NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkannya, Lalu Menjadi Tawanannya

Aku Menyelamatkannya, Lalu Menjadi Tawanannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.

Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.

Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil sangat sunyi.

Jay beberapa kali melirik ke kaca spion, tetapi tidak berani mengganggu pikiran atasannya.

Tatapan Dylan dingin, namun jauh di dalam matanya, ada kemarahan yang belum pernah Jay lihat sebelumnya.

Empat puluh menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah keluarga Jiang.

Pelayan yang melihat kedatangan Dylan langsung terkejut.

“T-Tuan Muda!”

Dylan bahkan tidak melirik mereka. Langkahnya panjang dan cepat menuju ruang tamu.

Saat itu, Delvin Jiang sedang duduk membaca koran, sementara Moly Su menikmati teh sore bersama Sanny Jiang.

Melihat putranya pulang tanpa pemberitahuan, Delvin Jiang tersenyum.

“Dylan, kenapa tidak memberi tahu lebih dulu? Kondisimu sudah membaik?”

“Dylan, kenapa tidak memberi tahu kepulanganmu? Aku bisa meminta para pelayan menyiapkan makanan untukmu,” tanya Moly dengan senyum lembut.

Dylan hanya diam.

Ia duduk di sofa dengan kaki bersilang, lalu menyalakan sebatang rokok dengan pemantik api. Asap tipis segera memenuhi udara.

“Sejak kapan rumah ini dikuasai orang luar?” sindirnya dingin. “Bahkan kalau aku ingin pulang pun harus melapor dulu?”

Senyum Moly membeku.

“Dylan, jangan salah paham,” Delvin Jiang segera menyela. “Bibimu hanya ingin menyiapkan makanan kesukaanmu.”

“Tidak perlu berpura-pura,” jawab Dylan sambil menghembuskan asap rokok. “Aku tidak membutuhkannya.”

Suasana menjadi canggung.

Sanny Jiang yang duduk di samping Moly mencoba mencairkan suasana.

“Kakak, besok ulang tahunku. Apa Kakak sengaja pulang lebih awal untuk merayakannya bersamaku?” tanyanya dengan wajah penuh harap.

“Jangan bermimpi,” jawab Dylan tanpa sedikit pun emosi. “Aku pulang karena rumah ini adalah peninggalan ibuku.”

Kalimat itu langsung membuat seluruh ruang tamu hening.

Ekspresi Delvin sedikit berubah.

Sementara Moly masih mempertahankan senyum tipisnya.

“Tidak apa-apa,” ucapnya lembut. “Asalkan Dylan pulang, itu sudah lebih dari cukup.”

Kemudian ia menoleh.

“Bibi Ma, cepat siapkan makan malam!”

“Baik, Nyonya!” jawab pelayan paruh baya itu sambil bergegas menuju dapur.

Namun, saat itu, dari luar jendela besar ruang tamu, tatapan Dylan tanpa sengaja menangkap sosok kurus yang sedang membungkuk membersihkan halaman belakang.

Gadis itu mengenakan pakaian pelayan sederhana.

Tubuhnya sangat kurus.

Wajahnya pucat.

Sesekali ia berhenti dan memegangi pinggangnya, seolah menahan rasa sakit yang hebat. Namun setelah menarik napas beberapa kali, ia kembali memaksa dirinya untuk melanjutkan pekerjaan.

Dylan sedikit mengernyit.

“Sejak kapan rumah ini mempekerjakan anak kecil yang sakit?” tanyanya datar.

Delvin dan Moly langsung menegang.

Sanny hanya melirik sekilas lalu mendengus.

“Ah, dia?” ucap Sanny dengan nada meremehkan. “Dia cuma pelayan. Tubuhnya memang lemah sejak lahir.”

Dylan menyipitkan mata.

Tidak tahu mengapa, melihat punggung gadis yang membungkuk itu, hatinya tiba-tiba terasa tidak nyaman.

Tidak lama kemudian, Dylan bangkit dari sofa dan berjalan menuju lantai atas. Langkahnya tenang, tetapi aura dingin yang memancar darinya membuat Delvin, Moly, dan Sanny tanpa sadar ikut mengejarnya.

“Dylan!” seru Delvin.

Namun Dylan tidak menoleh.

Sesampainya di depan kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan, Dylan memutar gagang pintu dan membukanya.

Begitu pintu terbuka, sorot matanya langsung berubah.

Seluruh kamar telah berubah.

Dinding yang dulunya berwarna abu-abu gelap kini dihiasi warna merah muda. Berbagai boneka dan aksesori perempuan memenuhi rak-rak di dalamnya.

Dan di atas tempat tidur besar, tergantung foto Sanny Jiang.

Dylan melangkah masuk perlahan, memandang sekeliling dengan tatapan dingin.

“Dylan, kami tidak tahu kau akan pulang tiba-tiba,” kata Delvin cepat. “Papa akan meminta mereka menyiapkan kamar lain untukmu.”

Dylan menoleh.

“Sejak kapan aku mengizinkan kalian mengusik kamarku?” tanyanya dengan tatapan tajam.

Tanpa menunggu jawaban, ia menghubungi seseorang.

“Hallo, Tuan,” suara Jay terdengar dari telepon.

“Datang ke kamarku sekarang juga.”

“Baik, Tuan.”

“Dylan, jangan marah,” ujar Delvin. “Sanny adalah adikmu. Kamar ini sangat cocok untuknya.”

Tak lama kemudian, Jay masuk ke dalam kamar.

“Tuan.”

“Buang semua barang di kamar ini. Sekarang juga,” perintah Dylan dingin. “Malam ini aku akan tidur di sini.”

“Baik!”

“Dylan!” bentak Delvin. “Kenapa kau harus bersikap seperti ini? Sanny adalah adikmu!”

“Dia anakmu, tapi bukan adikku,” jawab Dylan tanpa ragu. “Aku paling benci ada orang yang menyentuh barangku. Mulai hari ini, kamar ini tidak boleh dipakai siapa pun selain aku.”

“Pa, Ma!” seru Sanny manja dengan mata memerah.

“Dylan, tidak perlu seperti ini,” kata Moly dengan wajah sedih. “Kita adalah satu keluarga.”

Dylan langsung menatapnya tajam.

“Siapa yang memberimu hak bicara di depanku?” bentaknya dingin.

Moly langsung membeku.

“Lebih baik kau diam sebelum aku membuatmu bisu selamanya.”

Wajah Moly seketika pucat.

Jay dan beberapa anak buahnya segera masuk ke kamar dan mulai mengemasi barang-barang Sanny.

“Jangan! Jangan sentuh itu!” teriak Sanny sambil berusaha menghentikan mereka.

Namun tak seorang pun berani mendengarnya.

Dylan berbalik dan melangkah keluar kamar.

“Lemari, kasur, meja, dan apa pun yang pernah disentuh olehnya, buang semuanya,” perintah Dylan tanpa menoleh. “Kosongkan kamar ini dalam satu jam.”

“Baik, Tuan!”

Melihat putrinya menangis, Delvin menggertakkan gigi.

“Dylan Jiang! Jangan keterlaluan!”

Dylan menuruni anak tangga dengan wajah dingin.

Saat ia sampai di belokan tangga menuju ruang tamu, tiba-tiba seseorang berlari tergesa-gesa dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh.

Bruk!

“Ah!”

Karena tidak melihat ke depan, gadis itu menabrak dada Dylan dengan keras.

Nampan di tangannya jatuh ke lantai.

Prang!

Suara pecahan cangkir langsung membuat seluruh ruang tamu menjadi sunyi.

Tubuh kurus gadis itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Namun secara refleks, Dylan mengulurkan tangan dan menangkap pinggangnya.

Namun, saat telapak tangannya menyentuh pinggang gadis itu, tubuh di pelukannya langsung gemetar.

“Hng…”

Wajah gadis itu seketika memucat. Keringat dingin membasahi dahinya.

Dylan mengernyit.

Karena di balik pakaian pelayan yang tipis itu, ia dapat merasakan perban yang masih membalut pinggang gadis tersebut.

Sementara Viona yang kesakitan buru-buru melepaskan diri.

“Maaf… maaf Tuan Muda…” ucapnya panik sambil menundukkan kepala.

Namun ketika wajahnya terangkat, Dylan sedikit tertegun.

Wajah itu sangat pucat.

Tubuhnya sangat kurus.

Dan kedua matanya yang indah menyimpan kelelahan yang dalam.

Yang lebih membuatnya tidak nyaman adalah rasa familiar yang aneh saat melihat gadis itu.

“Siapa namamu?” tanya Dylan tiba-tiba.

Viona menegang.

Sebelum ia sempat menjawab, suara Sanny terdengar dari belakang.

“Kakak, dia hanya pelayan. Tidak perlu mengingat namanya.”

Namun tatapan Dylan tidak pernah lepas dari gadis di hadapannya.

“Aku bertanya padamu,” katanya dingin.

Viona menggenggam ujung bajunya erat.

“Vi… Viona…”

Dua suku kata itu membuat mata Dylan langsung menyipit.

1
erviana erastus
sujud syukur aku....selamat atas kehancuran kalian, 👏🏻👏🏻👏🏻
merry
kejam nuga dilan wkkkk adik se ayah pun gk peduli krn perbuatan orgtua yg jdi penghianat dan pelakor,, mntp dil
merry
bnr tu Jay 😆😆klo bls budi cukup ksh uang yg bnykk beres knn ksh saham juga bisa,,, in dr segala bju pun di atur in mah menlebhin seorg suami yg syg bgtt sm istrinya,, pdhl tau sndri bis mu dan vio bukn pasutri pcr juga buknn
erviana erastus
senangnya aku lihat 3 orang ini hancur lebur 🤭
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
sekali kali di buat tersadar krn selama ini g sadar sadar
erviana erastus
sujud syukur aku 🤭 hancur kalian bertiga manusia2 zholim dan serakah
merry
ngs bls perbuatan Bpk mu yg selingkuh buang kmu demi selingkuhn ya,,, blm lg viona dijadiin babu dan gaji
Henny Syafrida Rani
up terus Thor 😍 lagi seru banget ini
erviana erastus
habis kau delvin .... puas aku 🤭
erviana erastus
langsung eksekusi aza dylan terutama si moly ular
erviana erastus
cuma gtu doang mana ngepek buat dua orang ini 😏 lakukan tindakan tegas semisal blokir semua pendonor biar tau rasa tuh plakor....
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
alhamdulillah dylan masih ada di rumah
erviana erastus
asyik semoga mereka berdua di eksekusi dylan ya setidaknya jual ginjal sama hati mereka 🤣
erviana erastus
habis kau pak tua ... beruntung dokternya langsung tlp dylan
merry
penghianat mati matian berjuang demi ank perselingkuhan y sdgk ank kandung y di lwan,,, emng kamprett tu delvin blm tentu sani itu ank mu x bisa jdi dh hamil tu moly
Maria Mariati
delvin masuk jebakan Dylan😁😁😁
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
ooo jelas tidak bisa, dylan sudah mempersiapkan semuanya. viona g bakalan tersentuh lagi sama kalian
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
lapor ke dylan dokter Xu
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
yaAllah jajaran bgt jd orang, semoga dylan bisa mencegah kekejaman keluarga nya ibu tirinya
erviana erastus
kirain bunting ternyata lbh parah moga cepat kealam baka, kau sentuh viona pak tua siap2 umurmu bakalan pendek ayo dylan sikat habis 3 iblis ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!