NovelToon NovelToon
RICH MAN

RICH MAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:10.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mira Indriani

Hidup ini terlalu berat bagi mereka yang selalu mengeluh. Rumit karena sebagian orang lebih mementingkan ego sendiri dibandingkan memikirkan hati orang lain. Tak sedikit yang berakhir dengan penyesalan. Barangkali setiap duka yang terasa adalah sebuah ujian yang sedang menguji perasaan dan kesabaran. Banyak yang memilih mengakhiri dibandingkan memperbaiki, kemudian menyesal dihari kemudian. Berharap sesuatu yang hancur akan kembali lagi. Tidak semua yang hancur semua yang hancur bisa diperbaiki lagi. Akan tetapi sesuatu yang rusak, barangkali bisa diperbaiki meski tidak utuh. Begitupun dengan rumah tangga, banyak lika-liku kehidupan yang akan dilewati.

Ikuti kisahnya di RICH MAN.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UNGKAPAN CINTA

Tiba di rumah setelah

kembali dari supermarket ia langsung menuju kamarnya untuk menemui

istrinya. Mamanya yang lebih dulu pergi ke dapur untuk menyiapkan bubur

keinginan Nagita. baru saja membuka pintu kamar, Azka dikejutka oleh

adiknya yang hendak keluar.

"Aku ke dapur dulu kak. Mau bantu Mama," belum sempat Azka bertanya adiknya sudah memberitahu tujuannya.

Ia hanya ber-oh ria dan

langsung masuk ke kamarnya. Azka membawa beberapa kantong plastik

belanjaan khususnya untuk Nagita. baru beberapa langkah kakinya masuk,

setelah mengunci pintu. Ia sudah dikagetkan dengan istrinya yang hendak

turun dari ranjang.

"Mau ke mana?"

Nagita langsung menoleh, "Pengin pipis,"

Dengan sigapnya ia menaruh barang-barangnya dan langsung mengejar Nagita dan mengangkat tubuh istrinya.

"Aku bisa sendiri, Mas,"

"Nggak, nanti kamu jatuh,"

Istrinya tak menjawab apa pun. Tiba di toilet ia membuka celana dalam Nagita.

"Mas, aku bisa sendiri. Kamu tunggu aja di luar!"

"Saya nggak suka di bantah,"

Nagita hanya menuruti

semua keinginannya. Azka, pria yang terkenal dengan sikap dinginnya dulu

kini berubah 360 derajat, seperti bukan dirnya yang saat ini begitu

perhatian kepada istrinya.

Saat hendak membersihkan, ia menahan Nagita.

"Mas yang bersihin,"

"Kamu nggak jijik, Mas?"

"Untuk apa? Bahkan saya sering pegang kok, saya sebagai suami kamu nggak boleh jijik sama milik istri sendiri,"

Nagita tersenyum.

"Sayang buka dasternya ya. Ganti! Soalnya udah basah sama keringat kamu, pasti nggak nyaman dipake tidur nanti,"

Nagita mengangguk, Azka

langsung melepaskan daster istrinya dan melakukan kegiatannya untuk

membersihkan organ intim perempuan itu. Nagita berpegangan pada lehernya

dan ia merasakan tubuh Nagita masih panas.

Selesai dengan kegiatannya ia langsung membuka bra dan membiarkan istrinya telanjang.

"Kenapa di buka semua, Mas?"

"Ganti sayang,"

Azka meletakkan baju kotor itu di keranjang tempat mencunci dan langsung mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mereka.

"Nanti Mama masuk, Mas?"

"Pintunya udah dikunci,"

Perlahan tubuh Nagita

disandarkan di sandaran ranjang. Ia beranjak begitu saja dan mengambil

kantong plastik yang ada di atas nakas.

Azka mengeluarkan tisu basah dari kantong plastik itu dan perlahan mulai membersihkan tubuh Nagita yang lengket karena keringat.

"Terima kasih ya, Mas!"

"Untuk?"

"Karena udah rawat aku selama ini,"

"Justru saya yang

berterima kasih, karena kamu telah mau sembuh dari trauma kamu demi

saya, Gita akan saya bawa pulang setelah sembuh, sampai kamu melahirkan,

Mama yang minta hal itu,"

"Aku takut, Mas,"

"Takut kenapa?"

"Takut melahirkan. Pasti sakit, Gita takut,"

Azka menatap mata

istrinya dan berusaha menenangkan. "Saya temani, Gita lahiran nggak

bakal sendiri. Ada saya, kita berjuang bareng, pasti akan baik-baik saja

sayang,"

"Jangan ke mana-mana ya, Mas!"

"Kita akan bareng terus, sayang,"

Perempuan itu langsung mengalungkan kedua tangannya dan memeluk Azka.

"Aku sayang kamu, Mas,"

"Saya lebih sayang sama kamu, jadi jangan pernah takut dalam menghadapi apa pun. Saya selalu ada buat kamu, calon anak kita,"

"Mas, dada aku sakit setelah Mas lepas bra tadi,"

Azka mengernyit dan

melepaskan pelukan istrinya, ia langsung menoleh ke punggung istrinya

dan melihat tanda merah di punggung Nagita.

"Sakit banget ya?"

"Iya, branya kekecilan kayaknya, Mas,"

"Bukan branya yang kekecilan, tapi punyamu yang kebesaran sayang,"

"Emang bisa?"

"Bisa, kan sebentar lagi mau melahirkan, bukan cuman itu, tapi putingnya juga tambah besar, sayang,"

"Mas perhatiin sampai segitu detailnya?"

"Kan tiap hari dipegang, jadi Mas tahu,"

"Mulai deh mulai,"

"Hehehe, bercanda

sayang. Ya udah nggak usah pakai lagi, ukurannya kan sama semua. Tadi

saya beliin kamu dengan ukuran yang lebih besar malah. Mama yang

nyaranin, tapi menurut saya nggak usah pakai. Panas banget kan? Kamu

lagi kurang sehat gini jadi nggak usah pakai bra segala. Yang ada malah

sumpek,"

"Mas aneh-aneh aja, tapi makasih banyak ya udah mau tetap di sini buat nemenin,"

"Sama-sama, yang penting

nanti mau nambah lagi, nggak cuman satu anak kita, kalau bisa sih tiga

atau empat, nggak enak tahu punya saudara cuman satu,"

"Satu aja aku takut, Mas,"

"Tapi buatnya yang enak, kamu juga suka kan?"

"Nggak tahu tuh,"

"Yang bener?"

"Nggak enak, Mas. Sama sekali nggak,"

Azka tersenyum jahil dan langsung menciumi dada istrinya dan meremasnya. Ia tak peduli Nagita mendorong tubuhnya.

"Aaaah, Mas. Udah, aku cuman bercanda!" ia menggigit ** Nagita yang terlihat menggemaskan.

"Masih mau bilang nggak?"

"Bercanda, Mas."

Azka tersenyum dan beranjak ke lamari pakaian dan memilihkan istrinya baju.

"Sayang pakai dulu!"

"Pakaiin!"

"Sekali manja sekali main, lho,"

"Nggak jadi, sini. Aku pakai sendiri," raut wajah kesal Nagita membuat Azka tertawa kegirangan melihat ekspresi itu.

Ia pun memakaikan pakaian yang lebih longgar kepada istrinya,

"Mama sebentar lagi pasti masuk,"

"Ya udah sana Mas buka kunci pintunya!"

"Cium dulu!"

"Kan lagi sakit, pahit tahu nggak,"

"Sayang kan sama saya?"

"Banget,"

"Kalau begitu jangan pernah pergi dari sisi saya, sayang,"

"Mas yang jangan pergi. Apalagi bentar lagi jadi papa,"

"Bukan Papa honey, tapi Daddy, oke!"

"Apa bedanya sih?"

"Biar terlihat lebih muda,"

"Bapak kalau gitu,"

"No Mommy, nggak mau,"

Nagita terkekeh saat Azka menutup telinganya. Mereka pun bercanda seperti biasanya di kamar.

"Kamu lucu, Mas,"

"Kenapa lucu?"

"Kamu menggemaskan kalau kesal,"

"Kamu nyebelin kalau sakit,"

"Kok nyebelin?"

"Saya harus merelakan jatah saya,"

"Mesum, ih,"

"Lagian mesumnya sama istri, nggak masalah tuh, makanya Mommy buruan sembuh dong, kangen tahu,"

"Sabar ya sayang, nanti kalau sembuh pasti dapat lagi kok,"

"Harus. Karena setelah melahirkan, saya akan puasa lama banget nggak nyentuh kamu,"

"Kan masih bisa, ciuman misalnya," Nagita menyentuh pipi Azka dengan lembut.

"Nggak mau. Cuman itu doang, nggak asyik,"

"Terus maunya?"

"Nambah dedek,"

"Kamu itu lho, Mas. Ada aja yang kamu bilang,"

"Hehehe, biar cepat sembuh. Hmm, demamnya turun?" Azka menempelkan dahinya dengan dahi Nagita.

"Agak membaik sedikit, Mas. Nggak kayak tadi,"

"Lekas sembuh sayang.

Kalau saya tahu kita nikah itu asyik gini, pasti nggak bakalan saya

sia-siain masa kehamilan yang kamu jalani sendirian dulu di apartemen,

hm ngomong-ngomong tadi Mama minta izin buat ngajak kamu ke mall.

Katanya beli perlengkapan bayi sama Naura,"

"Kak Naura juga bilang gitu tadi, eh kan kita sudah beli wkatu itu?"

"Nggak Mommy semua yang bersangkutan dengan masa lalu sudah saya singkirkan. Semua

harus baru, saya nggak mau ingat dengan yang dulu lagi, sudah cukup.

Bahkan saya tahu kamu nggak mau pulang ke apartemen. Meski beberapa kali

saya rayu, kamu tetap nggak mau. Mommy, hidup saya. Nggak boleh

terluka lagi. Tujuan kita menikah sekarang nggak lagi perihal tanggung

jawab semata, tapi karena saya ingin membangun rumah tangga yang

sebenar-benarnya sama Mommy, jangan lagi bepikir saya akan cari

perempuan lain. Perempuan di depan saya saat ini adalah bunga terbaik

hidup saya, tahu kan, kadang saya berpikir bagaimana susahnya jadi kamu

menghadapi saya yang dulu, saya sedih kalau ingat kelakuan saya dulu.

Lupa kalau saya punya istri, lupa kalau saya akan jadi orang tua, istri

saya hamil di rumah, saya pergi sama perempuan hanya untuk

bersenang-senang. Istri saya nungguin di rumah, saya nggak peduli. Saya

pengin banget buat kamu bahagia, kamu tanggung jawab saya, bukan Dimas

lagi. Apa pun keadaannya saya akan tetap menemani, sekalipun kamu nggak

cantik seperti sekarang, saya akan tetap cinta. Biarpun rambut kamu

memutih, saya akan menua sama kamu. Sampai saya sudah tidak ada lagi di

dunia ini,"

"Mas, kamu buat aku takut,"

"Saya akan tetap bahagiain kamu, bagaimanapun caranya. Mengawasi tumbuh kembang si kecil nantinya, jadi Mommy dan istri pertama dan terakhir saya. Kalau saya pergi bekerja dan nggak

pulang, jangan khawatir, saya akan tetap pulang hanya untuk kamu, untuk

anak kita, untuk keluarga kecil kita,"

Nagita terisak dan

memeluknya, sama seperti Azka yang tidak bisa membendung lagi rasa

bahagianya selama ini yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia hanya

bersenang-senang dengan wanita. Tak peduli dengan kebahagiaan untuk

menikah, memiliki keluarga. Yang ada dipikirannya adalah

bersenang-senang. Menghamburkan uangnya, namun semuanya telah berbeda

semenjak Tuhan menghukumnya dengan suatu kejadian yang memang tak pernah

diharapkan. Tetapi semua itu adalah rencana terbaik Tuhan

mempertemukannya dengan kebahagiaan yang hingga kini membuatnya masih

tak percaya.

"Gita kenapa nangis? Hm?"

"Terharu,"

"Heeh, kenapa bisa begitu?"

"Mas selalu sabar hadapi sikap kekanakan aku,"

"Nggak sayang. Tapi kamu yang sabar hadapi sikap, Mas,"

"Tapi aku bahagia, Mas,"

"Setelah sembuh janji

pulang ke rumah, Mas! Kita ketemu Papa, minta restu. Kita juga akan ke

makan orang tua kamu, minta kamu sama mereka. Kita bawa semua keluarga,

sayang,"

"Mas, gini aja aku sudah bahagia,"

"Tapi bagaimana pun juga

saya mau melakukan itu. Bahkan setelah kamu melahirkan, saya pengin

ngadain resepsi untuk pernikahan kita. Umumin ke semua orang bahwa kamu

istri saya, istri dari seorang Azka,"

"Apa pun yang mau kamu

lakukan, aku dukung, Mas. Kecuali jika itu buat hati aku sakit, aku

nggak bakalan dukung kamu satu langkah pun,"

Azka melepaskan

pelukannya dan memegang kepala Nagita. Ia menciumi bibir Nagita, tak

terasa air matanya pun meleleh. Ia pun juga merasakan air mata Nagita

meleleh di pipinya, tautan bibir mereka terlepas saaat seseorang

mengetuk pintu yang ia yakini adalah mamanya.

"Kamu nangis, Mas?"

"Saya bahagia. Saya nangis karena saya merasa bodoh pernah nyia-nyiain kamu,"

Azka mengusap air

matanya dan air mata Nagita dan berlalu membuka pintu. Ia duduk di sofa

sambil memainkan ponselnya untuk mengalihkan pandangannya. Mereka berdua

saling membuang muka seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Mama yang mendekat ke arah Nagita. sementara Naura duduk di samping Azka.

Ia terus memainkan ponselnya dan membelakangi ketiga orang tersebut.

Diam-diam mama memperhatikan gelagat mereka berdua yang seperti habis menangis dan saling mengabaikan.

"Kalian habis berantem?"

Azka dan Nagita menggeleng. Mereka tak menjawab apa pun.

"Yang benar?"

"Iya, Ma. Nggak ada yang berantem kok, aku keluar dulu." Azka menghindari ketiga perempuan yang ada di kamarnya.

Nagita yang melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu merasa sedikit lega dengan perkataan Azka.

"Azka kenapa? Dia nangis? Dia selama ini nggak pernah nangis, lho. Kalian bertengkar?"

"Nggak, Ma."

"Kamu jug kelihatannya abis nangis,"

"Nggak, Ma. Kami nggak bertengkar, Mas Azka lagi bad mood,"

"Kenapa bisa?"

"Mas Azka bilang pengin ngadain resepsi setelah aku melahirkan, Ma,"

"Bagus dong, tapi kenapa dia sampai nangis gitu?"

"Dia bahagia, Ma."

"Nagita jangan bohong

sama, Mama! Jangan pernah sembunyikan apa pun dari Mama, jika memang ada

sesuatu, Mama mau kamu jujur. Kalau Azka keterlaluan, Nagita bilang!"

"Percaya sama aku, Ma. dia itu baik, bertanggung jawab. Bahkan selama menikah Mas Azka nggak pernah ngecewain."

Mama Azka tahu bahwa

Nagita berbohong. Selama ini ia tahu bahwa putranya pernah tidak peduli

dengan Nagita. namun perempuan itu berbohong dan menyembunyikan

kesalahan Azka selama ini.

"Setelah sembuh, jangan lupa pulang! Mama pengin kamu tinggal di rumah untuk sementara waktu. Mama pengin rawat kamu,"

"Iya Ma, nanti kalau sudah sembuh pasti kami akan ke sana,"

"Sayang sama anak Mama?"

"Sayang, Ma. Calon anak aku juga sayang sama Daddy-nya, Ma." jawab Nagita sambil tersenyum.

"Tahu dari mana, coba?"

"Setiap kali Mas Azka pegang, dia bergerak, Ma."

"Semoga nanti kamu jadi ibu sekaligus istri terbaik untuk anak mama ya, sayang,"

"Aamiin, Ma,"

"Jadi ibu muda, tapi

tetap nikmati sayang! Mama akan sering berkunjung nantinya, sekarang

kamu makan dulu, terus minum obat! Mama pergi dulu ada yang mau Mama

bicarakan sama suami kamu,"

"Terima kasih banyak Ma."

ia sungguh bersyukur

mendapatkan mertua sebaik mamanya Azka. Bahkan Naura di sana setia

menemaninya selama makan. Keluarga yang terasa sempurna baginya.

"Ma, Pa, lihat kan!

Sekarang Nagita punya keluarga baru, Mama sama Papa jangan khawatir lagi

soal hidup Nagita seperti dulu. Gita punya Mas Azka, sebentar lagi jadi

seorang ibu. Punya Kak Dimas, orang yang selalu sayang sama Gita. punya

mertua yang baik, punya ipar yang baik juga, Ma, Pa, Nagita rindu sama

kalian. Harusnya kalian saksikan ini." gumamnya dalam hati. Tak terasa

air matanya menetes lagi jika itu membahas kedua orang tuanya. Tak ada

kebahagiaan yang sempurna di dunia ini. Pada dasarnya kita saling

membutuhkan di dunia ini untuk menciptakan suatu kebahagiaan. Tak ada

manusia yang tak butuh dengan manusia lainnya. Yang ada hanyalah manusia

yang menuhankan dirinya sendiri dan beranggapan apa yang ada di dunia

ini hal yang begitu mudah di dapatkan. Namun suatu hal yang paling

berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang. Yaitu, ketulusan kasih

sayang keluarga.

1
Nuri Maulidia
kepraaaaat
Nuri Maulidia
pst krj dtmpt bos ny dulu
elly tedy
ceritanya bagus Thor.....ada pelajaran distiap perbuatan dan ada waktu yg harus kamu lewati krna kesalahannya
Mayora
ih, Azka ga asik banget,,pandai ya dia bersandiwara dengan sangat rapi...rupanya si Azka yang masih labil
Sinar aurora
sumpah aku jadi korban novelmu thor.. aku uda 3 kali baca tapi knap masih mewek aja sihhh.. emnag sekejam itu ya si azkaaa
Tini Patini
Thor c Azka nya di bikin lmpoten ajah.biar kapok deh biar gak bangun lagi walau c deana cantik burungnya lemes gak mau bangun biar tau rasa!
Zuraida Zuraida
durjana banget tu laki, semoga gita cepat tahu akal bulus tu kamprer
Zuraida Zuraida
laki laknat kabur na
pak rt
👍
Tutik Yunia
Reynand yang lebay
Yuniar
ibu & kakak tiri Bintang kemana ya..?
Tutik Yunia
tidur pakai masker apa nggak sesak nafas
Tutik Yunia
mungkin waktu mau ketemu Reynand kecelakaan terus hilang ingatan
Tutik Yunia
ceritanya paling sama dgn Azka. setelah nikah datanglah bintang & Rey selingkuh dengan bintang cinta pertamanya. seperti Azka dgn ibunya shakila.
Yuniar
Ceritanya bagus untuk pendidikan orang tua dan anak-anak
Yuniar
Azka kan pawang cinta
Tutik Yunia
bagaimana keadaan Teddy dgn selingkuhannya. Semoga tidak harmonis
Tutik Yunia
ceritanya bener-bener seperti kehidupan nyata
Tutik Yunia
Tahu kalau cinta Nagita buat Azka, dia jadi besar kepala & mempermainkan Nagita.
Tutik Yunia
ini memang terbaik, cerai saja daripada makan hati. ceritanya bagus Thor sesuai kehidupan dalam rumah tangga. Nggak mungkin laki2 kaya hidup dgn satu wanita saja. Pasti banyak selingkuhannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!