Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Kakakmu benar-benar keterlaluan," gerutu Mentari sembari melempar lap kesembarang arah, ia mengelus pinggangnya yang terasa sakit dan dengan perlahan mencoba duduk di atas tepat tidur. "Badan mama rasanya mau copot semua, dari pagi masak, membereskan rumah dan menjaga anak-anaknya yang nakal-nakal itu."
Bintang mengalihkan perhatiannya dari laptopnya ke arah ibundanya, ia juga sebenarnya tak tega melihat ibundanya seperti di perbudak oleh kakaknya sendiri. Tapi, ia juga tak bisa berbuat banyak atau membantu ibunya sebab ia juga baru pulang kuliah dan harus mengerjakan setumpuk tugas-tugasnya. "Kan dari awal Mama yang ngotot tinggal di sini, aku sudah bilang kak Senja sepertinya merasa keberatan kita tinggal di sini," ia beranjak dari tempat duduknya dan beralih duduk di lantai untuk memijat kaki ibundanya. "Lebih baik kita kembali saja ke rumah lama kita bagaimana?"
Mentari menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Mama sudah sangat malu sekali kepada para tetangga di sana. Bagaimana jika kita jual saja rumah itu, lalu kita mengontrak?" ia mencoba mencari gagasan lain selain kembali ke rumah lamanya.
"Mama ngaco, rumah lama kita mana bisa di jual? Itu kan tanah milik KAI, yang ada nanti kita yang di gusur jika sewaktu-waktu pihak KAI mau memperluas wilayahnya."
Mentari terdiam, ia baru ingat jika rumah yang ia dirikan dulu bersama suaminya berada di tanah ilegal, sehingga ia pun tak memiliki surat kepemilikannya. "Ya terus bagaimana?"
Mata Bintang tertuju pada tas branded ibundanya yang berada di atas meja, lalu pandangannya beralih ke perhiasan di tangan ibundanya. "Apa kau lihat-lihat ini?" Mentari langsung menyembunyikan tangannya
"Tidak ada salahnya menjual satu untuk menyewa rumah, dari pada kita tinggal di sini."
Mentari berpikir kembali, dan tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. "Oh iya, tas Mama masih ada di kakakmu!" ia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri Senja di kamarnya, ia berencana menjual tas itu untuk menyewa atau membeli sebuah rumah, sebab ia tak begitu suka dengan model itu tapi jika untuk investasi lumayan sehingga dulu ia memintanya kepada Nadi.
Tok... Tok...
"Senja..." teriak Mentari. "Senja buka pintunya," ia terus menggedor-gedor pintu kamar hingga putrinya keluar.
"Ada apa sih mah?" Senja keluar dengan wajah yang tertutup masker.
"Mana tas Her*es mama? Mama mau pakai besok!" tagihnya bak seorang tukang kredit.
Sesaat Senja terkejut karena tiba-tiba mamanya menagih tasnya, tapi kemudian ia memasang wajah polos dan pura-pura tidak tahu. "Tas yang mana? Aku tidak pernah meminjam tas Mama."
"Jangan bohong kamu!" Tentu saja Mentari tak serta merta mempercayai ucapan putrinya, sebab ia hafal betul dengan seluruh koleksi tasnya. "Kau pinjam tas Mama satu tahun yang lalu, kau taruh dimana?" hilang sudah kesabaran Mentari, ia menerobos masuk ke kamar putrinya yang kebetulan suami putrinya sedang dinas ke luar kota.
"Mama.. Mama... Aku tidak pernah meminjam tas Mama," ia berlari mengejar mamanya dan mencoba menahannya untuk masuk lebih dalam. "Kalau pun aku meminjamnya pasti sudah kukembalikan."
Mentari menyingkirkan tangan Senja, ia terus berjalan menuju lemari kaca tempat penyimpanan tas, matanya yang tajam terus bergerilya mencari keberadaaan tas miliknya. Senja menyelinap ke depan tubuh Mentari untuk menghalangi pandangannya. "Mama, sudah kukatakan tidak ada!"
"Minggir!" Mentari menyingkirkan tubuh putrinya, ia melihat tas miliknya berada di tumpukan tas bagian bawah, meski tas itu sudah tertutup dengan tas lainnya namun Mentari masih bisa mengenali tas miliknya.
"Itu dia tas Mama," ia langsung membuka lemari dan mengeluarkan tas tersebut.
Senja hanya bisa pasrah, sembari menutup wajahnya dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain di pinggang. Aduh.
Mulut Mentari menganga, saat melihat tas mahal itu bolong. "Senja kau apa kan tas Mama?" bentaknya. "Apa kau tahu berapa harga tas ini?" emosi Mentari semakin tak terkendali melihat asetnya di rusak oleh putrinya sendiri. "Tiga ratus juta, Senja... Tiga ratus Juta!!"
Mentari meraih kuping putrinya kemudian memutarnya. "Dasar anak nakal! Kau jadikan aku seolah pembantu yang numpang hidup, tapi kau tak sadar telah merusak tas mahalku. Sekarang kau pilih, kau ganti tas ini dengan tas yang sama atau bisa juga uang dan aku serta adikmu pergi dari rumah ini, atau biarkan kami tinggal di rumah ini dengan nyaman."
"A-aku tak punya uang sebanyak itu," ucap Senja gugup, dengan terpaksa ia memilih pilihan kedua.
"Bagus!" Mentari melepaskan tangannya dari kuping Senja.
"Aww," Senja meringis kesakitan, sembari menggosok-gosokan telinganya. "Telingaku sakit, Mah."
"Makanya jangan durhaka sama Mama! Sekarang buatkan Mama teh hangat dan bawa ke kamar tamu. Mulai sekarang Mama dan Bintang akan pindah ke kamar tamu!" ia berbalik dan jalan ke arah pintu kamar
"Tapi bagaimana jika nanti ada tamuku yang menginap di sini?"
Mentari kembali menoleh ke arah purtinya. "Kalau begitu sekarang juga kau ganti tas Mama yang sudah kau rusak!"
"Baiklah terserah Mama saja." Senja terpaksa membiarkan mama dan adiknya tidur di kamar tamu. Sementara Senja membuat teh di dapur, Mentari kembali ke kamar dengan hati riang.
"Kita pindah ke kamar tamu," Mentari meminta putri bungsunya untuk segera mengemasi barang-barangnya.
Bintang bersorak kegirangan. "Yeeee... Akhirnya kita pindah," ia mendekat ke arah Mentari, lalu memeluknya. "Kehebatan Mama memang sudah tidak dapat di ragukan lagi."
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi keduanya untuk merapihkan barang-barang mereka dan bersiap pindah ke kamar yang berada di sebelah ruang tamu. Saat berjalan melewati ruang keluarga, Mentari dan Bintang berpapasan dengan Senja yang membawa segelas teh panas untuk ibundanya. "Ini tehnya," ucapnya cemberut.
"Ayo sekalian bawa ke kamar!" pandangan Mentari tertuju pada barang-barang yang berada di tangannya. "Kau tak lihat tangan Mama penuh?"
Dengan rasa kesal yang membuncah, ia pun mengikuti Ibu dan adiknya dari belakang. Tiba di ruang tamu, ketiganya di kejutkan dengan kedatangan Gading, suami dari Senja. Gading pulang dengan keadaan mabuk berat bersama wanita sexy.
Senja nyaris pingsan hingga ia menjatuhkan gelas di tangannya melihat suaminya mabuk dan bersama wanita lain. "Apa-apa kamu, Mas?" teriaknya menghampiri suaminya di pintu depan, ia beralih ke wanita yang membawa suaminya pulang. "Kau siapa? Dan mau apa kau bersama suamiku??"
"Aku hanya mengantarnya pulang, tadi dia mabuk berat di bar," wanita sexy itu menepuk bahu Senja. "Kau tidak perlu khawatir, aku tidak suka dengan pria kere," bisiknya sebelum keluar dari kediaman Senja.
"Apa maksud wanita itu?" benaknya penuh tanda tanya, ia kemudian memapah Gading duduk di sofa. Senja membiarkan pria itu tidur di sana sebab, tak ada gunanya berbicara dengan pria mabuk.
Bintang dan Mentari saling pandang, Bintang memberi kode kepada ibunya agar tidak mencampuri urusan kakaknya terlalu jauh, selain itu akar masalah mereka pun belum jelas.