Akibat desakan dari sang mommy akhirnya Noah terpaksa menikah dengan Zoe adik tirinya. Noah menganggap Zoe sebagai adiknya sendiri bahkan, setelah menikah-pun Noah tetap mengatakan pada semua orang bahwa Zoe adalah adik bukan istrinya.
Pernikahan rahasia antara Noah dan Zoe dari publik ternyata membuat Zoe cukup sakit hati. Ia menaruh perasaan pada Noah yang ia anggap sebagai pria satu-satunya setelah sang daddy yang pantas di jadikan suami tapi, Noah tak pernah mengakuinya lebih dari gelar ADIK.
Apa yang akan Zoe lakukan? Mungkinkah ia akan selalu bersabar menunggu posisi barunya atau pasrah melepaskan Noah?!
....
Bagi yang baru baca cerita ini mohon baca dulu novel IMPOTEN HUSBAND.
Jangan lupa vote, like and komennya say, mohon kritik dan saran tapi dalam bahasa yang manusiawi ya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit
Jam pelajaran yang semakin padat akhir-akhir semester ini membuat Zoe dan teman satu kelasnya harus ekstra bersabar. Sudah berulang kali mereka membahas soal ujian kelulusan dan Universitas kebanggaan mana yang harus di tempati.
Sungguh, itu sangat membosankan. Apalagi Zoe selalu dibahas dalam topik mereka karena nilainya memang tinggi dari yang lain.
"Zoe! Selesai dari sini saya merekomendasikan kamu untuk kuliah di luar negeri. Memang di negara kita semuanya tak kalah bagus tapi untuk mencari pengalaman, saya sarankan kamu pergi ke Oxford."
"Pak! Kami tak dapat rekomendasi?" Tanya salah satu gadis yang duduk paling belakang. Sepertinya ia menyampaikan aspirasi teman-teman mereka.
"Dari tadi selalu Zoe yang di bahas. Kami bosan, pak! Disini bukan hanya Zoe yang mau ke Universitas," Imbuhnya ketus.
Lionger dan Pomey menatap sinis pada gadis itu tapi Zoe hanya acuh.
"Kalian juga mau?"
"Tentu saja, pak! Dengan rekomendasi dari sekolah, kami akan lolos dengan mudah," Binarnya bahagia.
"Apa nilai kamu bagus?"
Jleb..
Pertanyaan itu sukses membuatnya bungkam dengan senyuman menghilang. Ekspresi konyol itu membuat dirinya di tertawakan oleh teman-teman yang lain tapi si paling keras adalah tawa Lionger dan Pomey.
"Itu makanya, kalau iri jangan tanggung-tanggung. Nilai segitu mau di bawa kemana? Melamar jadi TKW, iya?" Ketus Pomey membuat wajah mereka menggelap marah.
"Sialan, kau!!"
"Apaa??" Sinis Pomey tak mau kalah hingga pria paruh baya yang ada di depan sana menggeleng.
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar di sini!"
Mereka langsung diam tak mau masuk ruang konseling karena ini. Zoe-pun mengisyaratkan teman-temannya agar tak ribut lagi.
"Bagaimana Zoe? Kamu setuju?"
"Saya masih harus bicara dengan orang tua saya, pak!"
"Baiklah. Jika kamu berminat hubungi saya. Dan untuk yang lain. Jika saja nilai kalian sama atau lebih dari Zoe maka kalian juga pantas di rekomendasikan sekolah. Ujian kelulusan ini menjadi ajang untuk kalian lolos rekomendasi!"
"Baik, pak!!"
Jawab mereka serempak. Kelas-pun berakhir. Apalagi sore sudah menjelang jadi mereka harus pulang.
Seperti biasa Pomey pergi menjemput kekasihnya di kelas sebelah sedangkan Zoe dan Lionger turun ke lantai bawah.
"Masih di jemput kakakmu?"
"Iya," Jawab Zoe singkat karena ia melihat ponselnya.
"Zoe! Kenapa para saudaramu itu sangat sulit di dekati? Dari Ximen, Ziochi dan sekarang si tampan yang jadi supir pribadimu itu."
Zoe langsung mengeplak kepala Lionger yang cekikikan setelah berhasil menjahilinya. Saat tiba di koridor sekolah, Zoe melihat Ximen yang berjalan angkuh setia dengan wajah datarnya diikuti si badas Ziochi yang tampak sesekali mengacungkan jari tengahnya pada para siswa yang menatapnya kagum.
"Astaga, Ximen-ku!" Histeris Lionger berbalik badan segera memperbaiki tatanan rambutnya.
Zoe hanya menggeleng melihat tingkah gadis itu.
"Kak!" Sapaan singkat Ximen berdiri di depan Zoe begitu juga Ziochi.
"Kakak mau pulang dengan siapa?" Tanya Ziochi meludahkan permen karet yang tadi ia kunyah ke samping.
"Kak Noah jemput. Tapi, tampaknya belum datang," Jawab Zoe seraya melihat ke area depan dan pesan apapun juga belum masuk dari pria itu.
"Mungkin kak Noah sibuk. Kalau begitu denganku saja!" Tawar Ziochi bersemangat.
"Ochi bawa motor?"
"Bawa. Walau harus berdrama dulu dengan daddy," Dengusnya jengah.
Lionger yang sedari tadi menyimak obrolan mereka segera berbalik dan memasang tampang imut di depan Ximen yang bahkan tak memandangnya.
"Hay, Ximen!" Sapanya malu-malu.
Ziochi mengulum senyum jahil melihat wajah tampan Ximen berubah sangat beku.
"Di sapa calon istri kok diam. Hello adik ipar!!"
Ximen melirik tajam Ziochi yang cekikikan. Padahal Ziochi lebih tua satu tahun dari Ximen tapi kelihatannya Ziochi-lah yang paling kekanak-kanakan diantara mereka.
Lionger hampir saja mimisan dengan godaan Ziochi.
"Sudahlah. Kakak hubungi kak Noah dulu untuk pamit pulang."
"Waah. Pamit sama su.."
Ximen langsung menyikut bahu Ziochi yang hampir saja keceplosan di depan Lionger.
"Sorry-sorry!" Ziochi menyengir kuda.
Ximen hanya diam menunggu Zoe pamit pada Noah.
Zoe sudah beberapa kali menelepon dan memberi pesan pada Noah tapi kelihatannya pria itu memang sangat sibuk. Alhasil, ia hanya memberi pesan singkat jika ia pulang dengan Ziochi.
"Kakak tak menjawab?"
"Tadi pagi dia ada meeting. Mungkin masih ada urusan. Kita pulang saja!" Ajak Zoe menyimpan kembali ponselnya lalu menatap Lionger yang masih terkurung dengan pesona Ximen.
"Lio! Kau bawa mobil-kan?"
"A..iya, iya bawa," Jawabnya mengangguk tapi matanya masih fokus pada Ximen.
"Aku duluan!"
Zoe pergi berjalan bersama Ziochi menuju parkiran begitu juga Ximen yang tak lagi punya urusan. Ximen termasuk kera sumbang di sekolah ini.
Ia tak punya jalinan pertemanan apapun bahkan tak khayal para siswa disini merasa Ximen itu punya kelainan sosial.
Drett.. .
Ponsel Ximen menyala. Ada panggilan dari Mubai kaki tangan Marco yang selama ini memang cukup dekat dengannya.
Ximen berdiri di samping mobil seraya mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
"Kau ada waktu hari ini? Boy!"
"Ada." Singkat Ximen datar.
"Ke club biasa sekarang. Kami membahas misi barumu!"
Ximen mematikan panggilan itu lalu masuk ke mobilnya. Ia melajukan benda itu stabil keluar area sekolah sedangkan Ziochi memicingkan mata menatap kilatan mobil mahal sang adik.
"Kak!"
"Apa?" Tanya Zoe memakai helm sementara Ziochi sudah stand-by di atas motor besarnya.
"Sepertinya Ximen mau bertemu calon suamiku."
"Ochi!" Tegur Zoe jengah.
"Kak! Naik cepat!" Desaknya menghidupkan mesin motor sampai suara benda itu mengalun jantan.
"Kau mau kemana?"
"Naik saja! Cepat!"
Mau tak mau Zoe naik tapi terpekik saat Ziochi melajukan benda itu cepat bahkan ia nyaris terjungkal jika tidak berpeggangan ke perut Ziochi.
"OCHIII!!!" Teriak Zoe mencubit paha Ziochi yang cekikikan tapi bukannya memelankan kecepatan ia justru memburu mobil Ximen yang tak lagi tampak.
Gila? Yah. Jika sudah berhubungan dengan calon suaminya, Ziochi bahkan rela menerjang tsunami sekalipun.
Keduanya memakai rok pendek hingga dengan kecepatan seperti itu paha mereka jadi objek fantasi lelaki yang melihat. Tapi, Zoe menjepit roknya agar tak terbang oleh angin dan kedua tangannya juga memeggang rok Ziochi agar tak mengeskposh paha mulus mereka.
Jika daddy Zhen tahu kedua putri kesayangannya sedang menebar pesona di jalanan, sudah pasti pria itu akan mengamuk.
"Ochi! Mobil Ximen sudah jauh. Kita tak bisa mengejarnya."
"Jangan remehkan kemampuan adikmu ini, kak!" Desis Ziochi dengan mata liar menatap kendaraan roda empat di depannya.
Tanpa aba-aba yang jelas Ziochi menyalip mobil itu dan begitulah seterusnya. Ia tak peduli akan omelan Zoe di sepanjang jalan dan umpatan para pengendara lain yang terkejut karena kecepatan motornya diatas rata-rata.
Ziochi sangat mahir meliuk-liukan body motornya yang besar diantara padatnya jalanan. Tak butuh waktu lama, mobil Ximen yang sudah melaju beberapa kilometer dari area sekolah itu bisa ia temukan walau dengan membuat banyak keributan di jalan.
"Ximen kemana?"
"Club," Jawab Ziochi menyeringai.
Mendengar itu Zoe terbelalak. Sialnya belum sempat ia protes Ziochi sudah lebih dulu memacu motornya mengikuti Ximen yang juga terlihat membawa mobil dengan brutal dan buru-buru.
Agar tak ketahuan, Ziochi menyisakan satu mobil di depan mereka agar menghalangi kaca spion mobil Ximen.
"Ochi!! Kak Noah akan marah besar jika kita ke club."
"Kak Noah sibuk. Dia tak akan sempat memantau kita."
Zoe pasrah. Tak mungkin ia terjun dari motor Ziochi sedangkan mereka sudah sangat jauh dari area sekolah dan apartemennya.
Alhasil, Ziochi tetap mengikuti mobil Ximen sampai ke sebuah club milik Marco calon suami Ziochi. MENURUT GADIS BADAS ITU.
Mobil Ximen berhenti di area parkiran dan Ziochi juga memelankan kecepatan motornya dari area jalan yang agak tersembunyi.
Saat Ximen sudah keluar dari mobil dan masuk ke dalam club itu, barulah Ziochi memasukan motornya di ara samping mobil lain agak tersembunyi.
"Ayo kak!"
Zoe turun seraya melepas helmnya. Ia memperbaiki tatanan rambut dan blazer di tubuhnya yang sudah acak-acakan karena angin.
"Ochi yakin mau masuk ke sini lagi? Nanti kak Noah marah, bagaimana?"
"Tenang saja. Lagi pula ini club punya calon suamiku."
Zoe membelo jengah mendengar kepercayaan diri Ziochi yang tak ada habisnya. Mereka berdua berjalan gontai memasuki club bahkan, Ziochi tampak tak canggung lagi dengan aroma minuman yang pekat dan banyaknya orang di dalam sini.
Zoe menatap datar beberapa lelaki yang berjudi sedangkan banyak wanita-wanita malam yang menghibur mereka.
"Kita ke ruang VVIP disini."
Zoe hanya mengikut. Sesekali ia menatap tajam para pria yang terlihat mendelik messum padanya tapi untuk Ziochi, ia langsung melempar beberapa botol kaca di dekatnya pada para lelaki yang terang-terangan mengusiknya.
"Brengsek!!" Maki pria itu memeggangi kepalanya yang berdarah.
Bukannya takut Ziochi justru mengacungkan jari tengahnya seraya berjalan naik ke atas tangga menuju lantai khusus kamar di atas.
"Sialan, gadis itu!"
"Tangkap dia dan seret kemari!!"
5 pria berbadan kekar yang tadi mengawalnya langsung berlari ke arah Ziochi yang menajamkan matanya.
Dengan gerakan stabil Ziochi menarik lengan Zoe kebelakang tubuhnya sementara ia meloncat dari tangga menghadiahkan tendangan ke arah salah satu pria berbadan besar itu sampai terjungkal kebelakang.
"Sudah lama aku tak berolahraga," Gumam Zoe melempar tas sandangnya ke arah Zoe yang sigap menangkap benda itu.
Zoe hanya memandang Ziochi yang bergerak cepat meninju satu persatu wajah para pria itu lalu memutar tubuhnya keras dengan ayunan kaki jenjang menghantam keras perut mereka.
Brakk..
Satu persatu tubuh para pria itu terpental ke arah meja bar di belakangnya.
"Sialan!!"
"Yah. Kau sialan!" Desis Ziochi menangkap lengan salah satu pria yang ingin meninjunya lalu dengan gerakan cepat Ziochi memelintir tangan pria itu.
Semua mata membelalak kala Ziochi menghantamkan kepala pria yang tadi ia pelintir ke peggangan tangga lalu menendang kursi di dekatnya mencegat anak buah lain yang ingin menyerangnya.
Seakan belum puas menghancurkan tempat ini, Ziochi mengambil dua botol wine di meja bar lalu berjalan ke arah para pengawal laki-laki yang tadi ingin menyeretnya.
"K..kau.."
Belum sempat ia bicara botol itu sudah berpindah ke kepalanya. Zoe menggeleng jengah melihat Ziochi membalikan meja judi yang masih di pakai orang-orang yang ada di sana bahkan ia dengan lancangnya meremas dada seorang wanita penghibur yang tadi mematung melihat kekacauan di depan mata.
"Silikon! Benarkan?" Tebak Ziochi terkekeh geli berhasil membuat wajah wanita itu merah padam karena malu.
"Di seluruh tubuhmu ini tak ada yang asli. Hidung implan, bibir di suntik dan ini.."
Menepuk bokong sintal wanita itu di hadapan semua orang.
"Ini hasil bedah yang sempurna!"
"Kauu.."
"Apa? Mau protes? Kalau tak percaya, aku akan keluarkan implanmu!"
Ucapan Ziochi membuat wanita itu pucat memeggangi area dada dan bokongnya sampai tawa Ziochi pecah berhasil membuat kedok wanita itu terbongkar.
Zoe hanya menggeleng saja. Tapi, matanya menangkap kedatangan tiga sosok pria berbeda usia dengan kadar ketampanan yang khas.
Ximen menyorot tajam Zoe yang diam sedangkan sesosok pria tampan berjambang tipis dengan hawa maskulin luar biasa itu lebih fokus pada Ziochi yang masih mengejek para wanita tadi membangga-banggakan tubuhnya.
"Ayolah! Tadi kau menatapku sangat sinis. Kenapa? Malu?"
"Jaga mulutmu!! Kauu.." Wanita itu tercekat saat matanya melihat sosok yang berdiri di atas tangga sana.
Hawa dingin mengintimidasi itu membuat mereka semua memucat kecuali Ziochi, Zoe dan Ximen.
"T..tuan!"
"Tuan?" Gumam Ziochi bingung saat wanita itu menunduk gemetar.
Karena penasaran Ziochi segera menoleh kebelakang hingga matanya terbelalak melihat Marco yang jadi suami idamannya sudah berdiri gagah di sana.
"Arggghh!! Calon suami sudah turun!!" Pekiknya heboh berlari mendekati Marco yang hanya diam dengan wajah datar tampan kian menggoda hati sang curut Noah itu.
"Ochi!" Tegur Zoe kala Ziochi bergelayut manja di lengan kekar Marco tak peduli akan situasi dan tatapan hening sesisi club.
Tapi, Ziochi masa bodoh. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Marco yang sama sekali tak risih.
"Mubai!" Tegasnya pada sang kaki tangan yang tadi berdiri mematung di dekat Ximen.
"Iya, bos!"
"Urus mereka!"
Mubai mengangguk. Tak lama setelahnya datang bawahan Marco langsung menyeret orang-orang yang tadi bermasalah dengan Ziochi.
Melihat itu senyum Ziochi mekar. Ia mengedipkan mata jahilnya pada Zoe yang mendengus kesal di buatnya.
"Uncle! Kapan kita menikah?"
"ZIOCHII!!!" Geram Ximen dan Zoe secara bersamaan.
Ziochi cemberut masam justru terus menempel pada Marco yang tersenyum tipis melihat tingkah anak perempuan Zhen itu.
"Ochi! Kau akan di amuk daddy jika begini. Lepaskan uncle Marco!"
"Tidak mau," Tolak Ziochi justru memeluk leher kekar Marco yang tampak lebih dewasa darinya. Pria berusia kepala empat dengan pahatan menawan dan cool itu justru terlihat jadi sugar daddy untuk Ziochi.
"Kakak laporkan pada daddy!" Ancam Zoe tapi Ziochi masa bodoh.
Ziochi tinggal pura-pura menangis saja untuk meredam amarah sang daddy.
"Kakak pulang sana dengan Ximen!"
"Kau.."
"Nanti aku yang mengantarnya pulang!" Sela Marco buka suara dengan lantunan baritonnya.
Ziochi menyeringai puas melempar kunci motornya pada Zoe yang mendengus kesal.
"Jaga batasanmu. Ingat pesan daddy!" Perjngat Zoe seraya turun membawa tas Ziochi.
"Siap, kak! Paling hanya icip-icip dikit!"
Ximen menatap tajam Ziochi yang seketika cemberut.
"Biasa saja liatnya."
"Aku pergi!" Pamit Ximen pada Marco yang mengangguk datar.
Ximen menyusul Zoe di depan club. Gadis cantik itu mengikatkan blazer di pinggangnya untuk menutupi area paha.
"Bawa mobil! Aku yang bawa motor!"
"Tidak perlu. Kakak bisa," Tolak Zoe juga penasaran ingin mencoba motor Ziochi.
Ia sudah lama tak berkeliling dengan kuda besi ini jadi sedikit mencoba.
"Kau yakin?"
"Hm. Jangan mengadu pada kak Noah!" Sinis Zoe menaiki motornya.
Ximen hanya diam melihat Zoe yang tak canggung sama sekali.
"Titip helm dan tas Ochi!" Memberikan helm dan tas itu pada Ximen yang mengambilnya.
"Ke kediaman daddy?"
"Kakak mau jalan-jalan sebentar," Jawab Zoe menutup kaca helmnya full lalu menghidupkan mesin motor.
Zoe suka suara geberan motor ini apalagi terasa sangat ringan dan gagah. Zoe membunyikan klakson motornya pada Ximen hingga barulah ia memacu kuda besi mahal itu ke jalan di depan yang terlihat tak seramai tadi.
Di tengah perjalananya Zoe menikmati sensasi angin yang menghampas kulitnya. Ia bosan di mobil terus dan Ziochi memang pantas memberontak saat daddy ingin menahan Bee nama motor kesayangannya.
Namun, di tengah asik memacu benda itu Zoe melihat ada motor asing yang mengikutinya. Awalnya Zoe acuh tapi saat lelaki itu mengimbangi kecepatan motor sampai sejajar dengannya Zoe jadi heran.
"Hay!!" Sapa lelaki itu membuka kaca helmnya dengan lambaian tangan.
Zoe tak peduli. Ia menambah kecepatan motornya menyalip beberapa kendaraan di depannya. Tapi, lelaki itu juga mengejarnya.
"Mau main kejar-kejaran rupanya," Desis Zoe menyanggupi itu.
....
Vote and like sayang