Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman untuk mereka
Setelah menyelesaikan urusannya lebih cepat dari rencana, Chensi langsung terbang pulang dengan perasaan yang tidak tenang. Sesampainya di kediaman, ia segera melangkah cepat menuju sayap rumah tempat Annisa tinggal, ingin segera melihat wanita hamil itu dan memastikan keadaannya.
Namun saat ia membuka pintu kamar, ruangan itu terasa sunyi dan kosong. Tempat tidur rapi, barang‑barang Annisa masih ada di tempatnya, tapi wanita itu sendiri tidak terlihat.
“Annisa?” panggilnya dengan suara keras, tidak mendapat jawaban.
Jantungnya seketika berdebar kencang. Ia segera berbalik dan berteriak memanggil pelayan. “Di mana Nyonya Annisa? Ke mana dia pergi?”
Semua pelayan saling berpandangan, tampak bingung. Hingga salah satu pelayan yang lebih lama bekerja menjawab dengan gugup. “Tuan… tadi pagi Nona Ailin datang. Dia membawa pesan dari Tuan, dan mengajak Nyonya Annisa jalan‑jalan keluar.”
Mendengar nama Ailin disebut, rahang Chensi langsung mengeras. Wajahnya berubah pucat lalu memerah karena amarah yang mulai membara. Ia melangkah cepat menuju gerbang utama, menghadapi dua orang penjaga yang sedang bertugas.
“Kalian mengizinkan Ailin masuk dan membawa Annisa pergi?” bentaknya dengan suara menggelegar.
Kedua penjaga itu gemetar ketakutan. “Maaf, Tuan… dia bilang dia membawa izin dari Tuan sendiri, bahkan menunjukkan percakapan di ponsel seolah dari Tuan. Kami tidak berani menolak, Tuan…”
Belum sempat mereka menyelesaikan kata‑kata, amarah Chensi sudah tidak bisa ditahan lagi. Dengan satu gerakan cepat, ia menghantamkan tinjunya ke wajah salah satu penjaga, membuat pria itu terjungkal jatuh. Tanpa ampun, ia menghajar keduanya sampai mereka terkapar di tanah, memberikan pelajaran berat karena lalai menjaga keamanan rumah dan mempercayai orang yang tidak berhak.
“Bodoh! Kalian tidak tahu siapa yang harus dipercaya dan siapa yang tidak!” geramnya dengan napas memburu.
Li Wei, asisten setianya, segera mendekat. “Tuan, jangan buang waktu. Kita harus segera mencari Nyonya Annisa!”
Chensi mengangguk cepat, lalu mengeluarkan ponselnya. “Syukurlah aku sudah mengaktifkan fitur pelacak lokasi di ponselnya sejak dia tiba di sini. Dia sering lupa membawa ponsel, jadi aku pasang diam‑diam untuk berjaga‑jaga.”
Dalam hitungan detik, layar ponsel menampilkan titik lokasi yang berada jauh dari kota, di sebuah kawasan sepi yang jarang dikunjungi orang.
“Ke sana sekarang! Gunakan mobil tercepat!” perintah Chensi sambil melompat masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju secepat kilat, membelah jalanan kota dan jalan raya yang semakin sepi. Hati Chensi berdebar kencang, pikirannya dipenuhi rasa takut membayangkan apa yang mungkin terjadi pada Annisa dan janinnya.
Setelah perjalanan yang terasa sangat lama, mereka akhirnya tiba di depan rumah tua yang terbengkalai itu. Begitu Chensi melangkah masuk, pemandangan yang terlihat di depan matanya membuat darahnya seolah mendidih dan matanya memerah penuh amarah.
Annisa terbaring lemah di lantai, wajahnya sudah lebam di beberapa sisi, dahinya berdarah segar yang mengalir turun membasahi pipinya. Di bagian bawah tubuhnya, terlihat noda darah yang semakin melebar—darah segar yang keluar dari dalam rahimnya. Gadis itu masih sadar, namun matanya terpejam setengah, napasnya terengah‑engah menahan rasa sakit yang luar biasa.
Di depannya berdiri Ailin, Nyonya Lin, dan Ayah Chensi yang masih berdiri dengan wajah dingin, seolah baru saja melakukan hal yang wajar.
Seketika itu juga, amarah Chensi meledak melampaui batas. Ia melangkah cepat menghampiri Ailin, lalu tanpa ragu menampar wajah wanita itu dengan kekuatan penuh, sekali, dua kali, hingga Ailin terhuyung jatuh ke lantai. Di sudut bibir wanita itu mengeluarkan cairan merah.
“Kau berani menyentuhnya? Kau berani menyakiti ibu dari anakku?” teriaknya dengan suara menggelegar, suaranya bergema di seluruh ruangan. Tangan Chensi menarik kuat rambut Ailin, sehingga membuatnya berteriak kesakitan.
Tanpa membuang waktu, ia segera membopong tubuh Annisa dengan hati‑hati namun cepat, memastikan kepala dan punggungnya terjaga. “Tahan sebentar, Sayang… aku di sini. Semuanya akan baik‑baik saja,” bisiknya dengan suara bergetar karena campuran rasa takut dan marah. Chensi berjalan melewati Tuan Hong dan Nyonya Lin. Ia menatap pasangan baya itu penuh amarah yang membara.
Setelah meletakkan Annisa dengan aman di dalam mobil yang sudah siap untuk dibawa ke rumah sakit, Chensi kembali masuk ke dalam rumah tua itu dengan tatapan yang masih mengerikan. Ia menatap Li Wei dan orang‑orang kepercayaannya yang mengikuti di belakang.
“Amankan mereka. Potong kedua tangan Ailin ini—sebagai hukuman karena dia berani mengangkat tangan dan menyakiti wanita yang aku lindungi. Jangan sampai dia bisa menyentuh orang lain lagi selamanya,” perintahnya dengan nada dingin tanpa belas kasihan.
Mendengar perintah itu, Ailin menjerit ketakutan, merangkak mundur memohon ampun, namun tidak ada yang mendengarkan. Ia dipegang kuat oleh dua orang pengawal.
"Chensi... Maafkan aku. Tolong jangan lakukan ini padaku!" Teriak Ailin ketakutan.
"Tidak ada kata maaf lagi untukmu. Apakah sebelum bertindak kau sudah memikirkan akibatnya? Eksekusi sekarang!" titahnya pada Li Wei.
“Dan untuk Ayahku dan Nyonya Lin…” lanjut Chensi, menatap mereka dengan pandangan yang sudah tidak ada lagi rasa hormat atau kasih sayang. “Mereka telah mengkhianati darah daging sendiri, berniat melenyapkan anak dan ibu yang aku cintai. Berikan mereka pelajaran yang cukup untuk membuat mereka ingat seumur hidup—jangan sampai mati, tapi buat mereka merasakan rasa sakit yang sama seperti yang mereka berikan pada Annisa hari ini.”
Ayah Chensi dan Nyonya Lin tertegun ketakutan, baru menyadari betapa salahnya mereka menilai kedudukan Annisa dan betapa besarnya rasa sayang Chensi pada gadis itu.
“Chensi… kami ayah dan ibumu! Jangan lakukan ini!” teriak Tuan Hong dengan suara bergetar.
“Kalian sudah bukan lagi orang tua yang aku hormati sejak kalian berniat membunuh anakku dan menyakiti wanita yang aku lindungi,” jawab Chensi dingin. “Mulai hari ini, kalian tidak lagi memiliki hak apa pun atas hidupku. Nikmati hukuman ini, dan ingatlah—siapa pun yang menyakiti orang yang aku sayangi, akan menerima balasan yang setimpal.”