NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jejak di Bekas Tambang

Cahaya matahari pagi baru saja menembus kabut tipis yang menggantung di atas permukaan sungai. Udara terasa lembap, bercampur bau tanah basah dan lumut yang tumbuh di sepanjang tepian jalan.

Niko dan Bastian berjalan menyusuri jalur setapak yang jarang dilewati orang. Jalan itu sempit, berkelok mengikuti aliran sungai, dan ditutupi oleh semak belukar yang sudah tumbuh tinggi selama bertahun-tahun. Mereka berjalan berjarak sekitar tiga langkah, mata terus mengamati sekeliling, telinga menangkap setiap bunyi yang mencurigakan.

Bastian memegang sebilah tongkat kayu yang kuat, sesekali menggunakannya untuk menyingkirkan ranting berduri yang menghalangi jalan. Wajahnya sudah terlihat lebih tenang dibanding semalam, tapi tatapannya tetap tajam, siap siaga kalau ada bahaya yang tiba-tiba muncul.

“Kamu yakin jalur ini benar?” tanyanya pelan, suaranya hanya cukup terdengar oleh Niko di depannya. “Sudah lama sekali aku nggak lewat sini. Rasanya jalurnya makin tertutup.”

Niko melangkah tanpa menoleh, matanya tetap menatap bekas jejak kaki samar di atas tanah yang masih basah embun. “Dulu aku sering lewat sini saat masih berurusan dengan orang-orang itu. Jalan ini memang sengaja dibiarkan tertutup supaya orang awam takut masuk. Tapi bagi mereka yang tahu rahasia kota, ini salah satu jalan terpendek menuju tempat persembunyian yang aman.”

Dia berhenti sejenak, berjongkok, dan mengusap bekas bekas roda yang tercetak di tanah. Jejaknya lebar, dalam, dan terlihat baru saja terbentuk semalam.

“Lihat ini,” katanya sambil menunjuk dengan ujung jari. “Gerobak berat lewat sini. Arahnya lurus ke bekas tambang tua. Sudah pasti mereka bawa sesuatu atau seseorang lewat jalur ini.”

Bastian mendekat, mengamati jejak itu dengan cermat. “Berarti dugaanmu benar. Mereka nggak berani lewat jalan utama karena takut terlihat. Tapi kalau sampai ke sana, kita harus siap menghadapi siapa saja yang berjaga.”

Mereka melanjutkan perjalanan, semakin jauh masuk ke area yang makin sepi. Suara burung yang berkicau di pagi hari perlahan menghilang, digantikan oleh suara air sungai yang mengalir tenang dan desiran angin di antara pepohonan tinggi. Suasana terasa sunyi, hampir terasa mati.

Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka tiba di sebuah celah tebing yang tertutup semak lebat. Di baliknya terlihat mulut terowongan tua yang gelap, dindingnya terbuat dari batu yang sudah menghitam dan lembap. Itulah bekas tambang batu bara yang ditinggalkan puluhan tahun lalu setelah persediaannya habis.

Niko mengangkat tangannya memberi isyarat berhenti. Dia menempelkan punggungnya ke dinding tebing, mengintip dari balik semak, dan mengamati bagian depan mulut terowongan.

Ada dua orang berdiri berjaga di sana. Mereka bersandar di tiang kayu yang sudah lapuk, memegang tongkat besi, dan sesekali mengobrol pelan dengan nada santai. Pakaian mereka lusuh tapi rapi, dan di lengan baju masing-masing terpasang kain kecil berwarna hitam-merah — lambang Elang Darah.

“Dua orang di depan,” bisik Niko. “Mungkin ada lagi di dalam. Kita nggak tahu berapa jumlah mereka sebenarnya.”

Bastian mengepalkan gagang tongkatnya. “Kalau kita serang sekarang, kita bisa selesaikan dengan cepat sebelum mereka sempat memberi tahu yang lain.”

“Tunggu dulu,” potong Niko sambil menahan lengannya. “Ingat tujuan kita. Kita cari tahu keberadaan Pak Rian, bukan mau bikin keributan besar. Kalau kita serang, suara benturan pasti terdengar sampai ke bagian dalam. Kita bisa memicu pertarungan yang belum siap kita hadapi.”

Dia menghela napas pelan, matanya menyipit memikirkan cara lain. “Aku kenal jalan sampingnya. Ada lorong kecil yang dulu dipakai untuk mengangkut sisa batu. Jalannya sempit, tapi cukup untuk dilewati satu orang. Kita bisa masuk lewat situ tanpa terlihat.”

Mereka bergerak memutar mengelilingi tebing, merayap pelan melewati semak yang lebih rapat sampai menemukan celah batu yang tersembunyi di balik akar pohon besar. Ruangnya sempit, cukup untuk merangkak, dan di dalamnya terasa lebih dingin serta lembap.

“Jangan bikin suara apa pun,” pesan Niko sebelum masuk. “Dindingnya tipis. Suara sekecil apa pun bisa terdengar ke luar.”

Mereka merangkak perlahan, tangan dan lutut menyentuh tanah yang penuh kerikil dan lumpur. Di dalam sana hanya gelap gulita, cuma sesekali ada celah kecil yang membiarkan seberkas cahaya matahari masuk. Bau debu tua dan kelembapan menusuk hidung.

Selama perjalanan di lorong itu, pikiran Niko melayang kembali ke masa lalu. Ingatan itu muncul tanpa diminta — saat dia masih seumur tujuh belas tahun, merayap di tempat serupa, membawa barang terlarang karena terancam nyawa kalau menolak. Dia masih ingat betapa takutnya dia saat itu, betapa dia benci hidup yang penuh sembunyi-sembunyi, tapi tidak punya pilihan lain.

“Kamu terlihat dalam pikiran,” suara Bastian membuyarkan lamunannya, berbisik pelan dari belakang. “Masih ingat jalurnya?”

Niko mengangguk pelan. “Masih. Meskipun sudah bertahun-tahun lewat, rasanya seperti baru kemarin aku melangkah di sini. Dulu aku pikir jalan ini cuma akan membawaku masuk lebih dalam ke kegelapan, sampai akhirnya aku bertemu Kael dan yang lain. Mereka mengajarkanku bahwa ada cara lain untuk bertahan hidup tanpa harus menjual hati nurani.”

Bastian terdiam sejenak. “Selama ini aku kira kamu cuma pandai menghitung dan mencatat saja. Ternyata jalan yang kamu lalui juga nggak mudah. Aku baru bergabung dua tahun lalu, saat aku kabur dari kampung halaman. Rumahku dibakar, tanahku dirampas oleh tuan tanah yang punya hubungan dengan kelompok kriminal. Kalau nggak ada Kael yang menolongku saat aku terkapar di pinggir jalan, mungkin aku sudah mati membusuk di selokan.”

Dia menghela napas panjang. “Mungkin itulah kenapa aku nggak bisa diam saja melihat orang baik disakiti. Aku tahu rasanya takut dan tidak punya tempat berlindung. Kita adalah satu-satunya harapan bagi orang-orang yang lemah di kota ini.”

Obrolan mereka terhenti saat lorong itu mulai melebar. Di ujungnya terlihat cahaya redup yang masuk dari celah atap. Mereka berhenti tepat di belakang tumpukan batu besar, lalu mengintip ke ruangan yang lebih luas di depan.

Di sana terlihat beberapa orang bergerak membawa kayu bakar dan air. Di sudut ruangan, terikat di tiang batu, duduk sosok yang sudah lemas — Pak Rian. Wajahnya pucat, ada luka memar di pipi dan dahinya, dan bajunya penuh noda debu serta darah kering.

Dua orang duduk tidak jauh darinya, sesekali melontarkan kata-kata kasar sambil menunggu perintah.

“Sudah semalam dia nggak mau bicara,” kata salah satu dari mereka dengan nada kesal. “Kalau sampai sore nggak ada jawaban, kita harus serahkan dia ke Tuan Vorn. Dia yang tahu cara membuat orang bicara, mau atau tidak.”

“Biarkan saja,” jawab temannya sambil menyandarkan punggung ke dinding. “Tuan Vorn bilang dia tahu di mana barang itu disembunyikan. Kalau benar, kita dapat bagian besar. Kalau dia bohong, kita buang saja mayatnya ke sungai, selesai.”

Mendengar itu, tangan Bastian mengepal erat sampai kuku menusuk telapak tangannya. Matanya menyala marah, hampir saja dia melompat keluar kalau tidak ditahan kuat oleh Niko.

“Jangan dulu,” bisik Niko dengan nada tegas. “Lihat sekeliling. Ada lebih dari enam orang di sini. Kalau kita serang sekarang, Pak Rian bisa terluka kena serangan liar. Kita tunggu sampai ada celah.”

Mereka bersembunyi diam-diam, menunggu kesempatan sambil terus mengamati gerakan setiap orang di dalam sana. Sementara itu, di balik tembok lain yang lebih dalam, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat.

Sosok tinggi berbalut jubah hitam masuk ke ruangan itu. Wajahnya tertutup bayangan, tapi suaranya yang dingin dan menggetarkan hati langsung membuat semua orang yang ada di sana berdiri tegak hormat.

“Sudah dapat jawabannya?” tanyanya pelan.

Salah satu penjaga mendekat, menunduk rendah. “Belum, Tuan. Dia masih diam saja meski sudah disiksa.”

Orang berjubah itu melangkah perlahan mendekati Pak Rian. Dia berjongkok, mengangkat dagu lelaki tua itu dengan ujung jari, lalu menatap matanya yang sayu.

“Kamu bisa bertahan sampai kapan pun,” bisiknya. “Tapi ingat, waktu terus berjalan. Kalau kamu nggak bicara, bukan cuma nyawamu yang melayang. Keluargamu di desa, dan teman-temanmu yang bersembunyi di pabrik tua… mereka juga akan menanggung akibatnya. Apakah kamu sanggup melihat mereka hancur gara-gara keputusanmu?”

Pak Rian mengangkat kepalanya perlahan, meski tubuhnya gemetar hebat. Dia menatap orang itu dengan pandangan yang masih menyimpan keteguhan, lalu berbicara dengan suara serak dan lemah.

“Aku tidak tahu barang apa yang kamu maksud. Dan meskipun aku tahu… aku lebih baik mati daripada membahayakan orang-orang yang sudah melindungi kami selama ini.”

Orang berjubah itu tertawa pelan, suaranya terasa dingin dan tidak ada rasa belas kasihan sedikit pun. Dia berdiri kembali, meluruskan punggungnya, lalu menoleh ke arah penjaga.

“Baiklah. Kalau dia ingin mati dengan cara yang sulit, penuhi keinginannya. Besok pagi bawa dia ke alun-alun kota. Kita jadikan dia contoh bagi siapa saja yang berani menutupi rahasia dari Elang Darah.”

Perintah itu membuat jantung Niko dan Bastian berdegup lebih kencang. Kalau sampai besok pagi, nyawa Pak Rian benar-benar akan melayang, dan nama Malaikat Hitam akan tercoreng di mata seluruh warga kota.

Di balik tumpukan batu, Niko menoleh ke Bastian, matanya menyampaikan satu hal: mereka tidak punya banyak waktu lagi. Keputusan harus diambil sekarang juga, meskipun risikonya sangat besar.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!