfikir panjang aku langsung lari menuruni anak tangga dan menemui Mas Ali.
Tak ku sangka-sangka Mas Ali pulang dengan keadaan lusuh, berantakan, pucat dan juga basah kuyup. Detik itu juga pikiran ku sudah kemana-mana memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Astaghfirullah kamu kenapa Mas" tanya ku khawatir, tapi Mas Ali tak menghiraukan aku
"Mas jawab kenapa kamu bisa seperti ini ada masalah apa, cerita dong Mas .. " tanya ku lagi tapi tetap sama Mas Ali tetap puguh untuk diam dan tak menghentikan langkahnya, tak sengaja aku menyentuh tangan Mas Ali
"Astaghfurullahaladzim .. Mas tubuh kamu panas banget pasti demam karena kehujanan, ayo segera mandi mas biar aku siapkan air hangat dan baju gantinya" ucapku bertambah khawatir
Mas Ali akhirnya memutuskan untuk menghentikan langkahnya, dan menjawab pertanyaan ku padanya.
"Stop, cukup Zahra, peduli apa kamu sama aku, aku minta kamu .......... " belum selesai Mas Ali melanjutkan kalimatnya tiba-tiba tubuhnya terhempas ke lantai ya Mas Ali pinsan
Aku bertambah khawatir, serontak aku memanggil santri putra untuk menggotong Mas Ali ke kamar selagi Mas Ali dibawa ke kamar aku menghubungi Abah dan Umi serta menceritakan keadaan Mas Ali.
Setelah Mas Ali sampai di kamar aku menggantikan bajunya yang basah kuyup, dan kemudian aku mengambil kain untuk mengompres demamnya.
Aku menunggu Mas Ali yang tak kunjung-kunjung sadar hari makin larut dan tak terasa aku tertidur di kursi sebelah ranjang yang ditiduri Mas Ali.
Pagi harinya aku mengecek keadaan Mas Ali ternyata demamnya tidak turun malah bertambah naik. Aku tetap merawatnya walau nanti aku tak tahu seberapa marahnya Mas Ali aku menyampuri urusannya.
Aku meninggalkan Mas Ali yang terbaring di ranjang guna memasak bubur untuk Mas Ali, karena kata Umi kalau Mas Ali sakit dia akan cepat sembuh dengan makan bubur, aku buka selalu pintu kamar agar nanti kalau Mas Ali bangun dan membutuhkan sesuatu aku bisa mendengar suaranya.
Setelah selesai aku memasak bubur, aku membawakan semangkok bubur tersebut ke kamar untuk Mas Ali. Sesampainya di kamar aku mendengar suara tak asing benar saja itu suara Mas Ali, tapi semakin aku mendekat semakin aku perjelas mendengarkan suaranya semakin jelas kata yang terucap dari mulut Mas Ali
"Selly .. Selly .. " suara Mas Ali yang ternyata sedang mengigau
"Ya Allah Mas sebesar itu cinta mu pada Selly sampai-sampai dalam situasi seperti ini pun kata yang keluar dari mulut kamu adalah Selly wanita yang jelas bukan siapa-siapa kamu" ucapku dalam batin.
Tak terasa air mata ini mengalir, entah kenapa setiap saat mendengar nama Selly aku tak mampu menahan air mata ini. Ku hapus air mataku kemudian ku sentuh kening Mas Ali ternyata demamnya sudah turun ku beranikan untuk membangunkannya.
"Mas .. Mas .. bangun makan dulu ya, aku sudah masakin bubur buat kamu" kata ku pada Mas Ali
Mas Ali pun membuka matanya
"Ngapain kamu disini ... " ucapnya
"Ini aku bawa bubur buat kamu kata Umi kamu akan segera pulih jika makan bubur jadi aku masakin buat kamu" kataku dengan ceria
"Nggak! nggak usah repot-repot aku nggak mau makan kamu keluar saja dari sini, aku malas lihat wajah mu, biarin aku sendiri aku bisa ngurus diriku sendiri" katanya tanpa melihat wajahku, apa dia tidak tau kata-kata yang baru saja ia ucapkan itu melukai ku.
Tanpa berfikir panjang aku meninggalkan Mas Ali sendirian di kamar, jujur memang aku sakit dengan perkataannya tapi rasa khawatir ini tak kalah dengan rasa sakit yang kurasa.
Aku berfikir sangat keras bagaimana agar Mas Ali bisa makan biar cepat sehat, kalau dia nggak mau makan pasti dia akan semakin sakit. Dan akhirnya aku memutuskan suatu hal yang aku sadar hal itu akan membuatku sakit tapi ini semua untuk kebaikannya Mas Ali apa boleh buat.
Aku menyuruh salah seorang santri putra untuk menjaga Mas Ali, lebih tepatnya mengawasinya karena Mas Ali tidak mau ditunggu siapa pun.
Aku masuk kekamar untuk meminta izin pada Mas Ali.
"Ngapain kamu masuk kesini lagi" ucapnya ketus
"Maaf Mas aku mau minta izin dari kamu, aku mau keluar sebentar boleh? " tanyaku
"Terserah kamu" jawabnya singkat
Aku melajukan mobilku ke sebuah perusahaan yang dimana Mas Ali bekerja, sebenarnya kakiku terasa berat melangkah menuju kantor itu tapi apa bisa dibuat aku harus masuk ke dalam.
Setelah memarkirkan mobil aku berjalan memasuki kantor itu ku hampiri seorang karyawan dan ku tanya ruangan seseorang yang hendak aku temui setelah itu aku melangkah menuju ruangan itu dan benar saja aku melihatnya disana.
"Selly ... " panggilku
"Zahra, ada apa kamu kesini" tanyanya kebingungan
"Aku mau ngomong sedikit sama kamu, apa kamu punya waktu" kataku
"Iya Ra aku ada waktu, ayo kita ngobrol di kantin saja" ajaknya
Aku mengikuti setip langkahnya menuju kantin, memang Selly sangat cantik, pintar, punya karir yang hebat pantas saja jika Mas Ali tergila-gila padanya. Tak lama kita sampai di kantin Selly memesan dua cangkir latte dan kita pun duduk di sebuah bangku yang kosong, percakapan pun di mulai.
"Apa yang mau kamu omongin Ra" tanya Selly
"Sebenarnya aku mau tanya apa kamu tahu apa yang terjadi pada mas Ali kemarin ? " pertanyaan Selly aku balas dengan pertanyaan ku. Sejenak Selly terdiam.
"Maaf ra apa kamu serius mau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ? ini akan menyakiti hati mu Ra" kata Selly
"Iya ingsyaallah aku nggak papa kok" jawab ku
"Jadi gini Ali menemui ku di sebuah cafe dia bertanya apa benar aku hendak tunangan dengan orang lain, ku jawab benar dan waktu itu Ali sangat marah dia berbicara panjang dan pada akhirnya dia meminta waktu padaku untuk memperjuangkan aku" penjelasannya yang membuatku tertusuk-tusuk sakit
"Jujur Ra aku juga mencintai Ali, terkadang aku berfikir menjadi istri ke duanya pun aku nggak masalah, tapi aku tak tega dengan mu Ra" lanjutnya
"Astaghfirullah, kamu bukannya seorang wanita Selly bagaimana jika kamu berada di posisiku, suaminya sendiri sedikit pun tidak mencintai mu dan palah mencintai wanita lain, ingat Selly orang yang kamu cintai itu sudah beristri apa kamu tidak berfikir sampai situ, bukan kah kamu orang yang berpendididkan tinggi pandai cantik banyak laki-laki yang lebih sempurna dari Mas Ali yang mau dengan mu tapi kenapa kau malah memilih Mas Ali yang jelas-jelas suami ku" kataku panjang lebar
"Aku tau itu semua, aku sadar betul Ra tapi rasa cinta ini membutakan aku juga Ali" jawabnya
"Astaghfirullah sadar Selly itu bukan cinta itu nafsu, ambisi, itu semua tipu daya setan Selly" terang ku pada Selly
"Astaghfirullah apa benar begitu Ra?, betapa jahatnya aku sebagai seorang wanita tak memahami perasaan wanita lain, maafkan kehilafan ku Ra" katanya
"Syukurlah kamu sadar, aku sudah memaafkan mu, bertaubatlah pada Allah Selly, sekarang aku mau minta tolong sama kamu" ucap ku
"Apa Ra jika aku bisa akan aku lakukan" jawabnya
"Tolong kau ikut aku ke rumah ku, Mas Ali sakit karena kemarin dia kehujanan sesudah bertemu dengan mu, dia demam dan tadi mengigau nama mu, aku mencoba memberi makanan padanya agar cepat sembuh tapi dia nggak mau, aku mohon bujuk dia agar dia mau makan demi kesehatannya" jelas ku
"Baik jika itu dapat menembus kesalahan ku pada mu Ra, sungguh Ali sangat beruntung mendapatkan mu, kamu sangat cocok mendampinginya ..." katanya
Tak berlama-lama aku dan Selly pun segera pergi menuju rumah.
entah q ny yg bapran ato novel ny yg bnyk bwang