Penyihir
Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.
Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.
Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.
Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.
Kini saatnya untuk memburu penyihir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 –[ Simposium ]–
WAHAI, kalian sudah membaca awal mula kisah kedua pemuda.
Laksana api dan air, bumi dan langit, bulan dan matahari, kedua pemuda ini memiliki jalan yang berlawanan. Sizhu, seorang pemuda remaja yang membara oleh janji. Dan Jianying, seorang pria dewasa yang tenggelam oleh dendam. Keduanya memiliki sebuah benih kesedihan dan kemarahan. Layak merah dan biru tak bisa disatukan. Namun, berubah menjadi resonansi warna nan indah kelak. Seolah Yin dan Yang menjaga keseimbangan.
Aku telah selesai memulai kisah pengenalan kalian. Di dunia sihir yang memiliki simbol kematian, penyihir. Potongan kisah ini akan berubah menjadi kisah ajaib dalam kenyataan. Karena kita tidak ada, dan pencipta sendiri selalu ada. Mulai dari sini, Aku yang akan mengisahkannya pada kalian.
***
23 Maret 2023
"Ha-Halo, namaku Xue. Mo-mohon bimbingannya!" Xue malu-malu membungkuk, ditonton oleh semua penghuni kelas khusus Akademi Sihir. Matanya memejam, tidak berani membuka. Takutnya reaksi mereka tidak sesuai ekspektasi dalam benak Xue.
Jianying mengelus lembut kepala Xue. Perlahan Xue mengangkat kepalanya, membuka satu kelopak mata, senyum seri Mei Mei yang pertama kali dia lihat. Memecahkan ekspektasi berlebihan Xue. Berdiri senang. Ikut tersenyum lebar melihat Mei Mei. Lantas, pandangannya terbang ke seisi kelas. Ashley, Reza tersenyum tipis. Baldur tersenyum lebar (yang malah membuat Xue meneguk ludah, dengan janggut dan rambutnya yang lebat, tersenyum malah terlihat menyeramkan). Anna dan Hana tersenyum lembut. Jason, Kai, Amon datar tak peduli. Beralih pada seorang pemuda di samping Mei Mei, Sizhu ... Dia diam, lebih seperti ... Melamun?
"Ayo Xue, ambil tempat duduk kosong sesukamu." Jianying berkata pelan. Xue mengangguk. Menuju Mei Mei yang heboh memanggil dengan isyarat tangan. Berseru tidak bersuara "Sini, sini." Sembari tersenyum seri-seri.
Xue malu-malu melangkah, mengambil tempat duduk di sebelah Mei Mei. Langsung disambut hangat oleh tetangga duduknya. Menatap Xue penuh minat.
"Namamu Xue? Aku Mei Mei, panggil saja Kak Mei, Dik Xue." Mei Mei memberi uluran tangan. Yang malah dijawab bungkukan oleh Xue. Mei Mei tertawa kecil melihat tingkah imut adik kecil tetangga duduknya itu. Sizhu masih melamun. Raganya di kelas, benaknya entah dimana.
"Aku akan mengambil kendali penuh sebagai pengajar di kelas ini. Sesekali mungkin Professor lain yang mengajar selama aku tidak ada. Jika kalian ada yang keberatan, silahkan pergi." Jianying menyapu ekspresi murid kelas. Tak ada satupun raut keberatan. Sebaliknya, satu-dua berbinar semangat.
"Baiklah, cukup basa-basi pagi. Sekarang buka buku mana & magic. Bab 16 halaman 303."
Murid-murid kelas khusus membuka buku, mengikuti arahan guru mereka. Sizhu masih melamun. Jika kalian ingin tahu apa yang dia lamunkan. Maka lihatlah ke dalam pupil hijaunya. Dia ... Mengingat-ingat sosok ayah, ibu dan kakaknya. Sosok pria pucat yang membunuh seluruh keluarganya. Mimpi itu membuat benaknya penuh tanya.
TAP!
Lamunan Sizhu buyar seketika, Jianying menepuk papan tulis dengan penggaris. Sadar Sizhu tidak memperhatikan pelajaran.
"Kau sedang memikirkan apa, Sizhu?" Suara tegas Jianying terasa menusuk dada Sizhu. Buru-buru menggeleng. Dia terkejut, baru kali ini ada yang berani menyadarkan lamunannya. Jianying menatap Sizhu sebentar, lalu kembali menjelaskan pelajaran.
"Perhatikan. Seperti yang kita ketahui. Setiap manusia memiliki daya esensi hidup yang disebut mana. Mana adalah tenaga untuk mengeluarkan sihir. Bayaran atas pinjaman pada alam. Sihir pun tercipta sesuai bayaran yang kita beri. Karena itu kadang kita melihat seseorang yang merapal sihir tingkat rendah, namun yang keluar bisa sebesar sihir tingkat tinggi. Yang membuatnya berbeda hanya jenis kualitas sihirnya."
Reza mengangkat tangan.
Jianying menunjuknya, "Silahkan."
"Bukankah Professor Ren tidak bisa menggunakan sihir? Lalu bagaimana Professor bisa menggunakan sihir dari kertas jimat? Bukankah kertas jimat itu juga berisi mantra biasa yang butuh mana untuk mengaktifkannya?" Reza bertanya semangat. Itu pertanyaan yang dia siapkan sejak pelajaran tiga Minggu lalu. Meringkas rapal mantra. Atau yang Jianying sebut, Program.
Jianying membenarkan kacamata kotaknya. Tersenyum tipis. "Aku menyukai semangat mu, Reza. Sesuai yang kau katakan. Mengaktifkan mantra jimat memerlukan mana. Namun, catat ini. Tak berbakat sihir bukan berarti tak punya mana. Aku yakin itu sudah menjawab pertanyaan mu."
Jianying mulai mendemonstrasikan ucapannya. Mengeluarkan kertas jimat. Berseru pelan.
"Aku memanggil sang jenderal angin. Feng Hao, keluarlah."
Manusia berbentuk udara pilin, warna putih benang adalah udara padat yang menjadi bentuk roh jenderal angin. "Kau belajar pemanggilan roh di negerimu bukan? Aku pernah ke sana untuk belajar pemanggilan roh. Tentunya kau paham ritual pemanggilan butuh mana yang sangat banyak."
Reza mengangguk setuju. Matanya antusias memperhatikan. Seolah tidak lewat satu detik pun akan dia catat.
"Seseorang yang tidak berbakat sihir bukan berarti tidak bisa menggunakan sihir. Ibarat membutuhkan kunci untuk bisa membuka pintu sihir. Seperti itulah aku melakukannya. Menggunakan jimat yang ditulis oleh orang yang diberi bakat sihir sebagai kunci. Lantas, pintu terbuka, sihir pun muncul. Bayaran kunci itu ialah mana ku sendiri. Tentunya harganya lebih mahal daripada yang memiliki bakat sihir. Bisa dua kali lipat atau bahkan berkali-kali lipat. Karena itu, kebanyakan orang yang tak berbakat sihir, mempunyai kapasitas mana yang kecil. Sampai sini kau paham Reza?"
Reza mengangguk puas.
"Seharusnya sekarang kalian pasti sedang berpikir. Bagaimana aku bisa menggunakan sihir tingkat tinggi? Bahkan memanggil roh kelas atas? Bukankah itu membutuhkan mana yang sangat banyak?" Jianying berjalan di panggung kelas. Menulis sesuatu di papan tulis hitam. Kapur putih berderit menciptakan kata.
"Normalnya, seseorang yang tak berbakat sihir akan cepat kehabisan mana. Memanggil sihir tingkat rendah saja sudah membuat lelah. Aku akan mengajarkan sesuatu yang spesial di sini." Jianying selesai menulis. Resep, dan gambar manusia dengan lingkaran dibeberapa titik terpampang di papan hitam.
"Aku akan menjelaskan satu hal. Manusia itu memiliki tujuh titik yang menyalurkan mana pada sihir. Dua di tangan, dua di kaki, satu di perut, satu di dada, satu di kepala. Titik itu adalah pengatur dan penyimpanan mana. Dan setiap titik bisa ditingkatkan penyimpanannya. Dengan melepas tujuh gembok chakra yang berada di tempat pusat mana, di perut. Gembok pertama terbuka saat kalian pertama kali menggunakan sihir. Pasti kalian ingat rasanya saat pertama kali mengeluarkan sihir. Sangat lelah, bahkan bisa jatuh pingsan."
Sizhu tertegun, jadi itu yang dia rasakan setelah melawan penyihir yang muncul menghancurkan rumah guru tiga bulan lalu. Dia mulai tertarik menyimak.
"Gembok kedua tidak bisa terbuka dengan mudah. Untuk pengguna sihir biasa, umumnya butuh waktu sekitar satu tahun untuk membukanya. Kalian akan mudah merapal sihir tingkat tinggi. Gembok ketiga butuh waktu lebih lama lagi. Tiga tahun adalah waktu paling cepat. Sihir tingkat rendah kalian akan terasa seperti sihir tingkat tinggi. Gembok keempat terbuka, memakan semakin lama waktu minimal lima tahun untuk orang normal. Sihir tingkat atas terbuka. Gembok kelima dan keenam membutuhkan waktu sepuluh tahun. Kalian bisa menciptakan kelereng realitas."
Pandangan sebelas murid terlihat antusias. Kelereng realitas adalah sihir terkuat di dunia. Menciptakan domain sihir sesuai visual imajiner. Kemarin baru saja dijelaskan oleh Professor lain.
"Lalu, bagaimana dengan gembok ke tujuh?" Baldur menimpali tak sabaran. Janggut lebatnya bergoyang-goyang ikut tak sabar. Jianying tersenyum tipis.
"Kekuatan yang tak terbayang. Kalian akan setara dengan Grand Witch. Setidaknya itu menurut perkiraanku. Buktinya belum ada seorangpun yang berhasil membuka gembok ketujuh. Bahkan pahlawan yang gugur saat insiden benua merah hanya sebatas gembok keenam."
Seruan wow pelan dari Reza. Semuanya jelas tergiur untuk mendapatkan kekuatan sebesar Grand Witch. Penyihir laknat yang menghancurkan satu benua. Menciptakan bencana kehancuran tiada dua. Sizhu sudah mendengar kisah itu. Teringat perkataan Basyir, saudara Amon yang berubah menjadi penyihir setingkat Arch Witch.
"Yang akan ku ajarkan pada kalian adalah cara cepat membuka gembok selanjutnya sesuai gembok berapa yang kalian capai. Saat ini kapasitas mana kalian masih kecil. Keluarkan sihir tingkat tinggi dua kali, maka kalian akan tepar. Aku akan meringkas masa waktunya menjadi satu bulan. Jadi, bersiaplah untuk latihan super keras."
Satu kelas meneguk ludah. Raut mereka menjelaskan setengah keberatan.
"Sekarang, mari kita pindah tempat untuk praktik. Semuanya pergi ke lapang Akademi. Kita akan mulai berlatih mengatur mana di sana."
Sizhu meneguk ludah. Selamat tinggal masa damai akademi ...
***
Sinar mentari siang tidak dapat menembus bangunan kuil pentagon bertingkat markas pusat Agensi Hunter. Bangunan kuno dalamnya futuristik nan magis itu mengungkung tanah di atas langit. Mengisi petak kosong di atas puncak. Arsitekturnya rumit dengan corak merah khas Cina. Begitu juga ukiran naga dan pilar-pilar merah. Nampak seperti kastil kuil pentagon bernuansa Cina.
Di sana, ribuan agen Hunter hilir pulang pergi mengatasi setiap kasus. Sudah menjadi seragam umum jas hitam-hitam seperti agen rahasia dalam film. Menunjukan betapa profesionalnya mereka, meski menyandang gelar Hunter bintang satu, dua dan tiga. Empat dan lima sudah naik jabatan, menjadi seorang jenderal batalion atau kepala cabang dengan kekuasaan kota beribu kilometer.
Ruang besar dengan tiga belas kursi dan meja bundar tersedia di tengah-tengah. Luxia duduk memimpin dua belas kursi lainnya. Tempat duduk yang terlihat seperti singgasana raja. Sepuluh shio sudah siap sedia mendengar titah kaisar langit. Mari kita absen satu persatu.
-Manajer Jianying Ren, shio naga.
-An Haocun, shio ular.
-Jun Kai, shio sapi.
-Shio monyet kosong.
-Hongli Fu, shio kambing.
-Xue Lin, shio ayam.
-Ling Ling, shio tikus.
-Zhang Yue, shio anjing.
-Shio babi kosong.
-Guan Zen, shio kuda. (Kakaknya Kai, sementara menggantikan adiknya.)
-Laohu Xin, shio harimau.
-Su Quanxi, shio kelinci. (Asisten Mei Mei. Dia nampak yang paling muda di meja bundar.)
Mereka takzim duduk menunggu. Seorang perwira berwibawa tinggi, sang guru besar Akademi Sihir Qinsheng. Lang Zen datang dengan langkah berirama. Jubahnya besar menjuntai lebar. Wajah tuanya masih tegas walau sudah berumur. Fisiknya tegap kokoh. Menampakkan betapa berpengalamannya seorang mantan Hunter bintang zodiak. Semua orang yang duduk beranjak berdiri, memberi hormat, lantas kembali duduk.
Luxia mengibas tangan anggun. Sebuah kursi muncul lepas cahaya biru lembut di seberang. Singgasana raja kedua.
Lang Zen dengan senang hati duduk. Semua peserta undangan sudah terpenuhi. Dialog antar pemimpin kota besar akan dimulai. Tentunya dengan topik serius.
"Sepanjang hidupku menjadi pemimpin Hunter, Pelindung tanah ini. Belum pernah terjadi sebuah insiden serius. Apalagi mendengar rencana yang bisa mengulang mimpi buruk satu setengah abad lalu." Semua kepala tertoleh mendengar. Mengangguk setuju.
Luxia memberi isyarat pada Jianying.
Jianying mengangguk paham, berdiri. Menjelaskan hasil investigasi dua Minggu lalu. Tentang organisasi yang beroperasi dalam bayangan bernama Menschliche Evolution, pemimpin mereka seorang Arch Witch bernama Lucifer. Tentang tujuh rasul cabang kepemimpinan Menschliche Evolution. Tentang ancaman Raja Fuchai yang akan bebas dari segel. Pengumpulan obat-obatan, percobaan regenerasi tingkat tinggi yang berhasil, tentang Liu Xingsheng, salah satu kepala cabang yang berkhianat menjadi rasul musuh, menculik dan membunuh seluruh keluarga Tao. Semua mata tertunduk demi mendengar laporan itu.
"Kabar mengerikan. Satu Minggu lalu, Akademi Sihir juga diserang. Basyir, kakak tiri pangeran Amon dari Mesir memiliki tato yang serupa. Dengan tato salib terbalik berhuruf rune berbentuk t dalam huruf Jerman. Dia menjadi sekuat Arch Witch saat berubah menjadi penyihir. Bahkan bisa meregenerasi tanpa merapal mantra." Lang Zen turut memberi laporan.
"Huruf t bisa berarti Timon, jika tebakanku benar. Timon adalah nama dari tujuh rasul. Nikanor, si dokter gila ucap si Liu, juga memiliki tato rune, dengan huruf n. Begitu juga Liu, di lengannya ada tato rune huruf n. Kemungkinan berarti Nikolaus." An Haocun menambahkan. Suasana suram membingkai ruang besar itu. Mengetahui satu rasul berhasil dibunuh mengangkat sedikit kabar buruk.
"Apa yang harus kita lakukan Nona? Kita tidak bisa menunggu tanpa kepastian. Kita harus mengambil tindakan cepat untuk membasmi ancaman musuh." Hongli Fu memberi pendapat. Diangguki oleh sebagian kepala cabang.
Luxia menatap wajah satu per satu peserta meja bundar. Menggeleng.
"Mereka semakin waspada, lihai bersembunyi dalam bayangan kota. Kita tak bisa melakukan investigasi besar-besaran karena akan membuat panik masyarakat. Mereka cerdik menggunakan manusia sebagai kaki tangan. Sesuai kesepakatan organisasi, kejahatan manusia, pemerintahlah yang bertanggung jawab. Kita tak bisa ikut campur dalam kejahatan manusia."
Seruan mengeluh tertahan terdengar satu-dua. Lang turut mengangguk membenarkan. Agensi Hunter tidak kuasa menangani kasus kejahatan manusia. Mereka hanya spesialis memburu penyihir. Selain itu, pemerintah yang atur.
"Bagaimana dengan memancing mereka keluar? Kita bisa membuat umpan untuk membuat mereka keluar dari balik batu. Mereka butuh pedang waktu Goujian untuk melengkapi ritual mereka bukan? Kita bisa menggunakannya sebagai umpan memancing." Laohu Xin memberi usul. Setelah hening sejenak, separuh mengangguk setuju. Namun, Lang Zen menggeleng tegas.
"Terlalu beresiko. Bagaimana jika operasi itu gagal dan pedang terakhir jatuh di tangan musuh? Kita tak bisa membayangkan rencana mereka karena kekurangan informasi. Terlebih lagi, jika ritual dua puluh satu pedang sihir terjadi, Raja Fuchai yang lepas sudah menjadi satu ancaman besar. Bakat sihir penyihir itu adalah 'resurrection', dia bisa membangkitkan makhluk yang telah mati menjadi makhluk sihir bawahannya. Belum lagi dengan hasil percobaan regenerasi tingkat tinggi. Musuh akan lebih kuat dari kita."
Kedua belas benak meja bundar kembali berpikir. Hening. Ini adalah pertemuan terberat pada abad ini. Yang mereka bebankan adalah ratusan juta jiwa manusia. Ada sekitar satu miliar kurang jiwa manusia yang hidup di seantero Cina. Semuanya tidak ingin mengambil keputusan gegabah. Salah langkah, habis sudah.
"Bagaimana jika mengumpan mereka dengan pedang palsu?" Jianying Ren mulai berbicara. Sejenak kembali berpikir, mencoba mensimulasi strategi. Jun Kai menyeringai. Mendapat petunjuk ide.
"Itu benar. Musuh mengetahui hanya satu-satunya Tuan Jianying yang bisa menggunakan pedang waktu Goujian. Itu memberi asumsi bahwa pedang Goujian akan terus dijaga oleh pemiliknya. Kita bisa mengumpan mereka dengan membocorkan informasi. Apakah Tuan Jianying tidak keberatan menjadi umpan?" Jun Kai melempar tanya pada Jianying. Dijawab dengan gelengan pelan. Tidak keberatan sama sekali.
"Itu mungkin berhasil. Aku bisa menggunakan sihir ilusi tingkat tinggi pada pedang biasa agar serupa dengan pedang waktu Goujian." Xue Lin menambahkan. Yang lain mengangguk setuju.
"Haha, kalau begitu aku akan menjadi pengawal Jianying. Aku cukup percaya diri untuk melawan makhluk setengah abadi." An Haocun menawarkan. Melirik Jianying yang tampak keberatan dengan usul An. Persahabatan mereka makin erat setelah bertarung bersama dua Minggu lepas.
"Masalahnya, dimana kita akan memancing mereka? Tidak mungkin kita berperang di tengah kota bukan?" Ling Ling bertanya, menyadarkan langkah berikutnya.
Luxia tersenyum, senyuman tanpa ragu. "Kita bisa memancing mereka di laut. Menschliche Evolution adalah organisasi gelap berasal dari Jerman. Sudah pasti dermaga adalah tempat aktivitas mereka. Kita akan memancing mereka di pelabuhan Hong Kong. Medan paling baik untuk pergi memancing." Semua kepala mengangguk setuju. Itu ide bagus. Hong Kong adalah pusat bisnis internasional. Kapal-kapal besar melepas jangkar di sana. Mencari rezeki. Umpan bisa dengan mudah termakan oleh musuh.
"Kalau begitu kapan operasi dimulai?" Zhang Yue membuka suara. Bertanya.
"Kita bisa persiapkan semuanya dalam enam bulan. Sembari menunggu langkah mereka. Terlalu cepat memberi umpan bisa membuat mereka curiga." Luxia memberi keputusan. Serentak kepala mengangguk pelan, menyetujui keputusan sang kaisar langit.
"Baiklah, kita sudah sepakat akan memulai peperangan enam bulan ke depan. Konsentrasi pada pekerjaan dan persiapan kalian. Jangan lengah. Kita tidak akan tahu kapan musuh akan melancarkan serangan. Bisa saat ini maupun lusa. Ada usulan lain?" Lang Zen menyimpulkan keputusan. Melempar pandangan pada seluruh pendatang rapat.
Guan Zen kakaknya Kai Zen putra pertamanya Lang Zen hanya diam tanpa memberi usulan. Padahal dia mantan ketua divisi Cina dua tahun yang lalu. Berbeda dengan Su Quanxi yang tidak berani mengungkapkan pendapat karena merasa dia yang paling segar dan muda di meja bundar tersebut.
Sisanya menggeleng, tidak ada usulan lain yang lebih baik. Lang Zen lalu melempar pandangan pada Jianying.
"Jianying, enam bulan ini, kau harus tetap di sini. Mengajar. Musuh bisa mengincarmu kapan saja saat kau berpergian dari Beijing. Asuh anak-anak itu dengan bakat jeniusmu. Agar nanti bisa ikut bergabung dalam operasi besar-besaran. Kau tidak akan pernah mengecewakanku." Suara berat Lang Zen melembut, menghormati lawannya empat belas tahun lalu. Anak jenius seperti Jianying memang pantas dihormati.
Jianying membungkuk, merendah. Menjawab penuh hormat. "Dengan segenap jiwa saya akan berusaha. Terima kasih sudah memuji saya yang masih jauh di bawah anda. Tuan Lang Zen." Tersenyum tipis. Lang Zen turut tersenyum tipis.
"Mari kita tutup rapat pertemuan ini." Seluruh penghuni kursi berdiri. Hari ini adalah satu langkah untuk esok. Bersiap atas berbagai kenyataan dan ujian.
Nun jauh di sana kegelapan juga mulai berkumpul. Simposium itu tidak hanya satu waktu. Musuh juga berkumpul untuk merencanakan teror yang lebih. Akankah kemana jalur takdir kedua pemuda pilihan ini?
***
/Facepalm/