Maula, harus mengorbankan masa depannya demi keluarga.
Hingga suatu saat, dia bekerja di rumah seorang pria yang berprofesi sebagai abdi negara. Seorang polisi militer angkatan laut (POMAL)
Ada banyak hal yang tidak Maula ketahui selama ini, bahkan dia tak tahu bahwa pria yang menyewa jasanya, yang sudah menikahinya secara siri ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Hari ini rencananya aku akan ke sekolah Naka untuk mengantar dia sekaligus mendaftarkan Hazel di sekolah Naka supaya bisa tercatat sebagai murid di sana.
Selain itu aku juga akan meminta pihak sekolah agar bersedia mengurus perizinan home schooling selama dua bulan untuk Hazel, Dalam waktu dua bulan itu aku harus bisa membuat Hazel bisa pergi ke sekolah.
Home schooling memang lebih fleksible, lebih luas dalam mengembangkan bakat serta minat anak, tapi tetap saja anak perlu bersosialisasi dengan teman-temannya.
Dan aku memiliki waktu dua bulan untuk membuang rasa takut yang ada dalam diri Hazel.
Karena dunia ini sangat keras, aku ingin anak itu lebih percaya diri dan memiliki tekad serta keberanian yang tinggi. Supaya dia bisa membela diri sendiri jika ada yang menindasnya.
Aku berpamitan pada Hazel sebelum pergi dan memintanya untuk menungguku sambil menonton Tv. Tak lupa juga meminta pengawasan bu Ella selagi aku tidak di rumah.
Dengan menaiki sepeda motor, aku sampai di sekolah Naka setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit.
Mematikan mesin, aku lantas turun.
Bersamaan dengan membantu Naka melepas helm, aku berpesan.
"Mas Naka nggak perlu jadi anak pintar ya, yang penting enjoy di sekolah, nurut sama ibu guru, memperhatikan penjelasan ibu guru, dan jangan nakal sama teman-teman, mengerti?"
"Bunda kalau antar sekolah juga selalu ngingetin mas Naka seperti itu" Bukannya meresponku, Naka malah mengatakan sesuatu yang membuatku sedikit tercenung. Otomatis Gerakan tanganku yang hendak meletakkan helm di spion motor reflek melambat.
"Seperti itu gimana maksudnya?" Tanyaku tak begitu paham.
"Bunda nggak pernah minta mas Naka jadi anak pintar, yang penting mas Naka bisa menikmati waktu di sekolah, bahagia main sama teman dan nggak boleh nakal. Harus hormat juga sama bapak dan ibu guru"
"Kalau begitu, selalu ingat pesan bundamu. Bunda pasti akan bahagia melihat mas Naka mendengarkan kata-kata bundanya"
"Terimakasih karena ibu Maula sudah membuat mas Naka jadi teringat pesan bunda. Padahal semenjak bunda pergi, nggak ada yang kasih pesan kayak gitu ke mas Naka" Ucapnya yang membuatku makin terharu.
Ku usap puncak kepala anak di depanku dengan lembut.
"Semoga jadi anak yang sukses ya! Harus bisa menjadi anak kebanggaan bunda" Kataku menyemangatinya. "Meskipun bunda sudah nggak bersama mas Naka dan dek Hazel, tapi percayalah, bunda bisa melihat kalian dari atas sana. Dan bunda akan selalu tersenyum melihat putra putrinya menjadi orang baik. Tapi sebaliknya, jika mas Naka dan dek Hazel nakal-nakal, bunda pasti akan sedih"
"Mas Naka sayang sama bunda kan?" Imbuhku yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Naka. "Nggak mau bikin bunda sedih?"
"Enggak"
"Kalau begitu jadilah anak baik, mengerti?"
"Ngerti bu"
"Anak pintar!" Aku tersenyum, kembali mengusap pucuk kepalanya.
Sedetik kemudian Naka beranjak dari hadapanku, namun setelah tiga langkah menjauh dariku, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang untuk memindaiku.
"Mas Naka akan bilang ke ayah kalau bu Mamau orang baik. Mas Naka akan minta ayah buat nggak khawatir lagi sama mas Naka dan adek. Minta ayah juga biar kerjanya fokus aja"
Lagi-lagi aku tersenyum tapi kali ini di iringi dengan anggukan kepala serta unjuk ibu jariku.
"Makasih mas Naka, mas Naka anak hebat" Ucapku yang kali ini ganti melambaikan tangan.
Naka kembali melanjutkan langkahnya, sementara aku menatap punggungnya yang kian menjauh.
"Ibu memang nggak bisa menjadi bundamu, Naka. Tapi selagi ibu menerima gaji dari ayahmu, ibu akan selalu menyemangatimu dan juga adekmu" Ku hela napas panjang, masih dengan tatapan nyalang tertuju ke arah anak yang sebentar lagi akan hilang dari pandanganku karena memasuki kelasnya.
"Nasib kita sama, Naka. Kita sama-sama kehilangan sosok ibu di saat kita masih sangat membutuhkannya. Sosok ibu yang akan selalu ada dalam hati kita. Rindu pada wanita hebat yang tidak bisa kita capai dengan pertemuan, semoga kalian jadi anak yang kuat walaupun tanpa bunda di sisi kalian"
Tak terasa, air mataku jatuh usai mengatakan itu.
Kembali menarik napas, ku usap pipiku yang basah lalu melangkah menuju ruang guru.
****
Begitu urusan di sekolah selesai, aku langsung menancapkan gas sepeda motor ke arah rumah bu Ella. Aku harus membantu Hazel mandi, dan bersiap untuk mulai mempelajari materi yang tadi sudah di beritahukan oleh gurunya.
Aku memang memilih mengikuti kurikulum dan prosedur dari sekolah yang telah aku tunjuk tadi. Nanti juga akan di beritahukan kapan aku harus kembali ke sekolah untuk mengambil lembar kerja siswa atau LKS untuk Hazel pelajari. Dengan buku itu aku bisa lebih mudah dalam memberikan materi serta penjelasan pada Hazel. Dan aku sangat berharap kalau Hazel akan secepatnya mau pergi ke sekolah.
"Assalamu'alaikum" Sapaku ketika aku tiba di rumah dan bu Ella kebetulan sedang menemani Hazel bermain di halaman rumah.
"Wa'alaikumsalam. Gimana Maula, sudah antar Naka ke sekolah?"
"Sudah, bu"
"Terus ngurus Hazelnya gimana?"
"Sudah saya daftarkan bu, dan saya minta di berikan izin untuk Hazel selama dua bulan"
"Maksudnya gimana, La?"
"Dalam hal ini sekarag Hazel sudah bukan murid home schooling lagi, bu"
Sepertinya bu Ella kian tak paham dengan penjelasanku.
"Dia sudah tercatat sebagai murid kelas satu di sekolah mas Naka, bu. Hanya saja pihak sekolah memberikan izin melakukan pembelajaran dari rumah selama dua bulan. Nanti setiap hari saya di wajibkan mengabsen, serta melaporkan hasil pembelajaran ke wali kelasnya"
Bu Ella tampaknya sedikit mengerti dengan apa yang aku katakan.
"Emang bisa Maula?"
"Kebetulan tadi ada teman saya yang ngajar di sana, dia nyaranin buat di daftarkan saja biar nanti nggak perlu penyetaraan ijazah, dia bantu saya bicara ke kepala sekolah juga"
"Apa dalam waktu dua bulan Hazel mau masuk sekolah?" Tanya bu Ella tak yakin.
"Saya akan berusaha, bu. Saya berani ambil keputusan ini karena tadi di bantu telfonkan ayahnya Hazel dan beliau mengijinkannya"
"Oh, jadi Aril sudah tahu juga?"
"Sudah bu, tadi kepala sekolahnya telfon pak Aril untuk menjelaskan semuanya"
"Ya sudah Maula, pokoknya saya serahkan ke kamu aja, selama lima bulan ini saya sudah cukup mengkhawatirkan mereka, sekarang ada kamu yang bantu saya memikirkan urusan ini, saya jadi sedikit lega"
Bibirku mengulas senyum, dan ngomong-ngomong soal cucu perempuannya, dulu Hazel yang belum genap sebulan masuk di kelas satu, akhirnya terpaksa pindah sekolah karena ayahnya mengajukan permohonan tugas di kampung halamannya dengan alasan akan ada orang yang mengurus dua anaknya, dan permohonannya itu menurut cerita bu Ella langsung di setujui oleh atasannya.
Ketika sudah pindah ke sini, karena Hazel tak mau pergi ke sekolah, jadi ayahnya mengurus pendidikan informal dengan mendatangkan guru sementara agar datang ke rumah. Jadilah selama lima bulan ini anak malang itu melakukan home schooling.
Tapi by the way, pikiranku tiba-tiba jatuh pada suara pak Aril dari balik telfon karena aku sendiri sempat bicara dengannya juga tadi.
Suaranya berasa tak asing di telingaku. Mirip suara mr F.
Ah apa aku merindukannya, jadi hanya ada dia yang ada di otakku?
Tak menampik, setelah menghabiskan beberapa malam dengannya, sedikit banyak aku memiliki perasaan untuknya. Tapi tak berharap bisa memilikinya sebab ada istri dan anak yang lebih harus dia jaga perasaannya.
sama aku pun juga
next Thor.... semakin penasaran ini
maaf kalo suuzon ya Rin
abisnya kamu jahat seh