📌 Ambil hikmahnya jika ada... Tidak pun, jangan ditiru perilaku yang tidak baik dan melanggar norma...
Satu malam panjang, membawa Elea si gadis 18 tahun kepada hubungan yang tidak sama sekali dia sangkakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 [Frustrasi]
"Maaf, Bos kami tidak bisa hadir. Mungkin untuk satu Minggu ke depan." Ken menutup panggilan telepon, kemudian bergeser menatap kedua pria yang duduk di sofa sisi kanannya.
Dipa membuka kotak p3k, mengeluarkan beberapa jenis obat luka, sedang Ezra terkapar khusyuk dengan ringisan nyerinya.
Rangga baru saja datang dan memberinya pelajaran berharga. Plus hadiah pukulan di beberapa titik tubuhnya, khususnya di bagian wajah tampan yang menjadi aset baginya.
Selama ini Rangga tak tahu menahu soal perjanjian perpisahan yang Ezra buat dan ditandatangani Elea. Hingga saat akta cerai mereka sampai ke tangan Rangga, pria berusia 28 tahun itu datang dengan penuh amarahnya.
Ezra bukan tak mampu melawan, hanya saja, ia masih menganggap Kakak Elea, orang yang perlu dia hormati. Bodohnya, dia membiarkan Rangga menghakiminya dengan tinju geram.
Mengancam, untuk tidak mendekati Elea kembali. Mengancam, untuk tidak menghubungi Elea kembali, apa pun alasannya, Ezra diharamkan bertemu Elea.
Andai saja tidak ada yang melerai, mungkin Ezra sudah lebih babak belur dari yang sekarang. Rangga bisa saja dikenai pasal penganiayaan, sebab Ezra sama sekali tak membalas menyerangnya.
Untuk pertama kalinya Ezra mendapat peloncoan, dan mirisnya, itu terjadi di dalam rumahnya sendiri. Rumah yang menyisakan banyak kenangan bersama Elea, rumah yang mungkin takkan pernah ia tinggalkan.
"Gimana bisa syuting, Bos?" Dipa merutuk sambil mensterilkan luka bos-nya dengan kapas yang dibasahi air hangat. "Untung Bos sudah asuransi wajah, seenggaknya nggak rugi rugi amat lah kita."
"Kau pikir aku peduli uang?" Mendelik kesal, Ezra menoyor kepala Dipa. "Sialan!" meringis nya.
Ken terkikik geli, bisa bisanya Dipa masih sempat memikirkan keuntungan di atas penderitaan sang Tuan.
Setelah mensterilkan luka-luka bos-nya, Dipa lantas membubuhkan obat tetes pada bagian yang lecet. Dan seakan-akan ingin membalut seluruh tubuh sang Tuan, kasa perban dia urai panjang-panjang.
"Kau mau membuat ku seperti Mumi, Dipa?" Ezra terpaku kesal pada wajah nyengir laki-laki itu.
"Hehe... Sorry Bos, kebablasan," ucapnya, sementara Ken hanya asyik menahan tawa melihat cakap sengit mereka.
Lagi, Dipa berlanjut mengurusi luka-luka Ezra, sedang sang empu mendengus kasar dengan pikiran yang mulai meliar ke mana-mana.
Ini bukan tentang wajah bonyok yang menghalangi kegiatan syutingnya. Tapi, soal bagaimana dengan kabar Elea saat ini.
Apa yang Elea rasakan setelah melihat akta cerai mereka. Dan, apakah benar jika Dokter Glans yang tadi mengantar Rangga, akan segera menikahi Elea.
"Sudah resmi bercerai, sekarang lupakan Nona Elea. Fokus ke karir, juga Nona Rigie saja." Seolah tahu apa yang Ezra kalut kan, Ken menegur mengingatkan sang Tuan.
"Semua sudah beres, semoga tidak ada lagi halangan sampai Nona Rigie dibebaskan dan kalian menikah."
Ezra menghela dalam. Setelah semua selesai, dia harus menunggu lagi sampai Rigie bebas dari jeratan hukum yang berlaku.
Rigie dituntut tiga setengah tahun penjara beserta dendanya, yah, tapi mungkin tidak akan selama itu juga.
Paling satu atau dua tahun saja Rigie bisa kembali bebas, tergantung berkelakuan baik atau tidaknya saat menjalani hukuman, sebab itu yang bisa mengurangi masa kurungan.
...,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,....
"Abang nggak habis pikir!" Tatapan Rangga menghunus tajam ke arah adiknya.
Selama beberapa bulan ini Elea harus dirawat karena kehamilannya bermasalah. Tiba-tiba saja akta cerai datang membuatnya tak bisa lagi menahan kekasaran katanya.
"Untuk apa kamu setuju Elea? Permainan macam apa ini? Kau menikah, lalu bercerai saat hamil? Dan semuanya diurus tangan oleh mereka?" Rangga terkekeh sebal seraya menyugar rambutnya.
"Kau ini bodoh atau..."
"Elea sayang, Bang." Elea memotong kata sarkas Abangnya. "Mungkin rasa sayang Elea yang membuat Elea bodoh." Perempuan hamil yang duduk di bangku taman itu melirih dan menunduk, tak lama terdengar isak kecilnya.
Pertama kali Elea menjatuhkan semuanya pada seorang pria selain keluarganya. Dari tubuh hingga hatinya sudah Elea dedikasikan untuk Ezra Laksamana, dan itu menyisakan trauma berat dalam hidupnya.
Tangis yang tak pernah Rangga lihat, kini tumpah setelah dia mengetahui kebenaran yang ada. Sekarang, beban Elea berkurang, karena Rangga telah tahu semuanya.
"Buang jauh-jauh kebodohan mu, jangan sampai aku melihat mu bersamanya lagi, mengerti!" Rangga menepuk-nepuk dadanya.
Elea menatap peduli abangnya yang terbatuk-batuk kesulitan, pria itu lalu pergi meninggalkan adiknya membawa sesak yang tiba-tiba merangsek ke dadanya.
Persetan dengan sakit yang dideritanya, Rangga bahkan siap mati jika saat dia memukuli Ezra, organ tranplantasi nya kembali bermasalah.
Asal bisa melampiaskan amarahnya pada orang yang telah menyakiti Elea, Rangga tak peduli. Sudah akan Rangga pastikan, selama dia masih hidup, Elea takkan pernah ia biarkan menderita.
Ezra takkan pernah bisa melakukan hal yang sama, jangankan Ezra nyamuk saja takkan dia maafkan jika berani menyentuh kulit mulus adiknya.
"Kau terlalu keras, Elea sedang hamil, ingat itu dulu Rangga." Glans menegur sahabat yang duduk di sisinya.
Selama beberapa bulan terakhir, Elea tinggal di klinik Gina. Ada saja yang membuat Elea harus tidur di ranjang pasien, dan Glans ikut menyaksikan perkembangan kehamilan Elea.
Cukup lama Rangga terdiam. Sebelum ia beralih menatap sahabat kecilnya. Sahabat yang selalu baik pada Elea. "Glans..."
"Hmm?" Glans mengalihkan mata yang semula tertuju pada ponselnya, menyorot ke arah Rangga.
"Boleh aku minta sesuatu?"
Glans mengangguk pelan, tapi dari anggukan kecil itu, Rangga bisa melihat kesungguhan dan kesiapan Glans padanya. "Apa? Sebut saja. Kalau aku bisa, aku pasti berikan."
Sejenak, Rangga menghela berat. Kemudian mengembuskan kuat-kuat. Dia kembali menatap Glans, dan kali ini mata Rangga meredup nanar.
"Kalau besok, lusa, atau Minggu depan aku mati, kamu mau kan menikahi Elea?"
"Jangan becanda!" Glans terkesiap sampai melotot sepasang mata indahnya. Ini permintaan paling konyol yang pernah ia dengar dari Rangga. "Kau akan hidup bersama adikmu lebih lama dari yang kau pikirkan, asal kau tahu!" sentaknya.
Sontak, Rangga menunduk frustrasi. "Aku merasa gagal, Glans," lirihnya. "Meski pelaku tabrak lari Mama Papa sudah di hukum, tapi kenyatannya, mereka tidak akan pernah bisa kembali ... Elea hanya punya aku, dan aku sudah tidak yakin dengan usia ku."
Glans menepuk punggung Rangga. Dia tahu apa yang membuat Rangga setakut itu, jelas rasa sayangnya terhadap Elea.
"Jangan pesimis begitu. Aku yakin kau bisa menemani Elea sampai dia menemukan kebahagiaan yang sebenarnya."
"Kau tidak menyukai adikku?" Kembali, Rangga menatap Glans penuh penilaian. "Aku tahu Elea sudah tidak lagi gadis, tapi..."
"Bukan itu masalahnya, Rangga!" Glans memangkas kata-kata temannya, dan Rangga terdiam menyimak ekspresi wajahnya.
Benar, ini bukan soal perasaannya, tapi ada perasaan lain yang tidak boleh diabaikan begitu saja; perasaan Elea yang mungkin masih diliputi trauma, karena tidak mudah menjalani hubungan bersama wanita yang baru saja mengalami kehancuran.
"Elea masih perlu waktu untuk menyembuhkan lukanya. Jangan bicara seolah kau akan mati besok. Aku takut," ucap Glans.
📌 Huuaa, baru bisa up... Insya Allah hari ini lagi...