Karin Emira Brisia adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang ceria. Namun di malam itu, hidupnya hancur seketika saat bertemu dengan CEO yang dingin.
CEO itu menyeretnya ke sebuah kamar dan mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Akhirnya, Karin di usir dari rumahnya sendiri dan melakukan kawin kontrak.
Ig : @reinata_r
Untuk readers tersayang
Jangan lupa boom like dan vote nya yah, dan masukkan ke list favorite kalian. Selalu beri dukungan buat author yah...
Gomawo chingu 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Manis
Happy reading guys°°°°🐣
Marcel duduk di tepi ranjang, kemudian merenggut bubur Karin yang masih teronggok di mejanya. Ia menyendoki bubur itu, meniupnya sebentar dan menyodorkannya ke depan mulut Karin yang masih terkunci rapat.
" Apa yang kamu lakukan? " Tanya Karin heran melihat sikap Marcel yang berubah hangat kali ini.
" Aku sudah berbaik hati menyuapimu, kau ingin menolak? " Tanya Marcel dengan nada mengancam.
Dengan terpaksa Karin mulai membuka mulutnya, melahap makanan yang sudah di sodorkan padanya hingga tak menyisakan sedikitpun bubur dalam mangkuknya.
" Sudah kenyang? "
Karin mengangguk ringan.
" Apa perutmu terbuat dari karet hingga bisa menghabiskan bubur satu mangkok besar ini? " Ucap Marcel sembari meletakkan mangkok kosong itu di meja tempat asalnya.
Karin sontak memanyunkan bibirnya hingga beberapa centi, membuat Marcel mengulas senyumnya melihat tingkah kekanakan Karin.
Tiba-tiba.....
Ctaaakkk
Marcel menyentil kening Karin, membuat Karin mengerang kesakitan.
Awwww....
" Apa yang kamu lakukan, sakit tau.... " Protes Karin sembari mengelus keningya yang kena sentil Marcel.
" Ini hukuman karena kamu tidak menyambutku "
Ctakkkk...
Lagi, Marcel menyentilnya setelah tangan Karin sudah tak menghalanginya. Membuat Karin semakin bertiak kesakitan.
Awwwww....
" Sakit, aku sedang sakit tapi kamu tega meyiksaku?... " Karin mengelus keningya lagi, kali ini ia menutupi keningnya lama, tak ingin kena sentil lagi untuk kesekian kalinya.
" Itu karena kamu sangat ceroboh... "
" Mau lagi...? " Tanya Marcel, jemarinya ia todongkan ke depan wajah Karin bersiap dengan aksi sentilannya.
Karin hanya diam mematung, matanya setia memelototi jemari Marcel yang tepat didepannya. Ia tak menyia-nyiakan kesempatannya, otaknya mulai bekerja mencari ide cemerlang.
Awwwww....
Marcel mendengus kesakitan saat jempolnya berhasil masuk ke dalam mulut Karin dan mulai terasa ngilu dengan gigitan yang dilayangkan kepadanya, buru-buru Marcel berusaha melepaskan jempolnya dari mulut Karin sebelum jarinya benar-benar putus nantinya.
" Kau..... " Marcel menggertakkan giginya kesal, membuat Karin hanya menyeringai dengan tangan yang masih setia menutup keningnya.
🍁🍁🍁
Sore itu, Karin yang tubuhnya mulai lengket dengan keringatnya karena belum mandi sejak kemarin, mulai merasa tersiksa. Ingin rasanya segera mengeyahkan keringat itu dengan mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya.
Karin menjulurkan tangannya pada tongkat besi yang ada di samping ranjangnya. Dengan perlahan, ia memaksa menurunkan kakinya yang masih terasa sedikit nyeri dari atas ranjangnya.
Ia sudah menurunkan kedua kakinya hingga menyentuh lantai, hendak membangkitkan tubuhnya dengan tongkat besi yang ia selipkan di lengan atas tangan kanannya.
Ceklek....
Belum sempat ia membangkitkan badannya, pintu kamarnya terbuka. Membuat ia menoleh ke arah pintu itu, ingin menangkap wajah seseorang yang dengan seenaknya menyelonong masuk ke kamarnya.
" Ah, ternyata kamu. Kalau mau masuk tidak bisakah mengetuk dulu? '' Gerutu Karin.
" Kamu sekarang sudah berani mengkritik ku ya... "
Bahkan aku selalu ingin mengkritik mu di setiap detikku.
Karin memilih diam menghiraukan Marcel, segera membangkitkan tubuhnya dengan menopang tubuhnya dengan tongkat yang ia selipkan di lengan atas tangannya.
" Mau kemana... " Tanya Marcel
" Mandi "
Belum sempat ia melangkah, Marcel langsung merenggut tubuhnya hingga membuat tongkat yang dipegangnya jatuh bersandar ranjang. Membuatnya seketika berada di dekapan Marcel yang kini sedang menggendongnya.
" Apa yang kamu lakukan? " Tanya Karin panik, segera menjauhkan wajahnya yang kini hanya berjarak beberapa centi dari wajah Marcel.
" Di sana licin, kalau kamu kepleset lagi kapan kamu akan mengerjakan tugasmu lagi? '' jawab Marcel,
" Dasar egois " pekik Karin dalam hati.
Marcel berlalu menuju kamar mandi dengan Karin yang masih digendongannya. Sesampainya di dalam kamar mandi itu, ia kemudian mendudukkan Karin di closet duduk yang tertutup.
" Apa yang akan dia lakukan sebenarnya sih... " Batin Karin.
Marcel berlalu menuju bathtub yang masih kosong tanpa setetes air pun, kemudian memenuhi bathtub itu dengan air hangat dan beberapa tetes aroma terapi hingga menciptakan busa yang begitu tebal di atasnya.
Ia menghampiri Karin yang masih terduduk di atas closet, kemudian bersiap untuk mengangkatnya lagi, namun tertahan dengan penolakan Karin.
" Aku bisa sendiri "
Karin berusaha beranjak dari duduknya, meski dengan sedikit menjinjitkan kaki kanannya yang masih terasa sakit, akhirnya ia sudah berhasil berdiri sempurna.
" Lihat, berdiri saja kamu tidak bisa "
" Jangan membantah... " Pekik Marcel dengan nada mengancam.
Marcel kembali mengangkat tubuh Karin, kemudian mendudukkannya di sisi bathtub.
" Kamu tidak membuka bajumu? "
" Kamu keluarlah, aku akan membukanya sendiri " Karin menundukkan wajahnya yang merah padam karena malu.
" Baiklah, aku juga tidak tertarik dengan tubuh jelekmu itu... "
Marcel pun meninggalkan Karin seorang diri, membiarkannya bergulat dengan air tanpa ingin mengganggunya.
Berpuluh menit telah berlalu, Karin yang sudah merasakan kesegaran dalam tubuhnya, segera mengusaikan ritual mandinya.
Ia membangkitkan tubuhnya dari bathtub, dengan tertatih ia menyambar jubah mandi yang terletak satu meter dari bathub itu.
Ia berjalan keluar dari kamar mandi, tangan kanannya setia menumpu pada dinding dengan kaki yang menjinjit.
Ceklek....
Marcel yang masih bersarang di kamar Karin terlonjak kaget karena Karin sudah berada di ambang pintu kamar mandinya, segera ia menyusulnya dengan langkah terburu.
" Kenapa tidak memanggilku? "
" Tidak apa-apa, ini sudah mendingan " Jawab Karin.
Marcel merampas tangan kanan Karin, kemudian mengalungkannya ke leher miliknya. Dengan sedikit menundukkan tubuhnya yang terlampau tinggi dari Karin, ia mulai memapah Karin sampai ke ranjangnya.
Karin pun sudah duduk manis di tepi ranjangnya dengan balutan jubah mandi yang masih melekat di tubuhnya.
" Ya sudah, pakai bajumu. Aku keluar... "
Marcel menunjuk satu stel pakaian yang sudah ia siapkannya saat Karin masih sibuk mandi, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
____________
Hi guys....
Dukung author terus yahh
love you....😘
tapi cba penulisan nya jangan kbnyakan nya 🙏🙏🙏