NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Anak Yatim Piatu / Kaya Raya / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renko

✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)

Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?


✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)

Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?

___

Semoga novel ini satu selera denganmu 😊

Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~


Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisnis Perjodohan

"Berhenti mengikutiku."

"Aku hanya menjalankan tugas. Mengawasi jalannya perusahaan yang dikelola oleh calon pemilik yang belum jelas akan mewarisi perusahaan ini."

Zack mengertakkan gigi. Dokumen yang dibacanya sedaritadi diserahkan pada Robin. Setelah itu Zack menghadapkan badan pada Sam. Menyelidik hal apa yang Sam inginkan sampai mengekori dan mengganggunya seperti Stella.

"Jangan marah, Zack. Aku hanya ingin mengajakmu berpesta. Sendirian bergelimang wanita membuatku kesepian. Aku membutuhkan teman baik sepertimu."

"Aku lebih suka bergelimang harta."

"Ini tidak akan bocor sampai ke telinga istri barumu. Aku berjanji."

Zack mengkernyitkan dahi curiga kenapa Sam bisa mengetahui pernikahannya dengan Ainsley. Padahal pernikahan mereka dirahasiakan dan hanya pihak keluarga yang tau. Tidak mungkin ada pengkhianat di dalam rumahnya. Tidak mungkin pula Juni teman baiknya Ainsley mengatakan pada Sam, orang yang kemungkinan besar tidak dikenal oleh Juni.

Drrt.. Drrt..

"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tidak menghiraukan ponselnya yang berdering.

"Itu.. Aku sangat mahir meramal seseorang. Lihatlah ekspresimu sekarang." menjelaskan sambil tertawa.

Alasan yang tidak masuk akal itu semakin membuat kecurigaan bertambah besar. Sejauh ini kebocoran informasi hanya Stella yang mengetahui, namun menurutnya Stella bukanlah seseorang yang suka menyebarkan gosip. Dilihat dari ucapan yang dilontarkan oleh Sam pun juga tidak ada kemungkinan Stella yang membocorkannya.

"Tuan, sebentar lagi tuan harus menghadiri jamuan makan siang." sela Robin.

"Kau lihat, kan? Aku sibuk." melirik Sam, lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya.

Selepas perginya Zack, tinggallah Sam seorang diri di ruang kerja itu. Sam memukul mulutnya sendiri karena tidak sengaja keceplosan membahas soal pernikahan Zack, yang mana seharusnya tidak boleh dibicarakan.

Sedangkan Zack terus menatap lurus ke depan. Kecurigaannya pada Sam belum menemukan jawaban sampai sekarang. Bahkan mata-mata yang disewanya masih belum mendapatkan jawaban tersebut.

"Bukankah ponsel tuan tadi berdering?" tanya Robin sambil mengendarai mobil.

Setelah diingatkan Zack langsung mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari anak kecil. Zack lekas membaca pesan yang mana berisi apakah dirinya memiliki waktu luang hari ini. Tanpa pikir panjang Zack menelepon Ainsley untuk menjawab pertanyaan.

"Ada apa?"

"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa kau punya waktu?"

"Aku akan menjemputmu nanti."

"Menjemput?"

Panggilan diputus saat mereka sampai di tujuan. Sebelum turun dari mobil Zack meminta Robin menyewa restoran khusus untuk 2 orang saja. Selain itu Zack juga membatalkan jadwal kerjanya setelah ini dan memilih bertemu dengan Ainsley untuk membicarakan hal penting yang di maksud.

"Baik, tuan." cekikikan sendiri melihat tingkah Zack yang segera datang jika dipanggil oleh Ainsley.

Melihat Robin cekikikan membuat Zack berdalih agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan mengatakan, "Bukankah kau bilang kalau dia tidak bisa memasak? Dia akan kelaparan nantinya."

"Saya mengerti, tuan." tegas Robin menirukan seorang prajurit.

Zack mengikuti langkah Robin yang membawanya ke sebuah ruangan tertutup. Ruangan itu adalah tempat yang disediakan pemilik restoran bagi pelanggan yang menginginkan kenyamanan dalam hal privasi.

Di dalam ruangan duduk seorang pria bersama sang istri. Bukan hanya mereka, 2 anak perempuan juga duduk di sana menghadiri jamuan makan siang. Mereka menyambut Zack dengan kebahagiaan yang mendalam.

Beberapa saat kemudian makanan disusun rapi satu persatu memenuhi meja. Tidak ada yang berani menyentuh makanan sebelum Zack yang memulai. Suasana menjadi beku tanpa alasan. Saat sendok diangkat oleh Zack, barulah suasana menjadi cair dan perbincangan pun dimulai.

"Wah, Casa Felise berkembang dengan sangat baik di tangan anda."

Zack ingat ketika dirinya pertama kali terjun di dunia bisnis ayahnya. Dibandingkan dengan dulu saat ayahnya yang mengelola bisnis, memang sekarang lah tingkat kepopuleran perusahaan semakin menanjak.

Belum sempat menyuapi makanan ke dalam mulut, tiba-tiba salah seorang anak meletakkan lauk di mangkuk nasi Zack. Lantas Zack mengurungkan niat menyuapi makanan ke dalam mulut. Ketidaksukaannya tidak diperlihatkan dalam jamuan makan siang, sehingga rona bahagia masih terpancar di wajah mereka. Sedangkan Zack hanya tersenyum kecut.

"Anakku sangat perhatian sekali." sang istri mengusap punggung anaknya.

Tidak hanya satu perhatian, 2 orang anak perempuan itu tidak berhenti memberikan lauk yang tersedia di meja ke dalam mangkuk Zack. Mereka saling berpacu satu sama lain. Alhasil mangkok nasi dipenuhi oleh lauk pauk. Zack semakin tidak berselera menikmati hidangan makanan.

Pembicaraan mulai mengarah pada perjodohan. Zack sudah tau jika hal itu akan terjadi, karena belum ada sejarahnya rekan bisnis membawa anak mereka kalau bukan akan membicarakan soal perjodohan. Dari awal masuk betapa Zack ingin mengatakan bahwa dirinya sudah menikah, namun pernikahannya harus disembunyikan rapi.

"Bagaimana, Zack?"

Apanya yang bagaimana?! Mereka bermaksud menjual anak? Bahkan anak mereka belum memasuki masa remaja.

"Saya akan mempertimbangkannya." lagi-lagi tersenyum kecut.

Walaupun ucapan Zack sangat gantung, namun kebahagiaan semakin jelas terpancar dari wajah mereka. Anak-anak itu berteriak histeris, sedangkan orang tua mereka saling melemparkan senyuman. Respon yang tidak pernah dibayangkan oleh Zack saat itu.

Kebahagiaan mereka masih terus terpancar ketika mengantarkan Zack keluar dari restoran. Masing-masing mereka menjabat tangannya dengan sangat lama. Memandangi wajah menantu mereka dan anak-anak itu memandangi wajah suami masa depan mereka.

"Saya tidak sabar menanti kabar gembira selanjutnya."

"Saya juga tidak sabar menantinya." menyeringai.

Mereka melambaikan tangan melepas kepergian Zack. Sedangkan Zack yang sangat ingin keluar dari lingkaran keluarga penuh bahagia itu, akhirnya membuat keputusan yang sangat tiba-tiba. Zack tidak ingin bertemu lagi dengan mereka.

"Coret pria tadi dari daftar relasi kita."

Robin menerima perintah Zack tanpa mempertanyakan alasan. Robin sudah merasakan sendiri kesesakan yang tuannya rasakan saat makan bersama. Tidak ada yang ingin mencampurkan urusan bisnis dengan urusan pribadi, apalagi orang itu adalah Zack.

***

Tanpa sadar Ainsley bersenandung ria mempersiapkan dirinya. Ainsley berpikir lama memilih baju yang akan dipakai nanti malam. Meskipun tidak tau akan kemana, namun diajak keluar oleh Zack pertama kalinya membuatnya sangat senang. Setidaknya Ainsley tidak perlu mengurung diri terus-menerus di dalam apartemen.

Hitungan jam Ainsley menunggu hingga jemputan pun datang. Robin memandunya menuju mobil, yang mana sudah ada Zack di dalamnya. Tanpa mempertanyakan kemana akan pergi, Ainsley masuk ke dalam mobil.

Malam itu mereka mendatangi sebuah restoran mewah. Mereka disambut dan dilayani dengan ramah seperti sudah tau jika mereka akan datang. Tepat pukul 7 malam makanan yang sudah dipesan sebelumnya dihidangkan di atas meja.

Ainsley melihat ke sekelilingnya. Restoran yang begitu mewah begitu kosong tanpa pelanggan. Tidak ada orang lain selain dirinya dan juga Zack di sana. Ainsley bertanya-tanya apakah Zack sengaja menyewa satu restoran hanya untuk membicarakan hal penting yang ingin dikatakannya.

"Emm.. Apa ini tidak berlebihan? Aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu saja. Tidak perlu sampai menyewa restoran."

"Aku belum makan." jawabnya singkat.

"Aa.. Begitu.."

"Kau hanya akan memandangi makanan yang ada dihadapanmu?"

"Tentu saja tidak. Baru saja aku berniat untuk memakannya."

Ainsley langsung mengayunkan sendok. Senyuman merekah saat makanan masuk ke dalam mulut. Rasa makanan yang begitu lezat membuatnya jadi lupa membicarakan hal yang seharusnya menjadi tujuan utama.

"Jangan salah paham. Ini bukan kencan."

Seketika wajah Ainsley merona. Lagi-lagi degupan jantung yang sama memenuhi dirinya. Perasaan yang seperti itu membuatnya terusik akhir-akhir ini. Zack yang menatapnya sekarang membuat dirinya kelabakan bagaimana menyikapi perkataan itu.

"Aku membawamu kemari untuk menghemat waktu. Kita sama-sama belum makan dan kau juga tidak bisa memasak."

"Uh-huk! Uh-huk!"

Degupan itu seakan dihentikan sekejap mata. Ainsley segera meraih minuman di depannya dan meneguknya perlahan. Kini Ainsley menjadi sangat malu karena kekurangannya dibicarakan. Ainsley mengomel dalam hati pada Robin yang kemungkinan besar memberitahukan hal tersebut pada Zack.

Setelah perut terisi penuh mereka kembali ke apartemen. Ainsley masih belum berbicara mengenai apa yang ingin disampaikannya. Ainsley begitu takut untuk mengatakannya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana respon Zack ketika mendengarnya nanti.

Zack yang sedaritadi menunggu menjadi kesal sendiri. Lantas Zack bertindak lebih dulu agar rasa penasarannya teratasi. Zack membuka kancing jasnya dan menghampiri sofa. Zack duduk di sana sambil menatap Ainsley yang berdiri mematung. Di sana Zack meminta Ainsley untuk mengatakan hal penting itu.

Ragu-ragu Ainsley duduk pula di sofa. Mengumpulkan keberanian dan seluruh keyakinannya, menghirup napas, dan menghembuskannya perlahan. Meredakan degupan jantung dan fokus pada apa yang akan disampaikan.

"Jika aku menyinggung soal Emily, apa kau baik-baik saja?"

Zack tertegun sejenak, tidak pernah membayangkan jika apa yang akan Ainsley bahas adalah soal Emily. Padahal Zack sudah berusaha menyingkirkan persoalan Emily dan fokus dengan kehidupannya sekarang, namun nama itu muncul lagi membawa segala perasaan bersalahnya.

"Ya. Cepat katakan."

"Aku bertemu dengan Emily tepat sehari sebelum pemakaman. Perbincangan kami sangat mengesankan sore itu, tetapi mukanya berubah murung ketika kami membicarakan tentang dirimu. Apa kau punya masalah dengannya?"

Zack teringat saat bertengkar di apartemen dengan Emily. Itu adalah saat di mana dirinya membuat Emily bersedih untuk yang pertama kalinya. Menuduh Emily memiliki orang lain di belakang pernikahan mereka dan hampir menampar Emily karena tuduhan itu.

"Tidak ada hubungannya denganmu."

Persoalan seperti ini Ainsley harus melangkah dengan sangat hati-hati agar menemukan penyebab kematian Emily. Untuk itu hal yang harus dilakukannya adalah tidak membuat narasumber menjadi tersudutkan atas serangkaian pertanyaan yang diajukan.

"Apa kau tau penyebab kematian Emily? Aku tidak diberitahu tentang hal itu. Sebagai keluarga harusnya aku diberitahu tentang penyebabnya. Aku merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun untuknya. Kalau saja kau bisa memberikan jawaban yang bisa membuat hatiku tenang.."

"Aku tidak bisa membantumu, karena aku juga belum bisa mengatasinya. Lagi pula bukankah kita sudah sepakat untuk menjalani pernikahan ini dengan lebih baik? Sekarang kau mengapa balik membuka duka lama?"

Jemu dengan pertanyaan yang menyulitkan, Zack pun berdiri dan pergi begitu saja. Akan tetapi Ainsley tidak menyerah. Sambil menyusul langkah besar itu, Ainsley mengeluarkan surat Emily dari dalam tas.

"Apa kau tidak mencurigai kematian Emily? Tidakkah kau melihat kalimat ini?" menunjukkan sebuah kalimat di surat tersebut.

Zack membaca satu kalimat yang menyatakan bahwa kematian Emily bukan tanpa alasan. Sekarang bukan cuma Ainsley saja yang sadar akan hal itu. Segera setelah itu Zack mengerahkan Robin dan mata-matanya untuk mencari tau semua yang berkaitan dengan kematian Emily.

Mereka duduk kembali dan menenangkan diri. Zack menceritakan pertengkaran yang dilaluinya bersama Emily, tanpa mengatakan penyebab pertengkaran itu sendiri karena menurutnya Ainsley tidak perlu tau. Zack juga menceritakan bagaimana dirinya sebelum mengetahui kabar buruk tersebut dan bagaimana jasad Emily ditemukan.

Ainsley tidak tau jika kematian Emily sangat mengerikan. Jasad Emily yang ditemukan 3 jam setelah itu, bagaimana dirinya bisa tenang menghadapinya. Sama dengan Zack yang juga berubah sedih. Ainsley berpikir jika Zack sudah mengalami kesulitan memikul beban itu sendirian selama 3 tahun lebih ini.

Ainsley memilih tidak melanjutkan dan mengalihkan pembicaraan untuk meredam kepalan tangan Zack yang terlihat marah ketika mengetahui ada sesuatu dibalik kematian Emily. Entah siapa pelakunya, pastilah akan mendapat balasan yang setimpal.

"Kau belum menceritakan soal keluargamu. Aku penasaran dengan mereka yang selalu menatapku dengan tatapan tidak suka."

"Mereka tidak menyetujui pernikahan kita karena menurut mereka kau tidak cocok masuk ke keluarga Hughes."

Ainsley terbahak. Padahal dirinya sudah tau penyebab ketidaksukaan mereka, namun masih tetap bertanya. Dari awal memang pernikahan tidak seharusnya digelar. Ainsley berpikir mustahil dirinya bisa mendapatkan pria yang jauh dari statusnya. Emily bagaikan jembatan yang menghubungkan hal yang tidak akan pernah terjadi.

"Lalu mengapa kau tetap ingin menikah jika banyak orang yang menentangnya? Wasiat Emily bisa saja tidak dijalankan."

"Kau tidak tau jika permintaan Emily sangat berarti bagiku."

Ainsley tertegun sesaat. Ucapan itu memperlihatkan bagaimana pentingnya Emily bagi hidup Zack. Wajar jika Zack sangat mencintai istrinya. Pernikahan mereka pun juga hanya untuk memenuhi wasiat Emily, tetapi hati Ainsley terasa sakit di atas itu semua.

"Kau juga membenciku?"

"Tidak ada alasan untuk membenci orang yang Emily sayangi."

"Kau meninggalkanku saat pernikahan dan membuatku seperti orang asing di rumah ini."

Zack mengkernyitkan dahi menyelidik hal apa yang sebenarnya ingin Ainsley bahas. Kematian Emily, perlakuan keluarganya, dan kini bahkan Ainsley membahas perlakuannya selama mereka menikah.

"Apa yang kau harapkan?"

Suasana berubah menjadi tegang. Perasaan Ainsley bercampur aduk, terbawa suasana sehingga tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkannya.

"Aku bertanya karena penasaran. Kau tau ini masalah kita berdua, tetapi aku merasa menghadapinya sendirian." tertawa.

"Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku akan pergi." berjalan ke arah pintu rumah.

"Kau akan kemana malam-malam begini?"

"Malam ini aku akan menginap di tempat lain."

"Kenapa? Apa aku membuatmu tidak nyaman? Tadi kau bilang kalau kau akan baik-baik saja, bukan? Tetapi kenapa kau pergi?"

"Aku akan mengatasinya."

Pintu ditutup dan kini tinggal Ainsley seorang diri. Ainsley beringsut menyandarkan tubuh di sofa. Pikirannya melayang pada perbincangan terakhir tadi. Ainsley menyentuh dadanya yang masih terasa sakit.

1
Kheira Luna
Renkoo aku balik lagi kangen pria tua😍
Justrenko🐣: Wah, senang sekali melihatmu kembali~
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jgn bodoh bergerak sendiri. makan kebodohan mu. sdh diingatkan Zack tp keras kepala
Fransiska Siba
kecewa aku thor, setidak nya ceweknya tahan dlu lahh ini sudah namanya selingkuh
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa asalkan tau kapan waktunya untuk minta maaf dan pasanganmu yg baik pasti akan selalu memaafkan. kalo tidak berarti dia bukan org yg baik.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa, asalkan kita tau kapan waktunya untuk minta maaf. Dan wanita yg baik akan selalu memaafkan, kalo tidak memaafkan berarti dia bukan org yg baik.
Pemburu Cinta Sejati: mohon maaf, aku cmn mau bilang cerita kesempatan kedua adalah kebanyakan cerita di novel. itu tidak berbeda
total 17 replies
iis_lintang95
tetiba kangen ainsly sm zack, alhasil baca ulang lage.🤩
Metta R'za
dendam lidya yg bodoh.....
Ijah Sopiah
Apakah tidak ada satupun cowok yang suka sama Anseley
Seelmy Saleem
nyimak dulu thor baru mampir
SRI SETYA
aq bingung banget ini
Dimas Wahyu
kiraain Setelah sekian lama end....ada part tambahan ..😊😊..oklah otw
💞Aam Mulyani💞: makanya sering kontrol...
total 1 replies
Deta Hebalina
o
First Time
apalah dayaku yg bacanya loncat2 tiba2 dah sampe sini mumet😂
Faradilla
kenapa si Ainsley dibuat kayak perempuan bucin gak nyadar diri sih Thor... gak adil banget... Kebagusan amat si Zack jadinya
Faradilla
pasti Ainsley
Dede
8
Si mamahx anak anak
hhhaaahhhhaaa,,akhirx kau merasakn derita hati ainsley zack...
bunda ime
ff
Julia Lia
miris hidup dua bersaudara 😔
Elfi Susanti
bukankah gambar yang ditemukan Emily dilaci meja Zack adalah Ainsley ibunya Gavin... wah makin rumit... saya pamit baca cerita yg lain dulu.... mumet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!