Fair yang terbiasa hidup manja memilih kabur dari rumah karena sang papa yang terus membela orang lain. Dia bahkan nekat pindah sekolah hanya untuk hidup mandiri.
Di sekolah barunya yang terbilang sangat tak terawat itu, Fair bertemu dengan sahabat baru bernama Sasa. Namun baru hari pertama masuk sekolah, dia sudah dibuat pingsan oleh salah satu cowok populer bernama Gino. Mengakibatkan dirinya harus terlibat dengan teman-teman Gino. Salah satunya Tristan, salah satu sahabat Gino yang memiliki hubungan masa lalu dengan almarhum kakaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
"Tan, lo kenal dia?" tanya Lira menghadap Tristan.
"Nggak penting juga lo tahu," balas cowok itu lalu bangkit dari bangkunya. Dan tanpa pikir panjang Tristan meraih pergelangan tangan Fair lalu membawanya keluar dari kelas itu. Beberapa teman sekelasnya yang berpapasan didepan pintu menatap mereka keheranan. Baru sekarang mereka lihat Tristan dekat dengan cewek.
Fair sendiri yang kebingungan hanya diam saja. Lagian lebih baik di bawah pergi sama cowok itu daripada harus berhadapan dengan cewek yang kelakuannya kayak preman tadi. Bisa-bisa dia ditindas lagi. Kan nggak asyik.
"Ka ... Kak Tristan, " panggil Fair dalam perjalanan mereka. Ia tidak tahu cowok itu mau membawanya ke mana. Tristan berhenti sebentar dan menoleh ke belakang. Tanpa bicara sepatahkatapun, hanya menatap Fair. Menunggu gadis itu bicara sambil bersedekap dada.
"Aku harus ke kelas sekarang, ada tugas bersih-bersih," ucap Fair lalu menunjukkan senyuman termanisnya ke sang kakak kelas.
"Lain kali jangan nguping pembicaraan orang lagi," akhirnya cowok itu buka suara. Tatapannya tajam, tapi Fair sudah terbiasa. Tatapan tuh cowokkan emang selalu begitu. Namun gadis itu tidak terima dibilang nguping. Menurutnya dia tidak menguping.
"Aku nggak nguping kok," bantahnya. Tristan menghadapnya dengan kedua tangan masih terlipat di dada dengan gaya angkuh menatap Fair.
"Terus tadi apaan?" tanyanya kemudian. Lalu dengan pedenya Fair menjawab,
"Kebetulan lewat doang, jadinya bisa denger suara cewek tadi yang lagi nembak kak Tristan, ya udah sekalian liat aja. Siapa tahu seru," Tristan terkekeh.
"Jadi itu namanya apa?" tatapannya dalam dan meresahkan bagi cewek-cewek. Ditatap begitu sama seorang cowok sekelas Tristan? Semuanya juga mau kali. Kayaknya hanya Fair doang cewek yang nggak sadar kalau tatapan Tristan ke dia itu beda. Padahal tiap orang yang liat pasti bakal sadar cara Tristan menatapnya jelas sekali pakai rasa.
"Nguping nggak sengaja?" sahut Fair sukses membuat cowok didepannya tergelak.
"Mana ada nguping nggak sengaja. Aku saranin kamu belajar yang rajin biar pinter," ujar Tristan sambil memegangi kepala gadis itu. Fair mencebik. Dasar cowok nyebelin.
"Udah sana pergi, kelas kamu lagi nunggu dibersihin sama kamu," kata cowok itu lagi kembali memegangi kepala Fair kemudian mendorongnya pelan pergi dari situ. Fair lanjut melangkah dengan wajah bingungnya. Apa dia yang salah dengar, atau cowok tadi memang sudah merubah gaya bicaranya jadi lebih halus? Sesekali ia menoleh kebelakang namun Tristan sudah tidak terlihat lagi. Cepat banget hilangnya.
***
"Ya ampun Fair, lo ke mana aja sih. Kelamaan tahu nggak!" celetuk Sasa jengkel. Sudah di tunggu lama tapi cewek itu nggak muncul-muncul juga. Siapa yang nggak jengkel coba. Mana sudah mau bel lagi. Eh Fair muncul hanya menyengir lebar, membuat Sasa ingin menjitak kepalanya kuat-kuat.
"Maaf Sa, maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Fair. Ia nggak mau cerita soal kejadian memalukan dibalik keterlambatannya. Bisa panjang nanti kalau cerita sama Sasa.
"Nih sapu. Lo mulai dari kanan, gue kiri. Buruan," Fair mengambil sapu yang disodorkan Yaya. Sesaat ia bingung, karena seumur hidup gadis itu belum pernah nyapu. Untung kali ini ia cepat belajar hanya dengan melihat cara Sasa. Ternyata gampang. Dengan senang hati cewek itu beranjak ke bagian kiri dan mulai menyapu. Ia menikmati pekerjaan itu.
Satu lagi pencapaiannya menjadi anak mandiri yang biasa-biasa saja hari ini.
"Oh ya Fair, nanti pulang sekolah kita ada ekskul lagi. Jangan lupa,"
"Ekskul?" ingatan Fair kembali ke seminggu yang lalu, ia kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Nggak deh. Lo aja yang ikut Sa. Gue nggak usah." katanya menolak dengan pasti. Masalahnya itu ekskul renang. Mana mau dia ikut. Orang dia nggak bisa renang sama sekali. Cukup sekali saja waktu itu. Sasa menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap Fair dengan raut wajah keberatan.
"Nggak bisa Fair. Lo udah jadi anggota ekskul. Jadi mau nggak mau lo harus ikut. Emang lo pengen ketua ekskul yang galak itu narik paksa lo?"
"Kok gitu? Kalo gue nggak mau nggak bisa maksa dong," sela Fair dengan mata melotot.
"Bukannya gue maksa Fair, tapi ketua ekskul kita sih kak Larga punya aturan." Fair terus menatap Sasa.
Sasa melanjutkan.
"Jadi gini, siapapun yang udah jadi anggota ekskul renang nggak boleh main keluar kalau belum sampe semingguan. Harus belajar dulu. Kalo nggak jadi-jadi dan nggak tahan lagi baru bisa keluar. Kalo kamu pengen keluar ekskul sebelum seminggu jadi anggota, siap-siap aja kamu nerima hukuman bersih-bersih sekolah selama sebulan penuh. Itu adalah peraturan ekskul kita." jelas Sasa panjang lebar. Fair ternganga.
Ekskul macam apa itu pake peraturan segala. Terus dia mesti gimana dong?Dia kan nggak bisa renang. Di ajarin pun percuma. Udah pengalaman belajar sama kak Sam, sampe kak Sam aja nyerah ngajarin dia.
"Kalo gue saranin sih lo bertahan dulu. Kalo sampe seminggu emang belum jadi-jadi, lo bisa mundur tanpa menerima hukuman."
Sasa benar. Kayaknya Fair memang lebih baik ikut ekskul itu saja dulu. Cewek itu menghela napas.
"Ya udah, gue bakalan coba ikutan ekskul itu selama seminggu." katanya mengambil keputusan. Sasa tersenyum senang.
"Nah gitu dong baru asik."