Follow dulu sebelum baca
- up seharian - hari kecuali Sabtu
- up mood g bias nggak di up
Hanya mengisahkan seorang gadis kecil berumur 10 tahun yang begitu mengharapkan kasih sayang seorang Ayah. Satu satunya keluarga yang ia miliki di dunia.
Tapi bukannya sebuah kasih sayang yang ia dapatkan melainkan kekerasan yang ia sering dapatkan dari sang Ayah, tak membuat tekednya luntur karena hati kecilnya selalu yakin bahwa Ayahnya pasti akan menyayanginya suatu saat nanti.
Meski mental dan fisiknya sudah hancur ia terus menghujani sang Ayah dengan kasih sayangnya.
Sampai dimana satu kejadian menimpanya tepat di hari ulang tahun Ayahnya ia meninggal.
bagaimana kisah selanjutnya? ayo ikut kisah ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Lane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: FAMLIY POSSSESSIV ⋆ ˚。⋆୨ ୧⋆ ˚。⋆
𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝒓𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 !!,
...----------------...
Mobil hitam bergaya klasik berhenti tepat di depan gerbang kediaman Dirgantara
para penjaga yang sudah di tugaskan Agasta tidak berniat untuk membuka gerbang meski mereka tau kedatangan tamu, jika tidak ada jadwal pertemuan maka pintu gerbang akan senantiasa di tutup.
Seseorang yang berada di dalamnya merasa geram, mana mungkin mereka tidak tau siapa orang di dalamnya apa mereka semua lupa, bunyi klakson mobil menjadi satu satunya pilihan agar gerbang mobil terbuka.
Sedangkan penjaga yang menjaga gerbang memilih mengabaikan, menunggu seseorang itu menurunkan kaca mobilnya terlebih dulu untuk berjaga jaga.
Tepat sesuai dugaan mereka kaca mobil turun terlihatlah seorang pria anak muda dengan luka di wajahnya.
Sontak mereka langsung menunduk mengenali seseorang di dalam sana.
biasanya tuan besarnya itu menggunakan mobil klasik baru kali ini mereka melihatnya, apa mungkin koleksi baru pria muda itu.
"buka gerbangnya!, apa yang kalian tunggu silan!" ucapnya geram di buat menunggu.
Para penjaga menatap takut takut kemarahan pria tua itu, salah satu dari mereka menjawab dengan suara yang terdengar gemetar
" Ma-maaf tuan anda tidak di izinkan masuk oleh tuan Agasta kami hanya melaksanakan perintah" ucapnya menunduk.
Ricard tersenyum dengan maksud lain"Tuan muda aku atau Agasta?" ucapnya, pemilik Mansion tetaplah dirinya jika putranya lupa apakah ia harus mengingatkannya.
Tak bisa menjawab seakan lidah mereka kelu atas pertanyaan yang di layangkan Ricard.
Tak bisa menjawab seakan lidah mereka kelu atas pertanyaan yang di layangkan Ricard.
Bagi mereka keduanya tuan mereka tapi jika di bandingkan maka Ricard lah pemenangnya.
"Buka Gerbangnya!" ucapnya menutup kaca mobil.
Pintu gerbang terbuka.
...----------------...
"Sekarang sudah di olesi salep luka baby terlihat mulai memudar meski masih terlihat samar samar, setidaknya tidak parah seperti awal kita lihat"ucap Aidan kepada kedua Abangnya yang belum nampak yakin tengah memeriksa.
Ketiganya tidur di kamar Anya yang sudah Agasta siapkan, tapi bukan berarti putrinya tidur di kamarnya sendiri. Agasta mempersiapkan hanya sebagai penghias untuk nanti jika putrinya beranjak dewasa.
Agasta sudah memikirkannya matang matang sampai usia putrinya menginjak tujuh tahun baru Agasta menginginkan si mungil tidur di kamarnya sendiri.
Pria itu tidak terlalu khawatir letak kamar Anya tidak jauh darinya lebih tepatnya di samping kamarnya, sedangkan ketiga putranya berada di lantai tiga dan hal itu. menguntungkan bagi Agasta.
Hari ini pagi pagi sekali Agasta sudah pergi untuk mengurus berkas yang sudah di siapkan sedari malam lewat kuasa hukumnya mengenai hak asuh putrinya, bahkan semalam putrinya di asuh oleh ketiga putranya.
Sebelum pergi Agasta sempat mengecup kedua pipi putrinya yang nampak mulai terlihat semakin berisi.
Si mungil nampak terusik dari tidurnya, tanganya yang tengah di periksa Alaska mengepal di telapak tangan yang telihat berbeda jauh dengan miliknya
menghadirkan senyuman ketiga pria remaja itu di wajah kakunya, mulut kecilnya menguap dengan mata setengah terbuka yang di hadiahi sebuah kecupan yang ia terima di pipi dan juga kedua tangannya.
"shuut tidur lagi sayang maaf Abang menggagu tidurmu"ucap Alaska segera mengusap pelan surai adiknya yang nampak
menggemaskan bahkan di saat tertidur. Jujur saja semalam mereka lelah dengan ke aktifan adiknya dari menemani bermain berlari, petak umpat, bernyanyi, melukis, bermain boneka, mengacak-acak tempat tidur.
Dan akhirnya si mungil tidur larut malam membuat mereka benar benar lelah harus membereskan apa yang sudah di acak.Nampak hal yang di lakukan Alaska sia sia mata bulat itu terbuka dengan netra coklatnya yang berbinar, Alaska
menggapai tubuh mungil itu untuk ia gendong di pangkuannya ketika ke dua tangan si mungil merentang, bahkan sekarang pipi bulat itu menyender di bahu Alska.
Aidan hanya bisa mendengus ia pun ingin menggedong tubuh gempal itu, begitupun dengan Xander.
"ya sudah karena baby sudah bangun. kita berjemur di pagi hari bagus untuk kesehatan princess, bagaimana?" usul Xander.
"kalian tidak berangkat bekerja?" saut Aidan, kedua Abangnya seharusnya sudah pergi tapi mengapa mereka masih belum bersiap siap.
Alaska menepuk nepuk pelan punggung Anya agar si mungil Anteng."Ada sekertaris yang gantikan untuk sementara begitupun dengan Xander. Lagipun kami bisa menghandle pekerjaan dari rumah"
"jika kami menitipkan si mungil hanya padamu aku tidak yakin" tambah Xander dengan tangan mengetik membalas pesan yang masuk dari sekertarisnya.
Xander turun terlebih dulu dari bed kasur, ketika abangnya Alaska beranjak pergi begitupun dengan Aidan yamg mengikuti dengan dumelannya itu.
"emang gue kenapa?!"
Tidak sesuai dengan apa yang di rencanakan mereka semua berkumpul di kolam renang.
Anya duduk di pinggir kolam renang di jaga oleh ketiga Abangnya yang berada di sekitarnya.
Kaki pendeknya ia masukkan kedalam air menggerakkannya secara acak hingga menimbulkan cipratan air mengenai wajah Alaska.
Di susul suara cempreng Teo menyapa telinganya.
"belicik!" teriak si mungil yang merasa terganggu.
"cualanya mbang Teo buat telinga Anya bunyi nging~" ucap si mungil protes dengan wajah tertekuk yang membuatnya terlihat berkali lipat menggemaskan
...----------------...
Keluar dari persidangan dengan wajah Angkuhnya Agasta menatap sepasang pasutri itu tajam, Zegran dan juga Elisa.
Elisa menghampiri Agasta dengan wajah yang terlihat begitu terpukul linangan air mata begitu jelas membasahi wajah wanita itu.
Agasta tidak berniat untuk meladeni saat pintu mobil sudah di buka oleh bodyguardnya bersiap untuk masuk.
Tangannya terlebih dulu di gapai dengan tangisan yang memasuki pendegarannya, membuat Agasta mau tak mau menoleh.
"Tuan, ku mohon bantu kami hiks putraku membutuhkan Anya----"
Agasta geram saat ia mengetahui Alasan keluarga Dinantara mengadopsi putrinya, hanya untuk putra semata wayangnya yang terpuruk karena kehilangan putri satu satunya saat insidental kecelakaan,
Apa lagi saat ini putranya mengalami ganguan mental bagiamana bisa? pria tua itu menyetujui hak asuh putrinya jatuh begitu saja. Putrinya bukan pengganti mereka hanya ingin memafaatkan Anya untuk kepentingan mereka sendiri.
Tangisan Elisa hanya membuat pria berstatus empat anak itu menatapnya tajam tanpa ada rasa belas kasih
" Aku sudah cukup membuang waktuku di sini nyonya, hak asuh sudah jatuh ditanganku jadi berhenti menggangu. Putriku adalah milikku, milik keluarga Dirgantara kau tidak akan pernah bisa mengambilnya. Dan untuk putramu aku turut berduka cita atas kematian putrinya, Aku hanya bisa memberimu saran lebih baik kalian mengadopsi anak lain di panti asuhan. Jika kelurga kalian masih mengusik kelurgaku maka tidak ada pilihan lain selain aku membunuh putramu!" Ancam Agasta tanpa peduli reaksi lawan bicaranya, memasuki mobil miliknya yang sempat tertunda.
Zegran menghampiri Elisa memeluknya"Hiks bagaimana ini, suamiku dia tidak ingin memberikan Anya......"
Zegran memejamkan matanya semakin memeluk istrinya erat, ia bingung harus apa sekarang. la sempat menemui Ricard namun aneh nya orang itu mengembalikan perusahaan yang sempat mereka sepakati tanpa banyak bicara menyerahkan kembali miliknya.
"Tuan Zegran aku mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu dan aku memgambil kembali apa yang sudah menjadi milikku"
Zegran sempat bingung atas perkataanya namun beberapa detik setelahnya ia paham apa yang tengah di maksud Ricard, miliknya yang di maksud adalah Anya.
Zegran merasa di permainkan disini, dengan mudahnya memberi harapan lalu seenaknya membatalkan perjanjian, awalnya ia menerima tapi tidak untuk sekarang.
"Aku tidak bisa menerima semua ini Tuan Agasta kau harus menerima sakit apa yang keluargaku alami atas tindakan mu ini" batin Zegran.
...----------------...
Si mungil tertawa riang dengan baju basahnya, pipinya yang gembul bahkan ikut bergoyang, kaki pendeknya dengan lincah mencoba berlari dari kejaran Abang kecilnya itu Teo.
Devano ikut mengejar takut jika boneka cantiknya terluka langkahnya sengaja ia samakan dengan si mungil yang berbanding dengan Teo yang memperlambat larinya hanya karena, tidak ingin tawa itu terhenti.
"sudah princess berhenti yuk! lelah tidak? Bang ano mulai lelah" ucap Devano yang berhasil menyusul.
Sedangkan di sisi lain Alaska menggeram dengan amarah kemana bocah nakal itu membawa adiknya pergi.
Hanya di tinggal sebentar untuk mengganti pakaian oleh ketiga Abangnya, Aidan menyimpan baju yang ia pilihkan sendiri oleh adiknya sedangkan Xander sudah terlebih dulu di beritahu oleh bodyguard kemana si buntut itu membawa pergi adiknya, ke arah depan Mansion.
"oteh, Anya belhenti belali jika mbang cudah lelah" ucap si mungil yang lansung terduduk berkesenian.
Devano di buat tersenyum oleh tingkahnya" jangan di sini kotor nanti jika ada mobil yang masuk, princess tertabrak" peringat Devano.
"mbim--" ucap si mungil terhenti bertepatan kedatangan mobil seseorang.
...----------------...
Yang kemarin sebagian gak sengaja kehapus, lupa lagi nyampe mana jadi di ulang deh yang nyisa 🤐
...500 vote + 100 spam nexnya...
...Votenya ❤️...
...See you nex time 👋🏻...
.
izin mampir ya Thor 🙏