Madu itu manis namun berbeda dengan madu yang aku rasakan, rasanya sungguh pahit, membuat hati yang baik-baik saja menjadi terluka, membuat hati dilema antara bertahan atau menyerah hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semuanya.
Dari sinilah aku menjadi wanita kuat karena harus berjuang untuk sang buah hati dan akhirnya aku bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapat Restu
"Ini siapa Mel? kok cakep sekali." Ibuku pasti heran karena aku membawa David pulang bukannya Reza.
Aku sengaja tidak memberitahukan soal perceraian aku pada keluargaku, aku tidak ingin membuat keluargaku memikirkan aku karena belum genap lima tahun aku menikah tapi kini sudah bercerai.
"Ini David Bu." Aku merasa takut memperkenalkan David pada ibuku, aku takut ibu akan marah dan tidak merestui David menjadi pendamping aku.
Ibu dan ayah nampak saling pandang, mungkin mereka bertanya-tanya, siapa David? kenapa diajak pulang?
"Sebenarnya Melati dan Mas Reza sudah berpisah Bu, ayah." Meski takut namun aku tetap harus memberitahu kedua orang tuaku.
Ibu dan Ayah nampak shock, terlihat dari cara pandang mereka menatap diriku.
David menggenggam tanganku seolah tahu apa yang aku rasakan.
"Kenapa bisa bercerai Mel?" tanya ayah.
Dengan tangis yang pecah aku bercerita pada kedua orang tuaku, aku tak sanggup bila dimadu ditambah lagi sikap Reza tidak bisa adil.
"Melati sudah berusaha kuat Yah, namun Melati nggak sanggup dengan pernikahan yang seperti itu."
Mendengar ceritaku membuat ayah kesal, dia tak habis pikir dengan Reza.
"Keterlaluan kamu Reza, mana janji kamu dulu yang ingin membahagiakan Melati." Kini gantian ayah dan ibu yang mengeluarkan air mata.
Orang tua mana yang tak sakit hatinya melihat anaknya menderita, mereka tak menyangka pernikahanku akan berakhir seperti ini.
"Dulu ayah sudah memperingatkan kamu untuk tidak menikah dengan Reza namun kamu tetap memaksa untuk menikah dengannya, dan kini kamu disakiti olehnya." Sakit yang ayah pendam kini ayah keluarkan.
Dulu memang ayah tidak merestui hubunganku dengan Reza,. ayah bilang kalau Reza kurang bertanggung jawab, ayah juga bilang kalau Reza tidak begitu mencintaiku, saat itu aku berusaha meyakinkan ayah, kalau Reza lah pria terbaik untuk aku.
Ternyata memang benar, jangan sekali-sekali melangkah terlalu jauh jika orang tua tidak merestui apalagi sampai menikah, karena ridho Tuhan itu ada di ridho orang tua.
"Maafkan Melati yah, andaikan waktu bisa diulang kembali pasti Melati akan mendengarkan ucapan ibu dan ayah."
Kini pandangan mereka tertuju pada David, pria yang sedari tadi menggenggam tanganku.
"Apa kamu yakin dengan pria yang kini berada di samping kamu?" tanya ayah.
"Mohon maaf Pak, mungkin saat ini bapak ragu dengan saya namun saya janji akan memantaskan diri untuk Putri bapak." Ucapan David membuat ayah menatapnya.
Memang dibanding Reza David lebih berwibawa, lebih tampan dan lebih sopan, keluarga David memang keluarga Priyayi, bibit bobot dan bebet nya jelas.
"Tapi kamu tahu kan Melati adalah seorang janda beranak satu, kami juga bukan dari keluarga kaya lihatlah kehidupan kami sangat sederhana." Ibu menambahkan.
"Saya sangat mencintai anak ibu, saya rasa cinta saya yang besar kepada Melati sudah cukup buat modal untuk menikah," kata David.
Banyak yang bilang cinta saja tidak cukup tapi bagi David cinta itu sebuah landasan utama dalam menjalin sebuah hubungan, karena sesuatu yang didasari dengan cinta yang tulus, hasilnya juga pasti akan bagus.
"Apa kamu bisa menjamin, kalau kamu tidak seperti Reza." kata ayah.
"Kalau tidak dicoba bagaimana saya bisa membuktikannya Pak, intinya saya sangat mencintai putri bapak, apapun syaratnya akan saya terima dan lakukan." David berbicara dengan tegas.
Sikap inilah yang membedakan David dengan Reza, David lebih gentle daripada Reza.
**********
POV David
Aku sangat bahagia, akhirnya orang tua Melati merestui aku untuk menjalin hubungan dengan Putri mereka, sangat wajar jika orang tua Melati meragukan aku awalnya, mereka tentu tidak ingin Putri mereka disakiti untuk kedua kalinya, untunglah aku bisa meyakinkan mereka dan membuat mereka sedikit percaya padaku.
"Aku sangat bahagia sama akhirnya ibu dan ayah merestui kita berdua." Sepanjang perjalanan pulang ku genggam tangannya dan berkali-kali mencium punggung tangannya.
"Iya Mas akhirnya mereka merestui hubungan kita," kata Melati.
"Aku sudah nggak sabar ingin segera menikah." Kulihat Melati tersenyum sambil menatapku.
Restu dari kedua belah pihak telah aku dapat, baik orang tuaku maupun orang tua Melati setuju jika kami menikah secepatnya daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama pacaran.
"Mas apa orang tau kamu tau kalau aku memiliki anak?" tanya Melati yang membuat aku mengalihkan pandanganku.
"Sudah, aku sudah memberi tahu mereka," jawabku dengan tersenyum.
Dia nampak lega, aku paham jika Melati merasa was-was namun untunglah orang tua aku tidak mempermasalahkan status dan anak Melati karena kembali lagi yang mereka inginkan adalah kebahagiaanku.
Sesampainya di ibukota aku mengantar Melati pulang, sebenarnya aku tidak tega melihat dia tinggal di kontrakan ini namun bagaimana lagi Melati tetap bersikeras untuk tetap tinggal.
"Kamu kenapa nggak mau pindah ke apartemen aku dulu, aku nggak tega kamu tinggal di rumah seperti ini."
"Aku tinggal disini saja mas, lagipula bulan depan kan aku sudah kamu boyong mas." Lagi-lagi dia menolak untuk tinggal di apartemen.
"Tapi...." Melati menyilangkan jarinya di bibirku.
"Ega kan juga liburan di rumah ibu dan ayah, sudahlah nggak papa aku tinggal di sini, lagian enak di sini kalau kirim barang dekat." Sungguh pendirian calon istriku sangat kuat, kini aku bertambah yakin kalau dia memang wanita yang tepat untuk aku.
Sebelum aku pulang, aku mengecup keningnya. Inilah pertama kali aku mengecupnya, aku lihat dia sangat shock.
"Kamu kok cium aku mas." Dia protes padaku.
"Karena aku cinta kamu, kalau nggak sayang nggak mungkin kan aku mengecup kamu." Sungguh gemas sekali aku dengan Melati.
Dia tersenyum lalu mengangguk, karena aku ada jadwal praktek di rumah sakit aku pamitan padanya untuk bekerja, dan kecupan di pipinya aku layangkan kemudian cepat-cepat aku masuk mobil takut dia akan marah karena aku telah mencuri ciumannya.
Benar saja dia menatap aku dengan kesal, dengan berkacak pinggang.
"Maafkan aku sayang," kataku lalu pergi dari rumah kontrakan Melati.
Sepanjang perjalanan pulang aku tertawa sendiri, dapat terlihat betapa kesalnya dia.
"Maaf sayang, kalau nggak gitu kamu nggak akan mengijinkan aku mengecup pipi kamu." Aku bergumam sembari menatap fotonya di wallpaper ponselku.
Waktu berlalu dengan cepat, sebelum jadwal praktek di mulai aku sudah standby di ruangan aku sembari mengecek laporan rumah sakit bulan ini.
Satu jam kemudian, jadwal praktek dimulai dan sangat mengesalkan karena pasien pertama aku adalah Mantan suami Melati dan istrinya.
Meski hatiku kesal namun aku mencoba tersenyum manis.
"Keluhannya apa ibu Viona?" tanyaku, dia bukannya menjawab namun malah menatapku tentu hal ini membuat aku tidak nyaman.
"Ibu." Aku memanggilnya lagi.
"Eh iya Dok," ucapnya lalu tersenyum.
Apa yang dilakukan Viona membuat aku mendapatkan tatapan tajam dari Reza.
Sehat dan semangat berkarya author...
Good job 😘😘