Aku dapat telfon dari ibu dan katanya itu hal penting ibu meminta ku pulang, terpaksa aku pulang. Aku tidak menyangka aku mendadak di suruh menikah sampai aku tidak menyangka wanita yang akan aku nikahi bukanlah wanita tipe ku, bahkan melainkan jauh dari tipe ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur dzakiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang kelam
Pagi hari, dengan sinar langit yang begitu terang. Awannya tampak sangat putih bercahaya bak kapas tersentuh sinar lapu membuat Najwa tidak dapat menatap langit dengan lama. Setelah menghirup udara segar di pagi hari melihat pemandangan milik kediaman Widjaya yang begitu indah dan dapat menyejukkan pandangan. Sekali Najwa mengucapkan rasa syukur karena masih bisa ia rasakan nikmat Allah dan memuji dunia Allah.
Cukup lama Najwa memandangi keindahan pagi hari dengan udara sejuk, Najwa segera melepaskan Jilbab sholatnya yang masih menempel di tubuhnya dari subuh, kemudian merapikan tempat tidurnya meski tak terlalu berantakan karena di tempat tidur itu hanya dia sendiri yang tidur. Setelah selesai Najwa berjalan menyusuri anak tangga satu persatu menuju dapur saat hendak melewati kamar tamu, Najwa berbalik melihat pintu kamar tamu masih tertutup rapat.
Apa kak Aktar belum bangun?.
Najwa kembali meluruskan pandangannya dan mulai melanjutkan langkahnya menuju dapur, saat tiba di dapur Najwa sudah melihat Irna yang sudah berada di dalamnya dengan memegang sendok wajan di tangan. Irna sudah bertempur di dapur sejak ia bangun, itu ia lakukan hanya buat Aktar. Mungkin dari makanan yang ia buat khusus bisa menyenankan Aktar dan memaafkan kelancangannya pada malam tadi, melihat kekasaran Aktar membuat Irna sedikit terkejut untung saja, pada malam itu ia meninggalkan kamar sebelum Najwa tiba.
"Masyaallah, sungguh rajinnya kamu."Irna berbalik mendengar pujian itu melihat Najwa, ia langsung tersenyum.
Yah aku memang rajin dan yang terbaik, kelak aku yang akan menggantikan mu disamping Aktar. Guman Irna menatap tajam Najwa.
"Sepertinya kak Aktar belum bangun !"Melihat Aktar belum juga muncul, Irna segera menyelesaikan masaknya kemudian menyiapkan di meja dan segera pergi kekamar tamu dimana Aktar ada disana.
Najwa terdiam mematung tidak dapat gubrisan melihat Irna berlalu, Najwa dapat menebak kalau Irna akan kekamar Aktar untuk membangunkannya. Sebenarnya, Najwa risih karena melihat mereka yang terlalu dekat, bukan berarti Najwa cemburu. Melihat mereka yang terlalu akrab itu tidak baik meski mereka sepupu tapi tetap saja bukan Mahrom, keadaan seperti itu bisa saja menimbulkan fitnah.
Di depan kamar tamu Irna terus mengetuk pintunya agar Aktar segera bangun, Irna tidak ingin makanan yang ia masak berlalu dingin dan membuat Aktar tidak berselera memakannya itu hanya akan membuat semuanya sia-sia. Irna tak ada hentinya mengetuk pintu dengan menambah kekuatan pukulannya agar keras di dengar Aktar.
Clek..
Aktar membuka pintu dengan wajah datar dan sorotan mata tajam ia melihat Irna dengan geram, karena membuatnya terganggu. Dan begitu berani.
"Emang kau siapa? dengan beraninya kau mengetuk pintu ku dengan keras, membuat tidurku terganggu !"tatapan matanya semakin tajam, membuat Irna sedikit takut dan mulai canggung untuk memintanya segera kedapur.
"Maaf kak, aku hanya takut kau terlambat bekerja aku juga sudah membuatkan mu sarapan. Maka segeralah kedapur."Irna berusaha mencari alasan dengan tetap menampilkan wajah normalnya meski bedannya terasa gemetar karena takut.
"Pergilah.."Irna mengangguk dengan cepat lalu pergi kedapur, melihat Aktar seperti itu sangat menakutkan apalagi ada hawa pembunuh.
Najwa melihat Irna kembali dengan alhasil nol, karena Aktar tidak bersamanya. Tidak ada yang bisa membangunkan Aktar tanpa hasil dengan kemarahan selalunya dapat marah darinya. Meski dengan niat baik Aktar tetap saja marah.
Saat Aktar sudah kembali ke kamarnya, ia terdiam sebentar menenankan kemarahannya. Huh..dasar wanita merepotkan! entah mengapa wanita semua merepotkan. decak Aktar begitu kesal. Ia terdiam sebentar memikirkan kebodohannya merasa dirinya yang lelah saat bangun pagi sudah harus berolahraga menaiki tangga, bukannya kamar ini miliknya dari awal ? mengapa harus tidur di kamar tamu yang jauh dari nikmat dengan kamarnya sendiri. Dan membuat gadis itu yang menempati kamarnya, Huh ! sungguh bodohnya aku!.
Setelah beberapa menit berlalu Aktar sudah bersiap-siap, ia segera turun menuju dapur. Saat ia tiba Irna tersenyum melihat Aktar sedangkan Najwa hanya diam tanpa reaksi. Irna langsung berdiri dan menyiapkan tempat duduk Aktar. Begitu mempersilahkan Aktar duduk, Aktar hanya menurut. Dengan siap Najwa mengambil pirin untuk menyiapkan makanan Aktar tapi Irna langsung menghentikannya.
"Biar aku saja yang menyiapkan untuk kakak, iyakan kak?"Irna berbalik ke Aktar setengan memegang piring dan sendok, menampilkan senyuman manisnya. Melihatnya Aktar hanya menjawabnya dengan anggukan.
Dengan hati senang dan berbinar Irna menyiapkan makanan untuk Aktar, menurut pikirannya langkah awal ia lakukan sudah berhasil selanjutnya ia akan melayani Aktar dengan baik sampai membuat Aktar tertarik dengannya, dan akhirnya menceraikan Najwa lalu menikahinya.
Najwa yang tidak dapat gubrisan begitu terabaikan, persaan sakit dihatinya tapi ia tetap menampilkan senyuman meski tidak ada yang melihat. Gadis itu melihat Irna melayani Aktar, Aktar pun seperti menerima itu dengan senang. Melihat adegan itu seperti suami istri yang melakukan sarapan pagi dengan bahagia tapi ditengahnya ada penggangu yang menutupi kebahagiaan itu.
Dan dirinyalah yang dimaksud penggangu.
"Kak mau makan apa lagi ? biar aku tambahkan."kata Irna melihat makanan Aktar sudah hampir habis.
"Tidak usah !"kata Aktar tanpa melihat Irna.
Irna melihat wajah Aktar, ia melihat ada sisa makanan yang tertinggal di dekat bibir Aktar. Ia menarik tissu lalu menghapus sisa makanan itu. Reflek Aktar kaget, ia melihat Irna.
"Ada sisa makanan tertinggal, aku bantu memindahkannya."kata Irna sambil tersenyum. Najwa melihat itu ia langsung tertunduk.
"Lain kali, kau jangan lakukan itu."kata Aktar, ia takut Najwa akan salah paham, dan ia akan memberitahu soal itu kepada ibunya.
Lihatlah..Najwa, dengan terus begini kau akan pergi dengan sendirinya. Karena kau tidak pantas bersama dia.
"Eh, kelihatannya kakak ipar tidak suka yah ?, ohh maaf aku hanya mau membantu kak Aktar. Kau tidak usah salah paham."Najwa melihat Irna dengan wajah keherangan.
Apa maksudnya ?. Najwa menampilkan wajah polosnya ia benar-benar tidak tahu maksud Irna.
Dasar Gadis bodoh !! gumam Aktar melihat wajah Najwa yang tidak tahu apa-apa, tapi ia bisa legah karena Najwa juga tidak menangkap semuanya karena kepolosannya.
"Apa yang kamu katakan ?"tanya Najwa dengan tampang polosnya.
"Lupakan saja. Ayo lanjut makannya."kata Irna, Najwa terdiam kemudian ia melanjutkan makannya.
Benar-benar polos. gumam Irna.
Kemudian pembahasan itu selesai di situ, mereka kembali melanjutkan makannya. Aktar melihat Najwa dan Irna, lalu kembali melihat Najwa yang sedang makan ia makan seperti tidak ada yang terjadi. Dan tidak ada perasaan curiga.
Kalau begitu aku tidak usah takut lagi, kalau dia akan melapor ke ibu. karena dia juga tidak tahu apa-apa. gumam Aktar dan kembali memakan makanannya yang belum habis.
Bersambung...
outhor ya kemana ya🤔
Lanjut lagi kak