NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sudah genap satu minggu berlalu sejak Alena mulai tinggal di rumah Elio. Bagi gadis itu, tujuh hari ini terasa berlalu begitu cepat, seolah baru saja kemarin ia pertama kali melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah yang kini terasa begitu akrab. Awalnya ia sempat merasa canggung dan khawatir apakah bisa menyesuaikan diri, namun kekhawatiran itu perlahan lenyap seiring berjalannya waktu.

Selama seminggu itu, hidup Alena berjalan sangat tenang dan menyenangkan. Setiap pagi ia dibangunkan oleh aroma kopi dan roti bakar yang dibuatkan Elio, lalu mereka berdua berolahraga bersama sebelum berangkat ke sekolah. Di rumah, Kakek Baskara selalu memperlakukannya seperti cucu kandung sendiri, sering kali menanyakan apa saja yang ia butuhkan dan memastikan ia tidak kekurangan apa pun. Bahkan pembantu rumah tangga pun sudah menganggap Alena sebagai bagian dari keluarga, melayani dengan senang hati.

Namun yang paling membuat Alena merasa betah tentu saja adalah kehadiran Elio. Pria itu selalu ada di sisinya, menjaga, memperhatikan, dan membuatnya merasa aman serta dicintai. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka lakukan bersama—mulai dari mengerjakan tugas sekolah berdampingan, menonton televisi di ruang tamu sambil berbagi camilan, hingga mengobrol santai hingga larut malam—semuanya terasa begitu alami dan membuat hatinya terasa hangat.

“Siapa sangka, hanya dalam seminggu rasanya rumah ini sudah terasa seperti rumahku sendiri,” gumam Alena suatu sore sambil duduk di teras, memandang halaman yang asri. “Seolah aku sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun.”

Elio yang duduk di sampingnya mendengar ucapan itu, lalu tersenyum lebar sambil memegang tangan Alena. “Kalau begitu, kamu tidak perlu khawatir lagi. Suatu hari nanti, rumah ini akan benar-benar menjadi rumah kita berdua selamanya. Kamu bisa tinggal di sini selamanya jika kamu mau.”

Kata-kata itu membuat wajah Alena memerah, namun ia hanya menunduk malu sambil tersenyum, menyembunyikan perasaan bahagia yang meluap di dalam hatinya.

Malam itu, langit terlihat sangat cerah dengan bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang bertaburan indah. Udara terasa sejuk dan berhembus lembut, sempurna untuk berjalan-jalan di luar. Setelah makan malam dan membereskan sedikit pekerjaan, Elio mendekati Alena yang sedang duduk di kamarnya sambil memeluk boneka kelinci pemberiannya.

“Alena, kamu tidak bosan tinggal di dalam rumah terus? Malam ini cuacanya sangat bagus. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Aku ingin mengajakmu melihat tempat yang indah di pinggiran kota,” ajak Elio dengan nada antusias.

Mata Alena langsung berbinar. Ia memang suka suasana malam yang tenang, dan ajakan itu terasa sangat menggoda. “Boleh sekali! Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu yang lebih nyaman.”

Beberapa menit kemudian, Alena keluar dengan mengenakan celana panjang katun, kaos lengan panjang berwarna krem, dan jaket tipis untuk melindungi dari angin malam. Rambutnya diikat setengah terurai, membuatnya terlihat semakin manis dan alami.

Mereka keluar dari rumah menuju garasi, di mana Elio sudah menyiapkan sepeda motor kesayangannya. Ia membantu Alena memakai helm dengan hati-hati, memastikan pengikatnya terpasang dengan benar sebelum memasang helmnya sendiri.

“Pegang erat pinggangku ya, jangan sampai terlepas,” pesan Elio sambil menyalakan mesin motor yang mengeluarkan suara halus dan tenang.

Alena mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangannya erat-erat di pinggang Elio. Begitu motor melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, angin malam yang sejuk langsung menerpa wajah mereka. Jalanan kota sudah mulai sepi, hanya sesekali terlihat kendaraan lain yang lewat. Suasana terasa damai, dan Alena memejamkan matanya sejenak, menikmati sensasi bergerak bersama orang yang dicintainya.

Perjalanan berlangsung sekitar dua puluh menit, hingga akhirnya Elio membelokkan motornya masuk ke sebuah taman kota yang cukup luas namun agak tersembunyi dari keramaian utama. Tempat ini dikelilingi pepohonan rindang, dan hanya diterangi oleh lampu taman yang redup serta cahaya bulan yang jatuh lembut ke tanah. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara jangkrik dan gemerisik daun yang bergerak ditiup angin.

Elio memarkirkan motornya di tempat yang aman, lalu membantu Alena turun. “Kita duduk di sana saja, di bangku kayu yang ada di bawah pohon besar itu. Tempatnya paling nyaman dan tidak terlalu terang.”

Mereka berjalan beriringan menuju bangku yang dituju. Begitu duduk, Alena menghela napas panjang, merasakan udara yang jauh lebih segar dibandingkan di tengah kota. “Tempat ini sangat indah dan tenang. Tidak banyak orang yang tahu tempat ini ya?”

“Memang jarang orang lewat ke sini. Biasanya hanya orang-orang yang suka ketenangan saja yang datang. Makanya aku bawa kamu ke sini, supaya kita bisa mengobrol tanpa gangguan siapa pun,” jawab Elio sambil menatap wajah Alena dalam cahaya remang.

Mereka duduk berdampingan, bahu mereka saling bersentuhan, menciptakan rasa hangat yang membuat Alena merasa semakin nyaman. Mereka mengobrol santai, membicarakan hal-hal ringan, kenangan masa lalu, hingga harapan-harapan yang ingin dicapai di masa depan. Suara mereka terdengar lembut, menyatu dengan keheningan malam.

Tanpa diduga, Elio perlahan memiringkan kepalanya dan menyandarkannya dengan lembut di atas bahu Alena. Gerakan itu tiba-tiba namun terasa begitu wajar, membuat detak jantung Alena berpacu sedikit lebih cepat. Ia bisa merasakan berat kepala Elio yang ringan, serta aroma sabun dan wangi tubuhnya yang khas memenuhi hidungnya.

“Kenapa menyandarkan kepala di bahuku? Bukankah seharusnya akulah yang menyandarkan kepala di bahumu?” bisik Alena dengan suara lembut, tidak berani bergerak banyak.

Elio hanya tersenyum tipis, lalu tanpa memberi jawaban, ia sedikit mengangkat wajahnya dan mendekatkan bibirnya ke leher Alena yang terbuka. Dengan gerakan yang sangat pelan dan lembut, ia mendaratkan ciuman singkat namun hangat tepat di sisi leher gadis itu.

Sentuhan yang tak terduga itu membuat Alena tersentak kaget. Matanya terbelalak lebar, dan tubuhnya sedikit menegang. Ia langsung menoleh ke samping, menatap wajah Elio yang masih berada sangat dekat dengan lehernya dengan pandangan yang bercampur antara kaget, malu, dan sedikit terkejut.

“Elio! Kamu…” kata Alena tergagap, tidak tahu harus melanjutkan kalimatnya apa.

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Elio sudah mengangkat tangannya dan memegang lembut kedua sisi wajah Alena. Ia memutar wajah gadis itu hingga menghadap lurus ke arahnya, lalu menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman singkat namun penuh rasa di atas bibir Alena. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja, namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Alena terasa panas dan jantungnya berdegup kencang seperti gendang perang.

Setelah melepaskan ciuman itu, Elio justru tertawa kecil melihat reaksi Alena. Wajah gadis itu memerah padam, bahkan sampai ke telinga dan lehernya, terlihat sangat menggemaskan dan polos. Matanya terlihat terbelalak, dan bibirnya sedikit terbuka karena kaget.

“Kenapa tertawa? Apa yang lucu?” tanya Alena dengan suara sedikit bergetar, merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Elio masih tersenyum sambil mengusap lembut pipi Alena yang terasa hangat. “Tertawa melihat wajahmu yang memerah seperti tomat matang. Sangat cantik dan menggemaskan sekali. Rasanya ingin terus menciummu sampai wajahmu semakin merah saja.”

Mendengar ucapan yang berani itu, Alena segera mengangkat tangannya dan memukul dada Elio dengan lembut, namun tidak ada kekuatan sama sekali dalam pukulannya. Ia menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa malunya sambil berbisik pelan namun jelas terdengar.

“Jangan begini… jangan di sini. Malu tau, ini tempat umum. Bagaimana kalau ada orang yang lewat dan melihat kita?”

Elio menangkap tangan Alena yang baru saja memukul dadanya, lalu menggenggamnya erat dan menempelkannya di atas dadanya sendiri agar gadis itu bisa merasakan detak jantungnya yang juga berpacu kencang. Ia menatap mata Alena dengan pandangan yang dalam, lembut, namun juga penuh godaan.

“Tempat ini sepi sekali, Alena. Sudah setengah jam kita duduk di sini, belum ada satu orang pun yang lewat. Lagipula, meskipun ada yang melihat, apa yang salah? Aku hanya mencium gadis yang aku cintai, yang akan segera menjadi tunanganku, dan suatu hari nanti akan menjadi istriku. Tidak ada yang perlu kita malu-maluin, kan?” jawab Elio dengan suara rendah dan lembut yang membuat bulu kuduk Alena merinding.

Namun, rasa malu itu masih menguasai hati Alena. Ia mendorong pelan dada Elio sambil tetap menunduk. “Tetap saja rasanya canggung. Di tempat terbuka begini… rasanya berbeda dengan di dalam kamar. Tolonglah, jangan lakukan hal itu lagi di tempat umum ya?”

Melihat Alena yang benar-benar merasa malu namun tidak marah, Elio hanya mengangguk mengerti. Ia tidak ingin membuat gadis itu merasa tidak nyaman, meskipun rasanya sangat sulit untuk menahan keinginannya. Ia menarik tubuh Alena masuk ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang teratur.

“Baiklah, aku mengerti. Aku janji tidak akan melakukannya di tempat umum lagi kalau kamu merasa malu. Tapi kamu harus tahu, rasanya sangat sulit untuk menahan diri saat melihat wajahmu yang cantik dan merasakan kehangatan tubuhmu begitu dekat denganku,” bisik Elio di telinga Alena, membuat gadis itu menggigil pelan.

Alena membalas pelukan itu dengan erat, memeluk pinggang Elio sambil menempelkan telinganya di dada pemuda itu. Suasana kembali menjadi tenang, hanya diisi oleh suara napas mereka yang saling bersahutan dan hembusan angin malam yang lembut. Meskipun sempat ada kejadian yang membuat jantung berdebar kencang, rasanya justru semakin mempererat kedekatan hati mereka.

Setelah duduk selama lebih dari satu jam, menikmati keheningan dan keindahan malam, Elio perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengangkat wajah Alena dengan lembut dan mencium keningnya dengan penuh rasa sayang.

“Sudah larut malam, sebaiknya kita pulang sekarang. Nanti Kakek mulai khawatir kalau kita belum juga kembali,” ajak Elio lembut.

Alena mengangguk setuju, lalu berdiri bersamaan dengan Elio. Saat berjalan kembali menuju tempat parkir motor, tangan mereka tetap tergenggam erat, seolah tidak ingin melepaskan satu sama lain bahkan untuk sesaat.

Di perjalanan pulang, Alena kembali melingkarkan tangannya di pinggang Elio, namun kali ini ia menyandarkan kepalanya di punggung lebar pemuda itu, merasa sangat aman dan damai. Dalam hatinya, ia berdoa agar hari-hari indah seperti ini tidak akan pernah berakhir, dan semoga ikatan cinta mereka terus tumbuh semakin kuat hingga selamanya.

Sesampainya di rumah, mereka masuk dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Kakek Baskara yang sudah terlelap. Saat berdiri di depan pintu kamar Alena, Elio menunduk sebentar dan berbisik dengan suara lembut.

“Terima kasih sudah menemaniku malam ini. Rasanya malam ini terasa sangat indah dan tak terlupakan.”

Alena menatap Elio dengan pandangan yang lembut dan penuh cinta. “Terima kasih juga sudah mengajakku jalan-jalan dan membuatku merasa sangat bahagia. Malam ini benar-benar sempurna.”

Sebelum masuk ke dalam kamar, Elio mencuri satu ciuman singkat lagi di bibir Alena, namun kali ini dilakukan dengan sangat cepat dan rahasia, membuat gadis itu kembali memerah namun tidak sempat memprotes.

“Selamat malam, sayang. Mimpi indah ya,” bisik Elio sambil tersenyum nakal.

“Selamat malam juga, Elio,” jawab Alena lirih, lalu segera masuk dan menutup pintu kamarnya dengan hati yang berdebar dan senyum yang tak kunjung hilang.

Malam itu, Alena terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak, memeluk erat boneka kelinci pemberian Elio, sambil mengingat kembali setiap detik perjalanan dan momen romantis yang baru saja mereka lalui. Seminggu tinggal bersama telah membuktikan bahwa hidup berdampingan dengan orang yang dicintai adalah kebahagiaan yang sesungguhnya, dan ia tidak sabar menantikan masa depan yang penuh dengan lebih banyak momen indah bersama Elio.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!