Perselisihan antara umat manusia dan bangsa siluman mengakibatkan perang besar yang meluluh lantakan daratan timur, kini perang itu kembali pecah di karenakan bangkitnya kembali siluman penguasa yang ratusan tahun silam dikurung dalam segel oleh seorang pemuda misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirles, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi penyelamatan
"Jadi tuan muda, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Feng Ying kepada Tian Zhi.
"Sebaiknya kita harus mencari tahu kemana orang-orang berjubah hitam itu membawa para gadis itu pergi," jawab Tian Zhi.
"Aku setuju," timpal Ming Shu.
"Nona Jia Li, sepertinya kami harus merepotkan mu," ucap Feng Ying dengan senyum penuh arti.
"Aku mengerti, baiklah, sekarang juga kita susun rencana," seru Jia Li.
"Kita bagi tim menjadi dua, kalian para gadis akan menginap di penginapan persinggahan dan kami para pria akan memantau dari luar. Bagaimana?" Feng Ying mengusulkan.
"Maaf, sepertinya kalian bertiga saja yang menjadi umpan, karena aku sudah merasa bosan untuk menjadi umpan yang di abaikan!" ucap Yue Yin.
"Kalau begitu, senior Yue Yin bergabung saja bersama kami untuk mengawasi dari luar," ucap Feng Ying.
"Baiklah, aku setuju," balas Yue Yin.
***
Hari pun telah beranjak sore, kini Jia Li beserta dua teman perempuannya memasuki penginapan persinggahan.
Ini memang bukan untuk pertama kalinya mereka menjadi umpan, namun tetap saja ada rasa khawatir di hati mereka terutama dua teman Jia Li.
"Senior, apa ini serius? Kenapa kita harus menjadi umpan lagi?!" Bisik salah satu teman Jia Li yang bernama Ming Mei.
"Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?" Jia Li balik bertanya.
"Kitakan bisa menunggu gadis yang lain berkunjung ke desa ini dan menginap di penginapan persinggahan," ucap teman Jia Li yang bernama Li Wei dengan suara berbisik.
"Lebih cepat lebih baik, jangan sampai orang-orang berjubah hitam itu menyadari rencana kita," jawab Jia Li.
Merekapun kini terdiam, dalam hati mereka membenarkan apa yang seniornya itu ucapkan, lebih baik mereka bertindak secepatnya sebelum orang-orang berjubah hitam itu menyadari dan malah langsung menyerang mereka.
Jia Li dan dua temannya kini berada di depan kasir. Jia Li memesan dua kamar, satu untuk Jia Li dan satu lagi untuk kedua temannya.
Pelayan yang menjadi kasir pun menyerahkan dua kunci kamar kepada Jia Li setelah Jia Li membayar uang sewa.
Namun sebelum Jia Li dan kedua temannya naik ke lantai dua, pelayan itu mengarahkan Jia Li dan kedua temannya untuk menikmati sajian menu andalan di penginapan persinggahan terlebih dahulu.
Tanpa rasa curiga Jia Li dan kedua temannya mengikuti arahan dari sang pelayan yang di tunjuk sang kasir untuk melayani tamu.
Kini Jia Li telah duduk berhadapan dengan kedua temannya, dan tidak lama kemudian pelayan pun datang menyajikan beberapa hidangan yang sangat menggugah selera.
Pelayan yang menyajikan hidangan pun pamit undur diri setelah tugasnya selesai.
"Wah, sepertinya makanan ini sangat lezat, dari aromanya saja sudah sangat menggoda," ucap Li Wei.
"Kau benar, aku jadi tidak sabar ingin mencicipinya," timpal Ming Mei.
Namun mereka berdua tidak berani menyentuh makanan di hadapannya sebelum seniornya yang memulai terlebih dahulu, Jia Li yang melihat kedua temannya sudah hampir meneteskan air liurnya hanya menahan senyum.
"Mari kita makan!" ajak Jia Li pada akhirnya.
Namun tiba-tiba seseorang menghentikan gerakan Jia Li yang akan menyuapkan makana itu kedalam mulutnya, Jia Li dan kedua temannya pun urung memakan makanan yang sudah hampir masuk kedalam mulut mereka.
"Sebaiknya kalian meminum ramuan ini terlebih dahulu, untuk menetralisir racun yang terkandung dalam makanan itu!" ucap seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian berwarna hijau dengan bola mata yang juga berwarna hijau.
"Maksud nona, ini......" Jia Li menggantung ucapannya karena Jia Li masih merasa ragu.
"Yah, semua makanan ini sudah di bubuhi racun sebelumnya," ucap gadis bermata hijau menjelaskan.
"Apakah berbahaya?" tanya Ming Mei.
""Tidak juga, efeknya hanya akan membuat kalian tertidur pulas dalam waktu dua belas jam," jawab gadis bermata hijau.
"Kalau begitu, terima kasih nona......" ucapan Jia Li kembali terhenti.
"Lien Hua, namaku Lien Hua!" ucap Lien Hua memperkenalkan diri.
"Ah ya, terimakasih nona Lien Hua,"ucap Jia Li.
"Nama saya Jia Li, dan ini teman saya Ming Mei dan Li Wei!" ucap Jia Li memperkenalkan diri beserta kedua temannya.
"MN, setelah kalian meminum ramuan ini, kalian boleh memakan hidangan di atas meja, dan berpura-pura lah untuk mengikuti rencana mereka," ucap Lien Hua.
"Baik nona Lien, kami mengerti," ucap Jia Li.
***
Sore pun kini telah berganti malam.
Saat ini Jia Li telah merebahkan badannya di atas kasur yang sangat empuk, begitu juga Ming Mei dan Li Wei yang berada di kamar bersebelahan dengan kamar Jia Li dan juga Lien Hua. Perut yang sebelumnya sudah penuh dengan makanan dan dengan kasur yang nyaman, membuat ketiga gadis itu kini benar-benar terlelap.
Lien Hua yang merasakan kehadiran orang-orang dengan langkah yang ringan, menandakan bahwa orang-orang yang kini datang mendekat bukanlah orang sembarangan.
Lien Hua pun segera merebahkan badannya di atas kasur dan memejamkan kedua matanya, dengan nafas yang di buat teratur seolah-olah Lien Hua sedang tertidur dengan nyenyak.
Lima orang berjubah hitam masuk kedalam penginapan persinggahan yang kini sudah sepi, karena semua penghuninya sudah tidur di tempat masing-masing.
Dengan santai orang-orang berjubah hitam itu masuk kedalam penginapan Persinggahan dan memasuki salah satu ruangan yang ada di lantai dua.
Tidak lama kemudian, empat orang berjubah hitam keluar dari ruangan dengan membawa kunci di masing-masing tangan ke tiga orang-orang berjubah hitam itu.
Mereka mulai memasukan anak kunci ke pintu kamar yang di tempati oleh Jia Li, Ming Mei dan Li Wei dan juga kamar Lien Hua.
Dua orang masuk kedalam kamar yang di tempati oleh Ming Mei dan Li Wei.
Sementara dua lainnya masuk ke dalam kamar yang di tempati Jia Li dan Lien Hua.
Tidak lama kemudian, satu orang yang di duga adalah bos dari orang-orang berjubah hitam itu mengajak keempat bawahannya untuk kembali setelah keempat bawahannya berhasil membawa gadis di pundak mereka.
"Oh, tidak lagi," gumam Jia li.
Jia Li hanya bisa bersabar, berusaha menahan emosi saat Jia Li kembali diperlakukan layaknya karung beras oleh orang-orang berjubah hitam itu.
Dengan gerakan cepat, orang-orang berjubah hitam itu melompat dari lantai atas dan melompati atap bangunan-bangunan yang mereka lewati ke arah Utara.
Mungkin karena selama satu tahun ini usaha mereka selalu lancar, jadi mereka tidak terlalu waspada. Padahal kini gerakan mereka sedang di awasi sekumpulan pemuda di balik dinding yang terbuat dari sihir tanah buatan Yue Yin.
Setelah merasa jarak mereka cukup aman, Feng Ying memimpin pasukan bertarungnya untuk mengikuti orang-orang berjubah hitam itu pergi.
Begitu juga dengan Tian Zhi, Ming Shu, dan kedua siswa senior yang akan mencari keberadaan para gadis untuk menyelamatkan mereka.
Sementara Yue Yin, dengan malas ikut melangkahkan kakinya, namun entah dengan tujuan apa, dari awal Yue Yin hanya akan bertindak sesuai apa yang ia inginkan.