Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Tidak Akan Mengalah
Di dalam rasa kalut yang menyelimuti dadanya, Gavin berencana pergi malam itu juga. Dia ingin menemui seorang detektif yang dikenalkan oleh temannya, untuk mencari tahu kenapa dia bisa diadopsi oleh Margin dan Erzan.
Apakah kedua orang tuanya sudah meninggal, atau dia memang anak yang tidak diharapkan?
Kepergian Gavin yang terlihat tergesa-gesa ditangkap oleh kedua netra Aina. Gadis itu mengeryit heran, karena sepertinya Gavin sedang mendapatkan masalah.
"Semoga Gavin baik-baik saja," gumam Aina, masih memerhatikan mobil Gavin yang mulai melandas meninggalkan halaman rumah.
Pukul 7 malam Gavin tiba di salah satu restoran. Dan ternyata orang yang ingin dia temui sudah tiba lebih dulu.
"Cari tahu tentang semua masa laluku. Aku akan membayarmu berapa pun!" ucap Gavin seraya melemparkan semua data-data yang dia temukan di brankas milik ayahnya.
Pria bernama Brox itu menyambar kertas yang dilemparkan Gavin, lalu membacanya dengan seksama. Agar dia bisa tahu poinnya.
"Saya butuh waktu beberapa hari, Tuan, jadi saya harap anda bisa bersabar," ujarnya, karena menyelesaikan masalah ini tidak semudah membalik telapak tangan.
Gavin mengangguk dengan tatapannya yang nanar. Dia memang bersyukur bisa dirawat dan dibesarkan di keluarga yang berada. Akan tetapi setiap mengingat perlakuan Danesh yang selalu menunjukkan ketidaksukaannya. Entah kenapa dia jadi merasa jijik.
"Aku tunggu secepat yang kamu bisa. Karena itu harapanku satu-satunya untuk keluar dari keluarga Robinson," ujar Gavin dengan serius.
Karena fakta mengejutkan itu, dia benar-benar tak bisa fokus. Bahkan untuk sekedar menelan saliva saja rasanya sangat berat.
Karena merasa suntuk akhirnya ia pamit pada Brox untuk meninggalkan restoran. Meskipun dia tidak tahu tujuannya ke mana.
Malam itu Gavin mengelilingi ibu kota. Dia terus membawa mobilnya membelah jalan raya. Hingga akhirnya kendaraan roda empat itu berlabuh di sebuah klub malam.
Tanpa pikir panjang Gavin turun dan masuk ke dalam tempat tersebut. Dia juga memesan minuman berharap dengan begitu pikirannya bisa tenang.
"Aku pasti terlihat seperti benalu di matanya," gumam Gavin sambil tersenyum miring, lagi-lagi teringat dengan Danesh.
Hingga entah berapa banyak gelas yang sudah Gavin tenggak. Dia masih belum mabuk juga. Dia mengepalkan tangannya kuat, lalu memukul-mukul meja.
Akan tetapi tiba-tiba pandangan Gavin beralih pada sosok yang berdiri tepat di hadapannya. Dia yang semula menunduk sontak mengangkat kepala.
Dan ternyata orang yang sedari tadi ada di pikirannya, kini sudah ada di depan mata. Dengan cepat Danesh menarik kerah baju Gavin, hingga pemuda itu bangkit dari kursinya.
Danesh mendorong sang adik hingga ke sudut ruangan, agar dia bisa berbicara berdua.
Gavin yang hampir kehilangan kesadarannya sontak terhuyung. Namun, bersyukur dia tak sampai terjungkal ke lantai.
Bugh!
Tubuh Gavin menabrak tembok, sementara matanya kembali menatap Danesh yang sepertinya siap meluapkan amarah.
"Untuk apa kamu masuk ke dalam kamar Daddy, hem?" tanya Danesh dengan mata yang menyalak tajam, karena orang kepercayaannya tak sengaja melihat Gavin yang masuk ke dalam kamar Erzan. Padahal saat itu Gavin merasa situasi sudah sangat aman.
Mendapat pertanyaan itu, Gavin yang biasanya acuh tak acuh, kini justru tersenyum remeh.
"Menurutmu?" Gavin balik bertanya dengan nada menantang, membuat Danesh semakin naik pitam.
Secepat kilat Danesh kembali mencengkram kuat baju adiknya, "jangan membuat tangan ini yang berbicara! Katakan padaku apa yang kamu lakukan? Jangan bilang kamu ingin mengambil semua aset Daddy secara diam-diam!"
"Kalau iya memang kenapa?" tanya Gavin dengan tak kenal takut.
Tepat pada saat itu, Danesh langsung melayangkan tinjunya hingga Gavin tersungkur di lantai. Danesh sudah menduga kalau Gavin juga mengincar harta ayahnya.
Namun, kali ini Gavin tak tinggal diam, dia segera bangkit dan menyerang tubuh Danesh hingga mereka terlibat perkelahian.
"Dasar pecundang!" cibir Danesh setelah berhasil lepas dari serangan Gavin yang membabi buta.
"Hah? Kamu memang tidak pernah berkaca diri! Kamu selalu menganggap orang lain lemah, padahal kamu sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ingat, mulai detik ini aku tidak akan mengalah. Sudah banyak yang aku korbankan untukmu, aku sudah terlalu banyak diam. Hingga kamu menginjak-injak aku. Ingatlah, aku bukan penjilat seperti dirimu, aku selalu berusaha keras di atas kakiku sendiri, bukan mengharap uang dari Daddy!" tegas Gavin dengan suara yang menggebu-gebu karena dia sudah benar-benar kesal dengan sikap Danesh.
Setelah mengatakan itu, Gavin melangkah untuk pergi meninggalkan tempat itu. Anak buah Danesh sempat menahannya, tetapi Danesh menginstruksikan agar membiarkan Gavin pergi.
Dia benar-benar bingung kenapa Gavin bisa berubah seperti itu? Apa yang sebenarnya sudah terjadi.
***
Huh, gue ikut dag-dig-dug 🙈🤣🤣
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡