NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:23.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kak Vi

Xin Fai seorang anak nelayan yang tinggal di pinggiran Kekaisaran Shang harus menerima kenyataan bahwa desanya dibantai oleh organisasi gelap bernama Manusia Darah Iblis! Dia terus mengemban dendamnya itu hingga muncul sosok iblis dalam dirinya, membuat ia tak terkalahkan sekaligus membuat orang-orang takut kepadanya meskipun Xin Fai berada di jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 21 - Sebuah Janji

Setelah membuat peristirahatan terakhir untuk kakek itu, Xin Fai berniat melanjutkan perjalanannya. Ia kembali berjalan mengendap-endap di balik tembok. Seketika rasa mual menyerang karena kakinya terpaksa menginjak tumpukan daging di jalan sempit.

Sepanjang gang itu hanya dipenuhi oleh mayat manusia. Mungkin ini merupakan pengalaman yang berguna baginya, dia harus membiasakan diri sebaik mungkin.

Setelah meyakinkan dirinya agar tidak takut dengan darah Xin Fai berlari kecil. Tepat di depan gang terlihat sebuah tenda kecil yang jauh lebih bersih dari tempat lain. Di sekitarnya tidak ada mayat-mayat lagi, namun pengawasannya begitu ketat.

Xin Fai berjalan jongkok, untungnya gang ini gelap dan dia bisa bersembunyi dalam kegelapan. Satu hal yang Xin Fai takutkan, jika orang di sana bisa merasakan keberadaannya akan sangat berbahaya, dengan memikirkan itu dia memilih jarak yang cukup aman.

"Ahh... Rupanya mereka sedang berpesta." Xin Fai tersenyum licik, dia mengeluarkan sisa racun dari Kelabang Lima Mata di sakunya. "Aku akan membuat pesta mereka jauh lebih meriah dengan ini."

Xin Fai menengok kanan kiri ketika pandangan para penjaga ke arah lain dia buru-buru berlari. Ia berhenti di belakang tenda dan memastikan tidak ada yang melihatnya.

Xin Fai merobek sedikit belakang tenda itu seukuran tangannya, dari bolongan tersebut dapat terlihat sebuah guci berisi arak. Senyum Xin Fai makin melebar, dia meneteskan racun di atas kain penutupnya. Dan bisa dipastikan racun tersebut sudah menyatu dengan arak.

"Ada anak kecil di sana! Tangkap dia!"

Xin Fai terkejut bukan main, ia berjongkok dan menyembunyikan diri di balik kotak kayu. Setelah menunggu lama tidak ada suara ia mengangkat kepalanya dan mendapati seorang gadis kecil tengah meronta-ronta di pundak seorang pria dengan tato kalajengking merah di dadanya.

Xin Fai mundur ke samping saat pria itu hendak lewat di sampingnya, untung saja kotak kayu itu dapat menyembunyikannya dengan sangat baik. Pria itu tak menyadari kehadirannya.

Sejenak tatapan Xin Fai terkunci pada gadis kecil tersebut, dia teringat pada adiknya Xin Xia.

Gadis kecil itu meronta-ronta hingga membuat pria yang menggendongnya kesal. Ia diturunkan dengan kasar.

"Dasar anak kecil tidak tahu diuntung! Seharusnya kau bersyukur aku tidak membunuhmu tadi!"

Anak kecil itu menangis tersedu sedan. "Tapi kau hiks... Kau membunuh Ayah Ibuku!"

"Hahaha gadis yang malang." Pria lainnya menimpali, mereka duduk di depan tenda sambil duduk di atas kotak kayu. Lalu salah satu dari mereka menyodorkan arak yang telah diracuni oleh Xin Fai tadi, mereka meminumnya dengan nikmat.

Xin Fai mengerutkan dahinya ketika mereka tampak baik-baik saja sedangkan gadis malang itu diikat di pohon dengan tangisan yang membuat Xin Fai iba.

Setelah memastikan rencananya gagal ia berencana menyelamatkan gadis malang itu, Xin Fai berjalan mengendap-endap di tempat yang aman. Saat melihat para penjaga mengalihkan pandangan ke arah lain ia bergegas berlari sebelum teriakan pria dewasa mengoyak telinganya.

"Hei ada seorang bocah penyusup!"

"Bunuh dia!"

"Tangkap!!"

Xin Fai terkejut di tempatnya berdiri, padahal dia sudah mengambil jarak yang cukup aman namun pria yang menggendong gadis kecil tadi bisa merasakan kehadirannya.

Dia berlari sekuat tenaga namun kaki kecilnya terlalu lamban, dengan mudah dirinya dikejar oleh lima pendekar hitam.

"Mau lari ke mana lagi kau bocah?!"

Xin Fai memberontak dikepung begitu namun tak punya pilihan lain, dia diikat di bawah pohon tempat gadis kecil itu diikat. "Seharusnya kau tetap bersembunyi di sana tadi..." Ucap gadis kecil itu setelah agak lama terdiam.

Sambil mengembuskan napas kasar, Xin Fai bersuara pelan. "Namamu siapa kalau boleh tahu?"

"Mei Lian, kau?"

"Aku Xin Fai, tenang saja kita pasti bisa keluar dari sini." Xin Fai berkata yakin meskipun belum mendapatkan ide setidaknya dia ingin Mei Lian merasa aman.

"Kenapa kau membantuku? Aku bahkan tidak mengenalmu.." tanya Mei Lian merasa aneh.

Xin Fai menjelaskan, "Kau mirip seperti adikku, Xin Xia."

"Benarkah?"

"Ya. Tapi dia sudah tidak ada, dia dibunuh oleh Manusia Darah Iblis juga." Wajah Mei Lian berangsur kasihan, dia mulai percaya pada Xin Fai.

Namun tetap saja Mei Lian tahu benar bahwa kematian mereka berdua sudah begitu dekat, saat para pendekar aliran hitam membawa seekor harimau dengan bintik-bintik merah di tubuhnya.

Mei Lian memejamkan mata ketakutan saat siluman harimau itu mengendus tubuhnya, setelahnya siluman tersebut berganti mendekati Xin Fai. Namun mahluk buas itu mundur beberapa langkah ketika merasakan sesuatu yang begitu mengancam.

"Hei? Ada apa denganmu? Aku sengaja menangkap mereka sebagai pengganti makan malammu." Seorang pria di samping harimau bergerutu.

Namun Xin Fai bisa merasakan bahwa kekuatan harimau tersebut jauh lemah dibanding siluman yang pernah dia temui. Bahkan Serigala Malam pun masih kuat dibandingkan dengannya.

Harimau itu mengamati tubuh Xin Fai dengan mata merahnya yang menusuk, binatang itu bisa merasakan hawa pembunuh yang begitu kuat ketika mencoba mendekati Xin Fai.

Sementara harimau itu tidak kunjung memakan kedua anak kecil tersebut, pria yang di sampingnya mulai bergumam jengkel.

"Ah sudahlah kalau kau tidak mau makan ya sudah!"

Pria itu kembali ke tenda yang letaknya agak jauh dari lokasi mereka diikat. Xin Fai memasang tatapan awas takut harimau tersebut tiba-tiba menerkamnya. Dia mengarahkan tubuhnya ke depan sang harimau membuat binatang itu merasa terancam dan perlahan pergi dari tempatnya.

Ikatan tali di tangan Xin Fai membuat ia tak bisa lari, Xin Fai merenung mencari cara. Setelah membuka mata, Mei Lian yang di sampingnya merasa aneh saat mata Xin Fai menyala keemasan. Ia hanya memerhatikan tanpa banyak berkata.

Lalu Xin Fai memusatkan tenaga dalam, ia menarik napas dengan perlahan-lahan sambil meningkatkan konsentrasi. Secara tak diduga muncul cahaya keemasan yang berbentuk pisau angin mengelilingi tangannya, dia melepaskan pisau cahaya itu dan membuat tali yang mengikat tangannya mulai sobek.

Setelah berkali-kali melakukan hal yang sama akhirnya tali mulai mengendur, Xin Fai melepaskan dirinya dan juga Mei Lian. Mereka berniat melarikan diri bersama namun tiba-tiba Xin Fai memintanya untuk pergi sendiri.

"Aku masih harus menetap di sini untuk menyelamatkan orang yang tersisa. Kau lari lah sekencang mungkin ke arah barat, seharusnya ada rombongan penduduk yang sedang berjalan di sana."

"Kenapa? Aku tidak mau, kau harus ikut dan kita akan pergi sama-sama." Mei Lian memohon namun Xin Fai tetap bersikukuh.

"Aku janji tidak akan terbunuh, kau bisa memegang janjiku ini." Xin Fai tersenyum dengan mengangkat jari kelingkingnya. "Tapi... Tapi aku takut..."

Mei Lian hanya menatap kelingking Xin Fai ragu, mendapat respon seperti itu Xin Fai mencari cara lain.

"Tidak ada yang perlu kau takutkan," kata Xin Fai sambil melepaskan kalung berbentuk kerang pemberian ibunya dua tahun yang lalu. Dia berniat memberikannya pada Mei Lian.

"Selama kau memiliki ini, kau pasti akan baik-baik saja."

"Apakah kita akan bertemu lagi? Bagaimana caranya aku mengembalikan kalung ini padamu?"

"Tenang, kau bisa mengembalikannya kapan saja," jawab Xin Fai tanpa lupa tersenyum hangat.

Ia merasa Mei Lian sangat mirip dengan adiknya yang memiliki bola mata indah dan kulit seputih salju.

"Kau berjanji, kan?"

"Iya, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Dan saat itu kau bisa mengembalikan kalung ini kepadaku."

Cukup sulit meyakinkan Mei Lian namun Xin Fai sudah terbiasa mengingat adiknya dulu lebih keras kepala. Ia menatap kepergian Mei Lian yang memasuki hutan rimba sendiri, walaupun tak tega namun dia tak punya pilihan lain untuk memastikan gadis kecil itu aman.

"Suatu saat nanti, ya?" gumamnya pelan, ia tersenyum kecil.

***

1
Guttasilo Sasmita
Santai aja Thor, saya selalu kaki like.
Lanjuuuttttt.. 👍👍👍
Guttasilo Sasmita
Lanjut Thor, menarik ceritanya.
Semangaaaaattt..
Guttasilo Sasmita
Tetap semangat Thor. Sejauh ini masih ok ceritanya🙏🙏🙏
Rusdi Bintang
terlalu bertele tele skiipp
Abdee vj
Luar biasa
𝙕𝙯𝙯: mampir kak, judulnya Iblis penyerap darah, kali aja suka🙏
total 1 replies
Abdee vj
aromanya bakal ada kekacauan ditengah turnamen, seperti cerita LPN/Casual/
Abdee vj
Luar biasa
Ferdy Palit
iklan Pinjol lagi
Surdi
oke
VirgoRaurus 31Smile
loh ..bukankah sudah di kunci dg rantai neraka dari berbagai arah...kok masih leluasa bergerak, bahkan keluar dari air panas....
VirgoRaurus 31Smile
dengan mata yg sedang dibuatnya...maksudnya "mantra"....
VirgoRaurus 31Smile
katanya kutub Utara, ya harusnya paling Utara...kok paling timur...
VirgoRaurus 31Smile
perang perang apa pedang pedang ini Thor...
VirgoRaurus 31Smile
tuh kan bisa menggunakan jurus perpindahan ruang...kenapa ga dipakai sedari tadi....dasar Author oon, maunya mendramatisir cerita, tp ketahuan oon nya.
VirgoRaurus 31Smile
yg namanya mayat berarti dia mati...ga punya energi kehidupan....ini kok energi kehidupan dari mayat...yg bener aja Thor....
VirgoRaurus 31Smile
kenapa ga pakai jurus ruangnya....MC kebanyakan ilmu, jadi lupa punya jurus yg bisa memperpendek jarak...atau Authornya yg oon...?
VirgoRaurus 31Smile
apa MC lupa dg batu yg diberikan olah iblis sebelum dia musnah, di batu tsb ada sedikit jiwa iblis suami dari ratu iblis....
VirgoRaurus 31Smile
saat MC ingin menusuk jantung Liu Fengying & Xin Xia menghalangi dg tangannya, ternyata pedang bisa menembus tangan Xin Xia...harusnya pedang MC bisa menusuk jantung Liu Fengying....
VirgoRaurus 31Smile
MC lupa dg rencana peledakan pintu gerbang markas musuh demi menghindari pasukannya banyak yg mati kena panah...
VirgoRaurus 31Smile
berceloteh...kalau cuma satu atau dua patah kata, ga bisa di anggap berceloteh...kalau dia cerewet, ngomong terus yg ga ada juntrungannya barulah dia dianggap berceloteh...tahu ga Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!