"Ini hidupku.Hidup yang perjuangin mati-matian. Hidup ini milikku. Kalian gak berhak ikut campur di dalamnya."
"Kembali kamu Ganesha!"
~~~~~~~~~~~~~
"Aku..hh..gak peduli. Uhuk..meski harus mati sekalipun. Aku cuma mau pulang!"
~~~~~~~~~~~~~
Ganesha Aldean Tirtayasa. Remaja 16 tahun yang mencintai rumahnya lebih dari apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deelyure, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.Tapi, daddy cudah mati?
"Wuaaa!" Cakra terlonjak kaget begitu membuka pintu ia disuguhkan dengan penampakan makhluk kecil dengan handuk menutupi seluruh badannya. Kalau gak kedengeran suara tawanya mungkin udah Cakra gebukin karena mengira itu adalah tuyul.
"Adeekkk....." Panggil Cakra memelas sembari menarik handuk besar yang menutupi adiknya itu, "Kenapa keliaran begini, hm? Jantung abang mau copot rasanya tau ngeliat kamu." Ujarnya pada Ganesha yang hanya tertawa saja begitu Cakra menciumi wajahnya yang masih tersisa titik-titik air.
"Topot? Ati don?" Tanya anak itu tanpa merasa berdosa. (Tl: copot? Mati dong?)
Cakra hanya mencebik dan membawa adiknya dalam gendongan, "Kamu habis mandi, ya? Mandi sama siapa tadi? Bajunya juga belum dipake lagi, haduuhh.... Nanti kamu masuk angin dek."
"Acot." Sarkas bayi itu menepuk mulut Cakra. (Tl: bacot)
Cakra melotot, "Diajarin Sam lagi??!"
Tanpa merasa perlu berpikir, Ganesha mengangguk, "Hu'uh."
Bersamaan dengan itu Sam muncul dengan kondisi yang bisa dibilang... mengenaskan? Pasalnya kemeja yang ia pakai tampak kusut dan lusuh ditambah terlihat basah dibeberapa bagian dengan lengannya yang digulung asal sampai siku. Selain itu juga rambutnya terlihat berantakan dan tampak putih dibeberapa sisi, wajahnya juga ada terdapat noda putih yang sepertinya berasal dari bedak.
Ganesha menatap antusias pada Sam yang menampilkan raut lelah yang kentara, "Cam! Cucu!" Serunya heboh mengulurkan tangan meminta botol susu yang ada di tangan Sam.
Cakra meringis melihat kondisi Sam yang jauh dari kata baik. Ia mengurungkan niatnya untuk menginterogasi asisten ayahnya itu dan mengambil botol susu yang pria itu berikan.
"Nah, Tuan Muda. Anda sudah mendapatkan susunya, sekarang ayo pakai baju," Ajak Sam dengan raut memohon. Kentara sekali kalau ia sudah sangat capek mengurusi Ganesha seharian ini.
Ganesha yang sedang mengisap dotnya menggeleng santai, "Ndwak mwau." (Tl: Ndak mau.)
"A-anu, biar aku yang pakein bajunya. Om istirahat aja," Tutur Cakra prihatin melihat Sam yang kayaknya tekanan batin menjadi pengasuh adiknya.
Sam menyetujui. Ia pamit kembali ke apartemennya untuk membersihkan diri. Setelahnya Cakra membawa adiknya itu ke kamar untuk memakaikan baju kepada anak yang masih berbalut handuk itu.
"Kamu bandel ya tadi? Kasian Om Sam nya, capek banget gitu," Ujar Cakra meletakkan Ganesha di tengah-tengah ranjang. Disana juga sudah ada baju yang disiapkan Sam dan sisa-sisa kekacauan lainnya berupa bedak yang bertebaran dimana-mana dan lembaran tisu yang berserakan di lantai.
Ganesha bodo amat aja. Dia sibuk dengan botol dotnya dan membiarkan Cakra memakaikan baju untuknya. Dalam hati dia memang sedikit-sedikiiiiiiiittt-mengasihani Sam. Tapi salahnya sendiri, Ganesha bilang mau ketemu Roy tapi tidak dituruti oleh pria itu. Dia kan jadi kesel, bukan salahnya kalau kekacauan ini terjadi.
"Selesai!" Seru Cakra setelah puas mendandani adiknya yang masih sibuk dengan botol dot itu. Ia ciumi bayi kesayangannya itu, "Mau main keluar?"
Ganesha menatap malas abangnya itu. Bukannya mengangguk antusias seperti ekspetasi Cakra, anak itu malah merebahkan diri di kasur.
"Lho, dek? Gak mau? Eh-" Cakra berdiri dan tidak sengaja melihat pantulan dirinya di cermin. Ia menepuk jidat, baru sadar kalau sedari tadi ia masih menyandang tas sekolahnya. "Kamu tunggu disini sebentar, ya, abang mau ganti baju dulu."
Ganesha mengibaskan tangannya mengusir Cakra namun tak dilihat lelaki itu karena ia keburu pergi. Setelahnya, Ganesha yang ditinggal sendirian mulai menutup mata dan masuk ke alam mimpi dengan dot di mulutnya.
.
.
.
"Loooyyyy...."
Roy baru turun dari mobil tau-tau ada makhluk seukuran tuyul berlari ke arahnya cuman pake singlet dan koloran. Makin mirip tuyul deh.
"Loy puyang, yeayy!" (Tl:Roy pulang, yeay!)
Anak itu cengengesan memeluk kaki Roy yang terpaku untuk beberapa saat. Ada jeda cukup lama sampai Roy membalas senyumnya dan mengusap lembut puncak kepala anak itu.
"Loy, ayo main!" (Tl: Roy ayo main!)
Roy membawa anak itu ke gendongannya, "Daddy, sayang, bukan Roy," Katanya mengoreksi panggilan bungsunya itu terhadapnya.
Ganesha menaruh telunjuknya di dagu, "Daddy???" Ia lalu menepuk pipi Roy, "Ni, Loy, butan daddy." (Tl: Ini, Roy, bukan daddy)
"Ini daddy," Kata Roy lagi sembari berjalan memasuki rumah, "Daddy kamu yang namanya Roy."
"But—tapi, daddy cudah mati???" (Tl: but—tapi, daddy sudah mati???)
Roy melotot, langkahnya spontan berhenti mendengar anaknya yang berujar ringan tanpa beban, "Siapa bilang begitu?"
"Atu. Daddy nda puyang-puyang. Nda ajak main atu. Nda tengok atu. Ndaa tana-tana tabal atu. Nda nampak di lumah lamaaaa banet. Gugel biyang oyang mati nda bica puyang, nda bica ajak main, nda bica ajak noblol uga," Kata anak itu panjang lebar. Terakhir ia menoleh pada Sam yang baru selesai memarkirkan mobil, "Ya, tan, Cam?" (Tl: Aku. Daddy gak pulang-pulang. Gak aja main aku. Gak tengok aku. Gak tanya-tanya kabar aku. Gak nampak di rumah lamaaaa banget. Google bilang orang mati gak bisa pulang, gak bisa ajak main, gak bisa ajak ngobrol juga. Ya kan, Sam?"
Roy tertegun mendengar omongan anaknya yang belepotan. Tapi meski begitu, ia sangat paham dengan makna tiap kata yang bungsunya itu ucapkan. Ia mendekap Ganesha dengan erat dalam pelukannya.
"Maaf."
Ya Tuhan. Begitu banyak yang terjadi sampai-sampai Roy lupa ada seorang anak yang sangat membutuhkan hadirnya di rumah ini. Roy terlalu larut dalam berbagai hal sampai menyebabkan kesalahan yang teramat fatal. Dan ia bersyukur, amat sangat mensyukuri kepulangannya hari ini. Sebab dengan hal itu ia bisa segera menyadari salahnya sebelum semuanya berkembang menjadi lebih buruk lagi.
Sekarang saja Ganesha sudah menganggapnya sebagai orang mati. Bagaimana bila lebih dari ini? Akan sebesar apa anak itu membencinya nanti?
.....
"Ganesh, tidur sama daddy aja, ya?"
Ganesha mengeratkan pelukannya pada Sam yang menggendongnya, "Ndak ah, Cam aja." (Tl: Gak ah, sama Sam aja.)
"Sam nya mau pulang. Sekarang Ganesh sama daddy, ya?" Roy membujuk dengan sabar.
"Atu ndak puna daddy," Jawab anak itu enteng sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sam yang hanya bisa pasrah saja terjebak di tengah ayah dan anak yang berkonflik itu. (Tl: Aku gak punya daddy.)
Roy mengusap kasar wajahnya, "Roy. Maksudnya Roy, iya. Tidur sama Roy, aja, ya? Biarin Sam pulang."
Tanpa membantah Ganesha membalikkan badannya dan berpindah ke pelukan Roy. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Roy seperti yang tadi ia lakukan pada Sam, "Nantuk, Loy." (Tl: Ngantuk, Roy.)
"Kalau begitu saya pamit undur diri," pamit Sam yang diangguki oleh Roy. Dia segera pergi dari sana sebelum tuan muda kecilnya kembali berubah pikiran dan membuatnya tak jadi pulang.
Roy melangkah menuju kamarnya untuk menidurkan si bungsu yang sepertinya sudah ngantuk berat. Padahal sekarang masih sore, cuacanya juga bagus. Roy awalnya mau mengajak anak itu jalan-jalan di taman. Tapi dia harus mengurungkan niatnya itu melihat mata anaknya yang sudah berat sekali untuk dibuka.
"Ndaakk mauuu...." Rengek Ganesha ketika Roy akan meletakkannya di kasur. Kedua tangannya memeluk erat leher ayahnya itu.
Roy akhirnya beranjak menuju balkon dan duduk di salah satu kursi disana dengan Ganesha di pangkuannya. Ia menunduk menatap anaknya yang terlelap dengan cepat diantara semilir angin sore yang berhembus pelan. Dikecupnya dengan sayang puncak kepala anak itu, lalu tertawa pelan mendengar racauan si anak dalam tidurnya.
"Cam jeyek, hehe...." (Tl: Sam jelek, hehe.....)
.
.
.
aku jadi kangen sama bokem ku yang ini