Aku kira setelah, aku berhasil kabur dari sebuah desa yang sangat membingungkan dan penuh dengan keanehan hidupku akan lebih baik dan tidak mengalami hal-hal yang sangat membuatku takut tapi nyatanya aku salah besar, aku dan ketiga temanku malah terjebak kembali di sebuah desa tua yang lebih menakutkan dan mengerikan, yang paling aneh semua orang di desa itu menatap kami berempat dengan tatapan yang mengerikan, kecuali pada Erlangga mereka menatap Erlangga dengan senyum indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gubuk tua
"Kenapa gubuk ini sangat menyeramkan?" keluh Nayla, saat mereka semua sudah masuk ke dalam gerbang gubuk itu.
Walaupun hanya sebuah gubuk, tapi terdapat gerbang yang sengaja dibangun, dari luar gubuk tersebut sangat terlihat kecil dan sederhana, jika masuk ke dalam, ternyata gubuk itu terlihat sangat besar dan luas, bahkan memiliki latar di depannya, mungkin bisa untuk mendirikan 5 atau 7 tenda.
"Bener apa kata kamu Nay, gubuknya serem banget" Arin menyetujui ucapan Nayla.
"Wajar kalau ini gubuk serem, secara kayaknya udah ditinggal bertahun-tahun sama penghuninya"
"Benar apa yang Dika ucapakan" Erlangga meyakinkan Arin dan Nayla, atas jawaban yang Dika berikan.
"Mari kita masuk, siapa tahu di dalam ada orang" ajak Erlangga.
Kaki-kaki melangkah dengan pelan menuju pintu utama gubuk tua tersebut.
"Tok….! tok…!" Erlangga mengetuk sedikit kuat pintu utama gubuk tersebut.
"Permisi apa disini ada orang?" teriak Nayla.
"Sudah percumah saja teriak, perhatikan baik-baik banguan ini pasti tidak ada orangnya, sudah kotor sekali, kalian tadi bilang jika bangunan ini sudah ditinggal lama, jadi tunggu apalagi, mending sekarang masuk, kalau terus mengetuk pintu sampai lebaran monyet pun tidak ada satupun orang yang akan membuka pintu ini" sungut Arin.
Buru-buru Arin mendorong kuat pintu di depan Mereka, dengan sekali dorongan pintu itu terbuka dengan sempurna.
"Lebaran monyet kagak ada Arin, apa kamu pernah lihat? jadi sampai kapan harus nunggu lebaran monyet" Nayla masih mempermasalahkan hal barusan.
Mendengar penuturan Nayla, membuat Arin melotot tidak percaya, matanya saja hampir keluar, bagaimana bisa Nayla masih mempermasalahkan lebaran monyet.
"Terserah kamu saja Nayla Putri! yang penting kamu senang" sahut Arin dengan senyum yang dipaksakan semanis mungkin.
"Lebih baik sekarang kita cari kamar"
"Tapi tempat sangat kusam ini dan sejelek ini apakah ada kamar yang bagus Er?" sungguh kenapa Nayla jadi banyak bertanya.
"Pokoknya aku marah sama Nayla, ayo yang kita pergi cari kamar yang nyaman" canda Arin.
Arin dan Dika pergi begitu saja meninggalkan Erlangga dan Nayla yang terlihat seperti orang bodoh, saat melihat tingkah Arin yang aneh.
Entah apa yang terjadi di tempat itu karena tiba-tiba saja perubahan sikap Arin dan Nayla sangatlah cepat.
"Bruk" suara keras dari samping rumah barusan menyita perhatian Nayla dan Erlangga. Keduanya saling pandang satu sama lain.
"Er, suara apa barusan?" tanya Nayla was-was.
Belum Erlangga menjawab pertanyaan Nayla, Nayla sudah lebih dulu melangkah mencari sumber suara, dia ingin tahu apa yang baru saja terjatuh.
"Eh, Nayla kamu mau kemana?" teriak Erlangga, sambil menyusul Nayla.
"Kenapa jalannya sangat cepat" bingung Erlangga.
"Nayla….! tunggu" Erlangga masih berusaha mengejar Nayla, tapi sayangnya sedari tadi dia memanggil Nayla, tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Huh, aku kira apa ternyata hanya kayu rapuh yang jatuh" umpat Nayla, dia sudah menemukan benda apa barusan yang membuatnya sangat takut.
"Er, ayo kita cari kamar masing-masing aku capek" keluh Nayla saat sudah berada di samping Erlangga.
Lagi-lagi Erlangga hanya bisa cengo melihat tingkah Nayla yang seperti itu. "Nay, kamu sakit?" tanya Erlangga khawatir.
***
"Dika aku takut" ucap Arin.
Mereka berdua berjalan mengendap-endap untuk mencari kamar, agar mereka bisa beristirahat malam ini.
"Argh….! Dika ini apa? Dika ada tengkorak…." Teriak Arin.
Dia berlari begitu saja meninggalkan Dika yang masih memegang tengkorak tadi yang sempat dipegang juga oleh Arin.
"Ar-in aku ta-kut" ucap Erlangga terbata-bata dengan tangan yang sudah sangat gemetar karena tengkorak itu masih ada ditangannya.
"Argh…!" Teriak pada hari ini yang sudah lari menjauh.
Dengan tangan yang sudah sangat gemetar Dika buru-buru membuang tengkorak yang sedari tadi dia pegang dan dia pandangi dengan rasa takut.
"Argh…!aku nggak lihat tengkorak" teriak Dika lagi.
Buru-buru dia menyusul Arin yang sudah berlari entah kemana.
"Tempat apalagi ini" gumun Arin.
Takut, tentu saja rasa takut saat ini terus menguasai dirinya.
"Yang, kamu cepet banget larinya" protes Dika saat sudah berada di samping Arin.
"Huss, diem dulu kita ada dimana ini" bisik Arin tepat di telinga Dika.
"Hah! ada kuburan yang disini ayo pergi, Argh….!" teriak keduanya secara bersama.
Bisa-bisanya mereka melihat ada kuburan dan peti orang mati di dalam gubuk itu.
"Hahahah" Arin dan Dika sama-sama mengatur nafas panjang, akibat berlari terus menerus ditambah ketakutan yang sangat amat.
"Kalian berdua kenapa? kayak orang abis di kejar-kejar setan aja?" tanya Erlangga aneh pada Dika dan Arin.
"Emang abis liat setan, buka maksudnya abis ketemu tengkorak sama kuburan dan peti orang mati" jelas Dika, dengan terbata-bata, karena dia masih menghirup nafas dalam-dalam.
"Serius?" tanya Nayla antusias.
"Jangan bahas makhluk halus dulu, sekarang gue tanya udah dapet kamar belum?"
Dengan kompak Dika dan Arin menggelengkan kepala mereka.
"Justru tadi itu kita lagi cari kamar, malah nyasar ketemu tengkorak sama kuburan" ujar Arin.
"Lebih baik kita cari kamar bareng-bareng saja, bentar lagi hari sudah semakin gelap, dan kita belum mendapatkan kamar untuk istirahat juga, dari pada kejadian kayak tadi" usul Nayla.
"Kita beneran mau menginap disini malam ini? serius? aku takut tahu" adu Arin.
"Emangnya kamu mau kita cari tempat lain lagi, kamu mau gitu pergi malem-malem dari tempat ini, secara kamu saja takut di dalam gubuk ini, apalagi di luar tambat takut gelap banegt lagi, kalau disinikan masih ada Dika" sungut Erlangga.
Mendengar penuturan Erlangga membuat nyali Arin menjadi menciut seketika, padahal tadi dia sudah sangat bersemangat untuk keluar dari gubuk tua ini, tapi semuanya sirnah setelah mendengar penuturan Erlangga.
"Udah-udah sekarang ayo, cari kamar buat istirahat udah capek nih, dari tadi kaki nggak berhenti jalan mulu, kalau pada mau diem aja disini ya udah, biar aku aja yang istirahat"
Nayla pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih dalam ego sendiri-sendiri.
"Nayla tunggu!" teriak mereka secara bersama.