NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:132.5k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Citra menatap undangan itu lama sekali. Jemarinya bergetar ketika membaca nama di atas kertas mewah berwarna krem itu. Di sana tertulis jelas:

Rava Pratama & Cantika Yuliani

Akan melangsungkan pernikahan pada hari Minggu, pukul 10.00 WIB

Bertempat di Gedung Grand Satria.

Suara detak jam di dinding restoran terdengar sangat keras di telinganya. “Pak… ini bapak dapat ini dari Rava?” tanyanya dengan suara bergetar, menatap Rama yang hanya diam.

Rama menatapnya penuh empati. “Iya. Tadi Rava minta ketemu, dia kasih undangan ini.”

Citra menelan ludah. “Huuhh, tega sekali mereka... Bagaimana bisa...?” gumamnya tanpa bisa bertutur lagi.

Rama mengangguk pelan. Lalu menggenggam tangan Citra. “Dulu... Saya pernah menawari kamu untuk ketemu Rava langsung dan mendengar alasannya.”

Dunia seakan berputar begitu cepat bagi Citra. Napasnya terasa berat, dada sesak. Ia tertawa getir. “Tapi... Gimana mereka bisa setega ini, Pak? Harusnya Cantika tau kalau Rava sama aku, dan harusnya Rava tau kalau Cantika sepupuku, Pak?”

Rama tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, lalu menarik napas dalam.

Citra menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa mereka bisa tega sama kami? Ayah pasti akan sangat terluka dengan pernikahan ini. Sepupu sendiri, adik sendiri menusuknya dari bekalang. Kenapa mereka bisa setega ini? Apa salah kami sama mereka, Pak?”

Tangis Citra pecah, ia tepis tangan Rama yang menggenggamnya. Ia menangis tersedu sampai Rama tak punya kata untuk diucapkan. Dia tau sekali bagaimana perasaan Citra. Perasaaan dihianati oleh keluarga terdekat.

Rama menunduk sebentar. “Kamu mau saya cerita? Kamu sudah siap untuk mendengar hal yang lain lagi?"

Citra masih terus menangis, Rama hanya diam menunggu tanpa sedikitpun melepas pandangan dari wajah istrinya.

"Saya tidak akan cerita kalau kamu tak mau."

Citra menghapus jejak air mata. Lalu mengangguk. Rama tersenyum tipis sebelum membuka mulutnya, "Hari itu, Rava nggak datang karena Cantika datang ke rumah Lani. Dia bilang Rava harus tanggung jawab. Cantika sudah hamil waktu itu.”

Citra membeku. Dunia seakan berhenti berputar. “Apa…?” suaranya hampir tak terdengar. "Hamil?"

Rama mengangguk. “Mereka nikah siri di hari yang sama dengan pernikahan kita.”

Butiran air mata pertama jatuh di pipi Citra. “Jahat! Jahat sekali mereka. Mereka sudah menghianati lebih lama dan lebih jauh... Kenapa ada orang sejahat itu, Pak.”

Rama menatap Citra dengan mata sendu. “Saya tahu ini menyakitkan. Saya minta maaf, Cit. Saya gagal mendidik dia.”

Citra menggeleng lemah. “Mereka jahat sekali pak... Mereka orang terdekatku... mereka jahat sekali, huhuhu.” Suaranya pecah di akhir kalimat. Ia menunduk, menggenggam ujung meja agar tak gemetar.

Rama mengulurkan tangan, menepuk lembut punggung tangannya.

Citra mengusap air matanya cepat, berusaha menahan tangis. Ia melihat undangan itu, lalu berganti pada Rama. “Apa Bapak mau datang?”

“Iya,” jawab Rama tenang. “Saya datang bersama istri saya.”

Citra menatapnya dengan mata yang masih basah. “Istri Bapak? Maksudnya… saya?”

Rama tersenyum lembut. “Iya, Apa kamu siap untuk datang?”

Citra menarik napas panjang, menatap lelaki di depannya—lelaki yang kini jadi satu-satunya tempat ia berpijak setelah segala pengkhianatan itu.

“Aku akan datang... Dengan wajah terbaik, dengan posisi terbaik... Jika itu penghianatan, dia harus tau aku ibu tirinya sekarang. Setan juga akan memakai sutra untuk membalas dendam,” batin Citra dengan penuh tekad.

***

Sementara itu, di lingkungan tempat Maya tinggal, gosip mulai beredar cepat seperti api yang menjalar di jerami kering. Semua orang bertanya-tanya tentang siapa mempelai pria yang akan menikahi Cantika.

“Katanya anak orang kaya,” bisik Bu Narti di warung. “Tapi nggak ada yang tahu siapa. Yani juga nggak cerita.”

Namun, sore itu, salah satu tetangga yang bekerja di gedung pernikahan tak sengaja melihat nama di daftar acara. “Aku lihat sendiri! Calon suaminya itu Rava Pratama! Mantan calon mantunya Pak Haris dulu!” serunya setengah berbisik.

“Rava?” serempak beberapa ibu menatap kaget. “Yang dulu mau nikah sama Citra?!”

"Iya, loh."

"Astaga! Gila ya Yani sama Cantika!"

"Benar! bisa-bisanya..."

"Duh, jadi kasian sama Citra dan keluarga Si Haris."

"Ngapain kasihan? Mereka malah dapat mantu bapaknya. Lebih punya kuasa dibanding anaknya."

"Eh, iya, juga, hahaha..."

Kabar itu menyebar seperti badai. Maya yang baru saja pulang dari pengajian mendengarnya saat mampir ke warung. “Maya, udah tau belum?"

"Tau apa?"

"Eh, kayaknya emang enggak tau dia..."

Maya melirik tak suka. "Apa sih, bu ibuk?"

"Itu... Calon mantunya Yani..."

Maya mendengarkan dengan penuh minat, karna memang dia juga penasaran.

"Katanya Cantika mau nikah sama Rava!” ujar Bu Narti dengan nada heboh.

Maya menatapnya dengan mata yang melebar. “Apa?! Kamu jangan asal ngomong, Narti!”

“Tanya aja ke Yani, May. Saya dengar sendiri dari orang yang kerja di gedungnya!”

"Bener May. Udah positif itu..."

Tanpa pikir panjang, Maya langsung melangkah cepat menuju rumah adik iparnya, Yani. Ia mengetuk pintu keras-keras. “Yani! Buka pintunya!”

Yani keluar dengan pakaian santai, wajahnya tenang, seolah tak merasa bersalah sama sekali. “Oh, si Maya. Ada apa?”

Maya langsung menatap tajam. “Aku mau tanya satu hal. Benar Cantika mau nikah sama Rava?”

Yani tersenyum tipis, tanpa rasa bersalah. “Iya, May. Kenapa? Emang nggak boleh?”

Maya terperanjat. “Kamu sadar nggak apa yang kamu lakukan? Kamu tega banget! Rava itu mantan calon suami Citra! Dia enggak datang ke pernikahan, malah sekarang mau nikah sama Cantika? Apa ini waras?”

Yani menyilangkan tangan di dada, wajahnya pongah. “Heh, May, Citra itu udah gagal jaga tunangannya sendiri. Salah siapa kalau akhirnya Rava lebih milih Cantika? Jangan salahin kami.”

Tamparan keras mendarat di pipi Yani. Maya tak bisa menahan diri lagi. “Kamu licik, Yan! Kamu tega nusuk keluarga sendiri! Enggak ada sama sekali rasa tak nyaman, Yan? Tega sekali kalian!”

Yani memegang pipinya yang memerah, matanya menyala marah. “May jangan jangan asal ngomong ya! Mereka saling cinta!”

Maya menatapnya dengan tatapan menusuk. “Cinta? Jangan bohongi dirimu sendiri. Pasti Cantika hamil, kan?”

Wajah Yani seketika menegang, dan itu sudah cukup jadi jawaban. “May jaga omonganmu!” teriaknya, tapi suaranya goyah.

“Benar kan?!” seru Maya dengan nada getir. “Kamu pikir itu kebanggaan? Menikahkan anakmu dalam keadaan begitu? Malu aku punya adik ipar kayak kamu, Yan.”

Yani bergetar, tapi tetap berusaha membela diri. “Heh! Kamu jangan asal sebar berita bohong ya!”

“Diam kamu!” bentak Maya. “Kamu pikir kebahagiaan dibangun dari pengkhianatan bisa bertahan lama? Tuhan itu adil, Yan. Kamu tunggu aja.”

Yani berbalik masuk ke rumah dengan wajah tegang, pintu ditutup keras-keras. Maya berdiri di depan rumah itu, dadanya naik turun, mata berkaca-kaca. Hatinya perih membayangkan wajah Citra saat tahu kebenaran ini.

"Bun? Ada apa? Kenapa ribut-ribut?" tanya pak Haris begitu melihat istrinya pulang dengan mata sembab.

"Yah..." Maya tak dapat lagi menahan air mata. Dia menangis menumpahkan segalanya. "Yah, jahat banget adik Ayah itu. Cantika... Rupanya Cantika mau nikah sama Rava... Pantas saja selama ini diumpetin, ternyata karena hasil nyolong punya saudara sendiri... Huaaa...."

Pak Haris kaget. Dia memegangi dadanya karena terlalu terkejut. Bagaimana bisa. Adik dan keponakan nya, menghianati sedalam ini?

***

Malam itu, di rumahnya, Maya menelepon Citra. Suaranya lembut tapi bergetar. “Nak, kamu udah tahu siapa yang bakal nikah sama Cantika?”

Citra menatap ke arah jendela kamar, mata sembab tapi tatapannya kini tegas. “Udah tahu, Bun.”

Maya terdiam sejenak. “Kamu nggak apa-apa, Nak?”

Citra menghela napas pelan. “Iya. Citra baik-baik saja. Citra akan datang dengan pak Rama. Mereka harus berlutut di kakiku.”

1
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
Rahmawati
dih si pak Bram cuma numpang beol😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!