°•°Serial Detektif/Kriminal°•°
S2 CLBK [Cinta Lama Belum Kelar].
Alangka baiknya membaca novel tersebut di atas, sebelum membaca novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'Kasus Selokan' dan 'Asmara' serta 'Problem Hidup' dari tokoh-tokohnya.
Tawa dan tangis seiring sejalan dalam hidup seseorang. Tidak selamanya ada tangis, tidak selamanya tertawa. Semuanya silih berganti menghiasi hidup. Itulah romantika kehidupan'.
Mampukah Kaliana sang detektif dan 'Team Sopape' bisa menolong Chasina yang telah ditahan sebagai pelaku pembunuhan?
Bagaimana dengan 'Kasus Hati' Marons dan Kaliana? Siapakah yang akan menyelesaikan kasus ini?
"Kebenaran selalu menemukan jalannya, untuk menolong setiap orang yang berjalan di jalan-Nya."
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pemeriksaan.
...~•Happy Reading•~...
Kaliana mengabaikan protes Yicoe dan Novie serta tawa Putra. 'Pasti mereka berdua sedang membuat wajah kesal yang lucu, sehingga Putra tertawa.' Kaliana berkata dalam hati, karena sudah tahu kebiasaan Yicoe dan Novie yang suka ngeledekin Putra.
"Sekali-sekali, kami perlu cuci mata juga Mbak." Ucapan Yicoe membuat mereka bertiga kembali tertawa. Tetapi Kaliana terus menahan ucapan untuk tidak menegur anggota team yang mulai terbagi konsentrasi, karena Bryan.
"Mbak Anna, tolong di screenshot orangnya." Putra melihat Kaliana masih atur posisi untuk lakukan pemeriksaan.
"Sekalian diprint, Mbak Anna." Yicoe berkata, lalu tertawa.
"Jangan lupa laminating juga Mbak. Biar awet..." Novie menimpali, membuat mereka kembali tertawa.
Kaliana hanya diam mendengar candaan anggota team tanpa bisa membalas, padahal sudah di ujung lidah untuk membalas mereka. Hal itu membuat Kaliana kesal, tidak bisa membalas candaan asal mereka.
"Silahkan duduk di situ, Pak. Maaf, Pak Adolfis dan Pak Bryan. Saya membelakangi anda berdua." Ucapan Kaliana membuat anggota team terdiam dan kembali serius. Putra mulai mengatur posisi kamera Kaliana, karena Kaliana sedang menunggu Putra memberikan arahan untuk posisi kamera.
"Tidak apa-apa, Bu. Silahkan." Pak Adolfis berkata pelan. Beliau mengerti, mengapa Kaliana membelakangi mereka, agar tidak terganggu.
Kaliana mulai lakukan pemeriksaan setelah Putra memberikan kode, posisinya sudah 'OK'. "Sebutkan identitas lengkap anda, Pak." Kaliana melihat sopir Chasina yang duduk di depannya.
"Nama saya....." Sopir Chasina memberitahukan identitasnya dengan benar dan rinci sambil mengeluarkan kartu identitas. Kaliana mengambil kartu indentitas dan sengaja membaca sambil mengarah ke kamera, agar bisa diambil oleh Putra.
"Pak Karpin. Sebelum anda menjawab pertanyaan saya, dengar baik-baik penjelasan saya. Jika anda menjawab pertanyaan saya dengan tidak benar, anda bisa menjadi tersangka dan dipenjara, karenanya. Jadi tolong ingat dan pikirkan baik-baik sebelum menjawab pertanyaan saya." Kaliana mengingatkan Karpin, agar berkata jujur tentang apa yang diketahuinya.
"Iya, Bu. Saya mengerti." Jawab Karpin pelan dan singkat. Kaliana mengangguk, melihat sikap Karpin yang koperatif.
"Pak Karpin tahu apa yang sedang terjadi dengan Ibu Chasina saat ini bukan?" Tanya Kaliana untuk meyakinkannya, agar Karpin bisa konsentrasi dan berpikir hanya seputar penyebab Chasina ditahan.
"Saya tahu, Bu." Jawab Karpin singkat.
"Baik. Sudah berapa lama Pak Karpin bekerja dengan Ibu Chasina?" Tanya Kaliana serius, agar dia mengetahui kedekatan Karpin dan Chasina.
"Saya sudah lama bekerja di sini, Bu. Setelah Ibu Chasi menikah, saya diminta ikut untuk jadi sopir Ibu Chasi. Sebelumnya, saya di sini menjadi sopir tuan besar." Karpin berkata sambil menunjuk Pak Adolfis dengan jempolnya.
"Baik. Berarti Pak Karpin kenal baik suami Ibu Chasina, ya. Sudah berapa lama anda mengikuti Pak Jaret." Tanya Kaliana tanpa berputar, karena mereka dikejar waktu persidangan. Kaliana yakin, Karpin mengerti maksud pertanyaannya.
"Sudah hampir satu tahun, Bu. Tapi lebih sering, tiga bulanan ini, karena bapak sering tidak pulang ke rumah." Jawab Karpin, sambil mengingat-ingat, kapan Chasina memintanya untuk mengikuti Jaret yang sikapnya mulai aneh terhadap Chasina.
"Baik. Dalam hal itu, apa Ibu Chasi selalu ikut bersama anda?" Tanya Kaliana lagi untuk memastikan, sebelum berbicara lagi dengan Chasina.
"Tidak selamanya, Bu. Karena Ibu sibuk, kadang hanya saya sendiri, dengan mobil kantor Ibu. Nanti saya yang hubungi Ibu untuk memberitahukan posisi mereka." Jawab sopir takut-takut, sambil melihat Pak Adolfis dan Bryan. Sedangkan Pak Adolfis dan Bryan melihat sopir dengan wajah tidak mengerti.
"Selain anda dan Ibu Chasi, siapa lagi yang mengetahui hubungan mereka. Terutama dalam keluarga ini. Apakah Pak Adolfis dan Ibu serta Pak Bryan tahu?" Tanya Kaliana sambil menghalangi pandangan sopir ke arah Pak Adolfis dan Bryan.
"Tidak, Bu. Ibu Chasi melarang saya untuk memberitahukan itu kepada tuan dan nyonya besar." Mendengar yang dikatakan sopir, Pak Adolfis sudah tidak sabar untuk bertanya. Ada apa sebenarnya dengan Chasi yang mereka tidak tahu.
"Baik. Berarti anda sendiri yang tahu selain Ibu Chasi. Sekarang ceritakan kepada saya, untuk apa anda pergi ke club malam itu." Tanya Kaliana serius. Sopir terkejut mendengar pertanyaan Kaliana. Dia tidak menyangka, Kaliana mengetahui tentang peristiwa mereka ke club.
Sopir menceritakan kejadiannya seperti yang dikatakan Chasina. Membuat Kaliana menghentikan ceritanya. "Apakah anda diminta Ibu Chasi menghapal cerita ini?" Tanya Kaliana lagi, karena ceritanya sama persis dengan yang dikatakan Chasina. Oleh sebab itu, dia tidak mau membuang waktu hanya untuk mendengar cerita yang dikarang.
Pertanyaan Kaliana membuat Pak Adolfis dan Bryan terkejut. 'Bukankah dia katakan akan menolong Chasi, tapi mengapa malah memojokan Chasi dengan pertanyaan seperti itu?' Tanya Pak Adolfis dalam hati. Hal yang sama juga dipikirkan oleh Bryan, saat mendengar pertanyaan Kaliana.
"Tidak Bu. Itu kejadian sebenarnya, jadi hanya itu yang bisa saya katakan. Kalau ibu tidak percaya, ini ada bekas luka di kepala saya, akibat kuku wanita itu." Kata sopir lagi, sambil memegang kepalanya.
Mendengar itu, Kaliana bertindak cepat. "Maaf ya, Pak. Saya pegang kepalanya." Kaliana memegang kepala Karpin untuk periksa yang dikatakan. Kemudian dia mengambil benda menyerupai pulpen (hanya sedikit lebih besar) dari saku rompi lalu dinyalakan untuk menerangi bekas luka di kepala Karpin.
"Mbak, tolong divideoin dan foto, ya. Di sini kurang jelas." Putra berkata, setelah hasil kamera tidak maksimal. Posisi dan jarak Kaliana membuat kurang jelas bekas luka yang dimaksudkan Karpin.
"Pak Bryan, bisa bantu saya?" Tanya Kaliana, karena dia tidak enak meminta tolong pada Pak Adolfis yang lebih tua darinya. Bryan segera berdiri mendekati Kaliana.
"Apa yang mau dibantu?" Tanya Bryan yang sudah berdiri di samping Kaliana. Pak Adolfis jadi ikut mendekat, karena penasaran mendengar keterangan sopirnya.
"Pak Bryan tolong pengang senter ini, dan arahkan cahayanya ke sini. Tolong buka juga rambutnya, agar saya bisa melihat dengan jelas." Kaliana memberitahukan yang dia perlukan, kemudian mengambil gambar dan video luka di kepala sopir yang sudah mulai samar.
"Terima kasih, Pak." Ucap Kaliana, lalu mengambil senter dari tangan Bryan dan masukan ke kantong rompi.
"Apakah anda mengobati luka di kepala ini di tempat yang sama dengan luka Ibu Chasi?" Tanya Kaliana lagi untuk melengkapi keterangan yang sudah diperoleh dari Chasina.
"Apakah Chasi terluka?" Tanya Bryan terkejut dan berbalik menatap sopir dan Kaliana. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pak Adolfis yang belum mengerti ceritanya, karena dihentikan oleh Kaliana.
"Iya, Pak. Nanti setelah ini, baru saya ceritakan atau Pak Karpin yang akan ceritakan." Jawab Kaliana serius dan meminta Pak Adolfis dan Bryan duduk, karena dia belum selesai memeriksa Karpin.
"Anda belum jawab pertanyaan saya. Apakah luka dikepala anda diobatin di tempat yang sama?" Tanya Kaliana lagi.
"Iya, Bu. Ibu Chasi meminta dokter memeriksa kepala saya, karena ada darah yang mengalir di kerah kemeja bagian belakang." Karpin menjelaskan dengan pelan, sambil menunjuk kerah di leher bagian belakang. Kaliana melihatnya dengan serius. Begitu juga dengan Pak Adolfis dan Bryan.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
haadeehh...aneh aneh rekan kerjamu bram🤦🤦