Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 Aksi Pamer
Bu Tutik sore itu duduk-duduk di teras sembari menyapa setiap tetangga yang lewat. Di depan meja teras, sepertinya dengan sengaja ia menampakkan brownies malang beserta kotak kemasannya yang terbaca besar-besar itu dan juga minuman sari buah khas Malang yang dibawakan oleh keluarga Gilang tadi.
"Wah, Bu Tutik tumben kelihatan di teras. Sehat aja, Bu?" sapa Mbak Fani yang merasa jarang sekali melihat Bu Tutik akhir-akhir ini.
"Oh, iya, Fen. Sehat, kok. Ini lagi menghirup udara segar," jawab Bu Tutik seraya mencomot potongan brownies nya.
Tidak ada dia menawari Mbak Feni yang tengah melihat kegiatan ngemilnya itu dengan tatapan yang entah. Setidaknya untuk basa-basi, kalau orang lain akan menawari ikut ngemil. Bu Tutik memang beda!
"Kalau mau menghirup udara segar itu pagi hari jam delapan sampai jam sepuluh itu, Bu. Sehat, banyak vitamin D." Mbak Feni berkata sekedar ada yang dikatakan sebab sebenarnya ia sedang menahan liur menyaksikan betapa Bu Tutik memang terlalu mengekspose caranya ngemil brownies tersebut.
"Oh, iya saya tadi lupa soalnya seharian ada Gilang sama istri dan anaknya. Ini, mereka bawain banyak kue dan minuman buah asli Malang," jawab Bu Tutik seraya tanpa sedikit pun menawari kepada Mbak Feni.
"Wah, pantas kemasannya kayak jarang ditemui di sini, ya, Bu. Segarnya, seneng dikunjungi anak dan mantu, ya, Bu?" komentar Mbak Feni lantas berjalan kembali tanpa menoleh lagi.
"Dasar pelit dan tukang pamer. Kalau pamer itu ya harus siap ngasih atau seenggaknya nawarin. Huh. Ini udah pamer tapi diem-diem bae gak ada basa-basi menawarinya. Ya ampun, punya tetangga satu ajaib amat!" gerutu Mbak Feni sepanjang jalan ke rumahnya.
Lana yang tengah menyapu lantai rumah dan sudah sampai di teras pun tak urung ikut melihat tingkah aneh Bu Tutik.
"Permisi, Bu." Lana berkata seraya dia agak menunduk dan menyapu di sela-sela kursi yang diduduki oleh sang ibu mertua.
Tapi Bu Tutik bukannya berdiri sejenak dari kursinya untuk memberi Lana kesempatan menyapu tapi malah tetap duduk dan bahkan tidak sama sekali mengangkat kakinya.
Lana pun akhirnya melewati saja areal yang ada Bu Tutiknya, yang kemudian malah membuat wanita itu mencibir bahwa menantunya yang satu itu tidak becus sekedar menyapu saja. Tidak seperti Ely! Astaga!
"Lain kali kalau nyapu itu jangan seperti itu, Lana. Kamu dulu nggak pernah nyapu ya, di rumah? Apa punya pembantu?"
Lana mendecak lidah.
"Lana menyapunya di rumah nggak gini, kok, Bu. Biasanya bersih. Ini kan soalnya Ibu nggak mau pindah dari situ, jadi ya udah seadanya aja. Nanti kalau Ibu udah beranjak biar Lana ulang," jawab Lana dengan berani.
Ya, ia tak perlu terlalu bersikap menjaga perasaan Bu Tutik sementara yang dilisankan wanita itu selalu saja cercaan dan cibiran kasar. Biar impas, pikir Lana yang terkadang masih hanyut oleh emosinya.
Dasar Bu Tutik yang tak tau soal menjaga perasaan wanita lain, dia dengan panjang lebar malah memuji rumah Ely.
"Istrinya Gilang itu meskipun rumah cuma mengontrak, tapi dia getol sekali menjaga kebersihannya. Mana ada debu sedikit pun di sana. Gak pernah nemu aku," ucap Bu Tutik yang hanya terhitung dua kali kesempatan saja berkunjung ke kontrakan anak sulungnya tersebut.
"Yang benar, Bu? Itu Ibu cuma lihat di hari-hari spesial, kan? Pas Mas Gilang baru pindahan ke rumah itu dan pas ada syukurannya Fifi. Aduh, Bu. Kalau pas moment-moment hajatan seperti itu kan memang rumah lagi rapih-rapihnya abis dipersiapkan beberapa hari sebelumnya, Bu. Coba Ibu ke sana lagi nanti kapan-kapan ketika hari biasa." Lana menjawab dengan logis.
"Ah, ya sama aja. Wanita itu kalau dasarnya bersih dan rapi, mau hari apa aja ya akan tetap begitu. Kamu kebanyakan alasan! Masa' mau nunggu ada hajatan dulu baru beberes rumah!"
Bu Tutik malah menyerang balik menantunya.
Lana menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dengan cuek ia pun melenggang pergi meninggalkan Bu Tutik yang tampaknya akan masih betah mencercanya.
"Huuuft, ini kalau hadiah kesabaranku nggak besar aku bakal tuntut nih, si Mas Galih!" gerutu Lana sembari meneruskan beberes seisi rumah.
Padahal dia sudah rajin beberes dan bebersih rumah setiap pagi dan sore. Belum lagi tiap hari Minggu juga menyempatkan bersama Galih melakukan kerja bakti di pekarangan samping dan belakang. Tapi tetap saja masih kurang di mata Bu Tutik. Padahal, kerja beliaunya sendiri malah tiduran hampir sepanjang hari. Lantas mengeluh tak bisa tidur nanti di malam hari. Absurd memang!
Ketika Galih pulang, suaminya itu langsung menemui sang istri. Dia tak pernah sabar melihat kondisi istrinya. Mengelus perut yang membuncit itu merupakan sebuah rutinitas favoritnya sambil terkadang menggelitik istrinya penuh sayang.
Kali itu ia menghampiri Lana yang sedang menghangatkan masakannya tadi siang untuk dihidangkan kembali nanti malam.
Mendadak saja Galih sudah berada di balik punggungnya, meniup-niup tengkuk Lana dan lantas menggigit telinga wanita itu.
Spontan Lana berjinjit kaget dan hampir saja sendok sayur yang dipegangnya terjatuh.
"Astaga, Mas! Ngagetin, deh!" serunya memprotes. Kemudian ia meraih tangan kanan sang suami dan menciumnya.
"Nih, Mas bawain brownies. Beli di Bakery dekat SPBU tadi sambil isi bensin," kata Galih sambil menyodorkan sekotak kue dalam kantung plastik.
"Ini buat Ibu udah?" tanya Lana melihat hanya ada sekotak di tangan Galih.
"Kan Ibu udah ada yang dari Mas Gilang, Dek. Ini Mas sengaja beliin buat kamu biar kamu nggak manyun karena nggak dibagi sama Ibu brownies malangnya," kata Galih menjelaskan kenapa dia hanya membeli satu.
"Huh, ini nanti bisa jadi masalah baru lagi, tau, Mas. Mas itu biasa lah, kalau beli ya dua. Masing-masing satu aku sama Ibu. Udah tau Ibu Mas itu cemburuan akut. Apa aja disalahin. Nanti udah ngadu lagi ke Mas Gilang. Nggak nyadar kalau yang dia aduin itu malah mau minta warisan duluan! Ish!" Lana menggerutu dan menasihati suaminya.
"Ah, iya, iya. Nanti akan Mas ingat. Ini kalau gitu dipotong dua dulu aja, ya, Dek. Besok Mas beliin lagi," kata Galih fokus kepada solusinya.
Pria itu selalu meminimalisir membicarakan masalah lain selain dirinya dan Lana. Sebisa mungkin biar istrinya tidak terlalu menuntut macam-macam terhadap keluarganya yang memang banyak kekurangan.
Tapi rupanya berbeda dengan Lana, seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Lana masih terus menggerutu tentang kelakuan absurd dua iparnya. Juga beberapa kali mengungkit soal pinjaman dari Galih yang akan secepatnya dia tagih kalau sang ipar dirasa semakin tak tahu diri.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻