Sekuel dari 'Menikah Muda Denganmu' sebelumnya. Klik profil jika ingin membaca cerita yang pertama!
Sofia Putri Anggara, gadis berisik yang penuh ide gila di kepalanya. Gadis muda berusia 19 tahun ini harus extra keras meluluhkan hati seorang
duda tampan dan kaya raya bernama Dilan Danuarta.
Duda yang memiliki sikap dingin, tegas dan tak suka dibantah.
Karena sebuah surat peninggalan adik kesayangannya, Dilan terpaksa harus menikah dengan Sofia gadis pilihan sang adik yang sudah meninggal.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara gadis sembilan belas tahun dan pria beranak satu ini?
Usia yang terpaut dua belas tahun dan sikap yang bertolak belakang.
Sofia
"Abang akan jatuh cinta sama Sofi!"
Dilan
"Dalam mimpi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama sebelum pernikahan
Hari yang di tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Hari bahagia bagi pasangan yang hendak menuju halal.
Sofia sudah berubah menjadi ratu dalam sekejab. Dengan dandanan natural, dan kebaya modern berwarna putih.
Aura kebahagiaan terpancar dari wajah cantik gadis itu. Semua keluarganya sudah berkumpul di salah satu kamar hotel milik calon suaminya.
Gracia dan Ghaisan juga hadir di sana, Kakak dan kakak iparnya itu, langsung pulang setelah mendapat kabar pernikahan adiknya Sofia.
Walaupun Ghaisan masih menggunakan tongkat untuk berjalan. Tapi lelaki itu memaksa hadir di hari bahagia adik satu-satunya.
Suasana yang sangat hangat dan bahagia. Raya dan Rafa tak henti-hentinya menitikan airmata bahagia. Rasa bahagia karena kedua anaknya sudah memiliki tanggung jawab baru sekarang. Sebagai orang tua, mereka hanya berdoa demi kebahagiaan anaknya.
"Kamu cantik banget Sof." Pujian di berikan Gracia pada adik iparnya.
"Makasih kakak ipar rasa teman." Balas Sofia.
"Kakak gak nyangka ternyata jodoh kamu si Dilan. Kakak awalnya gak percaya loh, waktu Mami bilang kamu mau nikah sama Dilan."
"Ciih ... Kakak ngeremehin Sofi, Sofi kan udah bilang. Abang Dilan itu jodohnya Sofia. Kalian sih pada gak percaya," sombong Sofia.
"Iya-iya sekarang kakak percaya kok, mungkin Dilan lagi khilaf atau pelet kamu terlalu kuat hahaha ...." Ledek Ghaisan.
"Enak aja. Sofi sama Abang Dilan itu, jodoh dari langit kak. Pertama kali Sofia ketemu Abang, hati Sofia udah bergetar dan Sofi yakin inilah jodoh Sofia," ucap Sofia melankolis.
"Ah, lebay ...." Ketus Ghaisan.
"Kalian ribut banget, mending sekarang kita siap-siap! acaranya bentar lagi di mulai kan?
Oh ya, Dilan mana?" tanya Raya.
"Paling lagi sama Mas Boy di kamar sebelah mi," kata Sofia sambil ber-selfie ria dengan kakak ipar nya.
* * *
Sementara di dalam kamar sebelah, Dilan tampak gusar. Seseorang meletakkan amplop berwarna coklat di dalam kamarnya.
Tentu saja ia tau siapa itu.
James meletakkan hasil tes DNA ia dan Lano di kamar Dilan.
Dia juga ternyata sudah membawa Lano pergi. James meninggalkan sepucuk surat pada Dilan, bahwa ia ingin mengambil kembali anaknya.
BRAAKK ... Dilan menggebrak meja, ia menjambak rambutnya frustasi.
Bagaimana dia? Kenapa bisa dia? Apa yang sebenarnya terjadi?
Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Apa yang harus saya lakukan Boy?"
"Anda tenang dulu Tuan! orang-orang saya sudah mencari keberadaan James. Anda hanya perlu fokus pada pernikahan Anda."
Boy berkata dengan santai.
"Bagaimana saya bisa menikah jika Lano dalam bahaya Boy? Bagaimana bila terjadi apa-apa pada Lano?" Dilan semakin gelisah.
Kita harus menemukan James dan Lano Boy, ayo Boy kita pergi!" Dilan tak dapat berpikir jernih. Yang ada di otaknya hanya Lano.
Walaupun ia masih sangat syok dengan hasil tes DNA itu, tapi hati Dilan tak bisa berpaling dari Lano.
"Kami akan mencari Tuan muda Lano Tuan, Anda sebaiknya segera turun. Acara akan dimulai sebentar lagi." Boy pergi meninggalkan Dilan dan bergegas menelpon orang suruhannya.
Dilan benar-benar tak bisa memikirkan apapun lagi selain menemukan Lano kembali.
Penampilannya yang semula sudah rapi dengan stelan jas berwarna putih, kini nampak sedikit berantakan.
Dengan tergesa-gesa ia keluar dari kamar dan pergi ke kamar Sofia dan keluarganya.
Dilan membuka pintu dengan keras, ia langsung menghampiri Sofia dan keluarganya, dengan tubuh yang bergetar dan bibir sedikit pucat.
"Abang kenapa? Kok jadi gini?" Tanya Sofia.
Ghaisan, Gracia, Raya dan Rafa juga kakek-neneknya tampak aneh melihat ekspresi Dilan.
"Lano ... Lan ... Lano," kata Dilan terbata.
Sofia menggenggam tangan Dilan. " Tarik nafas dulu kak, katakan Lano kenapa?"
"James menculik Lano." Jawab Dilan.
"APA?" Semua yang ada di dalam ruangan terkejut berjamaah.
Hening sesaat dan dalam hitungan detik kepanikan terjadi lagi.
"Kenapa james menculik Lano? Mas Boy dimana?" Sofia tak kalah panik.
"Ceritanya panjang, saya sekarang cuma mau minta izin untuk mencari Lano. Saya tidak bisa fokus melanjutkan pernikahan ini jika belum menemukan Lano."
"Tapi acara pernikahannya setengah jam lagi, gimana kalo dalam setengah jam Lano juga gak di temukan. Gak mungkin kan acaranya di batalin? Tamu-tamu juga sudah mulai dateng." Raya menimpali.
"Tapi Dilan juga gak bakalan fokus kalo Lano belum tau keberadaannya yank." Rafa melanjutkan.
Semua orang terdiam. Mereka tidak tau harus memilih apa. Pernikahan tetap berlanjut tanpa Lano, atau mencari Lano terlebih dahulu.
"Abang mendingan cari Lano aja dulu, kita bisa mundurin waktu pernikahan. Nanti Sofi akan bilang ke semua tamu kalo acaranya di tunda dulu." Sofia tersenyum tipis. Ini pilihan sulit, tapi ia harus berbesar hati.
Tok ... Tok ... Tok. Suara ketokan pintu dari luar kamar.
"Tuan ini saya Boy."
"Masuk saja Boy!"
Boy masuk ke dalam kamar, setelah tadi menelpon orang suruhannya.
"Tuan Muda dan James sudah di temukan Tuan. James membawa Tuan muda ke penginapan dan berencana akan membawa Tuan Muda ke kampung halamannya, dua jam lagi. Mereka sudah memesan tiket naik bus untuk dua orang."
"Berani sekali James melakukan itu. Ayo Boy, saya ingin sekali melenyapkan Pria kurang ajar itu."
"Saya yang akan membawa Tuan Muda Tuan, bukankah acara pernikahan akan dimulai?"
"Tidak apa-apa Mas Boy, biar Abang ikut aja, Sofia dan keluarga akan menunggu dan mengurus sisanya."
"Tapi Nona?"
"Percaya sama Sofi, kalian hati-hati dan bawa Lano kembali dengan selamat."
"Baiklah Nona, ini tidak akan lama. Nanti orang-orang saya sebagian akan membantu Anda. Kami akan segera kembali." Boy meyakinkan semua orang yang tampak masih panik dan tidak percaya.
Setelah itu, Boy dan Dilan bergegas keluar dari hotel. Mereka menaiki mobil sport hitam dan pergi dari hotel. Membelah jalanan kota yang sedikit padat.
Dua mobil berwarna hitam yang di naiki orang suruhan Boy juga mengikuti mereka dari belakang.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Dilan mengkhawatirkan keadaan Lano.
"Anda tenang saja Tuan. James tidak akan menyakiti Lano. Percaya saja, laki-laki itu terlalu bodoh dan berhati lembek." Sinis Boy.
"Kenapa ini bisa terjadi Boy? Kenapa harus Lano? Lalu siapa sebenarnya James?"
Dilan benar-benar lupa bahwa ia sebenarnya akan menikah hari ini.
Yang ada di pikiran hanya ingin menemukan Lano segera.
Tiba-tiba saja mobil mereka terhenti. Terjadi kecelakaan di depan jalan. Dan semua kendaraan tak bisa lewat untuk sementara.
"Astaga .... Apalagi ini Boy?"
"Kita tidak bisa lewat Tuan, ada kecelakaan di depan. Sebaiknya kita putar arah."
"Apa?" Dilan semakin frustasi. Ia sadar jika putar arah maka akan semakin lama.
"Apa kita naik motor saja Tuan? Kita bisa lebih cepat jika lewat perkampungan." Ide gila muncul di kepala Boy.
"Motor?" Dilan tak mampu berkata-kata. Karena Dilan belum pernah naik kendaraan roda dua itu.
Boy keluar dari mobil, ia menghampiri pangkalan ojek yang ada di pinggir jalan.
"Saya bayar 10 juta untuk satu motor kalian, besok akan saya kembalikan," ucap Boy pada tukang ojek yang sedang mangkal.
Seketika raut wajah kang ojek berubah pias. Antara percaya dan tidak percaya.
Bersambung ....
* * *
Mau dong jadi tukang ojeknya, belum tentu loh sehari dapet 10 jeti kalau narik orang hahahaha ... Sultan mah bebas ya, biarkan Mas Boy sombong. Othor cuma geleng-geleng saja, merasa jiwa misqueen othor bertalu-talu wkwkwk ...
Like, like n vote ya😉