"Selamanya masa lalu adalah pemenang, siapapun pengisi hati hari ini, akan kalah dengan masa lalu yang datang kembali."
Untuk Sheila, itu tidak berlaku, karna masa lalu yang dicintai suaminya setengah mati itu sudah tiada hampir sepuluh tahun yang lalu karna jatuh ke jurang.
Karna itu, suaminya hanya bisa mencintai dirinya yang masih hidup di dunia ini.
Lantas, bagaimana jika masa lalu yang dikatakan telah meninggal dunia, datang kembali seperti keajaiban dengan anak perempuan berusia sepuluh tahun?
Lantas, apakah benar masa lalu akan tetap menjadi pemenang setelah kembali?
Apakah Sheila hanya menjadi istri pengganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah keluarga, mau?
"Karna kata Arthur mamanya baik, dan aku ga punya mama ya udah aku bilang aja mama Arthur nikah aja sama papi aku, biar aku juga punya mama." Sambung Daniel dengan bangganya.
"Aku yang ngga mau punya saudara tiri kayak kamu." Sahut Arthur dengan jelas dan lugas.
"Nah, habis itu kita berantem deh, pukul-pukulan. Soalnya Arthur ga mau, padahal aku udah bilang papi orangnya baik!" Jawab Daniel dengan gampangnya.
"Iya, tapi kamunya orang jahat." Arthur juga tak ingin kalah.
"Udah ya, Arthur, dan kamu Daniel ya? Kalian berdua tunggu di luar ya." Shei menatap hangat ke arah Daniel.
"Huwaaa!!! Cantiknyaaa! Mukanya bersinar, muka orang baik!" Teriak Daniel setelah melihat wajah tersenyum Shei.
Jujur saja, Shei tidak ingin tersenyum, tapi ia tidak bisa menahan senyumannya untuk merespon celetukan polos bocah tujuh tahun itu. Apalagi wajah Daniel terlihat lucu dan menggemaskan setelah dia mengatakan itu.
"Kan udah aku bilang." Sambung Arthur memasang wajah berbangga diri, dengan dada yang agak dia busungkan. Sangat menggemaskan melihat Arthur yang sok cool tapi ingin sombong juga.
"Tante, jadi mami aku ya?" Daniel mendekat ke arah Shei. Dia menggenggam tangan Shei lembut. Shei sendiri diam, apakah dia harus mengangguk sekedar untuk menenangkan hati sang bocil? Tapi kalau dia mengangguk, artinya dia berbohong kan? berbohong pada anak kecil itu tidak keren.
"Enak aja, itu mama aku!" Potong Arthur cepat.
"Papi, Tante ini calon mama kan?" Gantian, Daniel melirik ke arah Mikhail sambil menggenggam tangan Shei.
"Iya, nah sekarang kamu sama Arthur keluar dulu ya, ada yang mau Papi sama tante omongin sama ibu kepala sekolah, oke? Daniel kan anak pintar." Mikhail mengusap kepala anaknya lembut.
"Oke! Arthur! Calon adik aku, ayo kita keluar dan diskusikan pembagian kamar kalo papi aku sama mama kamu udah nikah, kita mau satu kamar atau berbagi kamar! Kita kan saudara tiri, ayo ayo saudara ku, kita keluar!" Ajak Daniel menggandeng tangan Arthur keluar, dia mengatur bak layaknya seorang kakak yang menuntun adiknya.
Coba lihat ekspresi Arthur sekarang! Matanya melotot, dia menatap jijik ke arah tangan Daniel yang menarik lengannya, belum lagi ocehan tidak jelas bocah itu yang menjadikan Arthur adik tirinya.
Sungguh, kalau Shei sang mama tidak ada disini, Arthur sungguh akan memukul kepala anak ini, sekarang juga. Akan terjadi perang babak dua. Tapi karna ada Shei disini, dan Arthur tidak mau membuat sang mama semakin kerepotan karna dirinya, dia mencoba bersabar dan menahan diri untuk tidak memukul kepala Daniel sekarang juga, ya walau Arthur tetap berniat memukul kepala Daniel ... nanti, atau besok, saat tidak ada Shei. Arthur yakin akan memukulnya.
"Saya bisa--"
"Cukup. Saya sudah tau alasan pertengkaran anak-anak ini apa, tapi bagaimana pertanggungjawaban ibu soal kelalaian para guru itu? Apakah masalah pribadi saya boleh dibahas di sekolah ini sebagai topik pembicaraan, apalagi sampai anak-anak lain dengar. Kalau ini terus terjadi, bisa saja anak saya yang mendapat dampaknya kan? Harus ada sanksi dalam hal ini. Anak saya sudah cukup menderita karena masalah kamu, jadi tolong jangan membuatnya semakin tertekan di sekolah ini." Shei memotong ucapan kepala sekolah itu.
Wajahnya yang tadi tersenyum berubah menjadi marah, Shei kesal, dia marah, pada guru-guru itu, pada Haren, dan juga pada dirinya sendiri. Karna kesalahannya lah Arthur menanggung rasa sakit dan tertekan seperti itu, karna dirinya Arthur harus menanggung malu karna orang tuanya bercerai. Shei menyalahkan semuanya pada dirinya sendiri.
"Bagaimana jika teman-temannya menjauhi Arthur karna perkataan guru-guru itu? Bagaimana jika Arthur stress karna omongan guru-guru itu? Anda tau kan seberapa penting pengaruh sekolah untuk anak kecil yang akan membantu membentuk pribadinya di masa depan?!" Shei mulai meninggikan suaranya, dia sudah terbawa emosi. Sesayang itu memang Shei pada Arthur, jadi kalau ada masalah yang menimpa Arthur karena ulahnya, Shei sungguh terluka, rasa sakit di dada tidak dapat hilang begitu saja.
"Iya Bu, kami mengerti, maafkan kami. Saya akan mencari tau dan menginformasikan oknum guru tersebut, dan saya akan memberikan sanksi berat untuknya." Sepertinya kepala sekolah sudah mulai mengerti situasi saat ini. Perkataan Shei memberinya kesadaran, bahwa di sekolah ini mereka bukan hanya mengajarkan soal materi pendidikan, tapi sopan santun, etika, dan membantu membentuk kepribadian anak-anak bangs menjadi lebih baik.
Benar kata Shei, bisa saja Arthur dijauhi teman-temannya karna perkataan para gurunya, seringkali tanpa sengaja para guru yang membuat satu siswa merasa terpojok, yah walau tanpa sengaja dan tanpa niat yang buruk.
"Baiklah, kalau begitu mohon kerjasamanya. Dan saya juga mohon maaf atas kegaduhan yang anak-anak kami lakukan, atas pertengkaran mereka, kami meminta sekolah menghukumnya secara layak dan adil. Kami percaya pihak sekolah mampu memberikan hukuman yang pantas pada mereka." Ujar Mikhail dengan sopan. Dia tau anaknya juga salah karna sudah bertengkar di sekolah, walau para guru itu juga salah.
"Mereka harus dihukum akan kesalahannya, dihukum dengan wajar untuk memberikan pelajaran jera." Tambah Shei, tampaknya dia sudah jadi lebih tenang.
Obrolan itu berlanjut setidaknya sampai setengah jam. Mencoba mencari jalan tengah dan lainnya.
......................
"Mau pulang bareng ngga Shei? Sekalian aku traktir makan, maaf atas kenakalan Daniel." Tawar Mikhail pada Shei dan Arthur.
Keempatnya saat ini sedang berada di lorong sekolah, dengan Arthur dan juga Daniel sudah menggendong tas mereka masing-masing, juga menggandeng masing-masing tangan orang tuanya.
"Arthur mau?" Tanya Shei menanyakan pendapat Arthur terlebih dahulu.
"Om ini temen lama mama ya?" Arthur membalikkan pertanyaan Shei dengan pertanyaan lainnya.
"Iya, yang kayak mama bilang tadi, om Mikhail ini temen lama mama, temen baik mama dari kecil, Oma sama Opa juga kenal, kita udah ga ketemu selama 20 tahun, udah lama juga."
"Ya udah ayo, Arthur pengen makan ayam."
"Hehehehehe saudara ku memang pengertian." Daniel tertawa puas.
Shei yang melihatnya hanya bisa tersenyum, pun dengan Mikhail. Keempatnya memutuskan untuk menaiki mobil Mikhail saja, sedangkan mobil yang Shei bawa, Shei sudah memanggil sopir ayahnya untuk menjemputnya.
Hanya butuh waktu 20 menit saja untuk mereka sampai di sebuah restoran terdekat, karna Daniel terus saja mengeluh sudah lapar.
Keempatnya berjalan beriringan menuju pintu masuk.
"Wah, kita kayak keluarga lengkap ya. Enaknyaa punya keluarga lengkap, aku juga mau punya keluarga lengkap." Celetuk Daniel polos yang membuat Shei juga Mikhail sama-sama terdiam. Shei tidak tega menyangkalnya karna itu akan merusak senyum tulus Daniel yang polos.
ada kami yg mendukungmu
dia bilang shei murahan tpi dia gak ngaca gitu saat dia ciuman & pelukan didepan istri sahnya dengn wanita lain... meski orang itu org zg prnah dicintainya tpi kn dia dah punya istri jdi dia hrusnya bs tahan kan nafsunya itu.... bahkan dia ceraikan shei krna jalang itu pula, skrg mlah berlagak sok benar dan sok suci ,cuiiihh... jijik liatnya 😤😤😤