"Ceraikan Rey, dan kembalilah padaku!"
"Aku tidak bisa." Ujar Amora dengan wajah datar.
Farhan menatap Amora dengan bingung.
"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat menjadikan Rey sebagai suami sementara agar kita bisa menikah kembali?"
"Aku mencintainya."
"Apa?"
"Kami saling mencintai dan sampai kapanpun kami tidak akan pernah bercerai. Terimakasih karena memilihkan Reyhan untuk menjadi suami sementara untukku. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku ingin dia menjadi suamiku selamanya. Dan maaf, aku tidak bisa kembali padamu."
Awalnya, Farhan memilih sepupunya yang bernama Reyhan untuk menjadi suami sementara bagi Amora sang mantan istri agar keduanya bisa rujuk kembali. Ia sudah menjatuhkan talak tiga, dan jika ingin kembali pada Amora maka Amora harus menikah dengan pria lain terlebih dahulu. Tapi siapa sangka, cinta tumbuh antara Amora dan Reyhan hingga mereka tak ingin berpisah. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan
Happy reading zheyeng 😘
____________________
“Kenapa kau sangat membenciku?” tanya Amora di sela rintihan kesakitannya.
“Kau mau tahu?” tanya Sania seraya tertawa miris.
Amora hanya diam, tak berniat menjawab pertanyaan Sania yang seperti di rasuki iblis.
“Aww ....” Amora meringis kala Sania menarik rambut Amora yang ada dalam genggamannya. Amora masih berdiri seraya berpegangan di dinding dingin itu. Tangan kanannya memegangi sebagian rambut yang di tarik Sania.
“Sakit? Kau tahu? Ini tidak lebih sakit dari apa yang selama ini aku alami. Kau tidak tahu bagaimana penderitaan yang aku lalui.” Teriak Sania.
“Aku membencimu karena kamu sangat beruntung! Kamu Pintar, cantik dan kariermu bagus! Bahkan punya kakak yang begitu menyayangi kamu. Sedangkan aku? Aku tidak punya siapa pun, tidak tahu anak siapa dan selalu hidup dalam kesusahan dan belas kasih dari kamu! Kenapa aku tidak bisa seperti kamu! Kenapa Tuhan tidak adil!
Dan satu lagi,” Sania menjeda kalimatnya. Ia melihat wajah Amora yang meringis kesakitan dan hal itu membuatnya semakin tersenyum mengerikan.
“Kamu sudah merebut Farhan dariku!” teriak Sania seraya menarik rambut Amora lebih kuat. Amora melebarkan matanya.
“A-apa yang kamu maksud?” tanya Amora bingung. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang Sania katakan.
“Kau tahu? Farhan itu orang yang aku kagumi lima tahun yang lalu. Dia pria yang membuat aku jatuh cinta! Tapi dengan tidak tahu dirinya kau malah menikah dengannya! Dia orang yang pertama kali menyentuhku. Dia yang membuat aku semangat untuk hidup! Dia yang menjadi harapanku satu-satunya. Dia berjanji akan menikahiku tapi kamu yang malah menjadi istrinya. Dia bilang, Cuma mau memanfaatkan kamu makanya aku terima semua keputusan dia untuk menikahi kamu tiga tahun yang lalu. Dia bilang akan menceraikan kamu, tapi kenapa lagi-lagi kalian kembali rujuk. Dan sekarang, kesempatan itu datang. Aku akan memiliki Farhan sepenuhnya. Dan kau, jangan pernah berharap bisa memilikinya lagi!” Sania mendorong Amora dan membuat cengkraman tangannya terlepas.
Amora tersungkur di lantai yang dingin, ia menatap Sania dengan iba. Sungguh ia tidak tahu apa pun tentang hubungan antara dirinya dan Farhan. Hatinya terasa nyeri mengingat betapa kejamnya ia karena tak tahu menahu tentang perasaan sahabatnya sendiri.
“Aku minta maaf, Sania. Aku tidak tahu jika pria yang kamu ceritakan itu Farhan. Maafkan aku karena aku bukan sahabat yang baik.” Amora tergugu, sungguh ia menyesal atas apa yang telah terjadi. Ia benar-benar tidak tahu apa pun tentang hubungan mereka. Ia merasa gagal menjadi seorang sahabat, sungguh ia tulus pada Sania. Sakit di tubuhnya tak sebanding dengan sakit hatinya. Ia merasa sangat bersalah karena membuat Sania seperti ini.
“Jangan sok baik kamu! Kamu itu licik! Aku benci kamu, Amora! Lihat saja, aku akan merebut semua yang kamu miliki! Itu sumpahku! Kau dengar? Itu sumpahku dan ingat itu baik-baik!” Sania pergi meninggalkan Amora yang menangis. Wanita itu sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi, ia tak berhenti menyalahkan diri sendiri.
Dulu Sania merupakan sahabat yang baik, ia pikir selama ini Sania baik-baik saja. Tapi siapa sangka sahabatnya itu menyimpan luka dan dendam yang teramat besar. Jika ia tahu dari awal Sania mencintai Farhan, maka ia tidak akan mau menerima lamaran pria itu.
“Maafkan aku, Sania. Apakah pernikahanku hancur dan tak pernah bahagia merupakan karma yang harus aku jalani karena telah merebut orang yang di cintai sahabatku sendiri? Apakah ini karmaku, Tuhan?” Amora kembali tergugu di ujung toilet yang sepi.
Ia memukul dadanya yang terasa sesak. Berharap dapat menghilangkan rasa sakit yang semakin menusuk ke relung jiwanya. Rasa bersalah dan penyesalan membaur menjadi satu, merambat hingga ke dasar hati yang paling dalam.
Rasa itu tak kunjung hilang, malah rasa sakit itu semakin menjadi. Ia kesulitan bernafas. Lagi, ia memukul kembali dadanya berharap dapat menghilangkan segala rasa yang menyerangnya.
“Maaf! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu.” Rintihnya seraya menangis.
“Amora! Apa yang kau lakukan!” suara seorang pria datang dari luar, tapi tak menghentikan apa yang sedang wanita itu lakukan. Ia terus memukul dada hingga pukulan itu melemah dan Amora terkulai lemas. Amora pingsan!
💕💕
Hai zheyeng 😘
Sehat selalu ya kalian. Makasih udah mau mampir dan baca karya recehku. Makasih atas dukungan kalian semua. I love you all😘😘
amora - evan = amora masih menunjukkan sikap baik saja, masih canggung menunjukkan sikap nyeleneh nya, masih tidak bebas berekspresi
amora - reyhan = disini amora merasa tampa bebas menunjukkan semua sikap, amora merasa bebas dan nyaman berekspresi apapun, jadi tampa sadar amora merasa nyaman berhubungan dengan reyhan yang akhirnya menimbulkan benih cinta
sampai episode ini sebenarnya aku masih tidak suka sikap amora yang tidak sadar statusnya dan kayak tidak menghargai dan menjaga harga dirinya sebagai seorang istri dia masih menunggu pria lain dan gampang berinteraksi berduaan dengan pri lain, tapi setelah episode ini aku suka sifat amora yang belajar dari kesalahan lalu dan belajar menjadi istri yang sesungguhnya dan menghargai suaminya dan satu lagi, amora wanita tanggu yang berani mengaku salah dan berjuang untuk dapat kesempatan
tampa kitasadarir sebenarnya novel ini sangat bagus karena teori sebab akibat terjadi di novel ini