Aku awalnya tidak tau jika dia adalah mantan kakak IPARKU, aku pikir dia hanya mirip dengan mantan suamiku, dan ternyata prediksi ku benar, dia kakak kandungnya lebih tepatnya kakak kembarnya. Alea Rosa
Setelah sekian lama aku menunggu dan mencari-carinya, ternyata ia adalah mantan adik ipar ku sendiri, kali ini aku tidak akan melepaskannya lagi. Sudah cukup aku menahan gejolak perasaan ini,akan aku ikat dia dengan pesonaku sendiri dan akan ku nikahi dia setelah dia move on dari mantannya yang tak lain adik kembarku sendiri. Alka Putra Aqlan Gundono.
nb. Di baca dari awal dulu sebelum memutuskan berhenti membaca, sebab ini cerita awal mula Alea kenal dengan Alga sebelum kenal dengan Alka kakaknya.
Bab 1-20an part Alea Alga lalu selanjutnya pertemuan kembali Alea dan Alka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira nur habibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Alka menatap Alea.
"Kenapa wajahmu ketakutan seperti itu?" Tidak suka di perlakukan begini oleh Alea.
Dirinya tidak sekejam saat memainkan perannya yang sering brutal dan cenderung antagonis dan mendominasi di semua sinetron dan film yang ia perankan.
"Siapa tau, kita kan baru kenal dua hari ini. Aku jadi was-was tentunya, takut bapak makan aku hidup-hidup." Ucapnya polos.
"A ... Ha ... Ha ..., kamu ini ada-ada saja Alea. Sorry ... sorry ... sebenarnya aku sedang baca naskah, kebetulan peranku hari ini berperan sedikit antagonis dengan lawan mainku, maaf kamu jadi korbannya," tertawa nyaring.
Sopir dan asisten pribadinya terkejut, tuan muda kedua ini jarang tertawa lepas, apalagi dengan orang yang baru kenal dan ia temui, sangat mustahil dan ajaib.
Alea mengisyaratkan tidak apa-apa dengan tangannya.
"Tidak apa-apa pak, aku terkejut barusan." Tersenyum namun terpaksa.
"Kamu takut padaku?" Tanya Alka dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Alea.
Alea sedikit memundurkan wajahnya.
"Siapa bilang takut, hanya ..." Menatap wajah Alka dari atas sampai bawah. "Takut di mu tilasi dan di rebus olehmu, apalagi jika di lihat-lihat mana ada orang baik dadakan, di tambah bapak seorang artis papan atas!" Mengeser tubuhnya, agar lebih jauh dari Alka.
"Puft ... A ... Ha ... Ha ..., aduh ... perutku sampai kaku, aduh ... ya ampun Alea. Pikiranmu sempit sekali Alea, siapa juga yang mau me muti lasi kamu Alea. Kamu perempuan yang aku cari dan aku ci ... ." Menghentikan ucapannya.
Alea penasaran dengan lanjutan ucapan laki-laki yang barusan menertawakanya dengan keras.
"Ci apa?"
"Cicak cicak di dinding, bercanda ... bercanda ... . E ... he ... he ..., sudah makan ini saja?" Memberikannya satu kotak bekal makan pada Alea.
Alea mengerenyitkan dahinya, orang di sampingnya ini kenapa selalu tau saja bahwa apa yang sedang di butuhkan nya, apa dia seorang penguntit atau hacker handal?
Ia belum menerima bekal tersebut. Hanya di tatap dengan wajah penuh pertanyaan besar, ia memang lapar sekali namun takut untuk menerimanya, siapa tau di dalamnya ada racun atau obat tidur.
"Aku bukan psiko Pat Alea, kamu pikir aku sepicik itu ke kamu." Alka meletakkannya di atas meja kecil yang ada di depan Alea.
"Terimakasih pak, maaf merepotkan bapak, bukannya bapak memang ada pikiran begitu padaku," cicitnya lirih dan mengambilnya.
Ia membuka kota bekal tersebut. Tangan besar Alka menghentikan kegiatan Alea yang hendak menyantap makanan tersebut.
"Stop, kamu jangan makan di dalam mobilku." Meski begitu, Alka tidak mau sampai mobilnya tercium bau masakan.
"Kenapa?" Menutupinya kembali, padahal sudah setengah terbuka tadi.
"Aku tidak suka baunya, pak berhenti di taman!" Perintahnya.
Sopir segera mencari tempat parkir dan setelah menemukannya ia memarkirkan mobil itu dan berhenti.
"Silahkan makan di luar." Mempersilahkan Alea untuk makan.
Alka menggunakan jaket, masker dan tak lupa topi untuk menutupi wajah aslinya. Ia tidak mau dikenali banya orang, seperti artis-artis lainnya yang suka cari sensasi.
Tanpa sensasi saja Alka sangat populer, sebelum terjun ke dunia hiburan memang ia sudah terkenal sejak kecil, siapa yang tidak kenal dengan keluarga Aqlan dan Gundono yang terkenal tajir melintir dari jaman dulu hingga sekarang, perusahaan itu tetap jaya di bandingkan perusahan-perusahaan lainnya.
Namun, hanya Alka dan adik perempuannya yang tidak mau terjun ke dunia bisnis, maksudnya belum ada keinginan untuk terjun ke sana, adiknya yang bernama Alice Putri Aqlan Gundono yang umurnya sama seperti Alea Rosa, ia juga berkecimpung di dunia hiburan tapi lebih cenderung ke dunia musik dan tarik suara, meski banyak juga film yang ia mainkan.
Sedangkan kakak laki-laki dan adiknya laki-laki mau terjun ke dunia bisnis, ya ... Alka terlahir kembar 3. Beda sifat, beda kesukaannya dan beda keinginan, meski wajah hampir sama namun Alka lebih rupawan dan menarik hari di bandingkan dengan Alga dan Alfa kakaknya.
"Dasar orang aneh, untung tampan." Gerutu Alea dan duduk di bangku taman.
Sebelum menjemput Alea tadi, Alka sudah meminta orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk merahasiakan ini semua, termasuk ke orang tuanya dan juga Alea.
Tatapan tajam itu di tujukan kepada sopir dan asisten pribadinya.
Alea makan dengan tenang sesekali ia melihat Alka yang fokus pada ponselnya, sepertinya ia sibuk sekali. Apalagi dandanan Alka yang sudah rapi dan wangi, Alea menghirup aroma parfum itu diam-diam.
'Gila, wanginya nenangin banget.' Alea berhenti makan dan memilih menikmati waktunya.
Hari pertama tidak memiliki pekerjaan harus di buat senang-senang dong.
"Ehem." Alka berdehem.
Alea gelagapan saat ia ketahuan diam-diam menikmati aroma parfumnya miliknya.
"Kalau mau menghirup lebih boleh loh nanti di apartemen,"
Puk.
Alea memukul lengan Alka, lalu ia tertawa saat Alka merintih kesakitan.
"Bapak jangan aneh-aneh deh, aku ini masih muda dan perjalanan hidupku juga masih panjang, aku ingin menikmati masa mudaku dengan penuh warna, bukannya suram seperti gelapnya malam tanpa bulan bintang." Alea berkeluh-kesah.
Alka paham dengan apa yang Alea rasakan, tapi mau bagaimana lagi. Ini semua akibat ulah adiknya yang berengse* itu.
"Ya maka dari itu, kan mumpung masih muda dan stamina masih fit fit nya, kenapa tidak kita coba yang lebih saja, siapa tau saling membutuhkan."
Mata Alea melotot, orang ini jika di tanggapi semakin gak karu-karuan ucapannya.
"Pak Alka, tolong jangan berbicara sembarangan. Apalagi di luar begini, aku tidak mau jadi trending topik di media sosial pak,"
Alka tidak menanggapi ocehan Alea, ia mengambil sesuatu dari mobil dan memberikannya pada Alea.
"Nih, ambil." Memberikan parfum itu cuma-cuma.
Alea menatapnya dengan curiga.
"Gak ada magic nya kan?" Butuh jawaban secepatnya.
Alka tersenyum, sepertinya lucu mengerjainya.
"Ada!" Jawabnya.
"Ada???? Beneran ada?" Alea hendak membuangnya.
"Eh ... tunggu, jangan di buang. Itu harganya hampir sepuluh juta!" Jawabnya seperti takut kehilangan uangnya.
"Apa?" Mulut Alea ternganga. "Se--puluh ju--ta."
Anggukan kepala Alka membuat tangan Alea lemas, hampir saja membuang parfum yang harganya bisa untuk makan berbulan-bulan untuknya sendiri.
"Ya ampun ... Ya ampun ..., aku hampir saja membuang barang berharga, maaf pak aku tidak tau. Jika bapak bilang sebelumnya, pasti tidak akan aku buang. Terimakasih sudah di ingatkan, setidaknya jika nanti parfum ini aku jual aku mendapatkan keuntungan lebih sebab ini parfum aktor terkenal, terimakasih pak." Tersenyum gembira sambil mengecup botol parfum itu berkali-kali.
Alka tidak habis pikir, Alea sepertinya sangat menyukai yang namanya uang dan uang dari pada wajahnya ini. Menarik dan lucu sekali.
"Kamu berniat menjualnya?" Tak habis pikir dengan tingkah Alea.
Alea mengangguk riang, "Tentu saja, parfum begini saja mahal. Lebih baik aku jual, karena bapak sudah memberikannya secara cuma-cuma untuk ku, jadinya aku manfaatkan saja. Terimakasih banyak ya pak, atas kebaikan bapak. Semoga bapak rejekinya melimpah ruah dan segera menikah dan punya anak ya pak!" Memasukkan botol itu ke dalam tas kesayangannya.
"Calonnya saja masih labil, mau nikah dan punya anak bagaimana." Menatap Alea seperti ia menatap anak kecil.
BERSAMBUNG.
cerita nya ,ok bangat