Ratih seorang wanita yang berpendidikan cukup tinggi, D3 Broadcasting, sempat bekerja di sebuah Production House, tapi karena menikah dia memilih resign dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun kehidupan pernikahan yang dibayangkannya akan bahagia, ternyata penuh luka. Ratih memilih berpisah dari lelaki yang telah memberinya seorang putra.
Ratih tetap melanjutkan hidupnya meskipun dibayangi luka pernikahan, hingga dia bertemu seorang lelaki yang tulus mencintainya dan menjadi suami kedua bagi Ratih. Kehidupan pernikahan keduanya memang tidak lah mulus, namun mereka mampu membuktikan ketulusan cinta dan saling menyembuhkan luka satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kadariah Burhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Cobaan Baru Pernikahanku
Sekilas ku lihat Mas Prabu terlihat sangat kesal melihat aku berlalu di hadapannya tanpa menoleh. Saat ini aku diajak Mama mertuaku duduk di meja para eksekutive. Mereka semua klien penting di perusahaan Papa. Untunglah aku bukan wanita yang mudah melupakan begitu saja apa yang kupelajari.
Dengan cepat aku bisa melebur di dalam pembicaraan, tentu saja itu atas permintaan Mama, sebelum membawaku duduk di meja itu, beliau memintaku untuk rileks dan menjadi diri sendiri. Ikut lebur dalam pembicaraan dengan santai. Tidak harus terlihat pintar dan menjadi orang yang kita tidak suka. Dan hasilnya, Alhamdulillah ketakutanku teratasi tanpa aku sadari.
Aku hanya seorang Ratih Prameswari, wanita biasa seorang Koordinator editor televisi swasta, istri seorang lelaki yang selalu menghargai setiap yang aku katakan dan ku lakukan. Di sini lah aku kini. Di sebuah pergaulan sosial high class namun tetap menjadi diri sendiri tanpa harus tertekan oleh tuntutan menjadi sempurna di mata mertuaku, apalagi di mata orang lain yang tidak kukenal seperti saat ini.
Pandu datang bersama Papa dan duduk di meja berbeda, sebelum duduk di sana, dia sempat menghampiriku dan menyapa semua yang duduk di meja kami. Dan dengan bangga dia mengatakan aku istrinya.
Saat acara santai Pandu menghampiriku dan menemaniku mengambil makanan. Ku lihat Kania menghampiri kami dan tersenyum kepada Pandu.
"Akhirnya kita bisa bertemu di sini Pandu Prayoga, rasanya ngga mungkin kamu tidak mengenalku hanya dalam waktu lima tahun."
Kania mengulurkan tangan pada Pandu. Pandu tersenyum dan menerima dengan ramah dan setelah itu dia mengenalkan aku sebagai istrinya.
Kania tersenyum saat menyalamiku.
"Istrimu cantik banget Pandu."
Pandu tersenyum sembari meraih jemariku. Beberapa saat kami sempat berbasa-basi satu sama lain. Namun kemudian Pandu pamit pada Kania dan membawaku pergi. Sekilas sempat ku lihat kilat cemburu di mata gadis cantik itu.
Saat aku ke toilet untuk membenahi riasan, Kania menghampiri dan berdiri di samping kiriku. Aku tersenyum padanya melalui cermin. Dia tersenyum balik.
"Ratih, aku mantan kekasih suamimu, tapi kamu terlihat tenang dan tidak terintimidasi, kamu terlalu percaya diri ya, kamu ngga pernah tahu 'kan seperti apa Pandu terhadapku di masa lalu? Kamu tidak takut aku dan dia akan kembali saling jatuh cinta?"
Kania memoleskan lipstik di bibirnya.
Aku tersenyum ramah sembari membenahi rambutku yang indah tergerai melewati bahuku.
"Aku tidak perlu takut pada wanita yang telah menjadi mantan dari suamiku, bagaimanapun saat ini dia bersamaku. Mencintaiku dan memiliki keturunan denganku. Kamu hanya masa lalu yang sangat ingin dikuburnya Kania, jangan mencoba untuk mengintimidasi diriku."
Kania kembali tersenyum kali ini terlihat sangat dingin dan sinis.
"Keyakinan kamu pada hati Pandu menandakan kamu tidak benar-benar memahami dan mengerti dirinya. Aku kasihan sama kamu. Oh ya kabarnya kamu janda anak satu saat dinikahinya. Anakmu sedang sakit, Apa kamu ..."
Aku mulai gerah untuk melanjutkan pembicaraan yang aku rasa sangat tidak bermanfaat itu.
"Maaf ya Kania, saranku periksakan dirimu ke Psikiater, seseorang yang memiliki hasrat pada milik orang lain sudah dipastikan ada gangguan kejiwaan." ucapku ringan sembari berlalu dan meninggalkan dia tanpa menoleh lagi.
Sesungguhnya aku cukup gentar berkonfrontasi langsung dengan wanita itu. Tapi aku tak punya pilihan selain melawannya dengan percaya diri. Aku tak akan membiarkan wanita itu menyentuh seinci pun lelaki yang sangat kucintai.
Di tengah pesta yang masih berlangsung meriah, gawaiku berdering dari rumah. Ternyata dari Ibuku, beliau memintaku segera pulang karena Vino di larikan ke rumah sakit. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Seketika aku merasa duniaku runtuh menimpa kepalaku. Dengan gemetar aku mendekati Pandu dan membisikkan berita itu. Pandu terkejut dan tanpa menunda lagi dia menarikku untuk segera meninggalkan pesta. Aku sangat lemah hingga berkali-kali terasa hampir pingsan. Pandu menghentikan jalannya dan menyuruhku melepaskan sepatuku, tanpa banyak bertanya aku melepaskan sepatu dan dengan sigap dia mengambilnya kemudian menggendongku tanpa perduli orang lain yang melihat kebingungan, dia terus menggendongku hingga masuk ke dalam mobil. Sekilas aku melihat Kania yang terlihat sangat cemburu. Dan tatapan dingin Mas Prabu. Aku yang dalam kondisi lemah tak mampu mencerna tatapannya, yang bisa kulakukan hanyalah memeluk lehernya dan mencoba menahan tangis yang mengganjal di kerongkonganku.
Saat di mobil aku menangis perih. Vino kritis, itu yang terakhir dikabarkan kembali oleh Ibuku. Aku tak mampu membayangkan kehancuran hatiku andai terjadi sesuatu pada buah hati ini.
Pandu tak lebih tegar dari aku.
Terlihat wajah yang kaku dan tak terhias sedikitpun senyuman. Dia tak berbicara apa pun. Konsentrasi penuh pada jalanan dan aku merasa dia sangat tercekam. Namun sebuah panggilan telepon terpaksa diangkatnya dengan headset di telinganya.
"Ya Dokter? Ada seseorang yang cocok? Baik dok, apakah Vino masih bisa bertahan sampai tr.ansplantasi itu di lakukan?"
Pandu terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Pandu menutup pembicaraannya dan meminggirkan mobil di pinggir jalan. Dia mendekapku erat.
Pandu mengatakan Vino mendapatkan seorang donor yang sangat cocok dan akan menerima donor itu setelah kondisi Vino membaik.
Pendonor itu sudah beberapa hari ini menemui dokter yang merawat Vino. Sayangnya dia tidak ingin identitasnya terungkap. Namun saat ini Vino sedang dalam kondisi kritis dan mobil kami masih separuh perjalanan karena tempat acara pesta berada di daerah Bogor.
Setelah sampai di RS, aku hanya bisa duduk tak bergerak. Rasa tak berdaya menghadapi kondisi putraku membuat seluruh tubuhku melemah. Pandu tak melepaskan diriku dari pengawasannya. Namun ketika gawainya berbunyi dia tertegun.
"Siapa?" tanyaku khawatir.
"Kania dan telepon ini sejak kita sampai di rumah sakit."
Aku mempersilahkan suamiku mengangkat telepon di hadapanku.
Pandu mengangguk dan me loudspraker panggilan Kania.
"Pandu, saat ini nyawa putra kalian berada di tanganku. Aku bisa saja membatalkan donor itu kalau aku mau, asal kalian tahu aku lah yang memiliki sel punca yang cocok buat putra kesayangan kamu. Aku akan ajukan syarat, donor ini bukan gratis, silahkan kalian berdua pikirkan baik-baik. Nikahi aku secara resmi dan biarkan aku menjadi istri keduamu yang sah. Tawaran ini cuma sekali, kutunggu jawaban kalian sebelum transplantasi dilakukan."
Seketika penglihatan ku gelap dan aku benar-benar kehilangan kesadaran. Masih sempat ku dengar Pandu memanggil namaku panik. Sebelum semuanya tak lagi bisa kurasakan.
Saat membuka mata, Tante Neneng dan Ibu saja yang ku lihat. Tidak tampak Pandu di sisiku. Aku mencari dia di sekelilingku namun tak nampak. Ibu mengerti apa yang kucari dan beliau mengatakan Pandu sedang berbicara dengan banyak orang di telepon bahkan juga dengan adiknya yang saat ini baru tiba di Jakarta.
Kata ibu suamiku tidak tidur semalaman menjagaku. Dan baru tertidur setengah jam dia kembali sibuk mencari orang yang bersedia ikut test kecocokan untuk Vino. Air mataku menetes satu persatu. Dengan gagap aku bercerita kepada ibu dan Tante Neneng tentang kecocokan sel punca mantan kekasih Pandu, tentang syaratnya. Ibu tertegun. Beliau bilang aku seperti berdiri di pinggir jurang dan di belakangku segerombolan hewan buas yang lapar. Melangkah masuk jurang, tidak melangkah disantap binatang buas.
Air mataku tak henti mengalir. Sampai Mama dan Papa datang bersama Pandu.
Pandu mencium keningku dan menggenggam jemariku.
"Kamu harus tenang sayang, kita masih berupaya untuk mencari donor lain. Jangan putus asa ya sayang. Ku mohon. Ingat di rahimmu ada buah hati kita. Kalau kamu stress dia juga merasakan."
Papa juga mengiyakan. Beliau bilang sudah melakukan sesuatu pada pekerjaan Mas Prabu untuk memaksanya ikut menjalani test. Aku hanya tinggal berdo'a dan bersabar.
Pandu memelukku dan mengatakan tak akan menikahi Wanita licik yang menggunakan nyawa anak kecil sebagai taruhannya.
Perasaanku ganang namun air mata di pipi suamiku membuatku tersadar, betapa besar perjuangannya untuk aku dan Vino.
Mama menggenggam tanganku dengan hangat. Keluarga ini bagaikan anugerah luar biasa di hidupku dan Vino.
Bersambung
akhirnya mereka hidup bahagia semuanya..